Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 174


__ADS_3

Ayaka dan juga Stefano nampak bercanda dengan begitu riang, keduanya juga terlihat saling menyuapi makanan yang sudah mereka bawa. Keduanya sampai melupakan keberadaan Sam, hingga tidak lama kemudian Ayaka nampak mengedarkan pandangannya.


Ayaka terlihat begitu kaget karena ternyata di sana tidak ada Sam, Ayaka langsung duduk dengan benar lalu menepuk pundak suaminya.


"Yang! Ayah mana?" tanya Ayaka.


Wanita itu nampak mengedarkan pandangannya dengan raut wajah khawatir, dia mencari sosok ayah yang sejak tadi ada berada di sampingnya tetapi kini tiba-tiba saja menghilang.


"Eh? Tadi ada di sini? Ke mana dia?" tanya Stefano yang ikut mengedarkan pandangannya untuk mencari mertuanya.


Namun, sejauh mata memandang baik Ayaka ataupun Stefano tidak menemukan keberadaan dari Sam. Keduanya semakin merasa khawatir.


"Ayo kita cari ayah, takutnya dia jatuh." Ayaka langsung bangun dan mengajak Stefano untuk mencari ayahnya.


Walaupun mereka berada di bukit kecil, tetapi ada beberapa bagian jalan yang terlihat curam. Takutnya Sam sedang berjalan dan terpeleset hingga jatuh ke dasar, sungguh mereka takut jika hal itu bisa saja terjadi kepada Sam.


"Iya, Sayang." Stefano langsung mengikuti langkah dari istrinya.


Keduanya nampak setengah berlari untuk mencari keberadaan Sam, hingga tidak lama kemudian dia melihat Sam yang sedang berjalan seraya mengedarkan pandangannya.


"Ayah!" pekik Ayaka yang langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya.


Lega sekali melihat keadaan Sam yang baik-baik saja, padahal dia sempat berpikir yang tidak-tidak tentang ayahnya tersebut. Ayaka yang terlalu bahagia bisa bertemu dengan ayahnya sampai menangis.


"Kenapa anak Ayah menangis?" tanya Sam kebingungan.


Dia merasa tidak melakukan hal yang salah, dia hanya pergi sebentar untuk jalan-jalan saja. Selain itu, dia juga merasa tidak enak hati karena takut mengganggu kemesraan antara anak dan juga menantunya.


"Abisnya Ayah tiba-tiba saja nggak ada, Aya jadi takut." Ayaka mempererat pelukannya.


Sam langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, dia merasa senang karena putrinya begitu perhatian tetapi juga merasa bersalah karena sudah pergi tanpa berpamitan.


"Ya ampun! Ayah hanya ingin berkeliling, sayang rasanya kalau tidak menikmati keindahan alam di sini. Sulit menemukan bukit seperti ini, apalagi di kota besar seperti ini," ujar Sam.


"Ayah benar," jawab Ayaka.


Stefano tersenyum melihat kedekatan antara istrinya dan juga ayah mertuanya, pria itu menepuk pundak istrinya dengan lembut lalu berkata.


"Sekarang mau keliling lagi atau mau ngemil aja? Soalnya Ayahnya udah ketemu," tawar Stefano.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Stefano, Ayaka nampak menolehkan wajahnya ke arah Sam. Wanita itu seolah bertanya kepada ayahnya lewat tatapan matanya.


"Ayah sih pengennya pulang aja, soalnya kalau jalan kaki terlalu lama kaki Ayah suka pegal. Tapi, kalau Aya masih mau jalan-jalan Ayah mau nunggu sambil rebahan aja," ujar Sam.


Sam tidak bisa langsung memutuskan untuk pulang saja, takutnya putri tercintanya itu masih ingin berada di bukit tersebut.


"Aku masih mau foto-foto, sama Ayah sama Ayang Fano juga. Jadi, kita belum boleh pergi," ujar Ayaka seraya melerai pelukannya bersama dengan sang ayah.

__ADS_1


"Bolehlah, boleh," ujar Sam pada akhirnya.


