Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 98


__ADS_3

Sam merasa jika dirinya benar-benar merupakan manusia yang paling bejat, karena dua kali memiliki anak dari perempuan yang berbeda dan dua kali pula dia melakukannya dalam kesalahan.


Walaupun pada akhirnya dia bisa menikahi Aruna, tetapi pada kesalahan yang kedua Sam tidak menikahi Angel dan begitu menikmati dosa yang dia lakukan selama 5 tahun lamanya.


Melihat Ayana yang bersedih karena mengetahui kenyataannya, rasanya Sam ingin menenggelamkan dirinya di dasar laut yang paling dalam.


Perasaan Sam benar-benar campur aduk ketika melihat Ayana di usianya yang masih kecil harus mengetahui kenyataan pahit itu, Ayana harus mengetahui dosa-dosa yang pernah dia lakukan di masa lalu.


"Maafkan, Ayah. Maaf karena Ayah hanya seorang manusia yang menjijikan, maaf."


Kata-kata itu yang terus saja keluar dari bibir Sam, dia terus saja memeluk kedua putrinya disertai isak tangis.


Setelah menenangkan putrinya Sam mengantarkan kedua putrinya itu untuk shalat dzuhur di Mushola yang tidak jauh letaknya dari taman, setelah mereka selesai shalat Sam berniat untuk mengantarkan kedua putri cantiknya itu.


Karena siang menuju sore ini dia akan sibuk untuk merapikan barang-barang yang sudah dia beli, dia ingin segera menata barang-barang tersebut agar bisa dijual.


Ya, uang yang diberikan oleh Sigit dia belikan rumah sederhana di dekat sekolahan. Lalu, dia membeli alat-alat tulis untuk dijual. Sam memutuskan untuk menjadi pedagang kecil-kecilan, karena rasanya dengan seperti itu dia bisa mencukupi kehidupannya.


Dia akan berdagang alat-alat tulis di dekat sekolahan, dia berharap dagangannya akan laris. Karena dia juga akan mengumpulkan uang untuk diberikan kepada Ayana dan juga Ayaka, walaupun memang tidak seberapa.


Namun, ternyata kedua putrinya itu menolak untuk pulang. Mereka berkata ingin membantu Sam terlebih dahulu, walaupun Sam berkata takut mereka kecapean, tetapi keduanya kompak berkata ingin membantu ayahnya tersebut.


"Selamat datang di rumah kecil Ayah," ujar Sam ketika mereka sudah sampai di kediaman sederhana milik Sam.


Rumah itu terdiri dari satu kamar utama, satu kamar tamu, ada dapur, kamar mandi, ruang keluarga dan juga ruang tamu yang akan dia jadikan sebagai toko buku.


Di sana sudah ada dua etalase yang Sam beli dan akan diisi dengan peralatan tulis yang sudah dia beli juga, Sam juga membeli 2 buah showcase karena rencananya dia akan menjual minuman dingin.

__ADS_1


"Rumahnya sudah terlihat rapi, Ayah merapikannya sendiri?" tanya Ayana.


Hanya ruang tamu saja yang terlihat begitu berantakan, karena barang-barang yang Sam beli belum ditata di atas etalase. Masih bertumpuk di atas kardus.


"Tentu saja, Sayang. Walaupun kecil harus terasa nyaman, jadinya Ayah rapikan. Kalau kalian suatu saat mau menginap, Ayah juga sudah merapikan kamar tamu. Ya, walaupun hanya ada kasur busa tanpa ranjangnya," ujar Sam seraya tersenyum kecut.


Karena kini kehidupannya berubah drastis, dari yang dulunya bergelimang harta kini menjadi begitu sederhana.


Namun, di dalam hati dia masih merasa bersyukur karena uang yang diberikan oleh Sigit masih bisa dia belikan rumah walaupun sangat sederhana. Bahkan, sisanya bisa digunakan sebagai modal usaha.


Sungguh dia berdoa di dalam hatinya, semoga usaha yang dia jalankan bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Karena dia ingin belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab.


Dia ingin mengumpulkan uang untuk kedua anak-anaknya, walaupun nyatanya uang yang dihasilkan memang jauh dari kata besar seperti penghasilan Sam di waktu dulu.


