
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Aruna berpikir dengan begitu keras. Dia tidak mau pergi ke tempat yang selalu membuat dia mual, sudah cukup selama ini dia pergi ke rumah sakit untuk mengajak ibunya berobat.
'Sepertinya nanti kalau sudah sampai di rumah sakit aku tinggal lari saja, aku takut dia akan melakukan hal yang tidak tidak terhadap diriku di rumah sakit.'
Aruna mengangguk-anggukan kepalanya seraya tersenyum, dia sudah memutuskan akan kabur ketika tiba di rumah sakit.
Benar saja, ketika taksi yang ditumpangi oleh Aruna dan juga Sam berhenti tepat di lobi rumah sakit, dengan cepat Aruna turun dari dalam taksi dan berlari dengan begitu cepat.
"Astaga! Apa yang kamu lakukan Aruna?" kesal Sam.
Dengan cepat Sam mengejar Aruna karena tidak ingin ketinggalan jejak wanita itu, pak sopir yang takut tidak dibayar langsung ikut turun dari mobil dan mengejar Sam.
''Bayar dulu, Tuan!" teriak pak sopir.
Sam menepuk jidatnya karena dia lupa belum membayar ongkos taksi tersebut, dengan cepat dia menghentikan langkahnya. Lalu, dia mengambil uang seratus ribuan dan memberikannya kepada sopir taksi tersebut.
"Terima kasih, Pak. Maaf kalau saya membuat anda takut," ujar Sam seraya berlari untuk mengejar Aruna kembali.
"Aduh!" keluh Aruna seraya memegangi perutnya.
Jantung Sam seakan hendak copot melihat Aruna mengaduh kesakitan, terlebih lagi ketika melihat wajah Aruna yang semakin memucat.
"Sudah aku bilang kamu itu sakit, kamu harus ikut aku dan kita akan melakukan pemeriksaan." Sam langsung menggendong tubuh Aruna dan membawanya ke dalam rumah sakit.
Sam terus saja melangkahkan kakinya menuju loket pendaftaran, Aruna yang merasa syok dengan perlakuan dari Sam hanya bisa menatap wajah pria itu tanpa berkedip sekalipun.
"Saya ingin memeriksakan kondisi kesehatan kandungan istri saya," ucap Sam ketika pria itu mendapatkan pertanyaan dari seorang wanita yang berjaga di belakang loket pendaftaran.
Aruna benar-benar merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Sam, karena punya itu mengatakan dirinya sebagai istrinya.
"Hah? Istri? Kandungan? Siapa istri anda?" tanya Aruna dengan raut wajah bingung.
Sam hanya bisa menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, pria itu tidak mengatakan hal apa pun. Namun, dia kembali menggendong Aruna dan mendudukkan wanita itu di atas bangku tunggu tepat di depan ruang Obgyn.
__ADS_1
"Kita mau apa ke sini?" tanya Aruna dengan otaknya yang masih loading.
Sam memijat kepalanya yang terasa sangat sakit, dia tidak mengerti kenapa Aruna malah terlihat lemot seperti itu.
"Diam dan duduk dengan anteng," jawab Sam dengan nada penuh perintah.
Aruna menuruti apa yang dikatakan oleh Sam, dia duduk dengan tenang tanpa mengganggu pria itu. Dia hanya memperhatikan para pasien yang lalu lalang di rumah sakit tersebut.
"Dengan pendaftaran atas nama Bapak Samuel Rizal Rahardi!" panggil seorang suster ketika ruang obgyn dibuka.
"Ya, saya sus," jawab Sam.
Sam langsung bangun, lalu dia hendak menggendong kembali Aruna. Namun, dengan cepat Aruna menghentikan pergerakan tangan dari pria itu.
Rasanya sangat malu jika pria itu kembali menggendong dirinya, karena Aruna merasa masih sanggup untuk melangkahkan kakinya tanpa merepotkan Sam.
"Aku sudah merasa lebih baik, aku bisa jalan sendiri." Aruna tersenyum dengan bingung karena dia diajak untuk masuk ke dalam ruang obgyn oleh Sam.
