
Setelah menerima uang yang diberikan oleh Sam, akhirnya Sandi dan juga Sam beserta dengan Ayana kini mengobrol tentang acara pernikahan.
Mereka bertiga membicarakan tentang konsep pernikahan yang diinginkan oleh Ayana, karena Sandi akan menuruti apa pun keinginan dari calon istrinya tersebut.
Lebih tepatnya dia merasa tahu diri dengan keadaannya, karena pernikahannya bisa berlangsung dengan cepat berkat dukungan dari kedua orang tua Ayana dan juga seluruh keluarga besar Satria.
Tak lupa Sandi juga mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Sam, karena pria itu tetap ikut andil dalam acara pernikahannya dengan Ayana.
Padahal, keadaan pria itu saja tidak seperti layaknya Sigit ataupun Satria, dia memiliki kehidupan yang sederhana. Akan tetapi, ternyata pria itu mampu mengumpulkan uang yang banyak untuk membantu biaya pernikahan putrinya.
"Terima kasih untuk restunya, Ayah. Terima kasih untuk dukungannya, Ay sangat sayang sama Ayah." Ayana memeluk Sam dengan penuh kasih.
Sam membalas pelukan dari putrinya, bahkan Sam terlihat menepuk nepuk punggung putrinya tersebut dengan penuh kasih.
"Sama-sama, Sayang. Berbahagialah dengan Sandi, jangan saling menghianati. Kalian harus saling percaya dan saling mendukung," jelas Sam.
Ah! jika sudah seperti ini rasanya Sam ingin kembali ke masa lalu, dia ingin memperbaiki dirinya yang melakukan kesalahan fatal di kala itu.
Jika saja dirinya tidak mengikuti hawa napsu, tidak mungkin rumah tangganya dengan Aruna akan hancur berantakan. Bahkan, dia sudah menyakiti hati banyak pihak kala itu.
"Ya, Ayah. Pasti kami akan berusaha untuk berumah tangga dengan baik," jawab Sandi.
Sandi sudah berjanji dengan sepenuh jiwa dan juga raganya, jika dirinya akan memperlakukan Ayana dengan begitu baik dan penuh cinta.
Karena untuk mendapatkan Ayana menurutnya tidaklah mudah, karena dia harus memberanikan diri untuk mendekati wanita yang kastanya lebih tinggi dari dirinya.
Di lain tempat.
Stefano dan juga Ayaka baru saja sampai di halaman rumah Angel, halaman rumah yang terlihat begitu luas dan juga Asri. Karena terdapat banyak bunga di halaman rumah tersebut.
Angel masih tinggal di tempat yang sama, rumah yang dibelikan oleh Sam ketika dia masih menjadi simpanan pria itu.
__ADS_1
Padahal, dia sudah menikah kembali dengan pria yang begitu baik. Walaupun pria itu sangat sederhana dan hanya bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta, tetapi pria itu begitu mencintai Angel dan juga putri yang sudah dilahirkan oleh wanita itu.
Sang suami sudah pernah mengajak Angel untuk tinggal di rumah sederhana miliknya, tetapi Angel menolaknya.
Bukan karena dia tidak sudi tinggal di rumah sederhana milik suaminya tersebut, tetapi ini adalah bentuk rasa untuk menghargai pemberian dari Sam terhadap dirinya.
Karena walau bagaimanapun juga dulu Sam memberikan rumah itu untuk dia tinggali dan juga Ayaka tinggali, sayangnya putrinya itu tidak mau tinggal bersama dirinya karena sebuah kesalahan yang dia lakukan.
Jika Ayaka hendak menikah nanti, Angel berencana akan memberikan rumah tersebut kepada Ayaka. Karena menurutnya Ayaka lebih berhak atas rumah tersebut.
Dulu Angel memang sempat membenci Sam, karena pria itu sudah jatuh miskin dan tidak bisa memberikan uang yang banyak kepada dirinya.
Namun, setelah dia keluar dari penjara, wanita itu benar-benar menyadari semua kesalahan yang sudah dia lakukan. Wanita itu menjalani kehidupannya dengan lebih baik, lalu dia memutuskan menikah dengan seorang pria yang begitu baik kepada dirinya saat itu.
