Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 198


__ADS_3

Satu minggu sudah Anaya pergi dari Ibu kota menuju tanah air bagian timur, tetapi wanita itu belum juga ada kabarnya. Padahal, jika melewati jalur laut, akan sampai dalam waktu tujuh hari. Itu pun waktu paling lambat.


Namun, nyatanya Anaya belum ada kabar tentang apakah dia sudah sampai apa belum. Setiap kali dia mencoba untuk menghubungi Anaya pun selalu tidak bisa, tentu saja hal itu membuat Kenzo khawatir.


Hal itu tentu saja membuat Kenzo gelisah, pria itu bahkan belum mengurusi kuliahnya sama sekali. Dia terus saja memikirkan wanita yang bernama Anaya itu.


Menurut Kenzo, lebih baik mereka berdekatan walaupun memang tidak bisa bersama. Karena dengan seperti itu dia tidak merasa gelisah, dia masih bisa melihat keadaan dari Anaya baik atau tidak.


Lalu, bagaimana hubungannya dengan Anisa?


Kenzo jauh lebih dingin lagi dalam bersikap, kalau dia bertemu dengan Anisa tak pernah sekalipun dia menegur gadis itu.


Bahkan, hanya untuk melihat pun dia begitu enggan. Anisa hanya mampu menundukkan kepalanya ketika bertemu dengan Kenzo, hubungan mereka benar-benar jauh.


Walaupun mereka berada di dalam ruangan yang sama, tetapi Kenzo tidak pernah sekalipun menolehkan wajahnya ke arah wanita itu.


"Bagaimana kabar kamu, Naya? Apakah kamu sudah sampai?" tanya Kenzo seraya menatap wajah Anaya pada layar ponselnya.


Jika berjauhan seperti ini kenzo benar-benar tidak bisa memantau keadaan dari Anaya, dia tidak tahu keadaan wanita itu seperti apa. Bahkan, Kenzo belum tahu jika Anaya sudah mendarat atau belum di tempat tujuan.


Aruna bahkan sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari putranya tersebut, karena biasanya putranya itu begitu mementingkan pendidikan tidak seperti sekarang ini.


Kenzo belum membahas universitas apa yang akan dia pilih, di mana dia akan kuliah pun belum menjadi pembahasan.


"Sepertinya aku harus segera pergi ke rumah kak Aya saja, aku ingin bertanya kepadanya tentang Naya. Aku benar-benar gelisah," ujar Kenzo.


Kenzo dengan cepat menemui Aruna, lalu dia meminta izin untuk pergi ke rumah Ayaka. Karena yang dia dengar Ayaka memang belum bekerja seperti biasanya.


Wanita itu masih beristirahat di rumah, karena Stefano merasa khawatir dengan keadaan Ayaka. Karena wanita itu dalam keadaan hamil muda itu.

__ADS_1


Dokter memang mengatakan jika keadaan Ayaka dan juga calon bayinya baik-baik saja, tetapi Ayaka sering mual dan muntah. Dia mengalami morning sickness yang menyiksa, bahkan satu jam selepas subuh dia akan terlihat sangat lemas sekali.


Namun, setelahnya dia akan nampak baik-baik saja. Dia akan makan apa pun yang dia inginkan, dia juga bahkan sanggup mengerjakan apa pun sendirian.


"Bun, aku izin pergi. Mau ke rumah kak Aya," ujar Kenzo ketika dia melihat Aruna yang sedang duduk di ruang keluarga dengan Anisa.


Wanita muda itu terlihat menatap Kenzo dengan lekat, tetapi Kenzo tidak menolehkan wajahnya sama sekali ke arah wanita itu. Dia benar-benar enggan untuk melihat Anisa.


"Mau apa? Kok tumben mau ke rumah Aya?"


"Mau nanya Naya, Bun. Kok sampai saat ini Naya belum ada kabar," jawab Kenzo.


Aruna tersenyum lalu mengangguk-anggukan kepalanya, dia sepertinya begitu paham jika putranya saat ini begitu gelisah. Bahkan, Aruna nampak mengelus punggung putranya itu. Dia seolah berkata jika putranya harus bersikap lebih tenang.


