Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 116


__ADS_3

Hari-hari yang Ayana lalui terasa lebih mudah, tentunya karena Stefano membantu semua pekerjaan Ayana. Bukan hanya untuk urusan kantor, tetapi juga untuk urusan rumah.


Karena Stefano kerap kali membantu Ayana ketika ada di rumah Sam, tetapi herannya keduanya tetap saja dekat sebagai atasan dan juga bawahan. Tidak ada perubahan sama sekali.


Tanpa terasa waktu berjalan dengan begitu cepat, satu bulan sudah Stefano bekerja sebagai asisten pribadi dari Ayana. Hari ini Stefano terlihat begitu senang karena pria itu mendapatkan gaji pertamanya.


"Anda mau ke mana, Nona?" tanya Stefano ketika melihat Ayana yang bersiap untuk keluar dari dalam ruangannya.


Wanita itu lihat membawa ponsel dan juga dompetnya, sudah dapat dipastikan jika Ayana akan pergi dalam waktu yang lumayan lama.


"Mau makan siang, aku lapar."


Ayana terlihat hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti karena Stefano langsung bangun dan berdiri tepat di hadapan wanita itu.


"Hari ini adalah hari di mana saya gajian, bagaimana kalau saya yang teraktir?" tawar Stefano.


Ayana merasa sangat senang dengan tawaran dari Stefano, tetapi dia juga merasa tidak enak hati karena harus ditraktir oleh bawahannya sendiri.


"Eh? Tidak usah, kumpulkan saja uang kamu itu. Buat biaya nikah,'' seloroh Ayana.


Ayana langsung tertawa setelah mengatakan hal itu, Stefano sudah berusia dua puluh delapan tahun. Rasanya pria itu sudah pantas memiliki seorang istri, bahkan sudah pantas memiliki seorang anak. Atau bahkan dua anak.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, Stefano langsung tersenyum kecut. Selama ini dia selalu berharap bisa bertemu kembali dengan gadis kecilnya, Stefano bahkan sampai tidak sempat mendekati wanita untuk sekedar berpacaran saja.


"Belum ada yang mau menikah dengan saya, bagaimana kalau Nona saja yang menikah dengan saya?" tanya Stefano.


Ayana yang sedang tertawa langsung menghentikan tawanya, kemudian wanita muda itu menatap Stefano dengan tatapan tajamnya.


"Jangan macam-macam!" ujar Ayana.


Stefano langsung kecewa melihat raut wajah Ayana, tetapi tidak lama kemudian pria itu berusaha untuk menetralkan perasaannya.


"Aku hanya bercanda," ujar Stefano seraya nyengir kuda.


"Ck! Kamu tuh bisa aja, ayo temani aku makan!" ajak Ayana.


"Tapi saya yang teraktir," ujar Stefano bersikukuh.


Sudah seringkali Stefano ditraktir oleh Ayana, rasanya hari ini adalah waktu yang pas untuk mentraktir Ayana. Mumpung baru gajian, ada alasan, pikirnya.


"Hem!" jawab Ayana seraya melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam ruangannya.


Tentu saja hal itu dia katakan kepada Stefano karena Ayana tidak mau berdebat lagi, lebih baik mengatakan iya, pikirnya.

__ADS_1


"Yes!" sorak Stefano.


Stefano mengikuti langkah dari Ayana yang ternyata menuju Resto yang tidak jauh dari perusahaan Siregar, setelah masuk ke Resto tersebut Ayana langsung memesan makanan yang dia suka. Begitupun dengan Stefano.


"Makanlah yang banyak, Nona. Anda sudah sangat bekerja keras," ujar Stefano.


"Aku tidak mau makan yang banyak, nanti aku ngantuk." Ayana mengucapkan basmalah baru mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Stefano hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, karena wanita itu memang jarang menghabiskan makanan yang banyak.


Makanya Stefano selalu membelikan camilan dan juga jus buah untuk wanita itu, agar Ayana tidak kekurangan asupan gizi yang masuk.


"Terserah Nona saja, yang pen--"


Stefano tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena tiba-tiba saja ada seorang pria yang dirasa tidak asing datang menghampiri Ayana.


"Moo! Kita ketemu lagi, gue udah balik dari kota C. Sekarang gue mau join sama temen gue di sini, elu apa kabar?" tanya Sandi yang tetiba saja duduk tepat di samping Ayana.


Ayana menghela napas panjang karena tiba-tiba saja Sandi datang, padahal selama satu bulan ini Ayana sudah berusaha untuk melupakan pria itu.


Stefano hanya bisa diam seraya memperhatikan raut wajah Ayana dan juga Sandi, Ayana terlihat jengah, sedangkan Sandi terlihat bahagia.


"Ck! Kenapa sih elu selalu saja datang secara tiba-tiba?" tanya Ayana.


"Kita emang ngga janji untuk ketemuan, Moo. Tapi, kebetulan gua liat elu. Jadinya gue berhenti dan buru-buru masuk karena takut elu bakal pergi," jawab Sandi.


Tentu saja Sandi merasa sangat bahagia, dengan cepat dia memberhentikan mobilnya tepat di depan resto dan mengahampiri Ayana.


"Lagian elu kenapa harus blokir nomor gue sih? Kan, jadinya gue susah banget buat hubungin elu." Sandi terlihat lesu setelah mengatakan hal itu.


