Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 107


__ADS_3

Aruna dan juga Sigit bergumul dengan begitu panas di dalam kamar mandi, tentunya Sigit melakukannya dengan begitu lembut walaupun Aruna terlihat tidak sabar.


Aruna bahkan berkali-kali mencoba untuk menjadi pengendali, sayangnya Sigit yang tidak mau ambil resiko tidak mengizinkan istrinya itu untuk memenuhi keinginannya.


"Jika kamu mau, aku akan memuaskan kamu. Tapi, jangan pernah minta di atas. Kecuali, kalau nanti kandungan kamu udah besar. Udah sebentar lagi lahiran, baru boleh."


Itulah kata-kata yang terlontar dari bibir Sigit, bukannya tidak mau diberikan kepuasan. Akan tetapi, dia tidak mau mengambil resiko. Dia tidak mau jika nantinya akan membahayakan janin yang dikandung oleh Aruna.


Aruna hanya bisa pasrah, yang terpenting Sigit masih mau memberikan kenikmatan yang dia inginkan. Itu saja sudah membuat dia bahagia, dia merasa senang karena suaminya mau menuruti keinginannya.


Sempat terbersit di dalam otaknya jika apa yang dilakukan oleh dirinya adalah hal yang sangat konyol, tetapi dia benar-benar tidak bisa menahan hasratnya yang tiba-tiba saja datang dengan begitu kuat dan seakan minta untuk dipuaskan saat itu juga.


Di saat Sigit dan Aruna sedang asik berpeluh, Kenzo bangun dari tidurnya. Dia merasa heran karena ini dia hanya sendirian, anak tampan itu terlihat turun dari tempat tidur dan mencari kedua orang tuanya.


"Papa! Buna!" teriak Kenzo.


Untuk sesaat Sigit menghentikan aktivitasnya, karena dia takut jika putranya akan masuk ke dalam kamar mandi. Aruna pun sama, dia langsung melepaskan milik suaminya dari inti tubuhnya.


Lalu, Aruna dengan cepat melangkahkan kakinya menuju pintu. Tanpa Sigit duga, Aruna malah mengunci pintu kamar mandinya. Padahal, Sigit sempat mengira jika Aruna akan menemui putra mereka.


Sigit sempat mengira jika Aruna akan menghentikan aktivitas berpeluh mereka, karena Aruna merasa khawatir dengan Kenzo. Nyatanya apa yang dilakukan oleh Aruna di luar pikiran Sigit.


"Yang!" protes Sigit.


Sigit tidak menyangka jika istrinya tersebut malah mengunci pintunya, padahal dia sempat berpikir jika istrinya tersebut akan menemui membiarkan dia bermain solo setelah dibuat panas oleh Aruna.


"Kenapa?" tanya Aruna.


Aruna merasa tidak suka dan juga heran ketika Sigit menatap dirinya dengan tatapan penuh protes, karena dia sengaja mengunci pintu agar Kenzo tidak masuk.


Bisa bahaya jika Kenzo masuk dan melihat mereka dalam keadaan polos seperti itu, mau alasan apa yang dilontarkan terhadap putra pintarnya itu, pikirnya.


"Kenapa malah dikunci pintunya? Bagaimana dengan Ken?" tanya Sigit dengan raut wajah bingung.


Karena tentunya dia masih ingin merasakan kenikmatan yang belum mencapai puncaknya, tetapi dia juga tidak tega ketika mendengar Kenzo yang memanggil-manggil namanya dan juga Aruna.

__ADS_1


"Nanggung, Yang. Belum nyampe puncaknya, nanti aku malah nggak bisa bobo," ujar Aruna seraya terkekeh.


"Oh ya ampun!" ujar Sigit yang setuju karena dia juga ingin merasakan puncaknya, tetapi tetap saja dia kepikiran dengan putra tampannya.


Aruna terlihat hendak menghampiri Sigit dengan senyum lebar di bibirnya, tetapi langkahnya terhenti karena ada yang mengetuk pintu kamar mandi.


"Buna! Papa! Apakah kalian ada di dalam? Ken takut sendirian," ujar Ken dengan manja.


Padahal ketika tidur di kediaman mereka anak tampan itu selalu tidur sendiri, bahkan Aruna tidak memiliki babysitter karena anaknya itu memanglah sangat pemberani dan mandiri.


Namun, setelah mengetahui Aruna hamil lagi Kenzo malah berkata takut tidur sendirian. Mungkin karena efek Aruna kembali mengandung, maka dari itu Kenzo terlihat lebih manja kepada Aruna.


Sigit terlihat dengan cepat memakai kimono mandi, dia sudah bersiap untuk keluar dari dalam kamar mandi karena ingin menemui putranya itu.


Namun, Aruna langsung mendorong dada pria itu. Sungguh Aruna tidak rela jika harus menghentikan aktivitas berpeluh mereka saat ini, yang nanggung itu memang terasa tidak enak.


"Ken, Sayang. Buna memang ada di dalam kamar mandi, kalau kamu tidak berani bobo sendirian, kamu minta bobo bareng aja sama om Saga," ujar Aruna dengan begitu lembut tanpa membuka pintu kamar mandinya.


