
Itulah hal yang selalu Kenzo lakukan, selama satu minggu dia selalu berangkat sekolah pagi-pagi karena akan menjemput Anaya terlebih dahulu. Selama mereka bersama-sama memang tidak pernah mengobrol, tetapi keduanya dirasa semakin dekat.
Bila mereka ingin berbicara, pasti mereka akan mengambil ponsel dan berbicara lewat pesan chat. Keduanya masih saja terlihat malu-malu jika harus berbicara secara langsung, hingga beberapa hari kemudian acara tour terlaksana juga.
Keduanya naik di bis yang sama, Kenzo bahkan memilih duduk di dekat Anaya. Hal itu sengaja dia lakukan agar bisa melihat wajah Anaya dari dekat, bisa mengobrol selama perjalanan menuju tempat wisata yang ada di daerah Jogjakarta, Jawa Tengah.
"Sudah siap jalan-jalan?" tanya Kenzo.
Anaya langsung menganggukkan kepalanya, tentu saja dia sangat siap untuk pergi karena alasan utamanya bisa pergi bersama dengan Kenzo selama tiga hari.
"Sudah dong, mau minta foto sama kamu boleh?" tanya Anaya seraya mengambil ponselnya.
Kenzo langsung terkekeh mendengar permintaan dari Anaya, karena tidak biasanya gadis itu meminta untuk berfoto bersama dengan dirinya. Jangan meminta untuk foto bersama, makan untuk dekat-dekat pun Anaya seakan enggan.
Bukan merasa jijik terhadap pria itu, justru Kenzo sangat tahu jika Anaya begitu menyukai dirinya. Akan tetapi, memang mereka berdua sengaja menjaga jarak seperti yang sudah-sudah.
"Ken! Aku mau foto sama kamu boleh?" tanya Anaya sekali lagi karena Kenzo malah terdiam seraya menatap wajahnya.
Kenzo tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, Anaya ikut tersenyum dibuatnya. Karena akhirnya dia akan memiliki potret kebersamaannya dengan Kenzo.
"Boleh," jawab Kenzo pada akhirnya.
Anaya terlihat begitu senang mendengar jawaban dari Kenzo, lalu dia mencondongkan tubuhnya ke arah Kenzo seolah-olah dia sedang menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu.
Setelah itu, Anaya memotret kebersamaannya dengan Kenzo melalui ponsel miliknya. Anaya bahkan mengambil potret kebersamaannya dengan Kenzo sampai beberapa kali, Kenzo sampai tertawa dibuatnya.
"Sekali lagi," ujar Kenzo yang kembali memotret kebersamaannya dengan Anaya.
Namun, tanpa Anaya duga ternyata Kenzo mengecup pipi wanita itu. Anaya sampai terlihat begitu kaget dibuatnya, tidak lama kemudian wanita itu memalingkan wajahnya karena malu.
"Maaf," ucap Kenzo seraya mengusap pipi Anaya bekas kecupannya.
Senang?
Tentu saja Anaya sangat senang, tetapi tidak mungkin rasanya Anaya mengatakan hal yang sejujurnya. Dia hanya mampu memendam perasaan itu di dalam hatinya.
"Hem!" ujar Anaya tanpa berani menolehkan wajahnya ke arah pria itu.
"Ngomongnya kaya ngga ikhlas banget, kamu maafin aku ngga?" tanya Kenzo yang memang masih ingin berbicara dengan gadis itu.
"Iya," jawab Anaya singkat.
Kenzo tersenyum, lalu dia mengangkat dagu Anaya dengan jari telunjuknya. Sontak saja hal itu membuat Anaya memandang wajah Kenzo.
"Apaan sih?" tanya Anaya dengan wajah yang sudah memerah.
"Bilang maafinnya yang bener dong, sambil liat aku." Kenzo menurunkan tangannya, lalu dia mengusap lengan Anaya dengan begitu lembut.
__ADS_1
"Iya, aku maafin kamu. Lain kali kamu nggak boleh lakuin hal itu lagi," ujar Anaya seraya memberanikan diri menatap mata pria itu.
"Ya, Naya. Tapi aku ngga janji," jawab Kenzo.
"Ken!" protes Anaya pelan tapi penuh dengan penekanan.
Kenzo hanya tersenyum melihat wajah anak yang terlihat kesal, tidak lama kemudian Kenzo nampak mengacak pelan rambut gadis itu.
Anaya terlihat berbunga-bunga mendapatkan perhatian seperti itu dari Kenzo, tetapi gadis itu tidak mengatakan apa pun. Anaya malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
Setelah itu, keduanya hanya saling diam. Selama perjalanan menuju kota Jogja, tidak ada yang berbicara di antara keduanya, hanya sesekali mereka saling menawarkan makanan atau minuman tanpa suara.
Pukul satu siang, mereka tiba di sebuah Villa yang memang sudah dibooking oleh pihak sekolah. Semua siswa dan juga siswi nampak masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, satu kamar dihuni oleh empat orang siswa.
Tentunya kamar siswa putra dan juga siswi putri dipisah, karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Kamar putri berada di lantai satu, sedangkan kamar putra berada di lantai dua.
Villa itu terlihat begitu mewah dan juga megah, di area belakang Villa terdapat kolam renang dan juga taman. Bisa digunakan untuk berpesta barbeque atau juga untuk acara pesta pernikahan.
Para siswa diberi waktu untuk beristirahat, Karena melakukan perjalanan hampir tujuh jam tentunya begitu melelahkan.
Selepas shalat ashar mereka pergi ke keraton Jogja, tempat wisata yang bagus dan sejarahnya yang panjang, yaitu lebih dari dua ratus lima puluh tahun dan warisannya yang masih terjaga dengan baik sampai sekarang, menjadi alasan yang kuat pihak sekolah untuk mengajak para siswanya pergi ke sana.
