Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 83


__ADS_3

"Jangan takut, Tante tidak jahat. Nanti kamu bisa berteman dengan anak Tante, kamu juga bisa bersekolah. Mau?" tanya Aruna.


Cukup lama Ayaka terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Aruna, karena dia belum yakin jika dirinya harus ikut dengan Aruna atau tidak.


Terlebih lagi setelah dia tahu jika Aruna adalah ibu dari Ayana, gadis kecil yang pernah dia dorong sampai terluka.


Namun, ketika dia menolehkan wajahnya ke arah Andin. Dia juga merasa tidak mau jika harus tetap hidup bersama dengan wanita itu, wanita yang selalu tega memperlakukan dirinya dengan tidak baik.


Andin bahkan merupakan manusia yang sangat tega, Andin jarang memberikan makanan untuk dirinya, jika dia salah maka Andin akan mengumpat dirinya dengan kata-kata yang begitu kasar.


Bahkan, wanita itu selalu mempekerjakan dirinya dengan pekerjaan yang sangat berat menurutnya. Telapak tangan Ayaka bahkan terlihat terluka, karena seringnya mengepel lantai rumah megah tersebut.


Pada akhirnya, Ayaka tersenyum ke arah Aruna. Lalu, anak itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum dengan hangat.


"Aya mau ikut Tante," jawab Ayaka pada akhirnya.


"Alhamdulillah, ayo kita pulang ke rumah Tante, Sayang." Aruna langsung menggendong Ayaka, gadis kecil itu begitu bahagia sekali mendapatkan perlakuan seperti itu.


Sudah satu tahun ini dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, rasanya mendapatkan hal seperti ini dari Aruna seperti mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu kandung.


"Iya, Tante," jawab Ayaka.


Aruna terlihat hendak melangkahkan kakinya untuk keluar dari kediaman Andin, Stefano langsung menahan pergerakan Aruna dengan mencekal lengan Aruna.


"Tunggu sebentar, Tante. Fano mau ngomong sebentar sama Aya," ujar Stefano.


Rasanya dia benar-benar merasa sedih ketika mengetahui Ayaka akan pergi dari rumahnya, walaupun dia tahu jika itu adalah hal yang lebih baik karena ibunya tidak pernah memperlakukan Ayaka dengan baik.


"Boleh, Sayang. Bicaralah," ujar Aruna.


"Kakak pasti kangen Aya, kamu baik-baik sama Tante di sana. Jangan nakal," ujar Stefano.


Aruna langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, karena nyatanya Ayaka tidak pindah jauh. Hanya pindah ke sebelah rumah Stefano.


"Rumah Tante ada di sebelah rumah kamu, Fano. Kamu boleh mengunjungi Aya kapan pun kamu mau," ujar Aruna.


Oh, oh, oh. Rasanya Stefano benar-benar merasa bahagia karena tidak akan berpisah jauh dari gadis kecil itu, dia bahkan langsung tersenyum dan berkata.


"Alhamdulillah! Aku akan sering dateng, jangan usir aku kalau aku dateng buat nemuin Aya ya, Tante," pinta Fano.


"Ya, Sayang," ujar Aruna.


Setelah mengatakan hal itu, Aruna langsung membawa Ayaka untuk keluar dari rumah tersebut. Stefano mengikuti langkah Aruna sampai wanita itu masuk ke dalam rumahnya, dia tersenyum dengan air matanya yang mengalir di kedua pipinya.


Senang rasanya karena Ayaka bertemu dengan orang yang penuh kasih sayang seperti Aruna, tetapi dia juga merasa sedih karena tidak bisa tinggal satu rumah lagi dengan Ayaka.


"Semoga kamu bahagia dengan keluarga baru kamu,'' ujar Stefano.


Setelah mengatakan hal itu, Stefano terlihat melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya. Entah apa yang dicari oleh anak itu, tetapi dia langsung membuka lemari pakaiannya.


Berbeda dengan keadaan di ruang dapur, Andin masih terlihat tegang karena di sana ada Satria dan juga Rachel yang belum menyusul Aruna.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Satria menghampiri Andin. Pria paruh baya itu berbicara dengan begitu serius kepada Andin, tidak lama kemudian Andin menganggukkan kepalanya dengan terlihat begitu berat.


