
Bukan hanya itu saja, ada beberapa karyawan lainnya yang menghampiri Sam dan melempari pria itu dengan makanan dan juga coklat panas. Sam semakin kelabakan mendapatkan perlakuan seperti itu dari para karyawan yang ada di sana.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Sam yang melihat raut kemarahan dan tatapan penuh kebencian dari karyawan yang bekerja di perusahaan Siregar.
Bahkan, ada beberapa karyawan di sana yang menatap Sam dengan tatapan jijik. Mereka seolah mencemooh perbuatan yang sudah dilakukan oleh Sam lewat raut wajah dan juga tatapan mata mereka.
Sam menahan rasa panas di wajah dan juga di dadanya, dia ingin sekali pergi dari sana menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya. Namun, semua karyawan yang ada di sana seakan tidak mengizinkan dia untuk beranjak sedikit pun.
"Cih! Lelaki tidak tahu diri, sudah melakukan kesalahan fatal masih berani menampakan diri di depan umum."
"Lelaki biadab! Tidak tahukah apa yang dilakukan adalah perbuatan hina, perbuatan yang sangat dikutuk oleh Tuhan."
"Tidak disangka, ternyata diam-diam malah melumuri wajahnya sendiri dengan kotoran."
Banyak orang yang berkasak-kusuk di hadapan Sam, tentu saja Sam saya mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan. Namun, dia malah terlihat seperti orang bodoh karena memang tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Arin yang baru saja selesai mengepel lantai lobi merasa kasihan terhadap Sam, tetapi dia juga membenci pria itu karena sudah menyakiti hati sahabatnya, Aruna.
Arin tentu saja sudah mengetahui apa yang terjadi dari sahabatnya tersebut, karena Arin adalah sahabat terbaik Aruna. Setiap apa yang terjadi kepada wanita itu, Aruna selalu mengatakannya kepada Arin.
Dia mengambil ember berisi air bekas ngepel, lalu dia menghampiri Sam dan mengguyurkan air itu pada tubuh Sam.
"Arin!" teriak Sam kala merasakan semburan air bekas pel yang kotor dan tercium tidak mengenakan.
Melihat Sam yang begitu berantakan Arin ingin sekali tertawa, tetapi dia masih menahan tawanya. Dia malah mendekat ke arah Sam dan bertanya.
"Kenapa?" tanya Arin santai.
"Kenapa kamu kurang ajar sekali? Lihat saja nanti, dengan apa yang sudah kamu lakukan terhadapku, aku akan memecat kamu." Sam berkata dengan tegas karena selama ini memang Sam diberi wewenang oleh Steven untuk memecat karyawan yang dianggap tidak berkompeten dan kurang ajar.
"Silakan, Sam brengsek. Karena yang akan dipecat itu bukan aku, tapi kamu. Lagi pula aku mengguyur tubuh kamu karena kasihan, kamu kepanasan dan aku takut jika tubuh kamu akan melepuh. Seharusnya kamu berterima kasih kepada aku," ujar Arin disertai tawa meledek.
Orang-orang yang ada di sana nampak menertawakan Sam, para karyawan yang biasanya menghormati Sam, kini terlihat memandang rendah dan memandang hina ke arah Sam.
__ADS_1
Sam semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia tidak paham kenapa dirinya diperlakukan seperti itu.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian bersikap seperti ini kepadaku?" tanya Sam.
Arin memutarkan bola matanya dengan malas, dia lalu memukul-mukul lengan Sam dengan cukup keras dan berkata.
"Di mana ponsel milik kamu, Sam? Apakah kamu tidak membaca berita yang sedang trending hari ini?" tanya Arin.
Untuk sesaat Sam terdiam mendengar pertanyaan dari Arin, dia seolah sedang mengingat-ingat di mana dia meletakkan ponselnya. Tidak lama kemudian, Sam nampak menepuk jidatnya. Karena ponselnya tertinggal di dalam kamar Ayaka.
"Memangnya ada apa?" tanya Sam.
Arin terlihat hendak menjawab pertanyaan dari Sam, tetapi niatnya dia urungkan. Karena tidak jauh dari sana ada Sigit dan juga Steven yang sedang berjalan ke arah mereka.
Semua karyawan yang ada di sana nampak membungkuk hormat ke arah keduanya, Sam langsung menolehkan wajahnya ke arah Sigit dan juga Steven. Lalu, dia melakukan hal yang sama.
