
Aruna benar-benar terlihat gelisah memikirkan tentang keadaan Arin, sahabatnya. Walaupun dia pergi ke kamar mandi dan melaksanakan ritual mandinya bersama dengan Sigit, tetapi tetap saja yang ada di pikirannya adalah Arin.
Aruna benar-benar takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap sahabatnya itu, karena memang Arin bersama keluarga kecilnya pulang dalam keadaan hari yang masih gelap.
Dia takut jika Sahrul merasa kelelahan dan masih mengantuk ketika mengemudi, maka dari itu terjadi hal yang tidak diinginkan.
Namun, Aruna kembali berusaha untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif seperti itu. Dia berusaha berpikir jika Arin menghubungi dirinya karena masih merindukan dirinya.
Atau mungkin ada barang milik Arin yang ketinggalan, pikir Aruna. Maka dari itu Arin berusaha untuk menelponnya dan meminta Aruna untuk menyimpan barang miliknya itu.
"Sudah lebih tenang belum?" tanya Sigit setelah Aruna selesai mandi dan juga sarapan.
Sigit bahkan memijat kedua pundak istrinya, hal itu dia lakukan dengan harapan agar istrinya bisa lebih tenang. Karena Aruna terlihat begitu gelisah semenjak mendapatkan banyak panggilan tidak terjawab dari Arin.
Sarapan yang dirasa sangat telat, karena pukul sembilan pagi Sigit dan juga Aruna baru selesai melaksanakan sarapan paginya. Bahkan, Aruna hanya makan beberapa suap saja.
Aruna menolehkan wajahnya ke arah Sigit, dia menatap suaminya dengan raut wajah penuh kecemasan.
"Belum," jawab Aruna yang tetap saja merasa khawatir.
Sigit memeluk istrinya, lalu dia kecup kening istrinya tersebut. Dia berusaha untuk menenangkan hati istrinya, karena tidak biasanya Aruna bersikap seperti itu.
"Coba ditelpon lagi," usul Sigit.
"Hem!" jawab Aruna lesu.
Aruna lalu mengambil ponselnya, dia melakukan panggilan telepon kepada sahabatnya. Berkali-kali dia mencoba untuk menelpon sahabatnya itu, hingga tidak lama kemudian ada yang mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Arin! Elu di mana? Elu udah sampe apa belum? Sorry karena tadi pas elu telpon ngga keangkat sama gue," ujar Aruna dengan sepenuh semangat karena panggilan teleponnya sudah tersambung.
"______________"
Wajah Aruna yang penuh dengan semangat langsung berubah menjadi lesu, tubuhnya bahkan terlihat begitu lemas. Kakinya seakan kopong dan Aruna langsung duduk di atas sofa.
"Jangan bercanda," ujar Aruna.
"________________"
"Di mana?" tanya Aruna dengan air mata yang mulai mengalir di kedua pipinya.
"________________________"
"Lalu, bagaimana keadaan Arin dan keluarganya?" tanya Aruna dengan kepalanya yang mulai terasa berputar-putar.
"_____________"
__ADS_1
Aruna langsung menangis dengan begitu histeris, dia bahkan langsung memeluk suaminya dengan air mata yang mengalir dengan deras.
Sigit terlihat panik dan juga khawatir, dia memeluk istrinya dengan begitu erat dan berusaha untuk menenangkan hati istrinya tersebut.
"Ada apa? Apa yang sudah terjadi?" tanya Sigit.
Sigit tahu pasti sudah terjadi hal yang tidak diinginkan, pasalnya Aruna terlihat begitu sedih, panik dan ketakutan.
"Arin kecelakaan, ayo kita pergi. Ayo kita lihat kondisi Arin," pinta Aruna.
Sigit sudah menduganya, pasti seperti itu. Maka dari itu Aruna bersikap dengan tidak terkendali, kasihan sekali Sigit melihat kondisi istrinya itu.
"Ya, Sayang. Kita akan pergi, tapi aku mohon kamunya tenang dulu." Sigit berusaha untuk menenangkan hati Istrinya, dia terus saja mengusap puncak kepala istrinya tersebut.
Sigit bahkan meminta pelayan untuk membuatkan teh hangat, agar istrinya tidak terlalu syok seperti itu.
Aruna berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya, dia berdoa jika Arin dan keluarga kecilnya selamat dari kecelakaan yang menimpa mereka.
"Aku sudah siap pergi," ujar Aruna.
Aruna nampak sudah bersiap setelah dia merasa lebih tenang, Sigit menghela napas berat karena istrinya itu terlihat begitu tidak sabar.
"Sebentar, Sayang. Papa mau telpon Ay dulu sama Sandi, biar mereka pulang ke rumah saja." Sandi langsung mengambil ponselnya karena ingin menghubungi Ayana.
Ayana dan juga Sandi sudah sepakat akan pulang ke kediaman Sandi, rumah sederhana milik pria itu yang ada di dekat Resto miliknya sendiri.
Rasanya Sandi dan juga Ayana akan lebih baik untuk tinggal di kediamannya terlebih dahulu, agar Kenzo dan juga Alice ada yang mengurusi.
