Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 131


__ADS_3

"Dari mana saja kamu, Aya? Kenapa baru pulang?" tanya Sam ketika melihat putrinya baru saja tiba di kediamannya, padahal waktu sudah hampir maghrib.


Sebagai seorang ayah tentu Sam menghawatirkan putrinya, karena Ayaka memang pergi tanpa berpamitan dahulu kepada dirinya.


"Maaf, Yah. Tadi aku pergi sama kak Fano dulu, maaf ngga pamit sama Ayah." Ayaka langsung memeluk Sam.


Setahunya Stefano memang ditugaskan oleh Ayana untuk mengantar dan menjemput ke mana pun Ayaka pergi, tetapi kenapa Ayaka harus pergi dengan Stefano terlebih dahulu, pikirnya.


"Fano? Pergi ke mana dulu kamu sama Fano, hem?" tanya Sam penasaran.


Dari awal Stefano bertemu dengan Ayaka, Sam sangat sadar jika pria itu menyukai putrinya. Begitu terlihat dengan jelas sorot mata Stefano yang memancarkan banyak cinta untuk putrinya.


Jika memang pria itu serius ingin memperistri putrinya, Sam tentunya tidak keberatan sama sekali. Asalkan, jangan hanya ingin mempermainkan putrinya saja.


Dulu Sam pernah menyakiti hati Aruna, dia menyakiti Angel, Almira dan bahkan menyakiti hati kedua putrinya. Sam tidak mau jika kini ada orang yang ingin menyakiti hati kedua putrinya


"Anu, Yah. Kak Fano ngajakin aku ke rumahnya dulu," jawab Ayaka.


Setahunya Stefano memiliki rumah tepat di samping rumahnya, lalu rumah mana yang Ayaka maksud. Karena sejak tadi mereka belum pulang, rumah Stefano nampak sepi sejak tadi.


"Rumah yang mana? Fano kan' tinggal dekat kita," ujar Sam.


"Jadi gini, Yah. Kak Fano itu ternyata--"


Ayaka menuntun Sam untuk duduk di atas sofa, lalu dia menceritakan siapa itu Stefano sebenarnya. Ayaka juga menceritakan kepada ayahnya tentang siapa ibu dari Stefano, tidak ada hal yang tidak diceritakan oleh Ayaka.


Bahkan, Ayaka juga menceritakan saat Stefano mengungkapkan isi hatinya kepada dirinya. Sam hanya terdiam seraya mendengarkan apa pun yang dikatakan oleh putrinya tersebut.


"Jadi, nak Fano adalah putra dari orang yang sudah menabrak kamu?" tanya Sam


Ayaka langsung menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, pria itu adalah pria yang selalu dia anggap sebagai malaikat penyelamatnya. Walaupun ibunya jahat, tetapi Stefano selalu saja berbuat baik kepada dirinya.


"Ya, Ayah," jawab Ayaka.


"Hem! Jadi, dia mengajak kamu ke rumah itu untuk mengutarakan isi hatinya kepada kamu?"


"Heem," jawab Ayana.


Sam tersenyum, dia menatap netra putrinya dengan lekat. Jika Stefano adalah malaikat penyelamatnya, itu artinya Stefano adalah orang yang dia suka.

__ADS_1


Karena Ayaka pernah menceritakan tentang malaikat penyelamatnya kepada Sam, bahkan Ayaka berkata akan menunggu kedatangan dari malaikat penyelamatnya itu.


"Apakah kamu mencintai Stefano, Sayang?" tanya Sam.


Ayaka langsung menundukkan pandangannya mendengar pertanyaan dari ayahnya tersebut, tentu saja dia mencintai pria itu. Hanya saja, masih ada bayang-bayang Andin ketika bersikap begitu buruk kepada dirinya.


Melihat kelakuan dari putrinya, Sam sangat yakin jika putrinya juga memiliki perasaan yang sama seperti Stefano. Sam juga yakin jika perasaan cintanya hanya terhalang oleh bayang-bayang masa lalu saja.


"Jika kamu mencintai nak Stefano, jangan canggung untuk menerima cinta dari pria itu. Karena ayah bisa melihat jika pria itu begitu mencintai kamu, jika kamu masih merasa ragu, nanti setelah selesai masa haid, kamu segeralah melakukan shalat istikharah."


Ayaka langsung mengernyitkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh Sam, Ayaka bahkan menatap ayahnya dengan tatapan yang begitu aneh.


''Kenapa kamu menatap Ayah seperti itu?" tanya Sam.


Sam bukan merupakan seorang muslim, rasanya sangat aneh ketika Sam menyarankan dirinya untuk melakukan shalat istikharah.


