
Acara kumpul malam sudah selesai, semua orang yang datang ke kediaman Sigit bersiap untuk pulang. Kecuali Satria dan juga Rachel, karena mereka ingin menginap di kediaman Sigit.
Sam, Ayaka dan Stefano sudah berpamitan untuk pulang. Begitupun dengan Steven dan juga istrinya, mereka memutuskan untuk pulang.
Angel dan keluarga kecilnya juga berpamitan untuk pulang, tidak lupa sebelum pulang mereka mengucapkan terima kasih karena sudah diundang dan dianggap sebagai bagian dari keluarga tersebut.
Jika semua orang sudah mulai pergi meninggalkan kediaman Sigit, berbeda dengan Sandi. Pria itu seolah-olah tidak ingin pergi dan tidak ingin berjauhan lagi dengan Ayana.
Sandi terlihat berat hati untuk berpisah dengan kekasih hatinya, padahal waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Akan tetapi, pria itu seakan enggan untuk pulang ke kediamannya.
Ayana juga sebenarnya merasakan hal yang sama, tetapi melihat Sandi yang terus saja berada di halaman rumahnya, dia merasa risih juga.
Bahkan, dia merasa tidak enak hati kepada kedua orang tuanya. Takut-takutnya mereka disangka melakukan hal yang tidak-tidak, padahal pada kenyataannya mereka hanya berdiam diri di halaman rumah tanpa melakukan apa pun.
Sandi hanya memandang Ayana dengan tatapan penuh cinta, pria itu benar-benar tergila-gila kepada wanita itu. Sandi merasa tidak ingin berpisah.
"Sono pulang, ih! Jangan di sini terus, nanti kalau kamu udah nikahin aku, baru kamu boleh bawa aku ke rumah kamu," ucap Ayana.
Ah! Sandi benar-benar merasa bahagia dengan apa yg dikatakan oleh calon istrinya tersebut, padahal ia sempat berpikir jika Ayana tidak akan mau tinggal di rumah sederhana milikinya.
Akan tetapi, nyatanya Ayana mengatakan hal yang begitu membahagiakan dirinya. Ayana mau tinggal di rumah sederhana miliknya, dia sangat bahagia.
"Seriusan kalau udah nikah nanti kamu mau tinggal sama aku?" tanya Sandi memastikan.
Ayana tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, karena nyatanya dia juga begitu mencintai Sandi. Apa salahnya dia berumah tangga dengan Sandi dan tinggal satu atap dengan Sandi, walaupun di rumah yang sangat sederhana, pikirnya.
"Tentu saja benar, kamu yang ingin menikahi aku. Harusnya kamu sudah mempersiapkan rumah untuk kita berumah tangga nanti, masa numpang tinggal di rumah bunda!" ucap Ayana seraya terkekeh.
"Kamu benar, tapi kan' kamu tahu sendiri rumah aku sederhana banget loh. Emang kamu nggak masalah tinggal di rumah sederhana seperti rumah aku?" tanya Sandi penasaran.
"Tentu saja aku tidak keberatan, jika nanti kita menikah, berarti kamu adalah suamiku. Kamu adalah imamku, ke mana pun kamu pergi, aku patut mengikutimu. Walaupun kamu mengajak aku tinggal di lubang semut sekalipun," ujar Ayana.
__ADS_1
Sandi langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, rasanya tidak mungkin dia mengajak Ayana untuk tinggal di lobang semut. Karena terlalu kecil untuk mereka tinggali.
"Ya ampun, kamu itu lucu banget sih, Yang. Masa iya aku ngajakin kamu tinggal di lubang semut, terlalu kecil," ucap Sandi seraya terkekeh.
"Itu kan' cuma bahasa kiasan, Sayang! Mana mungkin juga kita tinggal di lubang semut, kamu itu ada-ada aja."
Ayana memeluk lengan Sandi, lalu dia menyandarkan kepalanya pada pundak calon suaminya tersebut. Sandi tersenyum, lalu dia mengusap puncak kepala Ayana.