"Terima kasih atas pengertiannya," ujar Satria.


Setelah mengatakan hal itu, Satria dan juga Rachel langsung keluar dari kediaman Andin. Mereka langsung masuk ke dalam kediaman Aruna.


Saat tiba di ruang keluarga, Satria melihat Ayana sudah pulang dengan Sigit. Ayana terlihat bahagia mengetahui Ayaka yang akan tinggal bersama dengannya.


Ayana bahkan langsung mengajak Ayaka untuk masuk ke dalam kamarnya, anak itu langsung menunjukkan banyaknya mainan miliknya kepada Ayaka dan mengajak Ayaka untuk bermain bersama.


"Syukurlah mereka bisa akur," ujar Satria.


"Ya, Ayah. Ay dan Aya seperti memiliki ikatan yang kuat, mereka terlihat begitu dekat." Aruna terkekeh setelah mengatakan hal itu, Satria hanya bisa tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya.


Karena nyatanya keduanya adalah saudara sedarah, saudara satu ayah. Hanya saja sengaja Satria merahasiakan hal itu agar Aruna tidak sakit hati.


"Ehm! Sayang, Ayah mau bicara sebentar dengan Sigit. Kamu temani Bunda dulu," ujar Satria.


"Kenapa harus bicara dengan Sigit saja? Memangnya Ayah nggak mau bicara sama aku?" tanya Aruna.


"Ayah akan membahas tentang urusan para pria, kamu tidak boleh mendengarkannya." Satria menepuk pundak Sigit setelah mengatakan hal itu.


Sigit yang paham langsung bangun, jika seperti itu artinya Satria ingin membicarakan hal yang penting dengan dirinya.


"Aku bicara dulu sama Ayah di ruang kerja, kamu ngobrol dulu sama Bunda," ujar Sigit.


"Oke!" jawab Aruna pada akhirnya.


Walaupun dia begitu penasaran dengan apa yang akan diobrolkan oleh ayahnya dan juga suaminya, tetapi dia tidak mau menguping pembicaraan antara keduanya.


"Silakan duduk, Yah," ujar Sigit ketika mereka sampai di dalam ruang kerja.


"Terima kasih," ujar Satri seraya duduk tepat di samping menantunya tersebut.


"Apa yang ingin Ayah bicarakan?" tanya Sigit begitu penasaran karena tidak biasanya Satria mengajak dirinya untuk bicara berdua seperti itu.


"Aya adalah Ayaka, anak Sam dan juga Angel."


Satria nampak membuka pembicaraan, Sigit nampak begitu kaget sekali mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya itu.


Kaget karena ternyata nasib anak itu sangatlah buruk, kaget karena ternyata anak yang sudah hilang satu tahun itu malah ditemukan oleh Aruna sendiri.


Kaget juga karena ternyata Aruna yang ingin menolong anak itu, anak yang terlahir dari rahim selingkuhan Sam.


"Lalu, aku harus bagaimana, Yah?" tanya Sigit.


"Pada dasarnya tidak ada yang namanya Anak haram, hanya perbuatan yang dilakukan oleh Angel dan juga Sam yang haram. Didik Aya dengan baik, ajarkan dia ajaran yang baik. Karena sejatinya manusia yang terlahir ke dunia itu ibarat selembar kertas putih, tergantung bagaimana kita memberi warna ada kertas tersebut agar terlihat lebih indah."


"Tapi, Yah. Aya non muslim, bagaimana cara aku mendidik anak itu?" tanya Sigit.


"Kita lihat dulu perkembangan dari anak itu, jika memang dia mau mengikuti agama kita, islamkan dia. Jika tidak mau, maka urus dia dengan baik dan berikan didikan yang baik. Ayah yakin jika dia pasti bisa menjadi manusia yang baik," jawab Satria.

__ADS_1


"Baiklah, lalu... apa yang harus aku katakan kepada Aruna?" tanya Sigit lagi.


"Jangan katakan apa pun dulu, karena walau bagaimanapun juga Ayaka adalah anak Sam dan selingkuhannya. Jika Aruna tahu, dia pasti akan sangat sakit hati. Tolong jaga perasaan Aruna dan tolong jaga perasaan Aya, karena pada dasarnya anak itu bisa menjadi anak yang baik jika kamu bisa mendidiknya dengan baik."


