Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 132


__ADS_3

Sam dan juga Stefano memasak dengan cekatan, walaupun mereka berdua adalah seorang pria, tetapi keduanya begitu cakap dalam memasak. Ayaka benar-benar hanya terdiam seraya memperhatikan keduanya.


Sesekali Ayaka akan memberikan semangat kepada Sam dan juga Stefano, sesekali Ayaka juga akan menertawakan kesalahan yang dilakukan Sam ataupun Stefano.


Seperti saat ini, Stefano memasukkan ikan ke dalam minyak yang sudah terlihat panas. Namun, pria itu lupa belum memberikan bumbu pada ikan tersebut.


Pada akhirnya Ayaka bangun dan membuatkan bumbu marinasi, lalu Ayaka memasukkan bumbu tersebut kepada wajan berisikan ikan yang sedang digoreng tersebut.


"Aih! Kamu tuh memang merupakan calon istri idaman, sudah cantik pandai lagi." Stefano hendak menjawil dagu Ayaka, tetapi dengan cepat Sam menepis tangan pria itu.


Sam memang setuju jika Stefano mendekati putrinya, terlebih lagi Sam bisa melihat dengan begitu jelas bagaimana tulusnya perasaan Stefano terhadap putrinya.


Namun, walaupun seperti itu bukan berarti Stefano boleh memegang putrinya dengan sesuka hatinya. Walaupun niatnya baik dan hanya ingin memuji putrinya saja.


"Jangan sentuh dulu, takutnya nanti terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan." Sam mengingatkan, Stefano terlihat malu-malu lalu menggaruk pelipisnya.


Bukan tanpa alasan Sam mengatakan hal seperti itu, dulu dia menghamili dua wanita sekaligus. Kedua wanita yang dia gauli itu bahkan hamil diluar nikah, dia tidak mau jika kedua putrinya sampai hamil terlebih dahulu sebelum menikah.


"Maaf, Ayah," ujar Stefano.


Sam terkekeh, lalu dia mencondongkan tubuhnya ke arah Stefano. Tidak lama kemudian, Sam nampak berbisik tepat di telinga pria itu.


"Ayah maafkan, jika kamu benar-benar mencintai putriku. Lamar dia dengan cepat, jangan sampai Ayah keburu menikahkan Aya dengan pria lain." Sam menepuk pundak Stefano setelah mengatakan hal itu.


Ah! Sungguh perasaan Stefano berbunga-bunga mendengar apa yang dikatakan oleh Sam, pria itu menjadi bersemangat untuk segera melamar Ayaka secara resmi.


Untuk berpacaran bisa dilakukan nanti setelah menikah, yang pasti Stefano harus melamar Ayaka dan segera menikahi wanita itu, pikirnya.


"Iya, Ayah. Apakah besok aku boleh melamar Ay" tanya Stefano dengan bisikan pula.


Sesudah mendapatkan lampu hijau dari Sam, rasanya Stefano ingin segera melamar gadis kecilnya tersebut.


"Ck! Kenapa begitu terburu-buru? Apakah kamu sudah menyiapkan cincin untuk putriku?"


Sam menjawab pertanyaan Stefano dengan pertanyaan kembali, Stefano sampai menggaruk pelipisnya karena pada kenyataannya dia belum menyiapkan cincin lamaran untuk Ayaka.


"Belum," jawab Stefano.


"Besok kamu ajak Aya untuk membeli cincin pertunangan kalian," ujar Sam.


"Siap, Ayah." Stefano menjawabnya dengan suara pelan tapi penuh penekanan.

__ADS_1


Ayaka yang melihat keduanya berbisik-bisik benar-benar merasa aneh, Ayaka langsung menatap Sam dengan lekat dan berkata.


"Kalian itu ngomongin apaan sih? Kenapa pake acara bisik-bisik segala?" tanya Ayaka dengan penasaran.


Stefano terlihat hendak menjawab pertanyaan dari gadis kecilnya tersebut, tetapi dengan cepat Sam membekap bibir pria itu.


"Rahasia! Kalau Aya mau tahu, dikasih tahunya besok aja sebelum pulang kerja." Sam tertawa lalu dengan cepat membalik ikannya karena takut gosong.


Ayaka merasa tidak senang hati mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut, karena jujur saja dia benar-benar penasaran dengan apa yang dibahas oleh kedua pria itu.


"Aih! Kalian curang!" ujar Ayaka dengan wajah cemberut.


Karena tidak mau berlama-lama merasakan kekesalan, Ayaka memutuskan untuk menyiapkan piring dan juga gelas di atas meja makan. Tak lupa Ayaka menyiapkan air minum dan juga lalapan, karena sepertinya akan sangat enak jika makan dengan ikan, sambel dan juga lalapan.


Di lain tempat.


Sandi baru saja sampai di kediaman Sigit, pria itu merasa benar-benar rindu kepada Ayana, karena tadi sore dia tidak menjemput wanita itu.