Destinasi wisata ini masih menjadi tempat tinggal keluarga kerajaan, tetapi sebagian lokasi menjadi objek wisata yang dapat dikunjungi. Walaupun tidak memiliki darah ningrat, tetapi berada di keraton akan membuat para siswa bisa merasakan aura bangsawan.
Setelah itu, pada malam harinya para siswa dan juga siswa akan diajak ke jalan Malioboro. Mereka diajak ke titik nol kota Jogja, selain untuk melihat keindahan tempat tersebut, para siswa dan juga siswi bisa menikmati kuliner yang ada di sana.
"Kamu senang?" tanya Kenzo.
Padahal Kenzo sudah mengetahui jawabannya, tetapi tetap saja pria itu bertanya kembali kepada Anaya hanya untuk sekedar memastikan.
"Sangat senang, Ken. Terlebih lagi ke mana-mana bareng kamu," ujar Anaya.
Selama berada di keraton dan juga di jalan Malioboro, Anaya mengabadikan momen kebersamaan mereka lewat foto dan juga video.
"Cepat naik bis, nanti ketinggalan," ajak Kenzo.
"Hem!" jawab Anaya.
Pukul sebelas malam Anaya, Kenzo dan juga para siswa lainnya kembali ke Villa. Tentunya mereka akan kembali beristirahat, karena keesokan paginya para siswa dan juga siswi akan kembali berjalan-jalan.
Tentunya selama tiga hari ini mereka akan menikmati keindahan kota Jogjakarta, mereka akan menikmati kuliner yang ada di sana dan juga akan berbelanja oleh-oleh untuk keluarga mereka nantinya.
"Jangan masuk kamar dulu," ujar Kenzo seraya menarik lengan Anaya menuju taman belakang.
Tentunya hal itu Kenzo lakukan secara sembunyi-sembunyi, karena siswa dan juga siswi tidak boleh pergi bersama-sama. Para siswa dan juga siswi sengaja dipisahkan, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Mau ngapain?" tanya Anaya setelah Kenzo. mengajak dirinya untuk berdiri di belakang pohon besar yang ada di taman belakang.
__ADS_1
"Mau ngomong bentar, tolong dengerin aku ngomong." Kenzo nampak menggenggam kedua tangan Anaya.
Perasaan Anaya benar-benar tidak jelas saat ini, entah perasaan apa dia tidak tahu. Yang pasti dia merasa sangat gugup sekali.
"Ngomong apaan? Buruan, Ken. Takutnya nanti dicariin guru," ujar Anaya dengan perasaan dag dig dug.
Ini pertama kalinya mereka berada di tempat yang gelap dan hanya berduaan saja, Anaya takut jika dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Naya, sebenarnya selama ini aku juga suka sama kamu. Aku cinta sama kamu, tapi--"
"Aku tahu, ngga usah dibahas lagi." Anaya memungkas ucapan Kenzo dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Karena walaupun mereka memiliki perasaan yang sama, rasanya keduanya tidak akan pernah bisa bersatu.
"Naya," panggil Kenzo lirih.
Kenzo merasa sedih sekali melihat kesedihan di wajah Anaya, pria itu bahkan dengan cepat memeluk wanita itu. Dia mengelusi punggung Anaya dengan begitu lembut.
Bahkan, sesekali Kenzo akan menunduk untuk mengecup puncak kepala Anaya. Anaya yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kenzo langsung menangis di dalam pelukan pria itu.
"Kisah cinta ini terlalu rumit," ujar Anaya.
"Jangan bicara lagi, aku jadi sedih." Kenzo nampak melerai pelukannya, lalu dia menangkup kedua pipi Anaya.
Tanpa banyak bicara Kenzo langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Anaya, Anaya terlihat begitu kaget. Dia bahkan berusaha untuk melepaskan diri dari Kenzo.
Namun, tanpa Anaya duga Kenzo malah menekan tengkuk leher wanita itu dengan tangan kanannya. Lalu, dia memeluk pinggang Anaya dengan tangan kirinya.
Kenzo memagut bibir wanita itu dengan begitu lembut, Anaya hanya bisa terdiam seraya menatap wajah Kenzo yang terlihat sedang menyatakan perasaannya.
"Ini sangat salah, Ken."
Kata itulah yang keluar dari bibir Anaya setelah Kenzo melepaskan tautan bibirnya, Kenzo hanya terdiam karena memang menyadari kesalahannya.
"Maaf, aku hanya mengungkapkan perasaanku saja," jawab Kenzo seraya mengusap pipi Anaya.
Berdekatan dengan wanita itu justru membuat Kenzo merasa tidak tahan untuk mengungkapkan perasaannya, Kenzo malah ingin Anaya tahu jika dia begitu mencintai wanita itu.
"Jangan diulangi lagi," ujar Anaya.
Bukannya menuruti apa yang dikatakan oleh Anaya, justru Kenzo malah kembali melakukan hal yang sama. Kenzo langsung mencium bibir gadis itu dengan begitu mesra.
Awalnya Anaya memukul dada Kenzo agar pria itu melepaskan dirinya, tetapi tidak lama kemudian justru Anaya langsung membalas ciuman dari Kenzo.
Anaya bahkan membalas ciuman dari Kenzo dengan penuh hasrat, Kenzo sampai kaget dibuatnya. Setelah pagutan bibir mereka terlepas, Anaya langsung berlari meninggalkan Kenzo begitu saja.
"Kenapa dia pergi?" tanya Kenzo tanpa dosa.
__ADS_1