"Pergilah, Sayang."


"Terima kasih, Bun." Kenzo mengecup pipi ibunya, setelah itu dia langsung berpamitan untuk pergi.


"Assalamualaikum, Kak!" ujar Kenzo ketika dia tiba di rumah Ayaka.


Namun, Kenzo merasa aneh karena keadaan dari rumah Ayaka begitu sepi. Rumah itu seperti tidak berpenghuni, Kenzo yang sudah tidak sabar ingin mendapatkan kabar tentang Anaya mencoba untuk menghubungi wanita itu.


Akan tetapi, tidak ada yang mengangkat panggilan dari Kenzo. tentu saja hal itu membuat Kenzo semakin gelisah, kini dia merasa jika hal buruk sudah terjadi kepada Anaya.


"Ya Tuhan! Ke mana perginya kak Aya?" ujar Kenzo dengan jantung yang tiba-tiba saja berdebar dengan cepat.


Kembali Kenzo mencoba untuk menelpon Ayaka, hingga tidak dalam kemudian panggilan telponnya ada yang mengangkat. Tentu saja hal itu membuat Kenzo begitu senang.


"Halo, Kak Aya. Kakak di mana? Aku ada di rumah Kakak, kenapa rumah Kakak sepi sekali? Kakak di mana?" tanya Kenzo dengan tidak sabar.

__ADS_1


"Halo, Ken. Ini Kak Fano, Kakak dan juga kak Aya sedang ada di rumah sakit," jawab Stefano.


Mendengar kata rumah sakit Kenzo semakin gelisa, dia benar-benar takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


"Loh, kak Aya sakit apa? Kenapa bisa di rumah sakit?" tanya Kenzo dengan begitu khawatir.


"Datanglah dulu ke rumah sakit yang ada di dekat rumah, nanti Kakak jelaskan," jawab Stefano yang tidak ingin menjelaskan lewat ponselnya.


"Baiklah, Kak," jawab Kenzo dengan lesu.


Setelah mengatakan hal itu Kenzo dengan cepat naik ke atas motornya, lalu dia pergi ke rumah sakit yang tidak jauh dari rumah Ayaka.


Saat tiba di rumah sakit, Kenzo langsung bertanya tentang di mana ruang perawatan Ayaka. Setelah tahu di mana Ayaka dirawat, dengan cepat Kenzo pergi ke ruangan perawatan milik kakaknya tersebut.


"Kak, ada apa ini? Apa yang terjadi kepada Kak Aya?" tanya Kenzo ketika melihat Ayaka yang terbaring di dalam ruang perawatan.


Di tangan Ayaka bahkan tertancap jarum infus, bahkan di hidung Ayaka ada selang oksigen. Jika sudah seperti itu, artinya keadaan Ayaka benar-benar tidak baik-baik saja.


"Aya syok, karena belum lama ini dia mendapatkan kabar kalau kapal yang ditumpangi oleh bunda gagal mendarat. Kapal tersebut tiba-tiba saja meledak," jawab Stefano.


Kenzo langsung lemas mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, dia bahkan langsung meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Dia benar-benar merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Lalu, bagaimana keadaan Naya? Bagaimana keadaan tante Angel dan juga om Surya?" tanya Kenzo dengan suara yang bergetar.


Stefano merasa iba melihat reaksi dari Kenzo, dengan cepat bahkan dia membantu Kenzo untuk bangun dan duduk di atas sofa.


"Kamu harus tabah, kamu harus sabar. Ini semua sudah rencana Tuhan," ujar Stefano.


Padahal, Stefano juga sedang merasakan kesedihan yang mendalam. Akan tetapi, pria itu terlihat berusaha untuk menenangkan hati Kenzo.

__ADS_1


"Hem! Aku tahu, lalu... bagaimana keadaan Naya, Kak?" tanya Kenzo dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Pria itu terlihat begitu tidak sabar sekali, karena Kenzo benar-benar ingin mengetahui bagaimana keadaan dari Anaya saat ini.


__ADS_2