Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 79


__ADS_3

Selepas sarapan Sigit menggendong Ayana, dia akan mengantarkan putri sambungnya itu untuk pergi ke sekolahnya. Aruna dengan setia mengikuti langkah suaminya seraya membawa tas milik suaminya tersebut.


Saat tiba di halaman rumah, Sigit langsung membuka pintu mobilnya dan mendudukkan Ayana tepat di samping kemudi.


"Ay! Tunggu sebentar, Papa pamit dulu sama Bunda," ujar Sigit.


Ayana langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, lalu dia memberikan kedua jempolnya tanda mengiyakan.


"Yes, Papa," jawab Ayana.


Sigit tersenyum mendengar jawaban dari putri cantiknya, lalu dia menutup kembali pintu mobilnya dan langsung merapatkan tubuhnya pada Aruna.


Pria muda itu bahkan terlihat memeluk pinggang Aruna dengan begitu posesif, dia seolah tidak mau pergi dari sana untuk meninggalkan istrinya.


Jika saja di kantor tidak sedang banyak pekerjaan rasanya Sigit tidak ingin pergi ke mana pun, dia ingin bermesraan dengan istrinya. Dia ingin menghabiskan waktu untuk bercinta dengan istrinya.


Walaupun wanita yang dia pinang adalah seorang janda, tetapi milik wanita itu begitu sempit dan benar-benar menjepit miliknya. Ah, rasanya Sigit ingin terus-menerus bercinta dengan istrinya tersebut.


"Aku berangkat kerja dulu, kamu jangan nakal di rumah." Setelah mengatakan hal itu, Sigit langsung menunduk lalu mencium bibir istrinya dengan begitu mesra.


Tangan Sigit bahkan terlihat turun lalu meremat bokong bulat istrinya, Aruna sampai melototkan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, beruntung tubuh Aruna terhalang oleh tubuh Sigit.


Tentunya hal itu membuat apa yang dilakukan oleh pria itu tidak dapat dilihat oleh putrinya, Sigit benar-benar merupakan pria muda yang sangat agresif, menurut Aruna.


"Iya, aku ngga akan nakal. Paling nanti mau keluar untuk jemput Ay sekolah," jawab Aruna seraya merapikan dasi suaminya yang memang sudah rapi.


Setelah berpamitan kepada istrinya, Sigit langsung masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari kediamannya. Aruna melambaikan tangannya sampai mobil yang Sigit tumpangi tidak terlihat lagi.


Aruna hendak masuk ke dalam rumah karena masih ada yang harus dia kerjakan, tetapi niatnya dia urungkan karena dia melihat anak kecil yang sedang menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Tidak lama kemudian, dia memakan sepotong roti dengan begitu cepat.


Wajah anak itu terlihat cacat, ada bekas luka yang begitu besar di kedua pipinya. Aruna jadi teringat akan cerita putrinya, jangan-jangan anak kecil yang dibicarakan oleh Ayana adalah gadis kecil itu, pikirnya.


"Astagfirullah! Kasihan sekali anak itu," ujar Aruna ketika melihat wajah Ayaka dengan lebih teliti lagi.

__ADS_1


Ayaka ingin memakan roti yang diberikan oleh Stefano, tetapi karena takut ketahuan oleh Andin, Ayaka memakannya secara sembunyi-sembunyi.


Karena merasa penasaran dengan tingkah dari Ayaka, Aruna langsung mendekati Ayaka. Dia tersenyum lalu berkata.


"Hai, Sayang. Kamu lagi apa?" tanya Aruna.


Ayaka yang mendengar suara teguran dari Ayana terlihat terlonjak kaget, dia bahkan sampai jatuh terduduk. Melihat akan hal itu, Aruna sampai terlihat menyesal. Ingin sekali Aruna membantu anak itu untuk bangun, tetapi mereka terhalang pagar yang begitu tinggi.


"Maaf, Sayang. Tante tidak bermaksud untuk mengagetkan kamu," ujar Aruna penuh sesal.


Ayaka malah terdiam seraya memperhatikan wajah Aruna, dia masih mengenali wajah wanita itu. Wanita yang menjemputnya di penjara dan mengantarkannya ke panti asuhan, wanita baik yang bersikap lembut kepada dirinya.


Melihat Ayaka yang hanya diam saja Aruna merasa khawatir, dia khawatir jika anak itu takut kepada dirinya.


