Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 152


__ADS_3

Hari-hari yang dilalui oleh Ayaka, Ayana, Stefano dan juga Sandi sangatlah sibuk. Selain masih harus bekerja, keempat anak manusia berbeda jenis kelamin itu masih harus mempersiapkan pernikahan mereka.


Terlebih lagi dengan Stefano dan Ayaka, keduanya terlihat begitu sibuk karena pernikahan mereka akan dilaksanakan terlebih dahulu.


Selain itu, Stefano juga sedang mengurusi surat pengunduran dirinya. Dia tidak bisa lagi bekerja dengan Ayana, karena dia harus memimpin perusahaan yang ditinggalkan oleh Andin.


Stefano berpikir jika dirinya harus membiayai hidup Ayaka, maka dari itu dia ingin mengembangkan perusahaan kecil milik almarhumah ibunya.


Siapa tahu jika dirinya yang memimpin secara langsung, perusahaan kecil itu bisa berkembang menjadi perusahaan yang besar.


"Sudah siap?" tanya Stefano kepada Ayaka.


Stefano akan mengantarkan Ayaka ke kediaman Sigit, Ayaka ingin bertemu dengan Ayana terlebih dahulu sebelum mereka melakukan acara pernikahan.


Ya, dua hari lagi acara pernikahan Ayaka dan juga Stefano akan dilaksanakan. Mereka akan menikah di kediaman Sam, karena keduanya sepakat untuk menikah secara sederhana.


Lebih tepatnya Ayaka yang menginginkan pernikahan secara sederhana itu, karena nyatanya Stefano ingin mengadakan pesta pernikahan yang mewah agar Ayaka senang.


"Sudah dong, ayo kita berangkat." Ayaka memeluk lengan Stefano dan mengajak pria itu untuk keluar dari kediaman Sam.


Tentunya sebelum keduanya pergi, mereka berpamitan terlebih dahulu kepada Sam. Tentu saja Sam mengizinkan, karena mereka berdua akan pergi ke kediaman mantan istrinya.


"Kenapa gugup seperti itu?" tanya Stefano ketika mereka sedang berada di perjalanan menuju kediaman Sigit.


Sebenarnya Ayaka merasa tidak enak hati karena dia akan menikah terlebih dahulu, tetapi Stefano benar-benar tidak sabar untuk menikahi dirinya. Selalu saja alasan dia sudah tua yang menjadi jurus pamungkasnya.


Namun, nyatanya dia juga merasa senang bisa segera menikah dengan Stefano. Karena itu artinya dia akan menjadi istri dari seorang pria yang menjadi malaikat penyelamat bagi dirinya.


Hanya saja, kini saatnya Ayaka datang untuk menemui kakaknya. Dia akan memberikan pelangkah untuk kakaknya, Ayana.


"Takut kak Ay minta yang aneh-aneh," jawab Ayaka.


"Kamu tuh ada-ada aja, masa iya kakak kamu minta yang aneh-aneh. Aku yakin dia tidak akan mempersulit adiknya," tutur Stefano.


Ayaka berniat ingin memberikan pelangkah kepada Ayana, karena nyatanya dia akan menikah terlebih dahulu.


"Hem! Semoga saja dia tidak mengerjaiku," ujar Ayaka seraya terkekeh.

__ADS_1


"Ya, Sayang." Stefano mengelus lembut puncak kepala calon istrinya.


Ayaka tersenyum, lalu dia memeluk lengan Stefano dan menyandarkan kepalanya di pundak calon suaminya. Stefano terkekeh, lalu dia menggenggam tangan Ayaka dengan erat.


"Dek! Kok kamu ke sini? Calon pengantin ngga boleh kelayapan loh!" ujar Ayana ketika melihat Ayaka yang datang bersama dengan Stefano.


Ayana bahkan tanpa ragu langsung memeluk adiknya tersebut, Ayaka langsung membalas pelukan dari kakaknya.


"Kangen, Kak. Sekalian mau nanya juga sama Kakak," jawab Ayaka.


Ayana melerai pelukannya dengan adiknya tersebut, lalu dia mengajak Stefano dan juga Ayaka untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruang keluarga.


"Nanya apa sih? Kok kayaknya serius banget?" tanya Ayana.


"Mau nanya soal pelangkah, Kakak mau minta apa sebagai syarat aku yang akan menikah terlebih dahulu."


Ayana tersenyum seraya mengelus lembut lengan adiknya, walaupun dihilangkan dia merasa tidak marah. Bahkan, rasanya dia tidak memerlukan pelangkah yang disebutkan oleh Ayaka.


"Dek! Ini jaman modern loh, masih percaya aja sama hal gituan," ucap Ayana.


"Harus, Kak. Yang penting syarat aja, Kakak mau minta apa?"