Wajah Ayaka yang sempat lesu dan juga sedih kini berubah menjadi ceria, pada akhirnya dia langsung mengajak Stefano dan juga Sam untuk berfoto bersama. Tentunya dia mencari tempat yang bagus untuk di-posting di sosmed miliknya.


Jika Ayaka saat ini sedang begitu bahagia, berbeda dengan Sandi. Pria itu nampak memperhatikan wajah istrinya yang begitu damai dalam tidurnya.


Ayana nampaknya sangat lelah dalam tidurnya tanpa ingin diganggu, alhasil Sandi hanya bisa menatap wajah istrinya. Sesekali dia akan mengusap-usap punggung wanitanya.


"Sepertinya aku harus bisa mengendalikan diriku, aku harus belajar lagi dalam urusan ranjang. Aku harus berusaha untuk menyenangkan istriku," ujar Sandi.


Setelah mengatakan hal itu, Sandi memilih untuk berolah raga saja. Karena kebetulan di hotel itu memang menyediakan tempat gym, rasanya dengan berolah raga akan membuat pikirannya lebih tenang


Di lain tempat.


Pada akhirnya Aruna, Sigit, Alice, Arin, Anisa dan juga Sahrul pergi untuk jalan-jalan. Karena rasanya Aruna tidak enak hati jika membiarkan Arin dan juga keluarga kecilnya untuk jalan-jalan sendirian.


Mereka semua pergi ke tempat-tempat yang dulunya sering dikunjungi oleh Aruna dan juga Arin, tempat tongkrongan sederhana tetapi sangat menyenangkan.


Karena tentunya di sana banyak pedagang yang menjajakan dagangannya dengan harga yang murah tetapi rasanya sangat enak, Alice dan juga Anisa yang baru merasakan pergi ke tempat itu begitu kegirangan.


Keduanya nampak asik mencicipi setiap makanan yang ada di sana, dari mulai makanan manis, pedas sampai yang asin gurih.


"Bagaimana? Apakah kalian suka diajak ke sini?" tanya Aruna kepada Anisa dan juga Alice.


Keduanya dengan kompak langsung menganggukkan kepalanya, karena nyatanya tanpa ditanya pun sudah terlihat dari wajah keduanya yang nampak bahagia.


Anak muda zaman sekarang ini memang begitu menyukai jalan-jalan, terlebih lagi jika diajak untuk kulineran dengan makanan yang beragam, mereka pasti suka.


"Oiya, Bun. Kenapa aku tidak pernah diajak ke sini?" tanya Alice.


Dulu adalah masa-masa Aruna dengan kehidupannya yang begitu sulit, maka dari itu dia selalu menyempatkan diri untuk pergi jalan-jalan bersama dengan Arin ke tempat yang bersahabat dengan kantong mereka.


Namun, kini kehidupan Aruna sudah berubah dengan drastis. Rasanya Aruna ingin memberikan kehidupan yang terbaik untuk putra-putrinya, jangan sampai putra-putrinya itu merasakan kehidupan yang menyakitkan seperti dirinya dulu.


Hidup dengan serba kekurangan dan sering dapat cemoohan karena dulu dia dianggap sebagai anak yang tidak mempunyai ayah, tetapi nyatanya dulu dia diculik oleh Arimbi.


Jika ingat akan hal itu, rasanya dia tidak ingin menginjakkan kakinya di sana lagi. Namun, karena Arin ingin menunjukkan tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi dulu, akhirnya Aruna mengiyakan.


"Bun, kok diem?" tanya Alice yang malah melihat Aruna melamun.


"Tidak apa, Sayang. Pergilah berkeliling dan belilah apa pun yang kalian inginkan," ujar Aruna dia seakan begitu enggan untuk menjawab pertanyaan dari Alice.


Alice sangat paham dengan keinginan dari ibunya, dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Alice langsung mengajak Anisa untuk kembali berkeliling di tempat tersebut.


Setelah melihat kepergian dari Alice dan juga Anisa, Aruna nampak mengobrol dengan Arin. Sedangkan Sigit terlihat begitu akrab dengan Sahrul, entah apa yang mereka bicarakan, tapi keduanya lebih sering tertawa seraya menatap Aruna dan juga Arin.


