Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 95


__ADS_3

Pagi ini Ayana, Ayaka dan juga Kenzo sudah bersiap untuk sekolah. Ketiga anak itu di sekolahkan di satu sekolah yang sama, hal itu sengaja Aruna lakukan agar ketiga saudara itu berada di lingkungan yang sama.


Kenzo yang baru berusia 5 tahun kini duduk di bangku TK, Ayaka yang sudah berusia sebelas tahun duduk di bangku kelas 6 SD, sedangkan Ayana duduk di bangku kelas 1 SMP.


Ketiga anak itu tumbuh menjadi putra-putri yang pandai, ketiganya terlihat begitu serius dalam belajar. Terlebih lagi dengan Ayaka, anak itu bahkan bertekad ingin mendapatkan beasiswa untuk masuk ke SMP.


Selama ini dia merasa terlalu merepotkan Sigit dan juga Aruna, dia ingin memberikan kejutan kepada kedua manusia yang sudah dia anggap sebagai orang tua itu.


"Sekolahnya yang pandai, jangan nakal!" pesan Sigit ketika Ayana, Ayaka dan juga Kenzo turun dari mobil.


"Iya, Papa!" jawab ketiganya dengan kompak.


Setelah berpamitan kepada Sigit dan mencium punggung tangan kanan pria itu, ketiga anak manusia yang terlihat begitu rupawan itu masuk ke dalam kelas masing-masing.


Sigit tersenyum senang karena ketiganya terlihat begitu akur, dia senang karena Ayana tidak cemburu ketika melihat Kenzo yang lahir dari pernikahannya dengan Aruna.


Sigit juga merasa bahagia karena Ayaka tumbuh menjadi sosok anak yang sangat baik dan juga pandai, bahkan anak itu tumbuh menjadi anak yang begitu penurut.


"Alhamdulillah mereka tumbuh dengan akur, semoga Ay akan menerima Aya jika suatu saat nanti dia tahu bahwa Aya adalah anak dari Sam dan juga Angel," doa Sigit.


Tugas Sigit untuk mengantarkan anak-anak sudah selesai, itu artinya kini dia harus pergi ke perusahaan Siregar, karena pekerjaan sudah menanti dirinya.


Untuk masalah menjemput anak-anak itu adalah tugas Aruna, Aruna akan menjemput Kenzo ketika pukul sepuluh tiba. Kenzo masih sangat kecil dan masih harus dijemput secara langsung oleh dirinya.


Berbeda dengan Ayana dan juga Ayaka, keduanya akan pulang pukul 1 siang. Akan tetapi, Aruna tidak menjemput mereka berdua. Mereka akan dijemput oleh sopir pribadi keluarganya.


Bukannya tidak sayang kepada keduanya, tetapi Ayana dan Ayaka yang meminta agar Aruna tidak usah menjemput mereka. Keduanya sepakat akan membiarkan Aruna untuk mengasuh Kenzo saja di rumah.


Karena menurut mereka berdua, Aruna sudah sangat cape mengurus kehidupan di rumah. Rasanya mereka tidak tega membiarkan Aruna kelelahan.


Beberapa saat kemudian.


Waktu terasa begitu cepat berlalu, pukul 1 siang Ayana dan juga Ayaka yang sudah melaksanakan shalat dzuhur dan terlihat bersiap untuk pulang.


Keduanya terlihat melangkahkan kaki mereka untuk keluar dari sekolah tersebut, tetapi langkah mereka terhenti ketika mereka akan keluar dari gerbang sekolah.


Ada Sam di sana, pria itu sedang berdiri seraya menatap wajah Ayana dengan penuh rindu. Ayana terdiam seraya membalas tatapan ayahnya tersebut, pria yang sebenarnya sangat dia rindukan tetapi gengsi untuk mengakuinya.


Tidak lama kemudian, Ayana menolehkan wajahnya ke arah Ayaka. Dia seolah bertanya apa yang harus dia lakukan, Ayaka tersenyum lalu dia menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Ayana seolah paham dengan kode yang diberikan oleh adiknya tersebut, dia langsung berlari dan menghambur ke dalam pelukan Sam.


"Ayah!" pekik Ayana.


Sam terlihat begitu bahagia sekali, pria itu bahkan langsung meluruhkan tubuhnya ke atas aspal. Dia merasa senang karena akhirnya putrinya mau menerima dirinya, dia merasa bahagia karena Ayana mau memanggil dirinya dengan sebutan ayah.


Melihat pemandangan yang seperti itu, bibir Ayaka memang bisa tersenyum dengan lebar. Akan tetapi, air matanya mengalir di kedua pipinya.


Cemburu?


Tentu saja Ayaka merasa begitu cemburu, dia juga adalah anak dari Sam. Dia ingin memeluk pria itu, ayah yang begitu dia rindukan.


Namun, dia tidak berani memeluk pria itu. Karena dia sangat takut semua orang akan mengetahui identitasnya. Dia belum siap dibuang oleh keluarga Aruna, cukup Angel saja yang membuang dirinya.


"Ayah sangat rindu sama Ay, bagaimana kabar Ay? Maaf karena selama ini Ayah tidak bisa menemui Ay, terima kasih karena sudah mau menemui Ayah."


Sam terlihat begitu bahagia sekali, dia bahkan terus saja memeluk Ayana. Dia juga mengecupi pipi putrinya dengan penuh kasih, bahagia sekaligus terharu.


