
Aruna dan juga Sigit kini sedang duduk di bangku taman dengan jarak yang lumayan dekat, karena sudah beberapa kali Aruna meminta Sigit untuk menjauh, tetapi pria itu tetap saja ingin berdekatan dengan Aruna.
Aruna akhirnya membiarkan Sigit dekat dengan dirinya, yang terpenting masih ada jarak di antara mereka, pikir Aruna.
Baik Sigit ataupun Aruna kini masih saling diam, Sigit sedang menunggu Aruna untuk berbicara, sedangkan Aruna sedang menimang-nimang apakah permintaannya terlalu berat atau tidak.
Lama kelamaan pria itu merasa tidak tahan karena Aruna tetap saja diam, pada akhirnya dia yang memulai pembicaraan.
"Ck! Lama sekali, sebenarnya kamu itu mau minta tolong sama aku apa nggak sih? Aku bisa lumutan kalau nungguin kamu diem mulu kaya gitu!" keluh Sigit.
Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah Sigit kala mendengar ocehan dari pria itu, Aruna menghela napas sepenuh dada. Lalu, dia mengeluarkannya dengan perlahan dan berkata.
"Apakah Sam sudah datang ke kantor?" tanya Aruna.
Setahunya Sam sama seperti dirinya masuk ke rumah sakit, karena yang dia dengar Sam babak belur setelah dipukuli oleh anak buah dari Steven. Maka dari itu dia menanyakan hal tersebut.
Sigit langsung mengerucutkan bibirnya, dia merasa tidak suka kala Aruna masih menanyakan pria itu. Pria yang sudah berusaha untuk memerkosa wanita yang sangat dia cintai itu, pria yang dirasa sudah menghancurkan mental wanita itu.
"Jangan kaya gitu, aku hanya bertanya. Kalau kamu tidak mau jawab ya udah," ujar Aruna kesal.
Sigit jadi serba salah dibuatnya, akhirnya dia merapatkan tubuhnya lalu menggenggam tangan Aruna dengan begitu erat.
"Aku cemburu, Sayang. Kamu tahu ngga sih?" kesal Sigit.
Aruna ingin sekali tertawa melihat wajah Sigit yang begitu cemburu ketika dirinya menanyakan tentang Sam, tetapi dia memang harus menanyakan hal itu.
"Hem! Aku tahu, jadi cepat katakan kepadaku, apakah Sam sudah datang ke kantor atau belum?" tanya Aruna lagi.
"Belum, dia masih izin sakit," jawab Sigit seraya tersenyum kecut.
"Kalau dia sudah sembuh dan datang ke kantor, bisakah kamu memecatnya?" tanya Aruna.
Wajah Sigit yang awalnya lesu kini nampak berbinar, jujur saja dia merasa senang dengan permintaan yang terlontar dari bibir Aruna. Jika Aruna meminta dirinya untuk memecat Sam, itu artinya Aruna begitu membenci mantan suaminya tersebut.
"Maksudnya kamu, kamu ingin aku memecat pria itu?" tanya Sigit.
__ADS_1
Aruna tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, karena dia ingin melihat Sam pelan-pelan hancur. Bukan karena dia kejam, tetapi Sam harus mendapatkan ganjaran yang setimpal.
"Ya, bisakah kamu memecatnya?" tanya Aruna mengulang kembali pertanyaannya.
"Bisa, Sayang. Dengan senang hati aku akan memecatnya," jawab Sigit.
Lega sekali saat Sigit mengatakan bisa, Sam pasti akan sangat kecewa ketika dipecat dari perusahaan Siregar. Karena pada kenyataannya, bekerja di perusahaan besar itu adalah impian terbesar Sam.
"Aku mau minta satu hal lagi, boleh?" tanya Aruna.
Sigit menganggukkan kepalanya dengan cepat, mau meminta permintaan yang banyak pun dia tidak akan keberatan. Permintaan yang sulit sekalipun akan dia kabulkan.
"Katakan, Sayang. Apa pun yang kamu inginkan akan aku turuti," jawab Sam penuh semangat.
"Tolong blacklist nama dia, buatlah semua perusahaan tidak mau menerima dia walaupun hanya sekedar menjadi seorang OB." Aruna mengatakan hal itu dengan begitu tegas, tidak ada raut bercanda sedikit pun di wajahnya.
