
Selepas mandi Ayaka langsung menyapu di dalam rumah tersebut dibantu oleh seorang pelayan, hal itu dia lakukan karena tidak mau terkena omelan dari Andin. Singel parents yang harus membesarkan seorang putra berusia dua belas tahun, karena Andin ditinggal meninggal oleh suaminya di saat usia putranya 5 tahun.
Padahal pelayan di rumah tersebut sudah meminta Ayaka untuk diam saja, karena mereka juga merasa tidak tega kepada bocah kecil itu. Nanti kalau ada Andin, mereka akan meminta Ayaka untuk berpura-pura bekerja.
Namun, anak itu tidak mau. Dia tetap saja merasa takut kalau dia akan ketahuan sudah berbohong, dia tidak mau dimarahi lagi.
Di saat Ayaka sedang menyapu, Andin keluar dari dalam kamarnya. Dia sempat menolehkan wajahnya sekilas ke arah Ayaka, tidak lama kemudian dia masuk ke dalam dapur karena ingin menyiapkan sarapan.
Saat membuka lemari pendingin dia terlihat memicingkan matanya karena telur miliknya hilang satu, dengan cepat Andin juga memeriksa magic com yang ada di sana.
Ternyata nasinya juga sedikit berkurang, karena wanita itu memang selalu memperhatikan apa pun dengan detail.
Andin langsung terlihat begitu kesal, dia bahkan langsung mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna. Andin sudah menduga jika Ayaka Ya sudah mengambil telurnya dan juga nasi miliknya.
"Jelek!" teriak Andin.
Karena nama itulah yang dia sematkan kepada gadis kecil yang dia tabrak, Ayaka tidak pernah mengeluarkan suaranya karena selalu takut saat berhadapan dengan Andin. Alhasil Andin yang tidak tahu nama dari Ayaka, dia malah memanggilnya dengan sebutan jelek.
Ayaka ketakutan, tetapi dia tetap melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia menghampiri Andin dan berdiri tepat di hadapan wanita itu seraya menunduk takut.
Ayaka sudah siap untuk dimarahi, pasti Andin memanggil dirinya karena dia sudah ketahuan memakan makanan milik wanita itu. Walaupun pada kenyataannya bibi yang menyiapkan makanan tersebut untuk dirinya.
"Kamu makan telor saya? Kamu makan nasi saya tanpa izin?" tanya Andin.
Ayaka yang merasa takut hanya terdiam, karena untuk berbicara pun seakan tidak sanggup. Tidak lama kemudian, seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun datang dan menghampiri Andin.
"Mom, aku yang makan nasi sama telornya. Malam aku laper, jadinya aku makan. Maaf ngga bilang, Mom," ujar Stefano.
__ADS_1
Andin langsung menatap wajah Stefano dengan lekat, dia seolah sedang mencari kebenaran atas apa yang diucapkan oleh putranya.
Stefano terlihat begitu tenang ketika mendapatkan tatapan seperti itu dari ibunya, dia bahkan tersenyum hangat kepada ibunya tersebut.
"Kamu ngga bohong kan, Fano? Kamu berkata seperti itu bukan karena mau melindungi anak itu, bukan?" tanya Andin memastikan.
Stefano nampak menggelengkan kepalanya, kemudian dia tersenyum dengan sangat manis sekali ke arah ibunya.
"Ngga, Mom. Fano yang makan, sekarang Mom lanjutin masaknya. Atau mau Fano bantu?" tanya Stefano dengan lembut.
Lalu, tanpa sepengetahuan Andin, Stefano mengayunkan tangan kanannya ke arah Ayaka. Pria muda itu seolah meminta Ayaka agar segera pergi dari sana.
Ayaka yang paham langsung pergi dari sana, dia takut jika wanita itu akan marah-marah lagi kepada dirinya.
"Mom mau masak sendiri aja, kamu pergi aja sana. Siapin peralatan sekolah," ujar Andin.
"Oke, Mom!" jawab Stefano senang.
Andin melanjutkan kegiatannya, sedangkan Stefano langsung menghampiri Ayaka. Dia tersenyum ke arah gadis kecil itu, lalu dia menarik lembut tangan Ayaka dan mengajaknya pergi ke samping rumah dekat garasi.
"Dek, maafin mom, ya. Kakak janji sama kamu, kalau Kakak besar nanti akan mengobati bekas luka kamu. Biar kamu cantik dan tidak disebut jelek sama mom," ujar Stefano.
Stefano merupakan pria yang lembut dan juga penyayang, walaupun wajah Ayaka terlihat buruk rupa, tetapi Stefano sangat menyayangi Ayaka.
Ayaka tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, dia merasa senang karena Stefano selalu bersikap baik kepada dirinya. Bahkan, Stefano selalu memperlakukan dirinya seperti seorang adik.
"Nanti siang Kakak bawain makanan yang banyak, jangan sedih, oke?" hibur Stefano.
__ADS_1
Kembali Ayaka menganggukan kepalanya tanda mengingatkan, Stefano terlihat senang dibuatnya. Bahkan, dia langsung mengusap puncak kepala Ayaka dengan begitu lembut.
"Anak pandai, nanti kita juga akan belajar menulis dan membaca. Biar Ade jadi anak pandai," ujar Stefano yang tahu jika ibunya tidak mau menyekolahkan Ayaka.
Jangankan untuk menyekolahkan Ayaka, untuk memberi makan Ayaka saja Andin seolah enggan. Bahkan, untuk menatap gadis kecil itu saja Andin seolah tidak sudi.
Kalau saja Andin tidak melakukan kesalahan dengan menabrak gadis kecil itu, rasanya Andin tidak ingin membawa Ayaka untuk masuk ke dalam rumahnya.
Senyum di bibir Ayaka semakin melebar, karena di rumah tersebut hanya Andin yang bersikap kasar kepada dirinya. Hanya Andin yang selalu mengeluarkan kata-kata tidak enak dari mulutnya itu.
Ayaka langsung mencium punggung tangan Stefano, Stefano sampai terkekeh dibuatnya. Setelah mengobrol dengan Ayaka, Stefano segera pergi dari sana menuju kamarnya.
Bukannya tidak mau berlama-lama bersama dengan Ayaka, tetapi dia takut akan kena marah dari ibunya.
"Terima kasih, Tuhan. Karena di sini banyak orang baik," ujar Ayaka dengan penuh syukur.
Tidak lama kemudian, mata gadis kecil itu nampak berkaca-kaca. Dia teringat akan kejadian 1 tahun yang lalu di mana dia mengejar Angel, tetapi wanita yang berstatus sebagai ibunya itu terlihat tidak peduli kepada dirinya.
Angel bahkan terlihat ketakutan saat dia hendak menghampiri ibunya tersebut, Ayaka benar-benar merasa sangat sedih buatnya. Ayaka kini merasa hidupnya sebatang kara, tidak mempunyai ayah dan juga Ibu.
Walaupun di masih sangat kecil, tetapi Ayaka paham jika ayahnya kini sedang mendekam di dalam penjara dalam kurun waktu yang sudah ditentukan.
Ayaka juga paham jika dirinya bukan anak yang diinginkan oleh Angel, karena wanita itu terlihat ketakutan saat didekati oleh dirinya.
"Aya ngga baka lupa sama apa yang udah bunda lakuin sama Aya," ujar Ayaka.
Setelah mengatakan hal itu, Ayaka langsung mengambil sapu lidi dan menyapu halaman. Sesekali terdengar isakan dari bibir mungilnya, tetapi dia tetap terlihat tegar.
__ADS_1