
Selama satu minggu ini Kenzo selalu saja memperlakukan Asmara dengan penuh perhatian dan juga pengertian, Asmara bahkan sampai kebingungan dibuatnya. Karena Kenzo memperlakukan wanita itu layaknya seorang kekasih.
Perjanjiannya Asmara yang akan menjadi asisten pribadi dari pria itu, dia akan memasak, akan melaksanakan apa pun yang diperintahkan oleh Kenzo dan akan mengantar jemput pria itu dalam bekerja.
Namun, pada kenyataannya justru Asmara yang selalu dimanjakan oleh Kenzo. Setiap kali Asmara datang untuk menjemput pria itu, Kenzo selalu mempersiapkan sarapan untuk Asmara.
Bahkan, Kenzo juga selalu memberikan setangkai bunga dan juga coklat kepada Asmara. Karena ternyata wanita itu sangat menyukai makanan yang satu itu.
setelah pulang bekerja, Kenzo akan mengajak Asmara ke rumahnya. Kenzo akan membuatkan makanan yang sangat disukai oleh Asmara.
Pria itu seakan tidak ada lelahnya mencari perhatian dari wanita itu, karena Kenzo sudah berjanji kepada dirinya, bahwa dia akan membuat Asmara jatuh cinta kepada dirinya.
Bahkan, tanpa sepengetahuan Asmara, Kenzo sudah menemui ayah dari wanita itu. Kenzo sudah meminta restu untuk mendekati putrinya, tentu saja ayah dari Asmara itu mengizinkannya.
Karena dia bisa melihat dengan jelas bahwa Kenzo begitu perhatian dan juga pengertian kepada putrinya, bahkan Kenzo terlihat begitu mencintai Asmara.
'Jika kamu memang benar-benar mencintai putriku, aku mengizinkan kamu untuk mendekati putriku. Jika kamu mendekati putriku hanya untuk menyakitinya, jangan pernah kamu berharap akan mendapatkan restu dariku.'
Itulah kata-kata yang dilontarkan oleh ayah dari Asmara, tentu saja Kenzo langsung maju. Karena pada kenyataannya dia memang benar-benar menyukai Asmara.
Bahkan, Kenzo menjamin jika dirinya sudah benar-benar jatuh cinta kepada wanita itu. Wanita yang wajahnya begitu mirip dengan Anaya, tetapi kelakuanya benar-benar berbanding terbalik dengan wanita itu.
Wanita yang dulu begitu dia cintai dan juga dia sayang, tetapi sayangnya ada dinding penghalang yang begitu sulit untuk dia tembus kala itu.
Berbeda dengan saat ini, Kenzo tentunya akan terus maju karena wanita yang disukainya ternyata seiman dengan dirinya. Rasanya tidak ada alasan lagi untuk Kenzo tidak bisa mendekati wanita itu.
Kenzo jadi berpikir, mungkin di saat dia bersama dengan Anaya, Tuhan tidak menjodohkan dirinya dengan wanita itu dan Kenzo memilih pasrah.
Kini Kenzo sedang berdekatan dengan Asmara, jika Tuhan berkata tidak akan menjodohkan dirinya dengan Asmara, maka dia ingin berdoa untuk memaksa Tuhan agar menjodohkan dirinya dengan Asmara.
Karena tidak ada dinding penghalang di antara mereka, jika hanya untuk membuat wanita itu jatuh hati, rasanya Kenzo tidak akan menyerah walaupun terkesan susah.
"Gue ngga bakal berhenti untuk memperjuangkan elu, Asmara!" itulah tekad Kenzo.
Seperti halnya malam ini, setelah Kenzo melaksanakan makan malam bersama dengan Asmara, Kenzo masih saja memberikan perhatiannya kepada wanita itu.
"Gue udah bikinin jus buah buat elu, diminum dulu. Kata bapak, elu ngga pernah mau makan buah." Kenzo tersenyum dengan begitu manis ke arah Asmara, tetapi tidak lama kemudian dia langsung menutup mulutnya karena sudah salah berbicara.
"Maksudnya elu udah pernah nemuin bapak gue? Terus, elu ngobrol gitu masalah gue sama bapak?" tanya Asmara.