"Iya, iya. Aku paham, pokoknya selama satu bulan ini aku akan mempersiapkan semuanya dengan baik. Aku juga akan mempersiapkan rumah untuk kita berumah tangga nanti," ucap Sandi seraya mengusap pipinya.
"Iya, itu sangat bagus. Kalau boleh aku mau bantu," ucap Ayana ambigu.
Sandi nampak mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, apa maksud dari calon istrinya tersebut, pikirnya.
"Mau bantu apa? Kalau mau bantu uang, jangan. Aku benar-benar merasa tidak berguna sebagai pria. Masa terus aja dibantu masalah keuangan," ucap Sandi lesu.
Ayana terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Sandi, lalu dia melerai pelukannya dengan pria itu dan menegakkan tubuhnya.
Sandi merasa gemas sekali dengan apa yang dikatakan oleh Ayana, tanpa sadar dia bahkan langsung mencubit kedua pipi calon istrinya tersebut.
"Kamu tuh gemesin banget, makin cinta deh sama kamu."
"Sakit!" ujar Aruna.
"Maaf, sini aku cium pipinya biar ngga sakit." Sandi nampak mendekatkan wajahnya ke wajah Ayana, dia ingin mengecup pipi wanitanya.
"Ehm!"
Sigit nampak keluar dari dalam rumah, lalu dia berdehem dengan cukup keras. Sontak saja hal itu membuat Sandi dan juga Ayana saling menjauhkan tubuhnya.
"Belum pulang? Perasaan tadi sudah berpamitan deh," ujar Sigit.
__ADS_1
"Iya, Pa. Ini mau pulang," jawab Sandi.
Sandi langsung bangun dari duduknya, kemudian dengan cepat dia berpamitan kepada Ayana dan juga Sigit. Dia benar-benar merasa tidak enak hati kepada Sigit, karena sudah ditegur seperti itu.
Padahal, pada kenyataannya mereka memang tidak melakukan apa-apa. Ingin mencium pipi dan bibir Ayana saja baru sebatas rencana, belum bisa terealisasikan.
"Aku pulang dulu, Yang. Besok siang aku jemput buat fitting baju," ujar Sandi.
"Ya, aku akan menunggu." Ayana melambaikan tangannya.
Walaupun Ayana sudah melambaikan tangannya, tetapi Sandi masih terlihat enggan untuk pergi dari sana.
Tubuhnya bahkan tidak bergeser sedikit pun, Sigit yang melihat akan hal itu merasa jengah. Walaupun dulu dia pernah merasakannya, tetapi tetap saja melihat kelakuan Sandi dan Ayana seperti itu dia merasa risih.
"Kamu itu mau pulang ngga sih? Udah pamitan kok masih ngejogrog aja di mari," ujar Sigit.
Mendapatkan teguran seperti itu dari calon mertuanya, tentu saja Sandi merasa malu sekali. Dia bahkan sampai menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.
"Eh? Iya, Om. Aku akan pulang," jawab Sandi yang dengan cepat pergi dari kediaman Sigit.
Setelah kepergian Sandi, Sigit langsung merangkul pundak Ayana. Lalu dia menuntun Ayana untuk masuk ke dalam kamar dari gadis itu.
"Bobo sana, udah malem. Jangan mikirin Sandi terus, bulan depan Papa nikahin," ujar Sigit.
"Memangnya kalau aku menikah nanti, Papa yang akan ngewaliin aku?" tanya Ayana.
Sigit langsung menggelengkan kepalanya, karena nyatanya dia tidak bisa menjadi wali nikah untuk Ayana. Bahkan, Sam juga tidak bisa menjadi wali nikah untuk Ayana.
"Nanti kamu akan dinikahkan oleh pak penghulu," jawab Sigit.
Sigit mengusap puncak kepala putrinya, Ayana tersenyum lalu memeluk sang ayah sambung dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Oh," ujar Ayana yang paham dengan apa artinya ucapan dari Sigit.