Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab. 62


__ADS_3

Beberapa saat sebelumnya.


"Ada nona Aruna datang, Tuan." Seorang bodyguard yang berjaga di depan perusahaan Siregar memberitahukan kedatangan Aruna kepada Sigit melalui pesan chat.


"Biarkan dia masuk, jangan sampai ada yang menghalangi jalannya."


Sigit tersenyum bahagia karena pujaan hatinya datang ke perusahaannya, senyumnya bahkan semakin lebar ketika dia melihat wanita yang kini sedang ada di hadapannya.


Wanita itu datang untuk mengajukan proposal kerjasama, tidak apa bukan jika Sigit memanfaatkan situasi ini, begitulah pikirnya.


Sigit langsung menghampiri wanita itu, lalu dia duduk tepat di sampingnya. Hal itu sengaja Sigit lakukan untuk menguji perasaan Aruna terhadap dirinya, dia ingin mengetahui perasaan Aruna yang sebenarnya kepada dirinya.


Selama ini Aruna selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi ketika berhadapan dengan dirinya, wanita yang lebih tua 6 tahun dari dirinya itu begitu pandai menyembunyikan perasaannya.


Bahkan, Aruna selalu menutupi kesedihannya. Aruna selalu berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa kecewa dan sakit hatinya, dia selalu berusaha untuk tegar.


Tidak lama kemudian, Aruna masuk ke dalam ruangannya. Wanita itu menatap tidak suka ke arah Sigit dan juga ke arah wanita yang sedang berada di sampingnya, Sigit benar-benar merasa bahagia melihat reaksi dari Aruna.


Terlebih lagi saat melihat Aruna yang menolak pengajuan kerjasama dari pemilik perusahaan Prameswari, Sigit benar-benar merasa sedang dicemburui.


"Kamu cemburu?" tanya Sigit.


Aruna langsung memundurkan wajahnya, lalu dia menatap Sigit dengan tatapan tajamnya. Sigit langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa, dia bahkan langsung menunduk karena tidak tahan melihat wajah Aruna.


"Aku tidak cemburu, hanya saja program kerja yang ditawarkan terasa tidak masuk akal." Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah lain, karena dia merasa tidak nyaman saat bersitatap mata dengan Sigit.


"Oh! Seperti itu, baiklah. Aku tidak akan bekerja sama dengan perusahaan Prameswari," ujar Sigit.


Setelah mengatakan hal itu, Sigit menolehkan wajahnya ke arah wanita yang sejak tadi menatap Aruna dengan tatapan tidak percaya.


"Maaf, Nona. Kekasihku tidak menginginkan aku untuk bekerja sama dengan perusahaan anda," ujar Sigit dengan begitu sopan.


Walaupun terlihat tidak suka, tetapi wanita itu berusaha untuk menampilkan senyum terbaiknya.

__ADS_1


"Oh, iya. Tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi." Wanita itu mengambil berkas pengajuan kerjasama yang tadi ditolak oleh Aruna, lalu dia keluar dari ruangan tersebut dengan bibir mengerucut.


Selepas kepergian wanita itu, Sigit merapatkan tubuhnya kepada Aruna. Dia bahkan tanpa ragu memeluk wanita itu, dia menyadarkan kepalanya di pundak Aruna.


"Berat ih, sonoan napa!" kesal Aruna seraya mendorong wajah Sigit.


Deru napas yang keluar dari hidung Sigit terasa begitu hangat menyapu lehernya, tentu saja hal itu membuat tubuh Aruna meremang dalam seketika.


Terlebih lagi Sigit memeluk dirinya dengan begitu posesif, tangan besar Sigit mengelus-elus lengannya dengan lembut. Aruna merasa tidak nyaman sekali.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh pak ustadz kemarin, jika dirinya tidak boleh terlalu dekat dengan lawan jenis. Karena pria itu seperti memiliki aliran listrik, jika dia berdekatan dengan pria, dia terasa akan tersetrum.


"Aku tidak sedang menindih kamu, bagaimana bisa terasa berat?" tanya Sigit seraya menatap mata Aruna dengan lekat.


Oh ya ampun, rasanya ingin sekali Aruna mengikat bibir pria muda yang ada di dalam pelukannya itu. Karena semua ucapan yang keluar dari bibirnya, selalu saja membuat telinganya tidak nyaman.


"Ck! Aku ngga nyaman, bisakah kamu melepaskan pelukannya?" tanya Aruna.


