
"Mom! Mom salah paham aku---"
Aruna mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu dia memukul pipi Sam dengan cukup kencang. Sontak saja Sam langsung menolehkan wajahnya ke arah Aruna, lalu dia menatap Aruna dengan tatapan penuh pertanyaan dan juga kekesalan.
"Mom?" tanya Aruna dengan kaget. Dia tidak menyangka jika wanita tersebut adalah ibu dari Sam, jika saja Aruna tahu, dia tidak akan mengatakan apa pun kepada wanita itu.
Almira yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Aruna langsung menolehkan wajahnya, dia benar-benar merasa iba kepada wanita muda yang ada di hadapannya.
"Hem! Dia putraku, pria brengsek yang sudah menghamili kamu," jawab Almira.
Aruna merasa jika ini seperti sebuah permainan, dengan tubuh yang begitu lemas Aruna memundurkan langkahnya. Rasanya dia ingin segera pergi dari sana, dia ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya dan segera pergi ke tempat yang jauh.
"Aruna! Jangan pergi!" teriak Almira ketika dia melihat Aruna yang menghentikan kang ojek dan langsung pergi dari sana.
Aruna memilih segera pergi karena merasa semakin mual saja dengan kenyataan hidup yang baru saja dia terima. Almira langsung menolehkan wajahnya ke arah Sam, lalu dia memukul pundak Sam berkali-kali
"Dasar anak kurang ajar, bagaimana bisa kamu menghamilinya? Bukankah kamu mencintai Angel?" tanya Almira dengan tatapan tajamnya.
Dari masa SMA Sam selalu saja menyanjung dan memuja Angel, wanita yang begitu sulit ditaklukkan oleh Sam. Karena memang Sam hanya memberikan perhatian dan menunjukkan rasa cintanya lewat perbuatannya, sedangkan perempuan butuh pernyataan.
Tidak akan ada perempuan yang tiba-tiba saja menerima pria seperti Sam untuk menjadi kekasihnya, atau bahkan menjadi suaminya kalau Sam tidak mau mengungkapkan perasaannya.
"Semuanya tidak seperti yang Mom pikirkan, semua ini terjadi karena--"
Sam pada akhirnya menceritakan semuanya, tidak ada satu hal pun yang dia tutupi dari ibunya. Almira terlihat menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, tidak lama kemudian Almira nampak menampar wajah Sam.
"Sakit, Mom!" protes Sam.
"Rasa sakitnya tidak seberapa, Sam. Hati Aruna pasti lebih sakit lagi, terlebih lagi kamu menyuruh dia untuk menggugurkan bayi yang ada di dalam kandungannya. Nikahi dia, Sam!" titah Almira dengan tegas.
"Tapi, Mom. Aku tidak mencintai Aruna," tolak Sam.
Kembali Almira memukul pundak Sam, kali ini dia memukul Sam lebih kencang lagi agar putranya sadar jika dia sudah melakukan kesalahan dan harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dia lakukan.
"Setidaknya kamu nikahi dia, kalau memang tidak ada cinta yang tumbuh setelah kalian menikah, ceraikan dia setelah melahirkan keturunan Rahardi," pinta Almira.
Apa bedanya menikahi Aruna atau tidak, jika nantinya Sam akan menceraikan Aruna juga. Lebih baik dia tidak menikahi wanita itu, karena rasanya itu akan lebih baik.
"Mom!" protes Sam.
"Ini perintah!" tegas Almira.
__ADS_1
Sam menunduk lesu, dia tidak bisa membantah jika Ibunya sudah berkata seperti itu. Sam pada akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Yes, Mom," jawab Sam pada akhirnya.
"Kita ke rumah Aruna sekarang, kamu harus menikahi dia saat ini juga. Kamu tahu di mana rumah Aruna, kan?" tanya Almira.
"Tau, Mom," jawab Sam.
"Bagus!" ujar Almira seraya melemparkan kunci mobil miliknya. Mobil yang dia parkir tidak jauh dari taman.
Pada awalnya Almira ingin membeli jajanan yang ada di dekat taman, dia sengaja keluar di saat tengah hari yang sangat panas ini. Namun, dia begitu sedih karena malah mengetahui kenyataan pahit seperti ini.
"Di mana rumahnya?" tanya Almira setelah Sam memberhentikan mobilnya.
"Di sana, Mom!" tunjuk Sam pada rumah sederhana yang tidak jauh dari Sam memberhentikan mobil ibunya tersebut.
"Cepat turun, kita temui dia." Almira membuka pintu mobilnya dan dengan cepat dia turun.
"Mom, dia orang miskin loh! Apa Mom tidak keberatan mempunyai menantu miskin seperti Aruna?" tanya Sam.
"Tidak akan," jawab Almira seraya melangkahkan kakinya menuju rumah sederhana itu.