Sandi sudah bertekad di dalam hatinya akan mendekati Ayana dan memberitahukan perasaannya yang sebenarnya, perasaan yang sudah dia pendam dalam waktu yang sangat lama.


Saat Sandi datang, ternyata Ayana beserta dengan keluarganya sedang berada di ruang makan. Mereka akan melaksanakan makan malam.


"Assalamualaikum, Om, Tante. Maaf mengganggu malam-malam seperti ini," ujar Sandi saat dia tiba di ruang makan.


Sandi juga terlihat tersenyum ke arah Ayaka, Kenzo dan juga Alice.


"Waalaikumsalam!" jawab semua yang ada di sana.


"Tidak apa, sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan! Apa maksud dan tujuan kamu datang ke sini di saat jam makan malam seperti ini?" tanya Sigit.


Sebenarnya Sigit sangat paham kenapa Sandi malam-malam datang ke rumahnya, karena pastinya pria itu ingin segera bertemu dengan Ayana.


Kenapa Sigit bisa tahu?


Tentu saja jawabannya karena pria itu sudah mendengarkan curahan hati dari Sandi, tanpa malu dan tanpa ragu Sandi menceritakan kepada Sigit jika dia menyukai Ayana sejak lama.


Sandi bahkan menemui Sigit sebelum dia pergi dari perusahaan Siregar, dia meminta restu kepada pria itu untuk mendekati Ayana.


Sigit yang paham bagaimana rasanya memendam rasa cinta langsung mengabulkan keinginan dari pria itu, Sigit memperbolehkan Sandi untuk mendekati Ayana.


Tentu saja ada satu syarat yang harus dipenuhi oleh pria itu, Sandi mendekati Ayana dengan tujuan yang baik. Sandi tidak akan mempermainkan perasaan Ayana dan Sandi benar-benar serius ingin menikahi putri sambungnya tersebut.

__ADS_1


Karena walaupun pada kenyataannya Ayaka bukanlah putri kandungnya, tetapi pada kenyataannya Sigit begitu mencintai Ayana layaknya putrinya sendiri.


Sandi yang memang benar-benar mencintai Ayana langsung menyanggupinya, dia bahkan berjanji akan membuat Ayana dengan cepat mengatakan kata setuju untuk menikah dengan dirinya.


"Anu, Om. Aku mau numpang makan, boleh kan' ya?" tanya Sandi yang tanpa ragu langsung duduk tepat di samping Ayana.


Sebenarnya untuk datang ke kediaman Sigit saja dia harus mengumpulkan keberaniannya, terlebih lagi untuk bersikap konyol seperti ini. Dia harus memutuskan urat malunya terlebih dahulu.


Biarlah dia akan dikatakan seperti apa oleh calon mertuanya, yang pasti Sandi ingin cepat menyatakan perasaannya dan mengetahui apa jawaban yang nantinya akan disampaikan oleh Ayana.


Ucapan yang terlontar dari mulut Sandi, sontak membuat semua orang yang ada di sana tertawa. Termasuk dengan Ayana.


"Aih! Kamu jauh-jauh datang ke sini hanya untuk numpang makan? Ngga pantes tau ngga! Koki kok numpang makan di mari?" cibir Ayana.


Ya, Sandi memang bekerja sebagai koki di Resto miliknya sendiri. Selain karena dia memang pandai dalam urusan memasak, dia juga menekan budget agar tidak membayar banyak koki di saat pertama dia mengembangkan usahanya.


"Iya, numpang makan sekalian mau ketemu kamu, Moo. Kangen aku tuh sama kamu," jawab Sandi.


"Aih! Sejak kapan kamu jadi gombal gitu, dasar aneh. Kayaknya kamu tuh ketempelan deh!" ujar Ayana.


"Iya, Moo. Ketempelan cinta kamu," jawab Sandi.


Wadidaw! Ayana langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, dia merasa malu tetapi juga suka dengan apa yang dikatakan oleh Sandi. Wajah gadis itu bahkan sampai memerah.


"Cieee! Ada yang salting nih!" celetuk Alice yang sejak tadi menyimak percakapan antara Sandi dan juga Ayana.


Alice bahkan terlihat menaik turunkan alisnya, dia bahkan nampak memegangi kedua pipinya seraya tersenyum menggoda.


"Apa sih, Dek?" keluh Ayana yang merasa malu karena adiknya malah menggoda dirinya.


"Ehm! Bilang aja kalau Kakak suka sa--"


ucapan Alice terhenti, karena tiba-tiba saja Kenzo mengambil sesendok nasi dan langsung memasukkannya ke dalam mulut Alice.


"Kak Ken!" pekik Alice dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Anak kecil harus makan yang banyak, jangan banyak bicara nanti kamu keselek." Kenzo nampak menepuk-nepuk pundak adiknya.


Alice benar-benar merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya tersebut, dia bahkan langsung menolehkan wajahnya ke arah Ibunya dan berkata.


"Buna, Kakak nakal!" ujar Alice lalu menolehkan wajahnya ke arah Kenzo dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


__ADS_2