Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 54


__ADS_3

Jika Sam kini sedang berusaha untuk kabur dari kejaran polisi, berbeda dengan Aruna. Wanita itu baru saja mengantarkan putrinya ke sekolahnya, tadinya dia mau langsung pergi ke kantor karena Sagara berkata jika dirinya butuh waktu untuk meluapkan kesedihannya dengan bekerja.


Berdiam diri di rumah juga sangat tidak baik, setidaknya Aruna bekerja walaupun hanya sebentar. Karena menurut Sagara, dengan seperti itu kesedihan Aruna akan teralihkan.


Namun, Aruna tidak jadi pergi ke kantor. Karena bibi menelpon Aruna dan mengatakan jika Almira terkena serangan jantung dan kini sedang dirawat di rumah sakit, walaupun Aruna membenci Sam, tetapi tetap dia menyayangi wanita paruh baya itu.


Apalagi setelah dia mendengar jika Almira di rumah sakit hanya sendirian, dengan cepat Aruna pergi ke rumah sakit untuk menemani mantan mertuanya tersebut.


"Ke mana Sam? Kenapa di saat Ibunya terkena serangan jantung dia malah tidak ada?" tanya Aruna dengan kesal, karena Aruna menyangka jika Sam sudah mengabaikan ibunya.


Saat tiba di rumah sakit, Aruna langsung melangkahkan kakinya menuju ruang ICU. Karena menurut kabar yang dia dapatkan, Almira memang dirawat di sana.


Saat Aruna tiba di depan ruang ICU, Aruna bisa melihat dengan jelas dari balik jendela jika keadaan Almira benar-benar tidak baik.


Banyak alat yang menempel di tubuh wanita itu, ada selang infus juga yang menancap di tangannya. Bahkan, ada selang oksigen yang terpasang di hidung Almira.


"Semoga Mom bisa cepat pulih," doa Aruna.


Setelah mengatakan hal itu, karena meminta izin untuk menemani Almira di dalam ruangan tersebut. Beruntung dokter mengizinkan, tentunya dengan syarat Aruna tidak boleh mengganggu Almira.


Saat Aruna sedang duduk seraya menatap wajah Almira yang begitu pucat, ponsel milik Aruna terdengar berdenting. Itu artinya ada pesan masuk ke dalam ponselnya, dengan cepat Aruna mengambil ponselnya dan membaca pesan yang ternyata dari Sagara.


"Sam kini menjadi DPO, karena dia berusaha melarikan diri saat polisi akan melakukan penahanan atas tuduhan penyebaran video asusila di dalam akun sosial media miliknya."


Aruna tersenyum getir ketika membaca pesan dari Sagara, hatinya merasa sakit karena pria yang masih dia cintai itu kini berada dalam kemalangan dan juga kesusahan.


Ya, walaupun dia begitu kecewa dan ingin membalaskan dendam atas apa yang dilakukan oleh Sam terhadap dirinya. Namun, rasa cinta di dalam hatinya tidak bisa hilang begitu saja. Walaupun memang rasa cinta itu sudah mulai berkurang.


Namun, tidak dapat dia pungkiri jika dirinya merasa sangat senang karena Sam kini merasakan balasan yang setimpal atas apa yang sudah lakukan terhadap dirinya.


"Semoga kamu beruntung, Sam. Semoga Angel tidak meninggalkan kamu di saat kamu seperti ini," ucap Aruna dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Di lain tempat.


Sam terus saja melajukan mobilnya dengan begitu kencang, dia ingin pergi ke daerah Jawa bagian timur. Karena dia ingin pergi ke kampung halaman mendiang kedua orang tua Angel.


Menurutnya, di sana adalah tempat yang aman untuk dia bersembunyi dari kejaran polisi. Setidaknya untuk sementara waktu, pikirnya.

__ADS_1


"Ayah! Tidak bisakah jika laju mobilnya dipelankan?" tanya Ayaka.


Dia merasa jika Sam membawa mobilnya dengan begitu kencang, kepalanya kini terasa pusing dan juga perutnya begitu mual. Dia benar-benar merasa tidak tahan dengan keadaan seperti ini.


"Memangnya kenapa?" tanya Sam.


"Aya takut, perut Aya juga mual. Kepala Aya pusing juga," adu Ayaka.


Sam sangat tahu jika dirinya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, tetapi hal itu dia lakukan agar bisa lolos dari kejaran polisi. Namun, setelah melihat wajah pucat putrinya, rasanya dia tidak tega juga.


"Maaf ya, Sayang. Ayah memang harus melajukan mobilnya dengan kencang, karena kita harus segera sampai. Aya kalau kepalanya pusing merem aja, bobo atau apa dulu biar ngga terlalu pusing," ujar Sam tanpa mau mengurangi kecepatan mobil yang dia lajukan.


Ya, walaupun awalnya Sam ingin memerankan laju mobilnya, tetapi niatnya dia urungkan karena takut akan menjadi sebuah kemalangan bagi dirinya.


"Iya, Ayah," jawab Ayaka yang tidak mau membantah ucapan dari ayahnya tersebut.