"Oh ayolah, Kak. Kakak mau minta apa?"


Ayana nampak berpikir dengan begitu keras mendengar pertanyaan dari Ayaka, karena sungguh dia tidak ingin meminta apa pun kepada adiknya tersebut. Namun, adiknya itu masih saja percaya dengan hal yang seperti itu dan harus dilaksanakan.


"Baiklah, aku lihat gaun pengantin kamu begitu cantik. Bagaimana kalau kamu memesankan aku satu gaun pengantin yang sama dengan punya kamu, biar gaun pengantin yang dibelikan oleh Sandi aku pakai untuk acara resepsi."


"Boleh dong, Kak. Untuk Kakak apa sih yang ngga!" ujar Ayaka yang merasa begitu lega dengan permintaan dari Ayana.


Dua hari kemudian.


Di kediaman Sam terlihat begitu ramai sekali, walaupun acara pernikahan Ayaka akan dilaksanakan secara sederhana, tetapi dengan kedatangan kerabat dan juga keluarga sudah memenuhi kediaman sederhana dari pria itu.


Padahal, Ayaka dan Stefano membuat panggung pelaminan di belakang rumah Sam, karena kebetulan di sana ada lahan yang masih kosong.


Namun, ternyata keluarga Siregar, para sahabat, kerabat dan keluarga Dinata saja sudah mampu memenuhi tanah kosong yang sudah disulap menjadi tempat pernikahan yang sangat indah walaupun sangat sederhana itu.

__ADS_1


"Sudah siap untuk menikah?" tanya Sam seraya masuk ke dalam kamar putrinya.


Ayaka sudah terlihat cantik sekali, dia sudah memakai gaun pengantin yang diberikan oleh Stefano dan tentunya sudah dirias.


"Sudah, Yah," jawab Ayaka.


"Acaranya akan dimulai sepuluh menit lagi, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri. Kamu akan tinggal dengan suami kamu," ujar Sam antara bahagia dan juga sedih harus melepaskan putrinya.


Ayaka terkekeh mendengar penuturan dari Sam, karena nyatanya walaupun mereka tidak akan tinggal satu atap lagi, tetapi Ayaka akan tinggal di rumah Stefano yang letaknya berada di samping rumah Sam.


Jika Sam merindukan dirinya, pria ini tinggal melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah yang dia tinggali bersama dengan Stefano.


Begitupun sebaliknya, jika Ayaka merindukan ayahnya, wanita itu tinggal berkunjung saja ke rumah Sam. Tidak perlu menggunakan taksi ataupun diantarkan oleh Stefano, karena dengan berjalan kaki pun sudah bisa sampai dalam waktu beberapa menit saja.


"Ayah, kalau nanti Ayah rindu, Ayah tinggal berkunjung ke rumah Aya dan kak Fano. Kan' rumah kita sebelahan!" ujar Ayaka.


Hal itu memang benar adanya, setelah Ayaka menikah dia akan tinggal di rumah Stefano yang jaraknya tidak jauh dari rumah Sam. Dia bisa mengunjungi putrinya kapan pun, mau siang ataupun malam.


"Kamu benar, tapi tetep aja beda. Ayo cepat, Sayang. Fano pasti sudah menunggu," ujar Sam yang tiba-tiba saja merasa terharu karena kini dia akan melihat putrinya menikah dengan pria pujaan hatinya.


"Ya, Ayah. Ayo kita--"


"Cieee! Calon pengantin udah siap, ayo kita keluar. Pak penghulu sudah manggil kamu, Dek." Ayana tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Ayaka dan memeluk lengan adiknya.


Wajah Ayaka langsung memerah mendapatkan godaan dari Ayana.


"Iya, Kak," jawab Ayaka.


Akhirnya Ayana dan juga Sam menuntun Ayaka untuk keluar dari dalam kamarnya menuju halaman belakang, tempat di mana akan diadakannya acara pernikahannya bersama dengan Stefano.


Saat mereka sedang berjalan beriringan, Ayana tiba-tiba saja mencondongkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga adiknya tersebut.


"Kamu kan' nikah duluan, Dek. Nanti setelah melakukan malam pertama, jangan lupa bilang-bilang sama Kakak. Malam pertama itu beneran sakit apa nggak," bisik Ayana.


Ayana benar-benar merasa penasaran dengan bagaimana rasanya bercinta untuk pertama kalinya, karena banyak yang berkata jika untuk pertama kalinya melakukan hal itu benar-benar akan terasa begitu sakit.


Bahkan, ada beberapa orang yang sampai gagal melakukan malam pertama karena rasa sakitnya tidak kunjung berubah menjadi rasa nikmat.

__ADS_1


"Kak!" pekik Ayaka yang tidak menyangka jika kakaknya tersebut akan membisikkan hal yang seperti itu.


__ADS_2