
Walaupun berada di tempat yang berbeda, tetapi Ayana dan juga Ayaka sama-sama merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Keduanya benar-benar merasa bahagia, karena akhirnya mereka sudah mendapatkan restu dari semua pihak keluarga.
Mereka bahkan akan menikah dalam waktu yang dekat, Ayana akan menikah bulan depan. Sedangkan Ayaka malah akan menikah satu minggu lagi dari sekarang.
Stefano memutuskan untuk segera menikahi wanita yang menjadi pujaan hatinya itu, karena dia benar-benar sudah tidak sabar untuk memperistri Ayaka.
Awalnya Stefano ingin memberikan pesta pernikahan yang mewah untuk Ayaka, karena nyatanya Stefano memiliki uang yang banyak. Dia juga mendapatkan warisan dari ibunya, tentunya ada sebuah perusahaan kecil yang diberikan oleh almarhum ayahnya juga.
Bahkan, Sam juga memberikan uang kepada Ayaka dan juga Stefano untuk menambah biaya pernikahan keduanya.
Namun, ternyata Ayaka tidak ingin mengadakan pesta pernikahan yang mewah. Dia hanya ingin mengadakan pernikahan sederhana tetapi begitu mengesankan.
Akhirnya Stefano menyetujuinya, karena yang terpenting tentunya kenyamanan dari Ayaka sendiri. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya.
"Aya tidak mementingkan seberapa besar pesta pernikahan yang akan kita jalani, tetapi yang terpenting adalah bagaimana cara kita menjalani rumah tangga setelah kita menikah nanti." Ayaka berkata dengan yakin, Stefano tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
Jika kedua wanita cantik itu sedang berbahagia, berbeda dengan Sigit yang kini berada di luar kota. Pria itu merasa pusing tujuh keliling sejak dari saat dia sampai di kota tersebut.
Pria itu janji temu dengan pengusaha muda asal dari kota D, tentu saja Sigit mau bertemu dengan pria itu dan mau bekerja sama karena perusahaan milik pria muda itu adalah perusahaan yang sangat besar di kota tersebut.
Namun, pada kenyataannya saat dia bertemu dengan perwakilan dari perusahaan tersebut, ternyata bukan pria muda itu yang datang. Melainkan istri dari pria muda itu.
Istri dari pria muda itu adalah seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun, wanita itu datang menemui Sigit menggunakan dress yang begitu seksi sekali.
Belahan dadanya terlihat sangat rendah, panjang dress yang digunakan oleh wanita itu hanya menutupi bokongnya saja. Dress seksi tanpa lengan, bahkan ketika wanita itu mengangkat tangannya, otomatis ketiak wanita itu terlihat ke mana-mana.
__ADS_1
Bodi wanita itu memang sangat aduhai, hal itu membuat wanita itu memang terlihat begitu cantik dan juga seksi.
Namun, tetap saja di mata Sigit hanya istrinya yang terlihat cantik dan juga sempurna. Walaupun nyatanya usia istrinya memang lebih tua dari dirinya, tetapi Aruna sangat pandai merawat diri.
Riasan wajah wanita itu terlihat begitu tebal, wanita itu juga momoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah keunguan. Sangat berbeda dengan Aruna.
"Dari kemarin kita sudah membahas masalah ini, kini saatnya kita pergi untuk meninjau lokasi." Wanita bernama Afifah itu tiba-tiba saja duduk di samping Sigit, tanpa ragu wanita itu langsung mengelus paha Sigit.
Wanita itu bahkan mengelus dada montoknya, lalu mengelus pahanya sambil menggoyang-goyangkan dadanya.
Sontak saja hal itu membuat Sigit bergidik ngeri dengan apa yang telah dilakukan oleh wanita itu, Ben yang melihat akan hal itu hanya mengatupkan mulutnya menahan tawa.
Sigit merasa kesal sekali melihat asisten pribadinya itu tidak melakukan apa pun, Sigit tersenyum kecut lalu menggeser letak duduknya.