"Hei! Jangan takut, Sayang. Tante orang baik, kok. Rumah Tante di sini, kita tetanggaan," ujar Aruna.


Ayaka berusaha untuk bangun, dia tersenyum dan hendak menghampiri Aruna. Namun, niatnya dia urungkan karena mendengar teriakan dari Andin.


"Maaf, Tante. Mungkin lain kali kita bisa bicara lagi," ujar Ayaka.


Setelah berpamitan kepada Aruna, Ayaka berlari dengan cepat untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Wajah Ayaka terlihat ketakutan, Aruna menjadi curiga dibuatnya.


"Apakah mungkin anak itu adalah korban kekerasan? Kenapa tadi ada suara teriakan dengan umpatan kata kasar?" tanya Aruna. "Aku harus menyelidikinya," imbuhnya.


Aruna yang merasa penasaran tidak masuk ke dalam rumah, dia malah duduk di atas bangku yang ada di depan teras. Tidak lama kemudian, Aruna melihat Ayaka keluar dari rumah itu dengan membawa tas milik Andin.


Ayaka juga membawa barang yang terlihat sangat berat, Aruna menjadi kasihan dibuatnya. Walaupun memang Ayaka adalah anak pelayan, seharusnya Andin tidak memperlakukan Ayaka seperti itu, pikirnya.


"Aku harus mencari tahu tentang ini," ujar Aruna lagi.


Setelah kepergian Andin, Aruna langsung memanggil Ayaka. Dia ingin menanyakan tentang siapa sebenarnya anak kecil itu, kenapa Andin terlihat begitu tega memperlakukan dia seperti itu.


"Cantik! Hei! Kemari, Nak!" teriak Aruna.

__ADS_1


Ayaka langsung menolehkan wajahnya ke arah Aruna, lalu dia tersenyum dan dengan cepat menghampiri Aruna.


"Ehm! Cantik, bolehkah Tante bertanya?"


Aruna mengusap puncak kepala Ayaka dari balik pagar, Ayaka tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari Aruna. Dia seperti mendapatkan sentuhan kasih sayang dari ibunya. Mata Ayaka bahkan sampai berkaca-kaca, dia merindukan sentuhan seorang Ibu.


"Tante mau tanya apa?" tanya Ayaka.


"Sebenarnya kamu di sini bekerja atau bagaimana?" tanya Aruna.


Ingin sekali Ayaka berkata jujur kepada Aruna, tetapi dia takut jika nantinya akan ada hal yang tidak diinginkan yang terjadi kepada dirinya.


"Jangan diam saja, Sayang. Katakan saja," pinta Aruna.


Ayaka kebingungan, dia tidak tahu harus memulai pembicaraannya dari mana. Ayaka yang ketakutan malah pergi meninggalkan Aruna dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya, Aruna semakin merasa penasaran dibuatnya.


"Kenapa dengan anak itu? Astagfirullah! Aku sangat penasaran," ujar Aruna.


Aruna malah tidak mengerjakan pekerjaannya, dia duduk anteng seraya memantau pergerakan dari rumah tetangganya. Hingga tidak lama kemudian dia melihat seorang pelayan keluar dari dalam rumah tersebut.


Pelayan itu membawa keranjang belanjaan, sepertinya pelayan itu akan pergi ke pasar. Saat pelayan itu sudah berada di pinggir jalan, Aruna dengan cepat menghampiri wanita itu.


''Mbak, maaf kalau saya mengganggu. Saya mau nanya sebentar, boleh?" tanya Aruna.


Aruna terlihat menatap mata pelayan itu dengan begitu lekat, tatapannya terlihat penuh permohonan. Pelayan itu tersenyum lalu berkata.


"Boleh, mau nanya apa, Nyonya?" tanya pelayan itu.


Aruna awalnya terlihat ragu untuk bertanya, tetapi rasa penasarannya benar-benar sangat besar. Aruna tersenyum kemudian dia pun berkata.


"Ehm! Di dalam rumah itu ada anak kecil yang wajahnya ada bekas lukanya? Apakah dia putri anda?" tanya Aruna.


Pelayan itu terlihat begitu kaget mendengar pertanyaan dari Aruna, dia sangat takut jika Aruna adalah anggota polisi yang menyamar.

__ADS_1


"Mbak, kok malah diem?" tanya Aruna lagi.


__ADS_2