Untuk sesaat Ayana terdiam, karena pada kenyataannya semenjak dia pulang dari luar negeri, dia memang memblokir nomor Sandi. Bahkan, semua akun sosial media pria itu dia blokir.


"Sorry, habisnya gue sebel sama elu!" jawab Ayana jujur.


Ayana melanjutkan kembali acara makan siangnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi, Sandi terlihat sedih mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana.


"Sebenarnya gue salah apa sih sama elu? Kenapa elu melakukan ini sama gue? Ngomong dong, Moo! Jangan diam saja, sala apa gue?" tanya Sandi.


"Pikir aja sendiri," jawab Ayana ketus.


Sandi menghela napas berat, karena Ayana selalu saja menyuruh dia memikirkan apa yang sudah dia lakukan sampai-sampai Ayana marah kepada dirinya.


''Ini nih susahnya menghadapi perempuan, semua pria dituntut menjadi cenayang untuk bisa menebak isi hati perempuan. Sayangnya gue ngga bisa," ujar Sandi lesu.

__ADS_1


Ayana menolehkan wajahnya ke arah Sandi, lalu Ayana menatap Sandi dengan tatapan tajamnya.


"Itu masalah elu!" kesal Ayana.


"Ya ampun! Elu jadi galak banget, padahal gue beneran kangen sama elu." Sandi terlihat hendak memeluk Ayana, tetapi dengan cepat Ayana menghindar.


"Ck! Kita itu bukan mahram, bisa ngga sih kalau elu nggak usah peluk-peluk gue kaya gitu?" tanya Ayana dengan kesal.


"Sorry, gue pergi aja deh. Kayaknya setiap gue deket sama elu, elu bawaannya emosi aja. Gue minta maaf kalau punya salah sama elu," ujar Sandi dengan lesu.


"Gue udah maafin, yang penting elu jangan deket-deket gue lagi." Ayana bisa saja mulutnya berkata seperti itu, tetapi hatinya benar-benar merasa sedih setelah mengatakan hal tersebut.


"Iya, iya. Gue pergi, nomor ponsel gue ngga ganti. Kalau kangen gue, jangan lupa telpon. Gue pasti seneng," ujar Sandi sebelum dia pergi.


"Ga bakal!" jawab Ayana ketus.


Sandi keluar dari Resto tersebut dengan langkah gontai, dia tidak menyangka jika semakin hari justru Sandi semakin mencintai Ayana.


"Apa gue jujur aja kalau gue suka dia? Tapi gue malu," ujar Sandi lirih sebelum dia masuk ke dalam mobil yang belum lama dia beli.


Selepas kepergian Sandi, Ayana terlihat menghela napas berat. Stefano yang melihat akan hal itu nampak menepuk-nepuk punggung tangan atasannya tersebut.


"Maaf kalau saya lancang, tetapi sepertinya anda dan juga tuan Sandi sama-sama saling menyukai. Kenapa anda tidak jujur duluan saja?" tanya Stefano dengan berat hati.


Karena nyatanya Stefano masih menyangka jika Ayana adalah gadis kecilnya, tetapi Stefano akan berbesar hati jika memang wanita yang ada di hadapannya bukanlah jodohnya.


"Ck! Aku itu perempuan, aku seperti tidak mempunyai harga diri jika mengungkapkan rasa cintaku terlebih dahulu kepada Sandi." Ayana berkata dengan begitu lirih, Stefano hanya tersenyum kecut mendengarkan hal itu.


Kini Stefano tahu kenapa Ayana selalu bersikap acuh kepada dirinya, karena ternyata wanita itu sudah memiliki pria yang dia cintai.


"Kalau memang suka nyatakan saja, ini adalah zaman modern. Mau perempuan yang menyatakannya terlebih dahulu, rasanya sama saja," ujar Stefano.


"Tetap beda, Fano. Kalau misalkan aku yang menyatakan cinta terlebih dahulu, aku takut dia menolakku. Mau ditaro di mana muka aku ini?" tanya Ayana.


Ayana masih setia menunggu untuk Sandi mengatakan cintanya terlebih dahulu kepada dirinya, karena dia tidak mau mengatakan rasa cintanya terlebih dahulu kepada pria itu.


"Tetap ada di depan, emangnya mau ditaro di mana lagi?" tanya Stefano seraya terkekeh.


"Fano! Aku serius, rasanya aku tidak akan punya muka jika menyatakan cinta terus ditolak." Ayana menghela napas berat setelah mengatakan hal itu.


"Ck! Shalat istikharah aja, minta petunjuk kepada Tuhan. Siapa tahu anda akan mendapatkan jawaban terbaik dari Tuhan," ujar Stefano.


Ayana langsung mengangguk-anggukkan kepalanya, karena apa yang dikatakan oleh Stefano adalah hal yang benar adanya.

__ADS_1


"Hem! Kamu benar, Fano. Nanti malam aku akan mencobanya, oiya. Malam ini kita lembur, karena ada kerjaan yang harus selesai malam ini juga. Jangan pulang sore!" ingat Ayana.


"Siap, Nona!" jawab Stefano yang merasa senang karena Ayana tetap profesional untuk urusan pekerjaan.


__ADS_2