
Dulu, Angel sempat terpuruk karena Ayaka begitu membenci dirinya. Bahkan, saat Angel mendekati putrinya, Ayaka seakan tidak mau melihat wajahnya.
Beruntung di kala dia terpuruk seperti itu ada Surya yang selalu berusaha untuk menguatkan dirinya, hal itu membuat Angel yang awalnya tidak ingin berumah tangga, pada akhirnya memutuskan untuk menikah kembali dengan Surya.
Namun, sebelum menikah tentunya mereka melakukan pendekatan terlebih dahulu. Angel yang mengetahui jika Surya menjadi duda karena diselingkuhi oleh istrinya, merasa miris.
Pria itu juga sempat terpuruk, dengan seperti itu Angel menjadi paham bagaimana dulu perasaan Aruna yang diselingkuhi oleh Sam dan dirinya.
Maka dari itu, Angel berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk Surya. Angel juga berusaha untuk mengurusi Anaya dengan penuh kasih sayang.
Angel merasa jika dulu Tuhan senagaja menjauhkan Ayaka dari dirinya, bahkan ketika dia hamil malah keguguran, Angel berpikir jika dirinya diberikan hukuman oleh Tuhan.
Namun, Angel masih bisa berkasih sayang dengan Anaya, walaupun Anaya bukan putri kandungnya, tetapi Angel begitu menyayanginya. Angel juga merasa bersyukur karena Anaya memperlakukan dirinya selayaknya ibu kandung.
"Ehm! Pelukannya jangan lama-lama," ujar Surya seraya menepuk pundak Kenzo.
Sontak saja hal itu membuat Kenzo dan juga Anaya saling menjauhkan diri, keduanya terlihat tersenyum canggung ke arah Surya dan juga Angel.
"Apa kata ibu?" tanya Surya mengalihkan perhatian.
"Ibu minta maaf karena nggak bisa ngurusin Naya selama ini," jawab Anaya sedih.
Dulu ibu dari Anaya itu malah berselingkuh dengan pria yang dia rasa kaya, karena Surya hanyalah seorang pebisnis properti kecil-kecilan.
Namun, setelah meninggalkan Surya, wanita itu mengalami keterpurukan karena perselingkuhannya dengan pria kaya itu diketahui oleh istri pertamanya.
Wanita itu benar-benar mengalami keterpurukan ekonomi, dia yang tidak ingin mengalami kesusahan akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang wanita malam.
"Kamu udah maafin ibu, kan?" tanya Surya.
Walaupun wanita itu memutuskan untuk meninggalkan Surya dan juga Anaya kala itu, tetapi walau bagaimanapun juga wanita itu adalah orang yang sudah melahirkan Anaya ke dunia ini.
Lagi pula, saat ini keadaan wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Dokter bahkan berkata jika usia wanita itu tidak akan lama lagi.
Mungkin saat dia menjadi wanita malam, dia selalu menggunakan pengaman. Namun, kita tidak tahu kapan penyakit akan datang.
"Sudah, Yah. Lagi pula itu hanya masa lalu, Naya sudah maafin ibu."
''Bagus! Ayah mau nemuin ibu, kamu mau pulang atau masih mau nunggu ibu?" tanya Surya.
"Aku pulang aja, ngga tega liat ibu kaya gitu."
"Pulanglah," ujar Surya.
Setelah mengatakan hal itu, Surya nampak menolehkan wajahnya ke arah Kenzo. Kenzo yang paham langsung tersenyum lalu bersuara.
"Ken akan antarkan Naya pulang," ujar Kenzo.
"Terima kasih, Ken. Kamu memang anak yang baik," ujar Surya.
Angel yang sejak tadi melihat obrolan antara Anaya, Kenzo dan juga Surya langsung menghampiri ketiga orang tersebut.
"Tante titip Naya," ujar Angel.
__ADS_1
"Iya, Tan," jawab Kenzo.
Pada akhirnya Surya dan juga Angel masuk ke dalam ruangan ICU, sedangkan Anaya dan juga Kenzo terlihat pergi dari rumah sakit. Tentunya Anaya ingin segera pulang dan menenangkan hatinya.
Dia merasa tidak tega melihat keadaan ibunya yang begitu menderita, tetapi dia tidak bisa berada di sana dan menemani ibunya itu.
"Ayo naik," ajak Kenzo seraya memakaikan helm.
"Iya," jawab Anaya yang langsung naik ke atas motor Kenzo dan memeluk pria itu dengan erat.
"Jangan cengeng," ujar Kenzo ketika merasakan jika Anaya menyandarkan kepalanya pada punggungnya.
"Siapa yang cengeng sih?" ujar Anaya dengan kesal. Lalu, wanita itu mengusap air matanya.
Kenzo hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, lalu dia melajukan motornya menuju kediaman gadis itu.
Selama perjalanan menuju kediaman Anaya, keduanya hanya saling diam. Anaya begitu sibuk memikirkan ibunya, sedangkan Kenzo terlihat bersedih karena ikut merasakan kesedihan dari Anaya.
"Sudah sampe, turun gih!" ujar Kenzo.
Anaya langsung turun, lalu dia melepaskan helmnya dan terlihat hendak masuk ke dalam rumahnya. Namun, langkahnya terhenti ketika Kenzo mengeluarkan suaranya.
