Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 137


__ADS_3

"Jawab, Kak? Jangan diam saja! Maksudnya apa sih? Apa tujuan Kakak mengajak aku ke sini?" tanya Ayaka dengan kesal.


Stefano langsung tersenyum mendengar pertanyaan dari Ayaka, padahal dia sudah mengatakan kepada Ayaka jika dia begitu mencintai gadis kecilnya.


Seharusnya Ayaka paham dengan siapa wanita yang begitu dia cintai, seharusnya wanita itu tidak bertanya lagi dan sudah sangat tahu.


Namun, sepertinya rasa cemburu wanita itu begitu besar sehingga mengalahkan akal sehatnya. Akan tetapi, Stefano sangat suka. Karena itu artinya Ayaka memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.


"Aku sengaja membawa kamu ke sini untuk mencoba cincin yang akan aku berikan kepada wanita yang aku cintai," ujar Stefano.


Setelah mengatakan hal itu, Stefano nampak mengambil cincin yang sejak saat mereka masuk terus saja dipandangi oleh Ayaka. Lalu, tanpa ragu Stefano memasukkan cincin itu pada jari manis Ayaka.


Stefano tersenyum dengan begitu manis ketika melihat cincin yang kini terpasang di jari manis Ayaka, cincin itu nampak pas sekali di jari manis gadis kecilnya.


Ayaka yang masih salah paham tidak merasa senang, justru gadis itu terlihat begitu marah. Ayaka langsung menarik cincin itu dari jari manisnya dan memberikannya kepada Stefano.


Lalu, dia langsung berlari keluar dari dalam toko perhiasan tersebut. Melihat akan hal itu Stefano merasa bersalah, dia langsung menyusul pujaan hatinya itu dan langsung memeluk Ayaka dari belakang.


"Dek! Maaf, Kakak sayang sama kamu. Kakak cinta sama kamu, wanita yang kakak sayang dan kakak cinta itu tidak lain dan tidak bukan adalah kamu. Jadi--"


Ayaka nampak memelototkan matanya ke arah Stefano, tentu saja hal itu membuat Stefano kesulitan untuk berbicara.


"Kakak jahat!" pungkas Ayaka dengan kesal.


Namun, walaupun dia berkata seperti itu tetapi tersungging senyuman yang begitu manis dari bibir wanita itu. Tidak dapat dia pungkiri jika saat ini perasaannya begitu berbunga-bunga.


"Eh? Mana ada Kakak jahat, yang ada kakak itu sangat mencintai kamu. Sangat menyayangi kamu, Kakak udah nggak sabar pengen menikah dengan kamu. Makanya Kakak datang ke sini untuk membeli cincin lamaran, jangan marah."


Stefano terlihat sedang meredakan kemarahan di hati gadis kecilnya, Ayaka tersenyum lalu melerai pelukannya. Lalu, dia membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Stefano dengan intens.

__ADS_1


"Seharusnya kakak langsung ngomong sama aku, jangan kayak gini. Akunya jadi kesal," ungkap Ayaka.


Namun, rasa kesal itu luntur begitu saja ketika melihat cara Stefano yang menatap dirinya dengan tatapan penuh cinta. Bahkan, pria itu dengan cepat memasangkan kembali cincin tersebut di jari manis Ayaka.


"Maaf, jadi bagaimana dengan cincinnya? Jadi dibeli? Kamu suka?" tanya Stefano.


Ayaka ingin sekali menangis, tetapi hal itu dia tahan. Bahkan, dia juga ingin sekali tertawa. Namun, hal itu tidak dia lakukan.


"Suka, sangat suka!" jawab Ayaka seraya menatap cincin yang terpasang di jari manis wanita itu.


Ah! Stefano benar-benar merasa senang karena untuk urusan cincin sudah dirasa selesai, ini dia tinggal membeli gaun pengantin dan mempersiapkan acara pernikahannya dengan Ayaka.


"Kalau begitu kita bayar dulu cincinnya, terus kita pulang." Stefano nampak menuntun Ayaka untuk masuk kembali ke dalam toko perhiasan tersebut.


Tidak mungkin bukan jika mereka harus pulang tanpa membayar cincinnya terlebih dahulu, bisa-bisa nanti Stefano dan juga Ayaka diteriaki maling.