Pria yang mampu menerima dirinya apa adanya, walaupun nyatanya dia sudah memiliki putri dari hasil selingkuh. Akan tetapi, pria itu tidak pernah mengungkitnya.
Kini, Angel sudah memiliki putri berusia tujuh belas tahun bernama Anaya. Gadis remaja itu tumbuh dengan sangat cantik dan juga tubuhnya tinggi langsing.
Bahkan, putrinya Angel tersebut terpilih sebagai model di salah satu majalah remaja. Tentu saja Angel mendukung karir dari putrinya tersebut, karena nyatanya Anaya juga sangat menyukai dunia modeling.
"Bunda! Aya dateng," ucap Ayaka seraya mengetuk pintu.
Cukup lama Ayaka dan juga Stefano berdiri di depan pintu utama, tetapi tidak juga ada yang membukakan pintu. Karena merasa penasaran, akhirnya Ayaka membuka pintu utama tersebut.
"Naya! Kamu di mana? Bun! Ayah Surya!"
"Mungkin mereka lagi pergi," ujar Stefano yang tidak kunjung melihat ada orang di dalam rumah tersebut.
Karena jika memang rumah itu berpenghuni, setidaknya ada suara orang yang sedang mengobrol atau mungkin suara orang yang sedang melangkahkan kaki di dalam rumah tersebut.
"Kalau pergi pasti pintunya dikunci, Kak," jawab Ayaka.
__ADS_1
Stefano nampak menganggukkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, karena rumah tidak mungkin ditinggalkan dalam keadaan pintu yang tidak terkunci.
"Benar juga," jawab Stefano.
"Udah ayo masuk aja," ajak Ayaka.
Ayaka menuntun Stefano untuk duduk di atas sofa yang ada di ruang keluarga, dia tersenyum hangat ke arah pria itu lalu wanita itu berkata.
"Tunggu sebentar, Kak. Aku akan mencari bunda terlebih dahulu," izin Ayaka kepada Setefano.
Dia benar-benar merasa heran karena rumah terasa begitu sepi, padahal ini adalah hari libur. Seharusnya di rumah terasa ramai, karena adanya Anaya yang selalu saja banyak berbicara
Ya! Gadis berusia tujuh belas tahun itu sangat suka sekali berbicara, dia akan menceritakan apa pun yang terjadi terhadap dirinya. Apalagi ketika dia sedang kecewa, pasti gadis itu akan terus saja bercerita sampai merasa lelah sendiri.
Ayaka terlihat melangkahkan kakinya menuju dapur, baru saja dia hendak masuk ke dalam dapur, tetapi gadis itu sudah dikagetkan dengan kedatangan Anaya.
"Kakak!" jerit gadis itu.
Anaya yang melihat kakaknya langsung memeluk Ayaka dengan begitu erat, bahkan karena begitu senangnya wanita muda itu sampai menggoyang-goyangkan tubuhnya sendiri.
Ayaka sampai tertawa dibuatnya, dia membalas pelukan dari adiknya seraya mengusap puncak kepala adiknya yang kini terlihat begitu cantik itu.
"Dari tadi Kakak teriak-teriak loh, manggil kamu sama bunda. Sama ayah juga, kalian ke mana aja sih?" tanya Ayaka dengan kesal.
Anaya nampak melerai pelukannya dengan sang kakak, lalu dia mengusap lengan kakaknya itu dengan penuh kasih sayang.
"Bunda sama ayah lagi bikin kue brownies untuk Kakak, soalnya pas bunda baru bangun tidur ayah Sam telpon. Ayah Sam bilang kalau Kakak mau ke sini," jelas Anaya.
"Oh gitu, tapi kan' ngga harus diem-diem aja juga." Ayaka nampak cemberut.
"Jangan cemberut, nanti cantiknya ilang." Anaya mencubit gemas pipi Ayaka.
__ADS_1
"Dek! Sakit!" keluh Ayaka.
"Abis Kakak itu cantik dan gemesin, bikin Naya pengen cubit." Anaya kembali mengangkat tangannya, tetapi dengan cepat Ayaka menepis tangan adiknya.