Tentunya Satria juga meminta Sigit untuk menjaga perasaan dari Ayana, jangan sampai karena terlalu memperhatikan Ayaka, Ayana malah merasa cemburu.


Satria berpesan agar tidak membedakan kasih sayang yang diberikan terhadap Ayana dan juga Aruna, Jangan sampai ada yang merasa iri hati di antara keduanya.


"Baik, Ayah," jawab Sigit.


"Terima kasih," ucap Satria.


"Sama-sama, Ayah," ujar Sigit.


Setelah obrolan antara keduanya selesai, Satria memutuskan untuk mengajak Rachel segera pulang ke kediaman Dinata. Karena waktu sudah sangat sore dan magrib hampir tiba.


Berbeda dengan Sigit, dia langsung mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar utama. Sigit langsung memangku istrinya dan memeluk pinggang istrinya dengan dengan begitu posesif.


"Aku sangat bahagia karena memiliki istri yang mempunyai hati seperti bidadari," ucap Sigit.


Aruna begitu peduli terhadap orang lain, bahkan Aruna ingin memperjuangkan anak yang disiksa oleh Andin. Rasanya Sigit sangat bangga.


"Aih! Kamu tuh terlalu berlebihan," ucap Aruna.


"Ngga berlebihan dong, karena nyatanya kamu memang sangat baik. Aku benar-benar merasa beruntung mempunyai istri seperti kamu," ucap Sigit dengan tulus.


Tidak sia-sia mencintai Aruna sejak usianya masih tujuh belas tahun, karena kini dia bisa memperistri wanita itu.


Walaupun dia mendapatkan Aruna setelah menjadi janda dari pria lain, Sigit merasa tidak peduli. Karena cintanya teramat tulus untuk wanita itu.


"Aku juga sangat senang mempunyai suami berondong seperti kamu, selain tampan dan juga gagah, kamu sangat pengertian sama aku. Kamu juga perhatian sama aku, terima kasih," ucap Aruna.


"Wow! Berondong gagah, jadi boleh dong kalau nanti malam minta 3 kali?" tanya Sigit.


Sigit langsung menaik turunkan alisnya, dia bahkan mengusakkan wajahnya pada dada istrinya yang terlihat begitu padat dan besar.


"Aih! Kenapa jadi ke situ arahnya? Kamu tuh nggak bisa dipuji dikit, pasti ujung-ujungnya minta jatah!" keluh Aruna.


"Ngga apa-apa rajin minta jatah, pan kemesraan di atas ranjang juga penting. Aku harus pandai muasin kamu, biar kamu nggak nyari batang di luaran sana." Sigit terkekeh setelah mengatakan hal itu.


"Kamu tuh ngaco aja, aku cukup batang yang ini aja." Aruna langsung menelusupkan tangannya ke dalam celana yang Sigit pakai, lalu dia meremat milik suaminya yang sedang tidur sampai menggeliat karena kaget.


"Astagfirullah, Yang! Ini masih sore, kalau aku pengen bahaya." Sigit langsung menarik tangan Aruna sebelum berbuat hal yang tidak-tidak.


"Uuuh! Besar dan keras, boleh dong!" Aruna mengerling nakal setelah mengatakan hal itu.


"Ck! Berani sekali kamu menggoda aku, lihat saja nanti malam. Aku pastikan akan membuat kamu tidak bisa tidur," ujar Sigit seraya mengigit ujung dada istrinya yang masih terbungkus rapi dengan baju yang Aruna pakai.


Jika saja waktu maghrib masih lama, rasanya Sigit ingin menghempaskan tubuh Aruna ke atas tempat tidur, lalu dia akan mengajak istrinya untuk bercinta.


"Nakal!" ujar Aruna seraya mendorong wajah suaminya. "Oiya, Sayang. Apa yang kamu bicarakan dengan Ayah?" tanya Aruna.

__ADS_1


"Rahasia!" ujar Sigit.


"Yang! Kamu tuh suka gitu," keluh Aruna seraya memukul pundak suaminya.


__ADS_2