"Ngga ngucapin terima kasih nih karena udah gue anterin?"
"Maaf, gue lupa."
Anaya nampak menghampiri Kenzo, lalu dia tersenyum dengan begitu manis ke arah pria itu.
"Mau!" jawab Kenzo.
"Eh?"
Anaya terlihat begitu kaget karena ternyata Kenzo mau mampir terlebih dahulu ke rumahnya, padahal biasanya pria itu terlihat begitu enggan untuk bersama dengan dirinya.
"Gue haus, boleh minta minum ngga?" tanya Kenzo.
"Oh! Boleh, ayo masuk." Anaya berjalan terlebih dahulu untuk masuk ke dalam rumahnya.
Kanzo dengan cepat memarkirkan motornya, lalu pria itu membuka helmnya dan menyusul Anaya dengan tergesa.
"Duduk di sofa, gue ambil minum buat elu. Mau minum apa?" tanya Anaya seraya melebarkan pintunya.
Mereka saat ini hanya berdua saja di dalam rumah itu, maka dari itu Anaya hanya mempersilakan Kenzo untuk duduk di ruang tamu dengan pintu yang dibuka dengan lebar.
"Mau air putih dingin aja," jawab Kenzo.
Sebenarnya Kenzo tidak merasa haus, dia hanya beralasan saja. Karena nyatanya dia masih ingin berlama-lama bersama dengan Anaya.
"Bentar, gue ke dapur dulu."
Anaya langsung melangkahkan kakinya menuju dapur, dia membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral.
"Ken!" kaget Anaya ketika dia berbalik badan dan ternyata di sana ada Kenzo.
__ADS_1
"Apa?" tanya Kenzo tanpa rasa bersalah.
"Ck! Elu ngagetin gue," jawab Anaya.
Kalau saja dia tidak mencintai Kenzo, sudah dapat dipastikan jika Anaya pasti akan menampar pipi pria itu.
"Mana ada kaya gitu, gue cuma ngikutin elu doang."
Anaya hanya bisa memutarkan bola matanya dengan malas mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, karena menurutnya begitu sulit untuk berbicara dengan pria itu.
"Terserah, ini minumnya." Anaya memberikan botol berisikan air mineral kepada Kenzo.
Kenzo mengambil air mineral tersebut lalu memasukkannya kembali ke dalam lemari pendingin, karena pada kenyataannya dia memang tidak haus.
"Gue ngga haus, gue mau balik aja." Kenzo langsung memeluk Anaya, lalu dia elus punggung wanita itu dengan begitu lembut.
Kaget sekali Anaya mendapatkan pelukan dari Kenzo, pelukan yang dia dapatkan untuk kedua kalinya dari pria itu.
"Elu aneh, ngapain elu peluk gue?" tanya Anaya.
Walaupun hatinya merasa berbunga tetapi tetap saja dia merasa aneh ketika tiba-tiba Kenzo memeluk dirinya seperti itu, seperti ada hal yang lain yang perlu ditanyakan.
"Ngga apa-apa," jawab Kenzo yang malah mengeratkan pelukannya.
Dia seakan tidak rela jika harus berpisah dengan cepat, jika saja boleh Kenzo rasanya ingin memeluk wanita itu dalam waktu yang lama.
Setidaknya ada kesempatan untuk berdekatan seperti itu, walaupun mungkin mereka tidak bisa bersatu.
"Sesak, Ken!" protes Anaya.
Anaya benar-benar merasa risih karena Kenzo bersikap tidak seperti biasanya, pria itu terlihat begitu aneh dengan sikapnya. Bahkan, itu juga nampak banyak bicara tidak seperti biasanya.
"Elu berisik! Gue cuma mau peluk elu bentaran doang,'' jawab Kenzo.
Anaya awalnya nampak terdiam, tetapi tidak lama kemudian dia berusaha untuk melepaskan diri dari Kenzo ketika dia mengingat jika tadi pagi Kenzo datang ke taman dengan seorang wanita yang begitu cantik dan juga manis.
"Haish! Udah punya cewek masih gatel aja melukin cewek lain, pulang sana. Nanti gue dibilang pelakor lagi," ujar Anaya.
Awalnya saat Kenzo mendengar apa yang dikatakan oleh Anaya terlihat kebingungan, tetapi tidak lama kemudian dia teringat akan Anisa dan langsung tertawa.
"Maaf, iya gue lepasin pelukannya. Tapi elu ngga usah takut dibilang pelakor juga," ujar Kenzo.
Mulut Kenzo memang berkata seperti itu, tetapi pria itu tetap saja begitu betah memeluk Anaya.
"Terserah," jawab Anaya yang terus saja berusaha untuk melepaskan diri dari Kenzo.
Dia merasa jantungnya tidak akan aman jika terus saja berpelukan seperti itu, dia takut kena serangan jantung mendadak.
"Iya, iya. Gue lepasin, makasih buat pelukannya." Kenzo melerai pelukannya, lalu dia pergi dari sana.
Dia pergi dengan langkah yang begitu pelan sekali, Anaya hanya terdiam saya memperhatikan kepergian pria itu.
"Astaga! Dia itu benar-benar ancaman," ujar Anaya setelah Kenzo pergi.
__ADS_1