
Selepas kepergian Afifah, Sigit bisa bernapas dengan lega. Dia bahkan bisa makan malam dengan enak, walaupun hanya sendirian di dalam kamarnya. Tentunya karena tidak adanya gangguan dari wanita genit itu.
Setelah selesai makan, Sigit langsung mengambil ponselnya dan segera menghubungi Aruna. Tentunya hal itu dilakukan karena dia melihat jika waktu kini sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Walaupun di dalam kamar utama ada Alice, tetapi dia sangat yakin jika putri bungsunya itu pasti sudah tertidur dengan pulas. Karena biasanya dia tidak pernah tidur malam, selepas shalat isya pun dia selalu terlihat sangat mengantuk.
Ketika panggilan video call tersambung, ternyata benar dugaannya. Alice sudah tertidur dengan pulas di samping Aruna, wajahnya bahkan terlihat begitu damai.
"Assalamualaikum, Sayang." Sigit tersenyum saat melihat wajah cantik istrinya.
Namun, tidak lama kemudian senyum di wajah Sigit nampak luntur ketika melihat Aruna memakai piyama tidur panjang. Karena nyatanya dirinya ingin melihat keseksian tubuh istrinya.
Sigit berharap jika kini Aruna memakai lingerie seksi, pasti hal itu akan membuat dirinya bersemangat.
"Waalaikumsalam, Sayang. Sudah selesai pekerjaannya?" tanya Aruna.
Aruna tersenyum manis kepada suaminya tersebut, dia berusaha untuk menghibur suaminya karena kini Aruna melihat jika wajah Sigit sangat lelah sekali.
"Sudah, Sayang. Sudah selesai, ini waktunya untuk istirahat. Besok siang masih ada satu kali pertemuan lagi, habis itu aku pulang. Mungkin sore," jawab Sigit.
Aruna tersenyum saat melihat sorot mata suaminya, sorot mata penuh cinta dan penuh rindu. Aruna sangat bahagia karena sikap Sigit tidak pernah berubah, selalu sama saat memperlakukan dirinya. Walaupun usianya semakin tua, tetapi Sigit tetap memperlakukan dirinya dengan penuh cinta.
"Semangat ya, Sayang, kerjanya. Besok kita ketemu," ucap Aruna.
Walaupun mereka sudah cukup lama menikah, tetapi Aruna selalu saja malu-malu dalam menyemangati suaminya tersebut.
"Pasti dong, pasti semangat. Apalagi kalau kamu buka bajunya, pasti aku tambah semangat."
Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah Alice, dia bisa bernapas dengan lega. Karena ternyata putrinya itu tertidur dengan begitu lelap, bahkan dia sampai mendengkur halus.
Stelah itu Aruna kembali menolehkan wajahnya ke arah Sigit, lalu dia mencebikkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit. Karena pria itu terdengar begitu mesumm sekali di telinganya, mana mungkin dia membuka bajunya, pikirnya.
Karena nyatanya, di sampingnya ada Alicia yang sedang menemani dirinya tidur. Walaupun Alice sudah tidur terlebih dahulu.
__ADS_1
Alice berkata dia merasa kasihan karena dirinya tidur sendirian, maka dari itu dia memutuskan untuk tidur bersama dengan dirinya di dalam kamar utama.
"Nanti besok aja, jangan macam-macam," tolak Aruna.
Sigit seolah paham kenapa Aruna tidak mau melakukan hal-l yang dia minta, karena di sana ada putri bungsunya. Rasanya masuk akal jika memang dia tidak mau melakukan hal yang dia minta.
"Ke kamar mandi dulu, Yang. Please," pinta Sigit.
Sigit masih berharap jika keinginannya bisa dituruti oleh istrinya tersebut, mereka sedang berjauhan dan setidaknya dia bisa mendapatkan obat kerinduan dari istrinya tersebut.
Aruna menurut, dia turun dari tempat tidur dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Setelah menutup pintu kamar mandinya, Aruna tersenyum ke arah suaminya itu.