Jika saja wanita itu bukan wanita yang berpengaruh, Sigit pasti sudah menampar wajah wanita yang sok kecentilan itu.
Sengaja Sigit mengatakan hal itu agar wanita itu tidak ikut pergi menggunakan mobilnya, karena nantinya bisa saja terjadi hal yang tidak-tidak jika mereka menggunakan satu mobil yang sama.
Walau bagaimanapun juga dia adalah seorang suami, sebagai pria yang sudah beristri dia tidak boleh memberikan kesempatan kepada wanita lain untuk masuk ke dalam rumah tangganya.
"Aih! Jangan seperti itu, aku tidak membawa mobil. Apakah kamu tidak kasihan kepadaku?" tanya Afifah.
Setelah mengatakan hal itu, Afifah kembali mendekati Sigit. Bahkan, wanita itu tanpa ragu duduk tepat di samping pria itu. Afifah bahkan merapatkan tubuhnya pada Sigit.
Sigit yang mendapatkan perlakuan seperti itu langsung menjauhkan tubuhnya, tetapi dengan cepat Afifah memeluk lengan pria itu.
__ADS_1
"Jangan jauh-jauh, nanti aku marah."
Wanita mengedip-ngedipkan matanya, mungkin menurutnya hal itu bisa membuat Sigit tergoda. Namun, nyatanya hal itu malah membuat Sigit mengelus dada.
"Ya ampun! Anda jangan dekat-dekat seperti ini, nanti tuan Swan marah." Sigit berusaha untuk menjauh dari wanita itu, karena jika terlalu lama menempel dengan wanita itu rasanya Sigit akan menjadi gila.
Lalu, dengan cepat Sigit melangkahkan kakinya untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Persetan dengan wanita itu yang akan pergi menggunakan mobil siapa, yang pasti dia ingin menghindari wanita itu.
Ben menunduk seraya terkikik geli, lalu dengan cepat dia menyusul atasannya tersebut. Afifah cemberut seraya menghentakkan kedua kakinya, karena dia gagal mendekati Sigit.
Afifah memang sudah menikah, tetapi wanita itu seakan tidak ada puasnya jika berhadapan dengan lelaki tampan. Selalu saja dia tergoda untuk mendekati pria tersebut dan mengajaknya untuk berkencan.
Terlebih lagi saat ini suaminya sedang pergi, tentu saja hal itu membuat Afifah ingin merasakan yang namanya berpeluh bersama dengan Sigit. Pria matang yang terlihat begitu tampan dan juga menggoda di matanya.
Walaupun usia Sigit jauh lebih tua dari suaminya, tetapi pria itu benar-benar menggoda di matanya. Sigit yang mampu menjaga kebugaran tubuhnya, mampu membuat Afifah terhipnotis.
Terlebih lagi ketika Afifah melihat otot-otot Sigit yang nampak menonjol, sungguh Afifah benar-benar ingin membuka baju yang dipakai oleh Sigit dan mengelus tubuh polos pria itu.
"Ck! Berani sekali dia menghindariku, awas saja nanti. Aku pastikan kamu akan bertekuk ke lutut, aku pastikan kamu akan ketagihan." Afifah langsung pergi dari sana seraya menelpon sopir pribadinya.
Tentunya dia harus segera pergi untuk menyusul Sigit, tak apa pikirnya siang ini dia tidak bisa merealisasikan keinginannya.
Namun, Afifah sudah mempunyai rencana lain untuk bisa berdekatan dengan Sigit. Karena wanita seperti Afifah memiliki banyak ide yang bisa membuat dirinya mendapatkan keinginannya.
"Kita lihat saja nanti malam, apakah kamu bisa menolakku, Sigit!" ujar Afifah seraya masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum penuh kelicikan, karena di otaknya kini melintas sebuah ide gila yang akan dia lakukan nanti malam kepada Sigit.
"Aku harus melakukannya dengan baik, jangan sampai umpan yang begitu tampan seperti tuan Sigit lolos begitu saja dari genggamanku." Afifah terkekeh setelah mengatakan hal itu.