
"Aku menunggu kamu di taman belakang, jangan lama."
Itulah pesan chat yang diterima oleh Kenzo dari Anaya, pria itu nampak tersenyum mendapatkan pesan seperti itu dari Anaya. Karena tidak biasanya Anaya mengirimkan pesan chat di saat mereka berada di dalam rumah.
"Mau ngapain coba? Kenapa harus ketemuan di taman belakang juga? Enakan di dalam kamar," ujar Kenzo seraya terkekeh.
Walaupun bibirnya berkata seperti itu, tetapi Kenzo tetap melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamarnya. Dia ingin menemui Anaya di taman belakang.
Saat Kenzo tiba di taman belakang, dia melihat lampu yang berkedip-kedip nampak menerangi taman belakang itu. Entah siapa yang memasangnya, Kenzo tidak tahu.
Karena setahunya di taman belakang itu hanya ada bunga-bunga dan beberapa pohon yang rindang, hanya ada lampu penerangan tanpa ada banyaknya lampu berkedip-kedip seperti itu.
Di sana bahkan ada bangku taman yang sudah dihiasi bunga dan juga dikelilingi lilin, Kenzo sampai mengernyitkan dahinya. Karena ini seperti kejutan yang biasa disiapkan oleh seorang pria untuk calon kekasihnya.
"Naya! Kamu di mana?" tanya Kenzo seraya mengedarkan pandangannya.
Di sana Kenzo tidak menemukan Anaya, Kenzo takut jika dirinya hanya sedang dibodohi saja. Atau mungkin sedang di-prank, seperti acara di tv-tv, itu pasti akan sangat mengesalkan, pikirnya.
"Ada apa, Ken?" tanya Anaya yang ternyata bersembunyi di balik pohon yang ada di taman belakang tersebut.
Kenzo tersenyum karena ternyata pujaan hatinya ada di sana, malam ini wanita itu terlihat begitu cantik sekali. Anaya memakai dress berwarna marun, padahal biasanya wanita itu tidak pernah memakai dress seperti itu.
"Naya, kamu cantik. Terus, ngapain sih pake sembunyi di balik pohon segala?" tanya Kenzo seraya menghampiri wanita itu.
Anaya tersenyum, lalu dia mengulurkan kedua tangannya. Kenzo yang paham langsung menggenggam kedua tangan Anaya dengan erat.
"Ada apa sih? Kenapa ngajakin aku ke sini?" tanya Kenzo.
Anaya tersenyum malu-malu karena merasa konyol sendiri, biasanya pria yang akan melakukan hal itu, tetapi malah dirinya yang melakukan hal seperti itu kepada Kenzo.
"Aku cuma mau bilang sama kamu, kalau ingatan aku sudah pulih. Aku sudah mengingat semuanya, apa kamu senang?" tanya Anaya.
Kenzo terlihat begitu senang sekali, senyum di bibirnya bahkan langsung merekah karena dia tidak percaya jika Anaya kini sudah mengingat semuanya.
Jika seperti itu, artinya kisah cinta di antara keduanya juga sudah diingat oleh Anaya. Wanita yang kini ada di hadapannya, pasti sangat tahu jika dirinya begitu mencintai wanita itu.
"Beneran?" tanya Kenzo.
Anaya langsung menganggukkan kepalanya, karena nyatanya kini dia sudah mulai mengingat semuanya. Dia sangat ingat jika dirinya yang selalu mengejar-ngejar Kenzo, dia yang sepertinya jatuh cinta terlebih dahulu kepada pria itu.
"He'em," jawab Anaya seraya tersenyum dengan begitu manis.
Kenzo semakin melebarkan senyumnya, sungguh malam ini dia merasa bahagia karena ingatan Anaya sudah pulih. Di saat dia mengetahui jika Anaya masih hidup saja, Kenzo benar-benar begitu bahagia.
Apalagi ketika mengetahui ingatan wanita itu sudah pulih kembali, tentunya hari ini menjadi momen yang paling berharga bagi dirinya.
__ADS_1
"Ah! Ken sangat senang, boleh peluk?" tanya Kenzo dengan binar bahagia di wajahnya.
Anaya langsung menganggukkan kepalanya, tentunya hal itu membuat Kenzo sangat bahagia dan terlihat tidak sabar untuk memeluk wanitanya.
"Boleh, tapi sebelum itu aku ingin bertanya kepada kamu. Apakah kamu masih ingat ini hari apa?" tanya Anaya.
Tentu saja Kenzo sangat mengingat ini hari apa, kenapa Anaya malah harus menanyakan tentang hari kepada dirinya, pikirnya.
"Hari Selasa, memangnya kenapa? Ulang tahun kamu juga masih lama, kenapa malah menanyakan hari?" tanya Kenzo.
Anaya langsung mengerucutkan bibirnya, karena ternyata Kenzo tidak mengingat momen kenangan apa yang pernah terjadi di hari dan di tanggal itu.
"Aih! Kamu ngga peka, coba diingat-ingat lagi ini hari apa. Terus, apa yang pernah kamu katakan sama aku di hari ini dan di tanggal ini?" tanya Kanaya.
Kenzo nampak berpikir dengan begitu keras mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Anaya, dahi pria itu nampak mengerut dalam. Bahkan, kedua alis pria itu hampir saling menyatu.
Kenzo kini mulai paham dengan apa yang dikatakan oleh pepatah, wanita itu selalu ingin dimengerti. Namun, sayangnya pria bukan cenayang.
Namun, karena Kenzo begitu mencintai Anaya, dia akan tetap berusaha untuk menebak apa yang dipertanyakan oleh wanita itu. Semoga saja dia menjawab dengan benar agar Anaya tidak marah kepada dirinya.
