Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 9


__ADS_3

Aruna kini sedang menangis sesenggukan di depan gundukan tanah basah bertaburkan kembang tujuh rupa, Arimbi tidak bisa diselamatkan. Wanita yang memang memiliki penyakit jantung itu meninggal di tempat.


Dia begitu syok menghadapi kenyataan jika Aruna tengah hamil, dia juga begitu syok mendengar apa yang dikatakan oleh Sam. Pria itu sudah membuat putrinya hamil, tetapi Sam seakan tidak mau bertanggung jawab kepada putrinya.


"Sudahlah Aruna, Sayang. Ayo kita pulang, kamu harus segera menikah dengan Sam. Kita pulang ke rumah Tante," ajak Almira.


Sudah 2 jam Aruna menangis di hadapan kuburan sang ibu, dia benar-benar merasa kehilangan sosok wanita yang selalu menyayangi dirinya itu.


"Aku masih ingin di sini," jawab Aruna.


Sam yang merasa jengah menatap Aruna dengan tatapan tajamnya, lalu pria itu pun berkata dengan raut wajah tidak suka.


"Biarkan dia tinggal di sini, Mom. Biarkan dia berbuat apa pun yang dia inginkan,'' ujar Sam.


"Sam!" sentak Almira.


"Cih! Dia itu hanya perempuan yang tidak tahu diri dan tidak tahu di untung, kalau dia tetap bersikeras seperti ini, aku benar-benar tidak akan menikahinya." Sam langsung melangkahkan kakinya untuk meninggalkan pemakaman setelah mengatakan hal itu.


Namun, baru saja Sam melangkahkan kakinya beberapa langkah, Aruna bangun dan menghampiri Sam. Dia bahkan menarik lengan Sam dengan kuat.


"Dengarkan aku Tuan yang sombong dan juga brengsek, aku pun tidak sudi menikah dengan kamu. Aku lebih baik membesarkan darah dagingku sendiri tanpa dirimu," ucap Aruna.


Setelah mengatakan hal itu, Aruna langsung pergi dari sana. Dia bahkan tidak menolehkan sama sekali wajahnya ke arah belakang, walaupun Almira berteriak-teriak memanggil namanya dia seolah menulikan telinganya.


"Tolong antar saya ke jalan Melati nomor 13," ujar Aruna kepada kang ojek yang ada di sana.

__ADS_1


"Siap, Neng," jawab Kang ojek seraya memberikan helm kepada Aruna.


Dengan cepat Aruna memakai helm yang diberikan oleh kang ojek, lalu dia menepuk pundak kang ojek agar segera pergi dari sana.


Sam dan juga Almira hanya bisa melongo dengan tidak percaya melihat kepergian Aruna, terlebih lagi dengan Sam. Karena pria itu sempat menyangka jika Aruna akan mengemis dan memohon untuk bisa dia nikahi.


Karena jujur saja Sam merasa kasihan dan juga iba karena Aruna kini sudah menjadi yatim piatu, sudah dapat dipastikan jika wanita itu akan menghadapi kehamilannya sendirian dengan sulit.


"Mom tidak mau tahu, Sam. Pokoknya kamu harus bisa menikahi Aruna, Mom tidak mau jika keturunan Rahardi akan terlantar dan kesusahan dalam hidupnya!" tegas Almira.


Sam hanya bisa menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, tetapi tidak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya.


''Aku akan menikahinya, itupun jika dia mau menjadi istriku."


"Ayo kita pulang, mandi dan mengisi perut. Setelah itu kamu harus kembali ke rumah Aruna, bujuk dia sampai mau menikah dengan kamu." Almira berkata dengan penuh penekanan.


"Yes, Mom. Kalau perlu nikah siri saja, biar gampang aku ceraikan saat dia melahirkan nanti," putus Sam.


"Astaga! Kamu tuh benar-benar lelaki tidak berperasaan!" rutuk Almira dengan kesal saat mendengar apa yang dikatakan oleh putranya.


Di lain tempat.


Aruna sudah sampai di dalam rumah sederhana yang selama ini dia tempati, dengan cepat dia masuk ke dalam kamar ibunya. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur milik ibunya, lalu dia memeluk guling dan menangis sejadi-jadinya.


Sakit sekali rasanya ditinggalkan oleh seorang ibu yang selalu menyayangi dirinya, rasanya dia ingin bunuh diri saja. Terlebih lagi kini dia menghadapi kenyataan yang begitu sulit.

__ADS_1


Dia hamil dan pria yang menghamilinya begitu meremehkan dirinya, bahkan dengan tidak tahu malunya menyuruh dirinya untuk menggugurkan janin tersebut.


"Bu, Aruna kangen." Aruna turun dari tempat tidur, kalau dia membuka lemari milik Ibunya dan mengambil salah satu baju milik Arimbi.


Dia endus aroma baju milik Arimbi dengan mata terpejam, lalu dia peluk baju itu dengan begitu erat. Dia memperlakukan baju itu layaknya ibunya sendiri, tidak lama kemudian dia membuka matanya dan dia melihat ada sebuah kotak di dalam lemari tersebut.


"Apa ini?" tanya Aruna.


Aruna mengusap air matanya yang terus saja mengalir di kedua pipinya, lalu dia mengambil kotak dari dalam lemari tersebut dan segera duduk di tepian tempat tidur.


Saat kotak itu terbuka, dia melihat sebuah kalung berlian dengan liontin bertuliskan nama Aruna. Aruna sampai mengernyitkan dahinya, bagaimana mungkin ibunya bisa memiliki kalung yang harganya pasti sangat mahal itu, pikirnya.


"Milik siapa ini?" tanya Aruna.


Jika kalung berlian itu milik orang lain, rasanya tidak mungkin liontin kalung itu bertuliskan namanya. Aruna menyimpan kalung tersebut di atas nakas, lalu dia mengambil berkas yang ada di dalam kotak tersebut.


Aruna membuka berkas tersebut dengan begitu perlahan, dahinya nampak mengernyit saat melihat berkas tersebut merupakan berkas persalinan. Namun, berkas itu jika dilihat dari tanggalnya, merupakan berkas persalinan dua puluh dua tahun yang lalu.


"Apakah ini berkas persalinan milik ibu?" tanya Aruna.


Aruna menyangka jika berkas tersebut adalah milik ibunya saat melahirkan dirinya, tetapi tidak lama kemudian dia terlihat begitu kaget setelah membaca tulisan di dalam berkas tersebut.


Di dalam berkas persalinan tersebut tertuliskan nama Aruna Sachi Dinata, tetapi nama orang tua dari bayi tersebut bukan Arimbi. Di sana tertulis jika kedua orang tua dari bayi tersebut adalah Rachel Dinata dengan Satria Putra Dinata.


"Apa ini maksudnya?" tanya Aruna dengan bingung.

__ADS_1


__ADS_2