"Ay juga rindu Ayah, Ayah jangan pergi lagi!" ujar Ayana.


"Tidak akan, Sayang. Ayah akan selalu ada untuk Ay, walaupun kita tidak bisa tinggal satu atap lagi seperti dulu," ujar Sam.


Ayaka ngusap air mata di kedua pipinya, lalu dia menghampiri Sam dan juga Ayana. Dia ikut duduk di bangku tersebut seraya menatap Sam dengan tatapan penuh rindu.


"Kamu temannya Ay?" tanya Sam.


"No, Ayah! Dia adik Ay, namanya Aya. Dia adik aku yang paling cantik," jawab Ayana.


Deg!


Mendengar nama yang disebutkan oleh Ayana, Sam teringat akan putrinya yang hilang. Putrinya yang sudah disia-siakan oleh Angel, putri yang sudah dia tinggalkan karena harus masuk ke dalam penjara dan menebus kesalahannya.


Untuk sesaat Sam terdiam, dia nampak memperhatikan wajah Ayaka dengan seksama. Walaupun wajahnya tidak dia kenali, tetapi Sam merasakan hatinya menghangat ketika menatap wajah anak itu.


Namun, satu hal yang Sam anehkan. Kenapa Ayana menyebut gadis kecil itu dengan sebutan adiknya, pikirnya.


Padahal sepengetahuannya Aruna tidak memiliki anak perempuan lain selain Ayana, justru yang Sam dengar Aruna sudah memiliki anak lelaki berusia 5 tahun dengan Sigit, bukan anak perempuan yang jaraknya terlihat begitu dekat dengan Ayana.


Akan tetapi, Sam menjadi berpikir jika Aruna pasti mengadopsi anak itu. Maka dari itu, Ayana menyebut anak itu dengan sebutan adiknya.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik, kamu mengingatkan Om kepada anak Om yang hilang." Sam tersenyum ke arah Ayaka.


Ayana yang mendengar Sam mengatakan hal itu langsung menatap wajah pria itu, Ayana menatap Sam dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan lalu berkata.


"Memangnya anak itu kenapa, Yah?" tanya Ayana yang memang tidak mengetahui kabar Ayaka.


Sam menghela napas berat mendengar pertanyaan dari Ayana, dia terdiam sesaat. Takutnya Sam salah dalam berucap, tetapi tidak lama kemudian dia berkata.


"Adik kamu hilang, Sayang. Saat Ayah di penjara dia berusaha untuk mencari Ayah dan juga bundanya, tetapi Ayah dengar adik kamu itu malah mengalami kecelakaan," jawab Sam.


Sam menceritakan hal itu dengan begitu sedih, bahkan ujung matanya terlihat berair. Sedih sekali mengetahui putrinya yang hampir mati karena tertabrak mobil, Sam bahkan tidak bisa memprediksi apakah putrinya itu masih hidup atau tidak.


Namun, Sam tidak akan putus asa. Dia akan terus mencari putrinya sampai ditemukan, walaupun tidak bisa bertemu dalam keadaan hidup, setidaknya dia ingin tahu di mana jasad putrinya jika memang sudah meninggal karena tertabrak mobil.


Bukan tanpa alasan Sam menduga hal tersebut, karena Angel berkata keadaan putrinya begitu mengenaskan setelah tertabrak mobil. Bahkan, wajahnya terlihat rusak karena tergores aspal.


"Kasihan sekali, lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Ayana yang terlihat bersimpati.


"Ayah belum tahu, Ayah sedang berusaha untuk mencarinya. Karena walau bagaimanapun juga dia adalah anak Ayah, Ayah bertanggung jawab atas dia," jawab Sam.


"Maafkan Ay kalau Ay terlalu egois," ujar Ayana yang merasa iba mendengar adik satu ayahnya kecelakaan dan hilang.


Sam tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya itu, dia benar-benar merasa sangat bahagia karena ternyata Ayana kini sudah mengerti.


"Terima kasih, doain Ayah semoga bisa secepatnya menemukan adik kamu. Ayah janji tidak akan membedakan sikap Ayah terhadap kalian," ujar Sam.


"Hem! Aku akan doakan, oiya, Ayah. Ay harus pulang, takutnya nanti buna malah nyariin. Nanti kalau Ayah kangen, Ayah temui Ay aja." Ayana memeluk Sam, lalu dia segera berlari untuk menghampiri sang sopir.


Setelah kepergian Ayana, Ayaka masih terdiam seraya menatap Sam. Sam terlihat kebingungan, tetapi tidak lama kemudian dia tersenyum dan berkata.


"Kamu kenapa belum pulang? Ay sudah mau pulang loh, dia sudah naik mobil," ujar Sam.


"Ya, aku tahu akan hal itu. Aku hanya ingin minta sesuatu sama Om, boleh ngga?" tanya Ayaka dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mau minta apa? Kalau Om bisa, pasti Om kabulkan," ujar Sam.


Untuk sesaat Ayaka terdiam, dia seolah sedang berpikir dengan apa yang akan dia pinta. Anak itu seolah sedang berpikir apakah Sam akan mengabulkan permintaannya atau tidak, tetapi tidak lama kemudian Ayaka berkata.


"Aku mau minta peluk sama Om, boleh?" tanya Ayaka dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


__ADS_2