"Apaan sih? Memangnya apa yang pernah aku lakukan dan apa yang pernah aku katakan di hari dan di tanggal ini?" tanya Kenzo kebingungan.
"Kalau kamu nggak bisa jawab, berarti kamu tidak benar-benar mencintai aku." Anaya tertunduk dengan begitu lesu.
Wadidaw! Kenzo merasa serba salah dibuatnya, mana mungkin pria itu tidak mencintai Anaya. Karena nyatanya pria itu begitu sengsara selama bertahun-tahun ketika mendengar kabar kematian wanita itu.
Kembali pria itu terdiam, dia seolah-olah sedang memikirkan apa yang pernah dia katakan dan apa yang pernah dia lakukan di tanggal dan di hari itu.
Tidak lama kemudian Kenzo nampak tersenyum, lalu dia menjawil dagu Anaya. Anaya terlihat kesal dan langsung menepis tangan pria itu.
"Aih! Galak sekali kamu tuh, aku sudah ingat. Lima tahun yang lalu aku mengungkapkan rasa cintaku sama kamu saat kita liburan ke Jogja," jawab Kenzo.
Wajah Anaya yang tadinya terlihat murung kini berubah menjadi ceria, dia merasa senang karena Kenzo sudah mengingatnya.
"Kalau gitu, coba katakan lagi rasa cinta kamu sama aku," pinta Anaya.
Kenzo paham dengan apa yang diinginkan oleh Anaya, pria itu langsung berjongkok. Lalu, pria itu menggenggam tangan kanan Anaya dan mengecup punggung tangan itu dengan mesra.
"Anaya, aku itu begitu mencintai kamu. Aku begitu mengagumi dirimu, lima tahun berpisah dengan kamu membuat aku tersiksa. Jadi, agar kita bisa terus bersama, maukah kamu menikah denganku?"
Anaya tersenyum malu-malu mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, rasanya sangat senang sekali mendengar apa yang dipertanyakan oleh pria itu.
"Mau, dong. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan lagi, aku seperti manusia yang terlahir kembali. Aku tidak akan mungkin menolak ajakan kamu,'' jawab Anaya.
"Tapi, Yang. Aku belum beli cincin lamaran," ujar Kenzo.
__ADS_1
"Nanti bisa nyusul," ujar Anaya yang menuntun Kenzo agar kembali berdiri.
Keduanya terlihat saling pandang, sorot kebahagiaan begitu jelas di mata keduanya. Baik Kenzo ataupun Anaya, saling menggenggam seolah takut kehilangan.
"Naya!" panggil Kenzo.
"Ya," jawab Anaya.
"Apakah kamu masih ingat apa yang aku lakukan setelah menyatakan cinta kepada kamu?" tanya Kenzo.
"Apa?" tanya Anaya yang malah lupa dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.
"Aku mencium kamu di bawah pohon yang rindang, bolehkan aku kembali untuk mencium bibir kamu?" tanya Kenzo dengan tangan kanannya yang sudah terlihat memeluk pinggang Anaya dengan erat.
Bahkan, tangan kiri pria itu sudah mulai mengusap punggung Anaya dan terus naik untuk mengusap-usap tengkuk leher Anaya.
Wajah Anaya terlihat memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, wanita itu merasa malu dengan permintaan yang terlontar dari bibir Kenzo.
"Jangan ih! Ngga boleh, nanti aja kalau udah nikah," jawab Anaya.
"Ngga bisa! Tadi kamu udah minta aku untuk mengingat apa yang aku katakan kala itu, sekarang aku juga meminta kamu untuk menerima apa yang dulu aku lakukan sama kamu."
Tanpa aba-aba Kenzo langsung menunduk seraya menarik lembut tengkuk leher Anaya, tidak lama kemudian pria itu langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Anaya.
Anaya begitu kaget sekali dengan apa yang dilakukan oleh Kenzo, karena menurutnya itu lebih ke pemaksaan.
Anaya sempat berusaha untuk mendorong wajah Kenzo, tetapi Kenzo malah mengungkung pergerakan tubuh wanita itu. Alhasil Anaya tidak bisa bergerak sama sekali.
Anaya hanya pasrah menerima setiap pagutan dari bibir Kenzo, hingga tidak lama kemudian Kenzo membuka matanya dan melepaskan pagutannya.
"Kenapa ngga bales? Kamu ngga cinta sama aku?" tanya Kenzo.
"Eh? Bukannya gitu, Ken. Punggung aku gatel, kayaknya ada semutnya deh. Kamu-nya awas dulu,'' ujar Anaya.
Kenzo pada akhirnya melepaskan pelukannya, lalu dia memundurkan langkahnya. Pria itu memperhatikan punggung Anaya yang katanya gatal itu.
"Mana yang gatal? Siapa tau aku bisa ambil semutnya," ujar Kenzo.
"Kayaknya di sini deh, Ken," jawab Anaya seraya berbalik.
"Di mana sih?" tanya Kenzo.
"Di sini, Ken. Tapi bohong!" ujar Kanaya yang langsung berlari menuju kamarnya.
Di saat Kanaya mendapatkan sentuhan yang begitu lembut dari Kenzo, dia merasakan jika tubuhnya panas dingin. Terlebih lagi ketika mendapatkan ciuman dari bibir pria itu, serasa ada aliran listrik yang menyengat.
__ADS_1
Anaya takut khilaf, maka dari itu dia berbohong kepada Kenzo jika ada semut yang menggigit punggungnya. Padahal, Itu hanya alasan saja.
"Naya!" pekik Kenzo ketika dia melihat Anaya yang menghilang di balik pintu belakang. "Ck! Dia menipuku," imbuhnya.