Aruna menurut, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang obgyn bersama dengan Sam. Saat tiba di dalam ruangan tersebut, Sam dan Aruna langsung duduk tepat di hadapan dokter.
"Jadi, apa yang bisa saya bantu?" tanya Dokter ketika melihat kecanggungan di antara Sam dan juga Aruna.
"Begini, Dok. Satu bulan yang lalu kami menikah, aku ingin anda memeriksakan kondisi kandungan istri saya, apakah dia hamil atau tidak."
Sam terlihat begitu bagus dengan aktingnya, dia begitu pasih dalam berbohong. Berbeda dengan Aruna yang nampak diam dengan bibir yang menganga lebar saat menatap wajah Sam.
"Boleh, mari Nyonya. Kita akan melakukan tes urine terlebih dahulu," ujar Dokter.
Dokter mengajak Aruna untuk masuk ke dalam kamar mandi, dia hanya menurut tanpa berkata apa pun. Setelah sepuluh menit kemudian, Aruna dan juga dokter itu sudah keluar dari dalam kamar mandi.
Aruna keluar dari dalam kamar mandi dengan air mata yang berurai di kedua pipinya, sedangkan dokter itu nampak tersenyum dengan begitu lebar.
"Selamat ya, Pak. Istri anda positif mengandung, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah. Kita lakukan USG terlebih dahulu untuk memastikan usia kandungan istri anda," ujar Dokter.
__ADS_1
Sam benar-benar merasa syok dengan apa yang dia dengar, pria itu bahkan hanya terlihat menatap wajah Aruna dan dokter secara bergantian dan dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
Berbeda dengan Aruna yang terus saja menangis, tentu saja itu adalah air mata kesedihan. Bukan air mata kebahagiaan yang biasa dikeluarkan oleh ibu muda yang baru saja mengalami kehamilan.
"Bayinya sangat sehat, usia kandungannya baru 4 minggu. Masih sangat muda, kalian harus bisa menjaganya," ujar Dokter.
Aruna semakin kencang dalam menangis, Sam yang melihat akan hal itu langsung menepuk-nepuk lengan Aruna. Dokter hanya tersenyum melihat interaksi di antara keduanya, karena dokter menyangka jika keduanya begitu bahagia mendengar kehamilan yang baru saja dia sampaikan.
Padahal, saat ini Aruna sangat kebingungan. Jika dia hamil, itu artinya dia harus meminta pertanggungjawaban kepada Sam. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, pikirnya.
Karena Sam adalah pria yang dia begitu benci, rasanya dia tidak sudi menikah dengan pria itu. Rasanya kalau Aruna punya uang yang banyak, dia ingin kabur ke tempat yang jauh dan membesarkan anak itu sendirian.
Dia takut tidak akan bisa menjalani kehidupannya dengan Sam, terlebih lagi pria itu selalu bersikap dingin kepada dirinya.
"Ini resep obat dan vitamin yang harus kalian tebus,'' ujar Dokter setelah pemeriksaan kandungan selesai.
Aruna yang masih syok hanya terdiam tanpa berani berkata apa pun, sungguh saat ini dia di hadapan dengan kesulitan yang luar biasa.
"Terima kasih," ujar Sam seraya menerima resep dari dokter.
Setelah mendapatkan resep dari dokter, Sam langsung membawa Aruna pergi dari sana. Aruna merasa keheranan ketika Sam langsung pergi menuju taman yang tidak jauh dari rumah sakit, pria itu bahkan tidak menebus vitamin dan juga obat yang diresepkan oleh dokter.
"Duduk!" perintah Sam ketika mereka ada di dekat bangku taman.
"Iya," jawab Aruna yang merasa ketakutan melihat wajah Sam yang begitu memerah antara kesal dan juga marah.
Jika saja di sana ada pintu ke mana saja milik Doraemon, rasanya Aruna ingin segera menghilang dari hadapan pria yang dilihatnya begitu mengerikan itu.
"Kamu dengar, Aruna? Kamu hamil dan aku tidak siap untuk menikahi kamu, gugurkan kandungan itu!" perintah Sam.
Aruna hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya dengan tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Sam, bisa-bisanya pria itu meminta dirinya untuk menggugurkan bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Hah?" kaget Aruna.
__ADS_1