Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 19


__ADS_3

Kenzo nampak kaget saat melihat reaksi dari Asmara, dia tidak tahu jika perbuatannya itu bisa membuat Kenzo dan juga Asmara salah paham.


"Elu jangan macam-macam, ya! Jangan mentang-mentang elu orang kaya, terus elu bisa berbuat semaunya!" teriak Asmara.


Setelah mengatakan hal itu, Asmara nampak memberikan bogem mentah kepada Kenzo. Namun, dengan cepat Kenzo menghindar. Alhasil pukulan itu tidak mengenai anggota tubuhnya.


"Apaan sih? Elu ngga jelas, orang gue cuma mau ngajakin elu ngobrol doang," jawab Kenzo seraya melompat karena tiba-tiba saja Asmara berusaha untuk menendang.


Beruntung Kenzo melompat dengan begitu cepat, jika tidak, sudah dapat dipastikan kakinya akan terkena tendangan dari kaki Asmara.


"Kalau mau ngobrol ya, ngobrol aja. Tapi ngga usah nyeret nyeret gua sampai ke ruang keluarga juga, elu kayak orang mau messum tahu, ngga!" kesal Asmara.


Asmara yang masih terlihat emosi mencoba untuk memukul perut pria yang ada di hadapannya, sayangnya kembali Kenzo menghindar dari apa yang dilakukan oleh Asmara.


Asmara terlihat begitu kesal sekali, dia bahkan kembali mencoba untuk memukul pria itu. Akan tetapi, selalu saja Kenzo berhasil menghindar dari setiap serangan yang dilakukan oleh Asmara. Hingga tidak lama kemudian Kenzo nampak memeluk wanita itu dengan begitu erat.


"Dengerin gue, Asmara! Elu kata duit yang gue kasih kebanyakan, kalau memang kebanyakan, mending elu temenin gue ngobrol. Jadi, duit sejuta itu pas dengan apa yang elu lakuin sama gue," ujar Kenzo yang langsung mendudukkan Asmara di salah satu sofa yang ada di sana.


Setelah itu Kenzo nampak melepaskan pelukannya, lalu dia duduk tidak jauh dari Asmara. Asmara menatap mata Kenzo dengan begitu lekat, dia seolah sedang mencari kebenaran dari apa yang dikatakan oleh pria itu.


"Beneran, elu cuma mau ngajakin gue ngobrol?" tanya Asmara.


"Seriuslah, emang gue mau ngajakin elu apa?" tanya Kenzo.


"Ya kali aja elu mau ngajakin gue yang aneh-aneh, awas aja ya kalau elu bohong! Gue gorok tuh si Otong!" ancam Asmara seraya menatap ke arah milik Kenzo.


Kenzo ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Asmara, tetapi dia tahan. karena takut Asmara akan marah kepada dirinya.


"Enggalah! Mana ada gue kaya gitu, gue itu bukan cowok yang asal nyelup aja. Gue bakal ngelakuin hal itu dengan cewek yang gue cinta," jelas Kenzo.


"Iya, gue denger. Kalau emang elu mau kita ngobrol, elu mau ngobrolin apa? Satu hal yang pasti, jangan masalah ranjang. Karena gue ngga pengalaman, kalau elu mau tau tempat wisata gue jabanin!" ujar Asmara.


"Gue cuma mau tau kegiatan elu sehari-harinya kaya apa, cerita dong!" ujar Kenzo.


"Eh? Kok jadi gue?" tanya Asmara.


"Iya dong, elu kata suka melaut sama bokap elu. Cerita dong, gue penasaran," ujar Kenzo yang merasa lucu karena ini adalah untuk pertama kalinya dia berbicara dengan panjang lebar.


Sebenarnya Asmara merasa aneh dengan permintaan dari Kenzo, tetapi tak apa jika memang hanya ingin mengobrolkan tentang kegiatan yang sehari-hari, pikirnya.


"Bolehlah boleh, tapi gue haus. Ada minum, ngga?" tanya Asmara.


"Bentar, gue ambil air dulu." Kenzo langsung bangun dan melangkahkan kakinya menuju dapur.