Mau tidak mau Sam langsung mengikuti langkah ibunya dari belakang, karena walau dia menolak sekeras apa pun, tetapi tetap saja dia tidak akan bisa menolak perintah dari ibunya.
Cukup lama Almira mengetuk pintu tersebut, hingga tidak lama kemudian pintu tersebut nampak terbuka. Seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu tersebut nampak kaget karena ada orang yang tidak dia kenal datang ke sana.
"Anda siapa?" tanya wanita itu.
Wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibu dari Aruna, Arimbi. Wanita itu terlihat ketakutan saat melihat penampilan Almira yang sangat modis dan juga elegan.
"Saya Almira, saya mencari Aruna. Apakah Aruna ada?" tanya Almira berbasa basi.
"Tidak ada Aruna," jawabnya dengan raut ketakutan.
Arimbi begitu ketakutan, dia bahkan berusaha untuk menutup pintu rumah tersebut. Namun, dengan cepat Sam menahan pintu rumah tersebut. Almira bahkan dengan cepat masuk ke dalam rumah itu.
''Kami bukan penjahat, saya adalah ibu dari pria yang bekerja di kantor yang sama dengan Aruna. Boleh kita bicara?" tanya Almira.
"Boleh, apa yang mau anda bicarakan?" tanya Arimbi.
"Aruna hamil, aku ke sini ingin menikah Aruna dengan putraku," ujar Almira to the point.
__ADS_1
"Apa? Aruna hamil?" teriak Arimbi dengan kencang seraya memegangi dadanya.
"Tenanglah, mari kita duduk dan bicarakan dengan baik-baik," ajak Almira, sedangkan Sam hanya diam seraya berdiri di dekat pintu.
"Aruna!" teriak Arimbi yang merasa bingung dengan keadaan seperti ini.
Aruna yang memang sedang berada di dalam kamarnya langsung keluar, dia bahkan langsung berlari untuk menghampiri ibunya. Karena dia begitu kaget mendengar teriakan dari ibunya tersebut.
"Ada apa, Bu?" tanya Aruna dengan kaget, bahkan wajahnya langsung pucat ketika dia melihat keberadaan Almira dan juga Sam di sana.
"Kamu hamil, hem? Kamu dihamili pria itu, hah?" tanya Arimbi dengan napas yang sudah sesak.
"Tenang dulu, Bu. Ibu harus minum obat," ucap Aruna seraya berlari dan mengambil obat ketika melihat wajah ibunya yang semakin memucat.
Setelah Aruna datang kembali dan membawa obat untuk ibunya, Arimbi langsung mau minum obat yang dibawakan oleh Aruna. Setelah terlihat lebih tenang, dia menolehkan wajahnya ke arah Almira. Dia seolah meminta penjelasan dari wanita itu.
"Jadi begini, anak saya dan Aruna sudah--"
"Intinya saja seperti apa!" pungkas Arimbi.
"Aruna hamil 4 minggu dan aku ingin menikahkan Aruna dengan putraku," jelas Almira.
Arimbi menolehkan wajahnya ke arah Sam, dia memerhatikan pria itu dengan seksama. Pria itu nampak tidak memedulikan apa yang sedang dibicarakan oleh Almira, dia jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah Sam akan menikahi Aruna atau bagaimana.
"Apakah kamu mencintai Aruna?" tanya Arimbi.
"Tidak!" jawab Sam dengan tegas.
Kembali rasa sesak yang Arimbi rasakan, tetapi dia berpura-pura bersikap biasa saja karena takut membuat Aruna bersedih.
"Lalu, untuk apa kamu menikahi putriku jika kamu tidak mencintainya?" tanya Arimbi lagi.
"Karena aku diminta oleh Mom untuk menikahi Aruna, lalu aku akan menceraikan Aruna setelah dia melahirkan nanti," jawab Sam dengan enteng.
"Kalau begitu tidak usah menikah saja, untuk apa kamu menikahi putriku kalau sudah berniat untuk menceraikannya," ucap Arimbi dengan napas yang mulai terputus-putus. Bahkan, keringat dingin sudah mulai membanjiri dahinya.
"Bagus! Kalau anda tidak memperbolehkan aku untuk menikahi Aruna itu lebih baik, aku akan bebas dan Aruna juga bebas melakukan apa pun. Jika Aruna akan menggugurkan kandungannya, aku akan memberikan tambahan uang."
Jeder!
Bagai tersambar petir di siang bolong, tubuh Arimbi langsung lemas dan bergetar dengan hebat. Bahkan, tiba-tiba saja tubuh itu luruh ke atas lantai. Aruna yang merasa ketakutan langsung berteriak dengan penuh ketakutan, terlebih lagi ketika dia melihat mata Arimbi yang menutup dengan sempurna.
__ADS_1
"Bu! Bangun, Bu!" teriak Aruna.