Kenzo langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar pertanyaan dari Asmara, dia merutuki dirinya sendiri di dalam hatinya.
"Jawab yang bener!" ujar Asmara.
Asmara paling tidak suka jika ada orang yang mencari tahu tentang dirinya, apalagi menanyakan tentang hal apa saja yang selalu dilakukan oleh dirinya dalam setiap harinya.
Dia juga tidak suka jika ada seorang pria yang menanyakan tentang apa yang dia suka, karena jika memang pria itu menyukai dirinya, pria tersebut harus berjuang sendiri tanpa banyak bertanya kepada orang tuanya.
"Ngga gitu, maksudnya gue cuma nebak kalau elu itu jarang makan buah. Soalnya kulit elu kering, ayo minum jus buahnya," ujar Kenzo.
__ADS_1
Asmara langsung melihat kulit tangannya, bahkan dia juga terlihat mengusap pipinya. Dia sangat sadar jika kulitnya pasti tidak seindah kulit wanita yang selalu melakukan perawatan.
"Oh, iya juga sih. Kulit gue kering dan semakin gelap, ngga pernah makan buah dan gak pernah perawatan." Asmara menerima jus buah yang dibuatkan oleh Kenzo dan meminumnya.
Kerjaan Asmara juga mengantarkan ikan ke kedai makanan dari pagi sampai siang, tentunya tubuhnya terkena paparan sinar matahari. Wajar rasanya jika dia memiliki kulit yang gelap.
Walaupun tidak terlalu gelap, tetapi warna kulit Asmara itu lebih ke sawo matang.
"Bagaimana kalau besok kita ke salon aja? Perawatan, biar kulit elu makin bagus. Wajah elu juga makin glowing," ujar Kenzo.
Rasanya membawa Asmara ke salon bukanlah hal yang buruk, walaupun harus mengeluarkan uang tetapi wajah dan tubuh Asmara pastinya lebih terawat.
"Ck! Gue ngga ada duit, padahal gue pengen banget ke salon. Bukan cuma untuk perawatan wajah, tapi juga pengen melakukan pijatan relaksasi," ujar Asmara.
Selama ini Asmara memang selalu bekerja, tetapi uangnya selalu dia berikan kepada ayahnya. Terkadang dia meminta sedikit uangnya untuk dia bagikan kepada anak-anak yang kurang mampu.
"Aih! Gue nawarin elu, Ra. Itu artinya gue yang bayarin," ujar Kenzo.
Kenzo merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Asmara, seharusnya wanita itu paham, jika dirinya yang mengajak maka dia yang akan menanggung semuanya.
"Eh, iyakah?" tanya Asmara nampak bersemangat.
Jika Kenzo benar-benar akan mengajak dirinya melakukan perawatan tubuh dan wajah, sungguh Asmara akan merasa senang.
"Iya, elu lupa kalau gue ini banyak duit?" tanya Kenzo sedikit menyombongkan diri.
Asmara langsung memutarkan bola matanya dengan malas, karena pria yang ada di hadapannya itu kini seolah sedang memamerkan harta kekayaannya.
Karena Aman sering menceritakan tentang Kenzo dan juga kedua orang tuanya, Aman juga sering bercerita tentang banyaknya perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Dinata dan juga Siregar.
"Iya, gue tahu kalau elu banyak duit. Tapi, kalau gue pergi ke salon bareng elu, elu ngga bakalan minta yang aneh-aneh karena udah bayarin gue, kan?" tanya Asmara memastikan.
Kenzo tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, karena di dalam hatinya tidak ada niatan jelek sama sekali terhadap Asmara.
"Nggaklah! Gue juga mau minta pijat, badan gue pegel-pegel. Kebanyakan keluar kayaknya," ujar Kenzo.
Dahi Asmara nampak berkerut dalam mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, pikiran dari gadis itu bahkan langsung bertravelling ke mana-mana.
'Kebanyakan keluar? Apa itu artinya Kenzo suka tidur dengan perempuan bayaran dan melakukan itu sampai berkali-kali?' tanya Asmara di dalam hatinya.