Melihat kepergian Kenzo, Asmara langsung menghela napas lega. Karena dia berpikir jika Kenzo adalah pria yang baik, pria yang benar-benar ingin mengajak dirinya untuk mengobrol saja.


Namun, walaupun seperti itu dia tetap saja merasa harus waspada. Wanita itu dengan cepat keluar dari dalam rumah itu, dia ingin mengambil tas pinggang miliknya. Karena di sana ada alat kejut listrik dan juga sprei cabai.


Dua benda yang selalu dia bawa ke mana mana, karena sudah berkali-kali dia belajar ilmu beladiri tetapi tetap saja dia tidak bisa menguasainya. Maka dari itu dia sengaja membawa dua alat tersebut, untuk melindungi dirinya.

__ADS_1


Jika Asmara sedang mengambil benda tersebut di dalam mobilnya, berbeda dengan Kenzo yang kini sedang menegur pelayan yang sedang berada di dapur.


"Bi, tolong buatin minuman segar dong. Dua gelas ya, ada temen lagi main soalnya," ucap Kenzo.


Pelayan tersebut nampak kaget karena ada yang menegurnya, dia langsung menghentikan aktivitasnya dan menolehkan wajahnya ke arah Kenzo.


"Den Kenzo, Aden sudah datang? Maaf karena Bibi tidak menyambut kedatangan Aden, Bibi terlalu serius memasak untuk makan malam nanti, maaf ya Den," ucap Bibi penuh sesal.


Jangan tanya kenapa bibi bisa mengenali Kenzo, karena di dalam rumah itu ada beberapa foto Kenzo. Bahkan ada foto keluarga yang dipasang oleh Satria di ruang keluarga.


"Tidak apa, Bi. Sekarang tolong buatkan dua gelas minuman segar sama bawakan camilannya juga ya? Bawa ke ruang keluarga, oke?" ucap Kenzo seraya tersenyum hangat.


"Iya, Den. Siap," jawab Bibi.


Setelah meminta bibi untuk membuatkan minuman dan juga membawakan camilan, Kenzo langsung kembali melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.


Saat dia tiba di ruang keluarga, Asmara juga terlihat baru saja datang. Kenzo langsung mengerutkan dahinya, terlebih lagi ketika dia melihat Asmara yang kini memakai tas pinggang.


"Elu dari mana?" tanya Kenzo.


"Ngambil tas pinggang gue, emangnya kenapa?" tanya Asmara yang langsung duduk di salah satu sofa yang ada di sana.


Kenzo juga menuruti apa yang dilakukan oleh wanita itu, dia bahkan duduk tepat di samping wanita itu. Asmara bahkan sampai menggeser letak duduknya, Kenzo sampai tertawa dibuatnya.


"Gue udah bilang, gue ngga bakalan jahat sama elu. Gue ngga bakalan macam-macam, gue cuma mau dengar tentang cerita keseharian elu. Cerita dong," pinta Kenzo.


"Sebentar lagi bibi datang bawain minuman, udah buruan elu cerita. Setiap harinya elu ngapain aja sih? Kenapa kulit elu bisa item kaya gini?" tanya Kenzo.


Tersinggung sekali rasanya Asmara ketika Kenzo mengatai dirinya berkulit hitam, karena rata-rata memang orang Sorong itu memiliki kulit yang eksotis.


"Aih! Elu tuh punya mulut seenaknya aja kalau ngomong, gue tuh memang item dari sononya. Bapak gue aja item, masa gue mau putih sendiri. Kalo ngomong suka aneh emang!" kesal Asmara.


"Iya, maaf. Kali aja elu itu dulunya putih, terus ikut melaut. Jadi item deh, kan' bisa aja," ucap Kenzo mengutarakan pendapatnya.


"Hem! Bener juga sih," ujar Asmara membenarkan.


"Nah, jadi--"


Awalnya Kenzo terlihat ingin bertanya kembali kepada Asmara, tetapi hal itu dia urungkan karena ponsel miliknya berdering. Kenzo langsung mengambil ponselnya yang dia simpan di dalam kantong celananya.


Senyum di bibirnya nampak merekah ketika melihat nama ibunya yang tertera di layar ponselnya, dengan cepat dia mengangkat panggilan telepon dari ibunya tersebut.