Sigit sampai kaget dibuatnya, terlebih lagi ketika dia melihat raut kebencian yang begitu dalam dari sorot mata Aruna. Sigit sangat paham jika wanita itu pasti begitu terluka dengan apa yang dilakukan oleh Sam.
"Bisa, Sayang. Kamu ingin Sam tidak punya nama dan tidak punya wajah bukan?" tanya Sigit.
"Siap laksanakan, Sayang. Tapi, aku boleh minta upah ngga?" tanya Sigit.
"Aku tidak punya uang banyak, memangnya kamu mau minta upah berapa?" tanya Aruna.
"Jadilah istriku, aku berjanji akan berusaha untuk membahagiakan kamu," ujar Sigit dengan serius.
"Hati aku masih diselimuti rasa kecewa, kalau kamu mau menunggu hatiku sembuh--silakan!" jawab Aruna.
"Benarkah?" tanya Sigit dengan wajahnya yang berbinar.
"Hem! Satu hal lagi, aku adalah seorang janda yang sudah memiliki seorang putri. Jika kamu mampu membuat Ay dekat dengan kamu dan menganggap kamu lebih berarti dari Sam, aku akan menikah dengan kamu."
"Janji, ya? Awas kalau ngga ditepati, aku pasti akan mendapatkan hati Ay," ujar Sigit bersemangat.
Aruna hanya tersenyum melihat raut wajah Sigit yang terlihat begitu bahagia sekali dengan apa yang dia katakan, tapi jika memang benar Sigit bisa membuat Ayana merasakan kebahagiaan tanpa mengingat luka yang sudah ditorehkan oleh Sam, Aruna berjanji akan berusaha untuk menerima Sigit di dalam hidupnya.
__ADS_1
"Aku sangat senang, boleh peluk?" tanya Sigit.
"No! Kata pak ustadz kita itu bukan mahram, ngga boleh peluk-peluk. Sudah pulang sana, waktu istirahat aku jadi habis karena kamu. Karena sebentar lagi aku harus belajar shalat dan mengaji," ujar Aruna.
"Iya, maaf. Padahal pan kamu yang butuh aku, tapi kenapa aku yang disalahkan?" tanya Sigit seraya menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal.
Aruna hanya bisa tertawa melihat tingkah dari pria muda yang ada di dekatnya itu, lucu tapi dirasa sangat menyebalkan.
Di lain tempat.
Sam sudah pulih dari sakitnya, wajahnya yang lebam kini sudah mulai membaik. Sam memutuskan untuk pulang ke kediaman Rahardi, karena menurutnya dia memang pantas pulang ke kediaman ibunya.
"Kamu sudah pulang, Sam?" tanya Almira.
"Yes, Mom. Aku sangat lelah, aku mau istirahat." Sam langsung meninggalkan Ibunya dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Namun, ucapan dari Almira langsung menghentikan langkah dari pria itu. Almira sudah menahan unek-unek di dalam pikirannya selama dua hari ini, dia ingin mengutarakannya.
"Selama dua hari di rumah sakit kamu hanya merebahkan tubuh kamu, masa pulang-pulang masih mau tiduran? Cape apa kecewa karena kini kesempatan untuk dekat dengan Aruna sudah tidak ada lagi?" tanya Almira.
"Maaf," ujar Sam.
"Dasar anak bodoh! Seharusnya kamu berpikir dulu sebelum bertindak, jika sudah seperti ini kamu pasti akan kesusahan untuk bertemu dengan Aruna dan juga Ay," kesal Almira.
"Maaf, Mom. Waktu itu pikiranku sungguh buntu," jawab Sam penuh sesal.
"Percuma kamu berkata seperti itu, karena kini aku kehilangan menantu dan cucuku karena ulah kamu. Dasar anak tidak tau diri!" kesal Almira yang benar-benar geram terhadap putranya tersebut.
Dia sungguh tidak menyangka jika putranya itu ternyata memiliki pikiran yang pendek, jika sudah seperti itu Almira yakin Aruna tidak akan pernah memaafkan putranya.
Walaupun mungkin mulutnya bisa saja berkata memaafkan, tetapi hatinya pasti memiliki rasa sakit yang mendalam.
"Mom! Aku minta maaf, tolong maafkan aku. Aku---"
Sam tidak sempat melanjutkan ucapannya, karena tiba-tiba saja ada Angel datang dan langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Dia mendorong dada Sam dengan cukup kencang.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak datang juga untuk mengunjungi anakmu?" tanya Angel dengan kesal.