"Yah, menyarankan untuk salat istikharah adalah hal yang paling baik dan juga benar. Tapi, dari mana Ayah tahu tentang hal itu?" tanya Ayaka.


Sam langsung tertawa setelah mendengar pertanyaan dari putrinya, dia mengelus puncak kepala putrinya lalu berkata.


"Ayah sempat mendengar obrolan antara Sigit dan juga Aruna, mereka sempat membahas masalah ini. Namun, jika kamu kurang yakin, kamu bisa mengobrol dengan tante Aruna ataupun dengan kakak kamu, Ay."


"Hem! Sekarang masuklah ke dalam kamar, mandi yang bersih. Nanti kita masak bersama," ajak Sam.


"Iya, Ayah," jawab Ayaka.


Ayaka masuk ke dalam kamarnya setelah mengobrol sebentar dengan Sam, wanita itu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk melaksanakan ritual mandinya.


Setelah melaksanakan ritual mandinya Ayaka langsung berganti baju dan segera melangkahkan kakinya menuju dapur, tentunya karena dia ingin memasak makanan untuk makan malam bersama dengan Sam.


Saat ia tiba di dapur, ternyata di sana sudah ada Sam. Pria itu sedang mengambil bahan makanan dari dalam lemari pendingin, lalu memasukannya ke dalam keranjang bersih.


"Biar Aya bantu," ujar Ayaka seraya mengambil alih pekerjaan Sam.


"Ayah juga bisa memasak, Sayang. Sekali-sekali kamu duduk dan diamlah, biar ayah yang memasak. Kamu tuh udah seharian cape bekerja," ujar Sam yang kembali mengambil alih bahan makanan dari tangan Ayaka.


Ayaka ingin sekali tertawa saat mendengar dan melihat tingkah Sam saat ini, karena selama ini Sam selalu saja bersikap baik, perhatian dan juga pengertian kepada dirinya.


Sikap Angel juga memang sudah berubah, wanita itu terlihat lebih menyayangi dirinya. Namun, tetap saja ibu kandungnya itu jarang menemui dirinya.

__ADS_1


Terlebih lagi Angel juga kini sudah punya keluarga baru, bahkan dia juga memiliki anak dari pria tersebut.


"Bagimana kalau kita masak bareng-bareng aja?" tanya Ayaka berharap ayahnya mau memasak bersama dengan dirinya.


"Tapi, Sayang. Ayah--"


"Aku juga ingin membantu," ujar Stefano yang tiba-tiba saja datang dan langsung menghampiri Sam dan juga Ayaka.


Sam dan juga Ayaka langsung menolehkan wajahnya ke arah Stefano, mereka merasa heran karena pria itu tiba-tiba saja datang tanpa permisi.


"Kakak ngapain ke sini?" tanya Ayaka dengan dahi berkerut dalam.


"Mau bantuin Adik kecil masak," jawab Stefano.


"Ck! Aku sudah besar, bukan Adik kecil lagi." Ayaka langsung cemberut.


Sam dan juga Stefano sempat saling pandang, kemudian Sam terkekeh. Lalu, Sam memberikan bahan makanan yang ada pada keranjang tersebut kepada Stefano.


"Kalau begitu kamu mencuci bahan bahannya, biar Ayah yang meracik bumbunya." Sam nampak mengambil bumbu.


Stefano tersenyum dengan begitu lebar, karena Sam mengatakan kata 'ayah' ketika berbicara dengan dirinya.


"Siap, Ayah." Stefano tersenyum senang, lalu dia melangkahkan kakinya menuju wastafel untuk mencuci bahan makanan tersebut.


"Kalau kalian yang memasak, terus aku ngapain?" tanya Ayaka yang terlihat kebingungan.


"Kamu diam dan duduklah, sesuai dengan apa yang sudah Ayah katakan tadi," ujar Stefano seraya menghampiri Ayaka.


Lalu, Stefano menuntun Ayaka ntuk duduk di salah satu bangku yang ada di sana.


"Kenapa aku yang harus diam?" tanya Ayaka dengan tidak terima.


Dia sudah berniat untuk memasak bersama dengan ayahnya, tetapi kini malah dia yang harus berdiam diri. Rasanya tidak enak jika harus diam dan memperhatikan Sam dan juga Stefano memasak.


"Karena malam ini kamu adalah ratunya," jawab Stefano.


Wajah Ayaka langsung memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, setelah mengungkapkan perasaannya, Stefano lebih leluasa dalam mengutarakan isi hatinya.


Bahkan, pria itu terdengar begitu manis ketika berbicara. Ayaka bisa cepat luluh jika seperti ini caranya, karena dia merasa tidak tahan dengan cara Stefano yang manis seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2