"Bisa, Sayang. Tapi, bilang dulu kalau kamu cinta aku. Bilang kalau kamu cemburu saat aku dekat dengan wanita lain," ujar Sigit.


"Oh! Tidak cemburu, ya. Oke, jangan salahkan aku kalau aku akan menemui wanita tadi dan memintanya untuk menjadi kekasihku," ujar Sigit seraya melepaskan pelukannya.


Sigit terlihat bangun dan hendak keluar dari dalam ruangannya, Aruna panik. Dia bahkan tanpa sadar langsung memeluk Sigit dari belakang, Sigit tersenyum dengan penuh kemenangan.


"Kenapa peluk-peluk?" tanya Sigit.


"Jangan pergi, aku tidak mau kamu berpacaran dengan wanita itu," jawab Aruna.


"Kamu cemburu?" tanya Sigit.


"Ngga cemburu juga, tapi nanti kasihan Ay kalau kamu punya kekasih. Ay udah deket banget sama kamu, bagaimana dengan perasaannya nanti?" kilah Aruna.


Sigit menghela napas berat mendengar jawaban dari Aruna, wanita itu adalah makhluk yang sangat rumit, pikirnya. Sudah jelas-jelas Aruna terlihat cemburu, bahkan sampai menolak permintaan kerjasama dari perusahaan Prameswari.

__ADS_1


Namun, Aruna masih saja tidak mau mengakui perasaannya. Aruna malah menggunakan Ayana untuk menahan dirinya, sungguh Sigit tidak paham dengan Aruna. Sigit melerai pelukan Aruna, lalu dia membalikkan tubuhnya.


"Ya sudah kalau tidak cemburu, aku tidak apa-apa. Terus kamu datang ke sini untuk apa?" tanya Sigit yang tidak mau memperpanjang masalah dengan Aruna. Lebih tepatnya tidak ingin berdebat dengan wanita yang dia cintai itu.


"Anu, itu. Mom tidak mau menerima Aya, dia takut akan mati berdiri jika harus mengurusi anak dari selingkuhan Sam. Dia ingin menjaga kewarasannya, dia takut akan menumpahkan kekesalannya terhadap Sam kepada Aya."


"Sudah kuduga, kalau begitu nanti sore kita akan bawa Aya ke tempat neneknya. Kita pertemukan anak itu dengan neneknya, jika memang ibunya Sam menolak Aya, kita langsung bawa ke panti," putus Sigit.


"Oke!" jawab Aruna.


"Sekarang kamu mau pulang dulu atau mau nemenin aku bekerja?" tanya Sigit seraya mengelusi pundak Aruna dengan penuh perasaan.


"Mau pulang aja, takutnya kamu khilaf," jawab Aruna.


"Aih! Kamu itu bisa saja, aku itu mencintai kamu dengan setulus hatiku. Pastinya aku akan menjaga kamu, bukan mau merusak kamu dengan mengajak kamu anu-anu," jelas Sigit.


Aruna ingin sekali menertawakan apa yang dikatakan oleh Sigit, tetapi dia berusaha untuk menahan tawanya.


"Iya, iya. Aku percaya, kalau begitu aku mau ke rumah sakit," ujar Aruna.


Sigit panik saat Aruna mengatakan rumah sakit, dia takut jika pujaan hatinya itu kini sedang mengalami sakit yang berbahaya.


"Untuk apa? Kamu sakit? Sakit apa?" tanya Sigit dengan begitu khawatir.


"Setelah melahirkan Ay aku memasang spiral, agar aku tidak langsung hamil lagi. Sekarang aku mau mencopot pemasangan spiral itu," jawab Aruna.


Kekhawatiran yang tadi dirasakan oleh Sigit berubah menjadi sebuah kebahagiaan, bahkan Sigit langsung mengembangkan senyumnya dan berkata.


"Ehm! Sudah siap banget kayaknya untuk dibuahi, makanya mau lepas--"


Aruna langsung memukul lengan Sigit dengan cukup kencang, tentu saja hal itu membuat Sigit tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Apaan sih! Emang udah waktunya dilepas, aku sudah jadi janda. Mana boleh pake spiral lagi, nanti disangkanya aneh-aneh sama yang lain," jelas Aruna.

__ADS_1


"Iya, iya. Sono pergi, nanti aku tidak kerja kerja kalau kamu tetap di sini." Sigit memeluk Aruna, setelah itu dia melerai pelukannya dan mendorong punggung wanita itu agar segera keluar dari dalam ruangannya.


"Ya ampun, aku diusir," ucap Aruna seraya terkekeh.


__ADS_2