Jika boleh meminta, Sam juga ingin bertemu dengan Ayaka dan mengajak anak itu untuk tinggal bersama dengan dirinya. Dia akan membesarkan anak itu dengan sepenuh hati dan menyayanginya dengan tulus.


"Terima kasih, Sayang. Kalau begitu kalian duduk saja, Ayah mau merapikan semuanya ke dalam etalase. Ayah takut kalian cape, lebih baik kalian diam seraya menyemangati Ayah," ujar Sam yang tidak mau anak-anaknya kecapean.


"Mana ada kaya gitu, kita itu harus cape bareng-bareng. Biar beban yang Ayah pikul lebih ringan," ujar Ayaka yang mulai mengambil kotak pensil dan menatanya di atas etalase.


"Ay juga mau bantuin Ayah, ini ditata di sebelah mana?" tanya Ayana seraya mengangkat beberapa sampul buku.


Sam yang melihat kedua putrinya membantu dirinya dengan antusias merasa sangat terharu, pria yang belum lama keluar dari penjara itu bahkan sampai menitikan air matanya.


"Ayah jangan nangis, ayo buruan kita selesaikan pekerjaannya. Nanti keburu sore loh, lagian Ay ke sini mau bantu Ayah. Bukan mau lihatin Ayah nangis," ujar Ayana.


Sam langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, dia menyusut air matanya lalu mengajak kedua putrinya itu untuk berbenah di sana.

__ADS_1


Ketiganya menata barang belanjaan dengan begitu semangat, sesekali mereka akan bercanda dan tertawa bersama. Sungguh Sam merasa bahagia bisa merasakan hal seperti ini, dipercaya lagi oleh putrinya.


Ketiganya menghabiskan banyak waktu untuk merapikan barang-barang tersebut, sampai pukul 5 Akhirnya Sam mengantarkan kedua putrinya ke kediaman Aruna.


Walaupun rasanya dia masih ingin bersama dengan putrinya, tetapi dia tidak boleh egois. Dia mengantarkan kedua putri cantik itu dengan perasaan sedih sekaligus bahagia.


Sedih karena harus terpisah dengan putrinya, tetapi bahagia karena putrinya tidak membenci dirinya. Dia bahagia karena hari ini sudah menghabiskan seharian penuh bersama dengan putrinya.


"Terima kasih Aruna, karena kamu sudah memberikan waktu untukku bisa lebih dekat dengan Ay," ujar Sam seraya tersenyum hangat kepada mantan istrinya tersebut.


"Sama-sama, aku sudah berkata dari dulu jika kamu boleh menemui anak kita kapan pun itu. Aku tidak akan melarangnya," jawab Aruna.


"Terima kasih, kamu memang wanita yang baik. Jika libur sekolah nanti, apakah Ay boleh menginap di rumahku?" tanya Sam mencoba keberuntungan.


"Boleh, tentu saja boleh. Kamu adalah ayahnya, aku percaya kamu akan melindunginya. Aku percaya kamu akan berusaha untuk membahagiakan Ay," jawab Aruna.


Senang sekali rasanya Sam mendengar akan hal itu, karena itu artinya hubungannya dengan putrinya bisa lebih dekat lagi.


"Terima kasih, kalau begitu aku pulang dulu. Karena waktu sudah semakin sore," pamit Sam.


"Iya," jawab Aruna singkat.


Sam pergi dengan perasaan bahagia karena seharian ini dia bisa bermain dengan putrinya, senyum di bibir pria itu bahkan tidak pernah luntur karena ternyata Tuhan begitu baik kepada dirinya.


Tuhan memberikan kesempatan yang luar biasa untuk berdekatan dengan putrinya, Tuhan memberikan kesempatan kedua untuk dirinya bisa menjalani kehidupan ini dengan lebih baik lagi.


"Terima kasih, Ya Tuhan. Karena Engkau masih memberikan aku kebaikan, semoga aku bisa segera menemukan Aya. Agar aku bisa menebus kesalahanku terhadap dirinya, aku berjanji akan begitu menyayangi kedua putriku tanpa membeda-bedakan keduanya," ujar Sam.

__ADS_1


__ADS_2