Tentu saja Sigit ikut tersenyum, karena dia mengira jika Aruna pasti akan melakukan apa yang dia mau. Pasti Aruna akan membuka bajunya agar dia bisa melihat tubuh seksi istrinya tersebut.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bisa membuka bajunya," ucap Aruna dengan penuh sesal.
Senyum di bibir Sigit langsung menghilang, karena ternyata dia tidak bisa mendapatkan keinginannya dari istrinya tersebut.
"Kenapa?" tanya Sigit dengan wajahnya yang begitu sendu.
Aruna terkekeh mendengar apa yang dipertanyakan oleh suaminya itu, padahal seharusnya suaminya itu paham kenapa dirinya tidak mau melakukan hal itu.
"Aku itu hanya kasihan sama kamu, Sayang. Lebih baik tidak usah buka baju, lebih baik sekarang kamu tidur karena besok kamu masih harus bekerja," jawab Aruna.
Sigit semakin kebingungan mendengar jawaban dari istrinya, menurutnya apa yang dikatakan oleh istrinya itu benar-benar tidak masuk akal.
"Kenapa sih?" tanya Sigit.
Kembali Sigit bertanya kepada istrinya tersebut, tetapi Aruna malah menertawakan Sigit yang menatap dirinya dengan penuh permohonan.
"Kasihan nanti kalau si entong bangun, udah berdiri tegak tapi ngga bisa masuk. Kasihan. kamunya nanti malah pusing kepala atas bawah," jawab Aruna.
Sigit hanya menunduk lesu, karena apa yang dikatakan oleh Aruna adalah benar adanya. Jika nanti setelah dia melihat tubuh seksi istrinya miliknya akan bangun, dia yang akan kelimpungan sendiri. Karena dia tidak bisa bercinta dengan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Hem!" jawab Sigit yang langsung menunduk lesu karena tidak bisa mendapatkan keinginannya.
Keesokan harinya.
Sigit kini sedang menunggu kedatangan dari Afifah, walaupun merasa enggan untuk bertemu dengan wanita itu. Namun, dia tetap harus bertemu karena ini adalah pertemuan terakhirnya sebelum dia kembali ke ibu kota.
Masih ada pembahasan tentang kerjasama yang sedang berlangsung di antara kedua perusahaan tersebut, tetapi dia merasa heran karena Afifah tidak kunjung datang.
Namun, setelah sepuluh menit menunggu akhirnya wanita itu datang juga. Wanita itu datang dengan menggunakan kemeja panjang berwarna coklat dipadupadankan dengan celana bahan dengan warna yang sama.
Aneh?
Tentu saja Sigit merasa begitu aneh, karena penampilan Afifah kini berbanding terbalik dengan dua hari selama mereka bertemu.
Wanita itu bahkan kini berdandan dengan natural, bibirnya saja hanya dipoleskan dengan lip serum tanpa lipstik sama sekali.
Bahkan, saat wanita itu datang dia tidak duduk
tepat di samping Sigit. Justru, Afifah duduk tepat di hadapan Sigit. Wanita itu seakan begitu memasang jarak, tetapi Sigit tidak peduli.
Selama pembahasan kerjasama berlangsung, Afifah begitu fokus dalam membahas kerjasama tanpa ada kata rayuan yang keluar dari mulut wanita itu.
"Terima kasih atas kepercayaan anda untuk bekerjasama dengan perusahaan kami," ujar Sigit seraya mengulurkan tangannya.
Afifah hanya menatap uluran tangan Sigit dengan tatapan datar tanpa ekspresi, dia seolah tidak berniat untuk menerima uluran tangan dari pria tersebut.
Sigit hanya dengan sikap dari wanita itu, dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Afifah. Tidak lama kemudian, Afifah malah mengulurkan tangannya ke arah Ben.
"Senang karena anda sudah percaya untuk bekerja sama dengan perusahaan milik Tuan Sigit," ujar Ben. Karena nyatanya perusahaan itu bukan miliknya, milik Sigit.
"Hem!" jawab Afifah dengan nada kecewa.
Ben dan juga Sigit saling pandang, lalu mereka berdua menggedikkan kedua bahunya secara bersamaan.
__ADS_1