Walaupun kedua anaknya itu sudah besar dan sudah bisa mengurusi dirinya sendiri, tetapi tetap saja Sigit merasa tidak tenang jika harus meninggalkan kedua buah hatinya tanpa pengawasan Ayana dan juga Sandi.
Setelah selesai menelpon Ayana, Sigit nampak berpamitan kepada Kenzo untuk pergi. Sigit juga meminta kepada putranya agar akur dengan adiknya dan menjaga adiknya.
"Hati-hati di jalan, Pa, Bun. Jangan nyetir sendiri, minta antar sopir."
Bukan tanpa alasan Kenzo berkata seperti itu, Aruna terlihat begitu sedih. Dia merasa jika Sigit perlu menenangkan hati ibunya tersebut, jika Sigit sibuk menyetir, takutnya pria itu tidak akan bisa menenangkan hati Aruna.
"Ya, Ken. Jaga adik kamu baik-baik," ujar Sigit.
"Ya, Pa," jawab Kenzo.
Setelah berpamitan kepada Kenzo, akhirnya Sigit dan juga Aruna pergi menuju tempat di mana Arin kecelakaan. Ternyata yang mengangkat panggilan telepon dari Aruna adalah polisi lalu lintas setempat.
Beliau berkata jika mobil yang dikendarai oleh Sahrul tertabrak dari arah berlawanan oleh kontainer berukuran besar, tentu saja hal itu membuat mobil Sahrul rusak parah.
Mobil bagian depannya sampai penyok, hal itu membuat Arin dan juga Sahrul kini dalam keadaan kritis. Berbeda dengan Anisa, gadis remaja itu nampak mengalami benturan yang begitu kencang.
__ADS_1
Polisi berkata jika kini Anisa masih belum sadarkan diri, gadis itu kemungkinan besar akan mengalami gegar otak.
"Tenanglah, Sayang. Berdoa kepada Tuhan dan mintalah yang terbaik untuk Arin dan keluarganya," ujar Sigit seraya mengusap-usap puncak kepala istrinya.
Aruna menganggukkan kepalanya, karena memang di dalam hatinya Aruna tidak hentinya berdoa untuk keselamatan sahabatnya dan juga keluarganya.
"Iya, Sayang." Aruna mengeratkan pelukannya, lalu dia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Setelah melakukan perjalanan selama tiga jam, akhirnya Aruna tiba di sebuah rumah sakit yang dikabarkan oleh polisi lalu lintas setempat.
Dia langsung bertanya di mana Arin dan keluarga kecilnya dirawat, ternyata saat Aruna datang, Arin dan juga Sahrul baru saja menghembuskan napas terakhirnya.
Aruna terlihat begitu sedih sekali, dia menangis dengan begitu histeris. Bahkan, karena terlalu lama menangis, wanita itu sampai tidak sadarkan diri.
"Tolong istri saya," pinta Sigit.
Akhirnya beberapa orang perawat membawa Aruna ke dalam ruang perawatan, kondisi wanita itu sangat mengenaskan setelah menangis terlalu lama. Wanita itu sampai mengalami sesak napas.
"Bagaimana kondisi istri saya?" tanya Sigit ketika melihat istrinya yang sudah dipasangkan selang oksigen pada hidungnya.
Seorang dokter yang memang menangani Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah Sigit, pria itu tersenyum lalu berkata.
"Sudah lebih baik, kami juga sudah memberikan obat penenang untuk Nyonya Aruna. Lalu, bagaimana dengan nyonya Arin dan juga tuan Sahrul?" tanya Dokter yang menangani Arin.
Sigit sampai melupakan sahabat dari Aruna itu, karena Sigit malah menghawatirkan keadaan Aruna yang sesak napas dan tidak sadarkan diri.
"Tolong urus jenazahnya, kalau sudah selesai tolong pulangkan jenazah tersebut ke kampung halamannya. Untuk urusan biaya, saya yang akan menanggungnya," ujar Sigit.
Jika memungkinkan, nanti Sigit dan juga Aruna akan pergi ke kampung halaman Arin. Mereka akan menghadiri acara pemakaman sahabat dari Aruna itu.
"Baik, Tuan. Lalu, bagaimana dengan nona Anisa?" tanya Dokter lagi.
Sigit menghela napas berat, karena dia memang sempat melihat keadaan Anisa. Namun, dia belum kepikiran untuk mengurusi anak gadis dari Arin itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Sigit
"Dia mengalami koma, kemungkinan besar jika sadar nanti dia akan hilang ingatan. Untuk kakinya terdapat patah tulang, tapi akan bisa sembuh setelah melakukan pengobatan."
Dokter nampak menjelaskan dengan raut wajah sedih, karena dia merasa kasihan dengan apa yang menimpa keluarga Arin .
"Astagfirullah! Kasian sekali Anisa, tolong berikan pengobatan yang terbaik."
Miris sekali hidup gadis remaja itu, pikirnya. Sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, kini dia juga mengalami hal yang sangat memperihatinkan.
"Pasti, Tuan. Saya pasti akan melakukan yang terbaik, untuk hasilnya tetap kita serahkan kepada Tuhan," jawab Dokter.
__ADS_1
"Ya, terima kasih," ujar Sigit.