Keenam orang itu nampak berbahagia, hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Akhirnya mereka memutuskan untuk mampir di sebuah mesjid dan melaksanakan kewajibannya mereka terhadap Sang Khalik.

__ADS_1


Setelah itu, Aruna mengajak Alice dan juga Anisa untuk pergi ke pusat perbelanjaan. Arin berkata akan pulang esok hari selepas shalat subuh, maka dari itu dia ingin membelikan beberapa barang untuk Anisa dan juga Arin.


"Pilihlah apa pun yang kamu suka, Sayang." Aruna menuntun Anisa untuk masuk ke dalam butik ternama.


Anisa merasa jika Aruna terlalu baik terhadap dirinya dan keluarganya, dia menjadi tidak enak hati dibuatnya.


"Ngga usah, Tante. Di kampung nggak ada juga yang pakai baju bermerek seperti ini, lebih baik beli di toko biasa aja. Kasian nanti Tante ngeluarin uang banyak buat aku," ujar Anisa tidak enak hati.


Arin selalu mengajarkan Anisa untuk berhemat, karena hidup bukan satu atau dua hari, Anisa diajarkan untuk menabung agar jika suatu saat dia kesusahan akan ada uang yang bisa dia pakai dari tabungannya sendiri.


Tentunya dia merasa sangat tidak enak hati karena tiba-tiba saja disuruh untuk memilih barang-barang malah, Anisa cukup tahu diri.


"Eh? Ngga boleh ngomong gitu, anggap saja ini sebagai hadiah dari Tante karena kamu sudah mau menginap di rumah Tante."


Anisa nampak menolehkan wajahnya ke arah Arin dan juga Sahrul, dia seolah bertanya kepada ayah dan juga ibunya.


Sebenarnya Arin juga merasa tidak enak hati kepada sahabatnya itu, tetapi dia takut mengecewakan Aruna yang memang sangat baik terhadap dirinya.


Arin dan Sahrul pada akhirnya menganggukkan kepalanya dengan senyum hangat di bibir mereka, Anisa ikut tersenyum lalu menganggukkan kepalanya ke arah Aruna.


"Baiklah, aku akan memilih beberapa baju yang aku suka," ujar Anisa.


Lagi pula kapan lagi dibelikan baju yang bagus oleh Aruna, belum tentu mereka akan bertemu lagi. Karena Anisa dan juga Aruna tinggal di tempat yang jauh berbeda.


"Bagus! Pilihlah baju yang kamu suka dengan Alice, Tante juga akan memilihkan baju yang bagus untuk ibu kamu."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, Arin terlihat tidak setuju. Aruna sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelikan jajanan, rasanya dia tidak enak hati jika harus dibelikan baju juga oleh Aruna.


"Runa! Ngga usah, aku udah banyak banget baju loh." Arin terlihat tidak enak hati.


Arin adalah sahabat terbaik Aruna, di saat dia sedih dan bahkan sedang kesusahan Arin selalu ada di sampingnya. Bahkan, saat Sam berselingkuh, Arin yang membantu menguatkan dirinya.


Bahkan, Arin juga membantu dirinya untuk mengumpulkan bukti perselingkuhan Sam saat itu. Rasanya begitu banyak jasa yang Arin lakukan terhadap dirinya.


"Tak apa, setelah beli baju kita akan beli tas dan juga sepatu," ujar Aruna.


Arin langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu, menurutnya Aruna sangatlah berlebihan.


"Runa!"


"Jangan ngomong terus, ayo cepat pilih." Aruna nampak mendorong punggung Arin dengan lembut.


Arin nampak menghela napas berat, ingin menolak pun rasanya tidak mungkin. Pada akhirnya wanita itu menganggukan kepalanya lalu berkata.


"Iya, iya. Jangan nangis kamu, karena aku akan menguras semua isi dompet kamu." Arin nampak tertawa setelah mengatakan hal itu, Aruna ikut tertawa lalu memeluk sahabatnya itu.


Aruna sangat tahu jika sahabatnya pasti bercanda, Arin berkata seperti itu hanya karena ingin membuat dirinya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2