Pada akhirnya Angel memilih pindah untuk duduk di bangku penumpang, lalu dia mendudukkan Ayaka di pangkuannya. Dia memeluk putrinya agar terasa lebih nyaman saat berada di dalam dekapan hangatnya.


Beberapa jam kemudian.


Setelah 6 jam melakukan perjalanan, Sam kini sudah berada di daerah Jawa bagian tengah. Langit yang tadinya terlihat terang kini sudah berubah warna menjadi jingga, itu artinya waktu sudah sore.


Pria itu tidak terlihat tampan lagi di matanya, dia justru ingin segera meninggalkan pria itu bersama dengan putrinya.


Sepanjang perjalanan yang dia lalui bersama dengan Sam, tentu saja otak pintarnya berputar-putar mencari cara agar dia bisa terhindar dari Sam. Lebih tepatnya agar bisa meninggalkan pria itu, setelah cukup lama terdiam akhirnya Angel bersuara.


"Sayang, kita sudah melakukan perjalanan cukup jauh. Bagaimana kalau kita mencari penginapan terlebih dahulu? Aku lapar, Aya juga. Kamu juga lelah, butuh istirahat."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Angel, Sam langsung menolehkan wajahnya ke arah wanita itu. Lalu, dia tersenyum dan berkata.


"Baiklah, kita akan beristirahat terlebih dahulu. Kita akan makan dulu lalu kita segera pergi lagi," jawab Sam.


Angel menganggukan kepalanya mendengar apa yang diucapkan oleh Sam, setidaknya dengan beristirahat terlebih dahulu Angel bisa memikirkan hal atau memikirkan cara agar dia bisa meninggalkan Sam.


"Hem! Itu terdengar lebih baik," ujar Angel.


Sam memelankan laju mobilnya, sesekali dia akan menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Tentu saja tujuan utamanya untuk mencari penginapan terlebih dahulu, karena memang dia butuh waktu untuk beristirahat dan mengisi perutnya dengan makanan sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah Jawa bagian timur.

__ADS_1


"Sepertinya itu penginapan deh," ujar Sam saat melihat beberapa orang yang masuk dan juga keluar dari sebuah bangunan yang tidak terlalu mewah.


Tidak mirip hotel, tetapi mirip seperti kos-kosan kecil yang berada di pinggir pedesaan. Angel sempat mengernyit tidak suka saat melihat bangunan yang ditunjukkan oleh Sam.


Tidak lama kemudian, Sam memberhentikan mobilnya tepat di depan penginapan tersebut. Lalu, dia turun dan segera mengajak Angel dan juga Ayaka untuk masuk ke dalam penginapan tersebut.


"Selamat sore, apakah ini merupakan penginapan?" tanya Sam.


Penjaga penginapan yang ada di sana langsung menolehkan wajahnya ke arah Sam, dia tersenyum dengan begitu sopan lalu berkata.


"Ya, Tuan. Anda mau memesan berapa kamar?" tanya petugas yang berjaga di penginapan tersebut.


"Satu kamar saja untuk satu malam, saya juga mau pesan makanan. Tolong bawakan makanan terenak di sini ke dalam kamar," pinta Sam seraya memberikan beberapa lembar uang kepada pria itu.


Sam adalah pria yang sering pergi ke luar kota untuk berbisnis, tentunya dia sangat paham berapa harga penginapan kecil seperti itu.


''Boleh, Tuan. Ini kunci kamarnya, untuk makanannya mau berapa porsi?"


"3 porsi," jawab Sam seraya menerima kunci kamarnya.


"Siap, kamar anda paling pojok dekat kamar mandi." Penjaga penginapan tersebut menunjuk sebuah kamar yang tidak jauh dari sana.


Angel terlihat meluah ketika melihat kamar mandi yang ada di pojok penginapan tersebut, karena ternyata kamar mandinya ada di luar kamar. Rasanya akan sangat jijik jika harus memakai kamar mandi berbarengan dengan orang-orang yang menginap di sana.


"Oke," jawab Sam.


Sam mengajak Ayaka dan juga Angel untuk masuk ke dalam kamar tersebut, tetapi pada saat Sam hendak masuk, Angel langsung bersuara.


"Masuklah dulu dengan Aya, aku mau ke kamar mandi dulu. Mules," ujar Angel seraya memegangi perutnya yang tidak sakit sama sekali.


Sam tersenyum ke arah Angel seraya menganggukkan kepalanya, dia sama sekali tidak curiga kepada wanita yang sudah melahirkan satu anak untuk dirinya itu.


"Oh, oke. Jangan lama-lama," jawab Sam.


Sam dan juga Ayaka langsung masuk ke dalam kamar penginapan tersebut, Angel yang sudah memastikan keduanya masuk dan menutup pintu langsung menghampiri penjaga penginapan.


"Permisi, Tuan. Bisakah anda membantu saya?" tanya Angel.

__ADS_1


"Bisa, Nyonya. Apa yang bisa saya bantu?" tanya penjaga penginapan tersebut.


Angel menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, setelah dirasa aman dia langsung mencondongkan tubuhnya ke arah penjaga penginapan tersebut lalu dia berbisik tepat di telinga pria itu.


__ADS_2