Sengaja Aruna meminta putranya untuk tidur bersama dengan Sagara, karena adiknya tersebut sampai saat ini belum memiliki istri. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu masih betah melajang.


Berbeda dengan Sayaka, adik kembarnya itu justru malah sudah menikah dengan Aisyah. Pengasuh Ayana itu ternyata disukai oleh adik bungsu Aruna, dia langsung melamar Aisyah tanpa ragu.


Awalnya Aisyah tidak mau menerima lamaran dari Sayaka, karena Aisyah merupakan wanita yang terlahir dari keluarga sederhana.


Namun, setelah Satria mengatakan jika keluarganya tidak memandang kasta, Aisyah yang ternyata juga menyukai Sayaka langsung menerima lamaran dari pria itu. Kini mereka berdua sudah dikaruniai seorang putri yang begitu cantik, sehat dan sempurna.


"Memangnya kenapa Buna? Apakah dede bayinya rewel?" tanya Kenzo dengan begitu polos.


"Ya, dede bayinya sedang rewel. Jadinya Buna sekarang sedang di kamar mandi, Ken pergi saja ke kamar om Saga. Oke?" pinta Aruna.


"Baiklah, Ken akan pergi," ucap anak itu dengan begitu sedih.


Sedih karena tidak bisa tidur bersama dengan ibu dan juga ayahnya, sedih juga karena mendengar dedek bayi yang ada di dalam perut Aruna sedang rewel.


Tidak lama kemudian, Aruna terlihat mengelus-elus lembut perutnya. Sedangkan Sigit hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan apa yang Aruna katakan kepada putra mereka.

__ADS_1


"Maafkan Buna ya, Sayang. Kamu nggak rewel kok, kamu anteng banget. Maaf ya, karena kamu Buna jadikan sebagai alasan," ucap Aruna.


Setelah mengatakan hal itu, Aruna langsung menghampiri Sigit dan melepaskan kimono mandi yang dipakai oleh pria itu. Aruna tersenyum karena ternyata milik suaminya itu masih berdiri dengan tegak.


"Lanjut yu, Sayang," ajak Aruna dengan suaranya yang begitu sensual.


Walaupun Sigit terlihat sedikit kesal karena Aruna terkesan mengusir putra mereka, tetapi pria itu tetap menuruti apa keinginan dari istrinya tersebut. Karena dia tidak mungkin menolak keinginan dari istrinya yang sedang mengandung.


'Maafkan Papa, Sayang.' Sigit hanya mampu meminta maaf di dalam hatinya kepada putranya tersebut.


Kembali sepasang suami istri itu berpeluh di dalam kamar mandi, bahkan keduanya terlihat begitu menikmati momen percintaan panasnya.


Berbeda dengan Kenzo, anak tampan itu melangkahkan kakinya menuju kamar Sagara. Dia lebih baik memilih tidur bersama dengan pamannya, daripada tidur sendirian saja.


Cukup lama Kenzo berdiri tepat di depan kamar pamannya tersebut, hingga tidak lama kemudian Sagara membuka pintu kamarnya.


"Hey, Boy! Ini sudah sangat larut, kenapa kamu datang ke kamar Om?" tanya Sagara dengan raut wajah heran.


"Abisnya Ken malah ditinggal bobo sendirian, buna sama papa malah ada di kamar mandi. Katanya dede lagi rewel, jadinya Ken mau bobo di sini aja. Boleh kan, Om?" tanya Kenzo dengan wajah imutnya.


"Oh ya ampun, padahal aku belum menikah. Tetapi kamu malah sering pergi denganku, sekarang kamu juga mau tidur denganku. Besok-besok kamu jadi anak Om aja," ucap Sagara seraya mengangkat tubuh Kenzo dan membawanya untuk masuk ke dalam kamar pria itu.


"Ken ngga mau jadi anak Om, tapi Ken suka pergi sama Om. Om sangat baik," puji Kenzo seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur milik pamannya tersebut.


Bagaimana Kenzo tidak suka ketika bepergian dengan Sagara, karena pria itu selalu saja membelikan apa pun yang diinginkan oleh Kenzo.


Sagara merasa tidak tahan ketika mendengar rengekan dari anak kecil itu, maka dari itu Sagara akan memberikan apa pun yang diinginkan oleh Kenzo asalkan anak itu diam dan anteng tanpa mengganggu kegiatannya.


"Om tahu kalau Om sangat baik, jadi... sekarang Ken bobo aja. Besok siang Om jemput Ken di sekolah, pulangnya kita akan pergi ke resor yang ada di kota B. Mau?" tanya Sagara.


"Mau, Om. Tapi, sambil nunggu Om kerja Ken mau main air di pantai," ujar Kenzo.


"Sangat boleh, yang penting Ken jangan nakal. Om meetingnya sama cewek cantik, jangan kamu godain."


"Ck! Tenang aja Om," jawab Kenzo seraya memejamkan matanya.

__ADS_1


Sagara tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, tidak lama kemudian dia memejamkan matanya karena memang dia benar-benar sangat mengantuk.


__ADS_2