"Halo, assalamualaikum, Bun. Ken sudah sampai dari tadi, maaf belum mengabari. Karena tadi Ken jalan-jalan dulu," ujar Kenzo secara langsung yang tidak mau membuat ibunya khawatir.


"Waalaikumsalam, syukurlah kalau kamu sudah sampai dengan selamat. Buna khawatir, soalnya kamu tidak memberikan kabar sejak tadi. Kalau begitu kamu beristirahatlah," ujar Aruna.


"Iya, Buna," jawab Kenzo.


"Oiya, Ken. Mantan istri kamu nanyain tuh," goda Aruna.

__ADS_1


"Ck! Jangan bahas dia, Bun. Dia hanya mantan istri," jawab Kenzo.


Sungguh Kenzo tidak ingin lagi berhubungan dengan Anisa, walaupun hanya lewat ponsel saja ataupun lewat orang terdekatnya.


"Iya, maaf. Kamu istirahat aja kalau gitu," ujar Aruna.


"Siap, Buna," jawab Kenzo yang langsung menyimpan ponselnya di atas meja setelah dia memutuskan sambungan teleponnya.


Saat Kenzo menyimpan ponselnya di atas meja, Asmara sempat tertegun karena melihat wallpaper yang dipasang oleh Kenzo. Di sana nampak seorang perempuan yang begitu mirip dengan dirinya.


Hanya saja wanita itu terlihat berkulit putih, cantik dan juga memiliki senyum yang begitu cerah. Berbeda dengan dirinya yang memiliki kulit hitam, terkadang untuk senyum pun terasa susah.


Asmara jadi merasa jika wanita itu adalah mantan istri dari pria itu, dia jadi takut Kenzo sengaja menahan dirinya. Karena wajahnya yang mirip dengan mantan istrinya.


"Ehm! Bos, gue balik dulu aja ya? Gue mules," ujar Asmara seraya memegangi perutnya.


Hal itu dia katakan hanya untuk alasan saja, karena nyatanya dia tidak mulas sama sekali. Dia hanya ingin segera pulang, karena tiba-tiba saja ia merasa takut.


"Ayo gue antar ke kamar mandi, ngga usah pulang dulu. Minumannya juga belum datang," ujar Kenzo yang merasa tidak ikhlas jika Asmara harus segera pulang.


Dia juga merasa kesal karena bibi tidak juga datang, padahal dia hanya meminta bibi untuk mengantarkan minum dan juga camilan.


"Gue mau pulang aja, gue janji lain kali kita akan mengobrol lagi. Tapi, kalau kita ketemu lagi, kalau ngga duitnya gue balikin aja deh."


"Ngga usah balikin, bawa aja. Tapi kita ngobrol bentar lagi," ujar Kenzo.


Dia masih mencoba untuk bernegosiasi dengan wanita itu, siapa tahu Kenzo beruntung masih bisa bersama dengan wanita itu.


"Ngga ah, gue takut tinggal berdua doang sama duda. Gue balik ya?" izin Asmara.


Kenzo ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Asmara, karena ternyata wanita itu ingin pulang bukan karena mulas. Namun, karena takut berduaan dengan dirinya.


"Ck! Walaupun gue duda, tapi gue masih ori. Belum nyelup nih burung gue," jelas Kenzo.


"Hiiih! Mana ada duda masih ori, elu pasti bercanda, Bos! gue jadi takut," ujar Asmara.


"Gue memang masih ori, mau lihat?" tanya Kenzo.


"Astagfirullah! Dasar duda gila! Mana bisa bedain mana duda ori sama yang bukan!" keluh Asmara.


"Bisa, dari bentuknya. Mau lihat ngga?" goda Kenzo.


Asmara langsung bergidig ngeri mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, gadis itu tidak menyangka jika Kenzo akan berkata seperti itu.


"Ogah! Gue balik ah, elu nyeremin, Bos." Asmara langsung bangun dan segera pergi dari rumah Kenzo.


Pria itu langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah dari Asmara, karena wanita itu benar-benar terlihat begitu lucu di matanya.


"Ya ampun! Gue lupa minta nomor ponselnya," ujar Kenzo ketika mendengar Asmara yang mulai menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2