Melihat Asmara yang menatap dirinya dengan cara yang lain, Kenzo jadi merasa aneh. Namun, tidak lama kemudian dia teringat dengan apa yang sudah dia katakan.
Kenzo jadi paham jika kini sepertinya Asmara sedang berpikir yang tidak-tidak kepada dirinya, Kenzo tersenyum lalu mendorong kening Asmara dengan perlahan.
"Jangan mikir yang aneh-aneh, maksud gue selama seminggu ini, gue sama Aman sering keluar kantor untuk meninjau lokasi penambangan. Bukan keluar itunya, lagian walaupun gue duda, gue udah pernah bilang sama elu kalau gue adalah duda ori."
"Oh! Tapi, yakin masih ori? Memangnya belum pernah ngelakuin itu?" tanya Asmara.
Asmara benar-benar merasa tidak percaya jika milik Kenzo masih ori, karena setidaknya jika pria itu sudah menikah, tidak mungkin rasanya tidak tergoda oleh wanita yang dia nikahi itu.
__ADS_1
Dilihat dari sisi mana pun Kenzo terlihat begitu tampan sekali, Asmara yakin jika istri dari pria itu pastilah wanita yang sangat cantik, tidak mungkin rasanya jika Kenzo tidak menyentuh istrinya sama sekali.
"Yakin, gue mau ngasih keperjakaan gue buat orang yang gue cintai. Udah ah, ngapain jadi bahas masalah status gue sih! Mending elu ambilin puding gue aja," ujar Kenzo.
"Di mana?" tanya Asmara.
"Di kulkas," jawab Kenzo.
"Oke," ujar Asmara.
Asmara terlihat melakukan apa yang diminta oleh Kenzo, lalu gadis itu kembali duduk di hadapan pria tersebut. Kenzo tersenyum lalu berkata.
''Suapin dong,'' pinta Kenzo dengan manja.
"Ck!"
Terdengar decakan dari bibir wanita itu, tetapi Asmara menuruti apa yang diinginkan oleh Kenzo. Wanita itu nampak mengendok pudingnya dan menyuapi Kenzo dengan perlahan.
"Pudingnya enak banget, karena kamu yang suapin." Kenzo tersenyum hangat ke arah Asmara.
"Gombal!" ujar Asmara.
Di luar rumah.
Aruna, Sigit dan juga Alice baru saja tiba di halaman rumah Kenzo. Ketiga orang itu terlihat tersenyum dengan ceria karena sebentar lagi akan bertemu dengan Kenzo.
Mereka sudah lebih dari satu bulan tidak bertemu, tentunya ketiganya sudah benar-benar merindukan pria yang bernama Kenzo itu.
"Bi! Di mana, Ken?" tanya Aruna ketika dia melihat bibi yang keluar dari dalam kediaman putranya.
"Di ruang makan, Nyonya. Sedang makan malam," jawab Bibi.
Sebelum berangkat ke Kota Sorong, Aruna sempat menelpon bibi dan mengatakan akan datang ke kota tersebut tetapi jangan memberitahukan Kenzo terlebih dahulu.
Tentunya hal itu Aruna lakukan karena ingin memberikan kejutan kepada putranya, tentu saja bibi menyanggupinya.
"Oh, kalau begitu kami akan langsung masuk saja," ujar Aruna.
"Siap, Nyonya. Untuk barang-barang anda biar saya sama pak sopir yang beresin," ujar Bibi.
"Terima kasih," ujar Aruna.
Aruna, Alice dan juga Sigit masuk ke dalam kediaman Kenzo dengan hati yang berbunga, terlihat sekali jika mereka begitu merindukan pria itu.
Sesuai dengan apa yang sudah mereka katakan, ketiga orang itu nampak melangkahkan kaki mereka menuju ruang makan.
Saat tiba di ruang makan, Aruna terlihat hendak berteriak untuk memanggil putranya. Namun, niatnya dia urungkan karena saat ini Kenzo sedang tersenyum dengan begitu lebar seraya menatap wanita yang ada di hadapannya.
Aruna terdiam seraya memperhatikan wanita yang ada di hadapan Kenzo, tidak lama kemudian Aruna nampak membulatkan matanya dengan sempurna.
__ADS_1
"Anaya," ujar Aruna lirih.