"Mandilah terlebih dahulu, Sam. Setelah itu temui aku di dalam ruanganku," ucap Steven seraya menatap Sam dengan tatapan tajamnya.
Sam benar-benar merasa takut mendapatkan tatapan seperti itu dari Steven, karena pria tua itu biasanya terlihat begitu ramah dan menatap siapa pun seraya tersenyum hangat.
"Iya, Tuan," jawab Sam.
Setelah mengatakan hal itu, Steven menolehkan wajahnya ke arah Arin. Lalu, dia juga menolehkan wajahnya ke arah para karyawan yang sedang berkumpul di sana.
"Untuk kalian silakan kembali bekerja, untuk kamu, Arin. Silakan panggil beberapa OB untuk membantu kamu membersihkan tempat ini," ujar Steven.
Setelah mengatakan hal itu, Steven langsung mengajak Sigit untuk masuk ke dalam ruangan mereka. Sedangkan Sam langsung masuk ke dalam ruangannya, dia ingin mandi dan segera berganti baju.
Badannya terasa lengket dan bau, dadanya dan juga pipinya memerah akibat guyuran kopi panas. Dia bahkan sampai memakai sabun dua kali karena tubuhnya terasa bau, dia tentunya menggosok tubuhnya dengan sangat perlahan karena bagian dada dan juga pipinya terlihat memerah.
"Ah! Sial, ini sangat sakit." Sam mengambil obat dan mengoleskan obat itu di pipi dan juga dadanya.
Selesai membersihkan tubuhnya dan mengobati kulitnya yang memerah, Sam yang memang biasa menyimpan baju ganti di dalam ruangannya segera memakainya. Lalu, dengan cepat dia melangkahkan kakinya menuju ruang atasannya.
__ADS_1
"Masuk!" seru Steven ketika mendengar ketukan pintu dari luar.
"Selamat pagi, Tuan Steven. Selamat pagi, Tuan Sigit. Ada apa, ya?" tanya Sam dengan raut wajah bingung.
Steven bangun dari kursi kebesarannya, dia membawa amplop coklat dan memberikannya kepada Sam.
"Bukalah!" ujar Steven.
Sam benar-benar bingung kala Steven memberikan amplop coklat tersebut, lebih tepatnya dia bingung dengan apa isi dari amplop tersebut.
"Apa ini, Tuan?" tanya Sam.
"Buka dan baca!" perintah Steven.
Dengan begitu perlahan Sam membuka amplop coklat tersebut, tidak lama kemudian matanya langsung membulat dengan sempurna. Dia tidak menyangka dengan tulisan yang baru saja dia baca.
"Sa--saya dipecat, Tuan?" tanya Sam.
"Ya, saya memecat kamu dari perusahaan Siregar. Mulai detik ini kamu tidak lagi menjadi asisten pribadi dari putra saya," jelas Steven.
Lemas sudah tubuh Sam saat ini, bahkan tanpa sadar tubuh Sam luruh ke atas lantai. Dia benar-benar tidak menyangka akan dipecat dari perusahaan yang selama ini membesarkan namanya.
Walaupun dia hanya bekerja sebagai asisten pribadi dari Steven, tetapi namanya begitu dikenal di dalam dunia bisnis. Sam mendongakkan wajahnya, lalu dia menatap Steven dengan lekat.
"Apa salah saya? Kenapa anda tega sekali memecat saya?" tanya Sam.
Sigit yang sedari tadi diam saja langsung mengambil ponselnya, lalu dia memberikan rekaman video yang sudah beredar di jagat maya. Tentunya video syur yang tayang dengan durasi waktu yang begitu lama.
"Lihatlah ini, lalu sadari apa kesalahan kamu."
Sam langsung memutar video tersebut, matanya langsung melotot seakan hendak melompat dari kelopaknya. Jantungnya seakan dihujam ribuan belati, dadanya tiba-tiba saja terasa begitu sesak.
Dia sadar betul jika pemeran utama yang ada di dalam video tersebut adalah dirinya dan juga Angel, dia masih ingat saat dirinya melakukan percintaan panas dengan Angel. Sama persis seperti video tersebut.
__ADS_1
"Sudah sadar apa kesalahan anda, hem?" tanya Sigit.