"Iya, Kak," jawab Ayaka.


Setelah cukup lama mengobrol akhirnya Sandi memutuskan untuk mengantarkan Ayana, sepanjang perjalanan menuju kediaman Sigit, Sandi terus saja mengembangkan senyumnya.


Dia benar-benar merasa bahagia dan juga tidak menyangka karena ternyata Ayana juga mencintai dirinya, kini dia tinggal mengumpulkan uang untuk menikahi wanita pujaan hatinya itu.


"Aku langsung pulang, ya? Kamu langsung mandi terus siap-siap untuk shalat maghrib, doakan aku biar dapat rezeki yang banyak. Biar bisa secepatnya lamar kamu," ujar Sandi setelah mereka tiba di kediaman Sigit.


Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut Sandi, karena kini dia tidak memiliki orang tua. Rasanya meminta Ayana untuk mendoakan dirinya adalah hal yang paling baik.


"Pasti, aku akan mendoakan yang paling baik untuk kamu dan juga hubungan kita. Tapi, untuk masalah pernikahan aku tidak memerlukan pesta pernikahan yang mewah." Ayana tersenyum setelah mengatakan hal itu.


Sandi paham dengan apa yang Ayana katakan terhadap dirinya, Ayana memang keturunan keluarga kaya, tetapi Sandi sangat paham jika Ayana bukanlah orang yang suka dimanjakan dengan kemewahan.

__ADS_1


"Aku tahu, tetapi aku ingin memberikan pernikahan yang begitu berkesan untuk kamu. Walaupun pernikahan kita dilaksanakan secara sederhana," ujar Sandi.


Ayana mengangguk dengan paham, karena yang namanya seorang laki-laki pasti ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang dia cintai.


"Iya," jawab Ayana.


Sandi nampak turun dari mobil dengan cepat, kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Ayana. Setelah itu, Sandi terlihat hendak masuk kembali ke dalam mobil miliknya.


Tentunya Sandi harus segera pulang, karena waktu sudah sangat sore. Namun, seorang pelayan wanita dengan tergesa menghampiri Sandi dan juga Ayana.


"Maaf, Nona. Maaf, Tuan. Kalian berdua sudah ditunggu oleh tuan Satria dan juga nyonya Rachel di dalam," ujar pelayan wanita itu seraya membungkuk hormat.


Jantung Sandi berdetak dengan begitu kencang, sungguh dia takut jika dirinya disuruh menjauhi Ayana karena statusnya yang tidak setara dengan Ayana.


"Ada apa, ya?" tanya Sandi keheranan.


Ayana juga merasa heran karena tidak biasanya Satria datang tanpa pemberitahuan, biasanya kalau kakek atau neneknya datang, mereka akan memberitahu Ayana dan bertanya akan dibawakan oleh-oleh apa. Namun, kini kedatangan mereka dirasa sangat tiba-tiba.


"Saya tidak tahu, Tuan. Silakan masuk, jangan membiarkan tuan Satria dan juga nyonya Rachel menunggu lama." Bibi nampak berbicara dengan pelan tapi terlihat begitu hati-hati.


Ah! Rasanya Sandi benar-benar ketakutan mendapatkan panggilan seperti itu dari kakek Ayana itu, dia takut jika hubungannya dengan Ayana akan berakhir saat ini juga.


"Memangnya kenapa, Bi?" tanya Sandi dengan takut.


Ah! Sungguh saat ini Sandi merasakan ketakutan yang luar biasa, dia baru saja jadian dengan Ayana. Dia benar-benar berharap kepada Tuhan agar tidak ada yang berusaha untuk memisahkan dirinya dengan Ayana.


"Udah ayo masuk, keburu malam." Ayana menautkan tangannya pada tangan Sandi, pria itu nampak tersenyum malu-malu dibuatnya.


Sandi sudah seperti anak gadis yang baru saja jadian dengan kekasihnya, sedangkan Ayana hanya tersenyum seraya melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Semoga saja tidak ada hal buruk yang menimpaku hari ini, sungguh aku merasakan ketakutan yang sangat luar biasa." Sandi berkata dengan begitu pelan sekali, Ayana sampai tidak bisa mendengarnya.


__ADS_2