
Kenzo tidak pernah menyangka jika dirinya akan melihat tubuh Anisa dalam keadaan polos, karena wanita itu tadinya berkata ingin buang air kecil. Bukan ingin mandi, tetapi saat Kenzo masuk Anisa malah ada dalam keadaan telanjang.
Dia sungguh tidak paham kenapa Anisa melakukan hal itu, karena walaupun Kenzo harus melihat tubuh telanjang wanita itu, Kenzo tetap saja tidak menyukai Anisa.
Bahkan, untuk menganggap Anisa sebagai adik pun dia tidak akan mau. Karena bagi Kenzo Anisa hanyalah gadis malang yang perlu dibantu, tidak lebih dari itu.
Jika mungkin lelaki lain akan berhasrat jika melihat wanita yang sedang dalam keadaan polos, itu tidak berlaku bagi Kenzo. Karena tubuh Anisa tidak menggairahkan sama sekali, justru Kenzo malah merasa mual melihat tubuh polos itu.
Dia melihat wajah Anisa yang dirasa polos, kalau dia melihat tubuh Anisa yang dalam keadaan. Hal itu justru membuat dirinya jijik, dia ingin muntah saat itu juga di hadapan Anisa.
"Kenapa kamu tidak memakai baju? Bukankah tadi kamu bilang hanya ingin buang air kecil?" tanya Kenzo tanpa berani menolehkan wajahnya ke arah wanita itu.
Wajah Anisa terlihat pias, dia bahkan nampak menutupi area dadanya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya nampak menutupi inti tubuhnya.
"Anu, Kak. Aku pake jumpsuit, jadinya kalau pipis aku harus menurunkan semua bajuku," jawab Anisa.
Kenzo nampak terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, karena pada kenyataannya itu adalah hal yang benar adanya. Wanita itu memakai jumpsuit dan pastinya Anisa akan kesulitan dalam membuka baju tersebut.
Namun, kenapa pula wanita itu harus dalam keadaan telanjang. Karena seharusnya wanita itu masih menggunakan penutup dadanya, walaupun jumpsuit yang dia pakai dia turunkan.
Kenzo merasa jika di balik apa yang Anisa katakan ada hal yang tersembunyi, tetapi Kenzo tidak bisa menuduh Anisa secara sembarangan.
"Kalau begitu cepatlah pakai baju kamu, aku akan meminta bibi untuk datang kemari dalam membantu. Aku tidak mau kalau nantinya malah akan menjadi fitnah," ujar Kenzo.
__ADS_1
Saat ini yang ingin Kenzo lakukan adalah segera pergi dari dalam kamar Anisa, dia merasa tidak sudi jika harus berlama-lama di dalam kamar itu.
Karena tiba-tiba saja dia merasa jika di dalam kamar tersebut tidak ada hawa sama sekali, terasa pengap dan membuat dirinya susah untuk bernapas.
Dia bahkan merasa jika tiba-tiba saja emosinya meluap, jika tidak mengingat Annisa adalah seorang perempuan, Kenzo pasti sudah memukul wajah wanita itu karena kesal.
Lagi pula Kenzo sempat memanggil Anisa sesaat sebelum dia membuka pintu kamar mandi, seharusnya wanita itu menyahut di panggilannya agar dia tahu jika wanita itu memang dalam keadaan polos.
"Iya, Kak," jawab Anisa dengan suara yang terdengar menyedihkan.
Namun, Kenzo seolah tidak peduli dengan Anisa. Justru saat ini dia sedang teringat akan Anaya, wanita itu sudah sepuluh jam pergi dari ibu kota. Rasanya lebih baik dia menelepon Ayaka dan menanyakan tentang wanita itu.
Karena Kenzo sempat berusaha untuk menghubungi Anaya, tetapi nomor ponsel wanita itu tidak aktif. Bahkan, saat Kenzo berusaha untuk mengirim pesan lewat akun sosial media milik Anaya malah tidak bisa.
Entah Anaya memblokir akun Kenzo atau seperti apa, yang pasti dia benar-benar tidak bisa menghubungi Anaya.
"Tolong bantu Anisa ya, Bi. Dia sedang ada di dalam kamar mandi, tolong bantu dia memakai baju juga. Takutnya dia kesusahan dalam memakai baju," ujar Kenzo.
"Siap, Den. Akan Bibi laksanakan," jawab Bibi dengan patuh.
"Bagus, aku pergi ke kamar dulu," pamit Kenzo.
Setelah berbicara dengan pelayan, Kenzo masuk ke dalam kamarnya. Lalu, dia mencari nomor ponsel Ayaka dan langsung menghubungi kakaknya itu. Tidak lama kemudian Ayaka mengangkat panggilan telepon dari Kenzo.
__ADS_1
"Ya, Ken. Ada apa?" tanya Ayaka.
Awalnya Kenzo terlihat malu-malu untuk bertanya tentang masalah Anaya, tetapi karena khawatir akhirnya dia bertanya juga kepada Ayaka.
"Ehm! Anu, Kak. Aku mau nanyain Naya, apakah sudah ada kabar?" tanya Kenzo dengan khawatir.
Karena jujur saja setelah kepergian Anaya perasaan Kenzo benar-benar gelisah, dia merasa hatinya benar-benar sakit dan separuh jiwanya seakan menghilang.
Kenzo bahkan merasa ada sesuatu hal yang akan terjadi tetapi entah apa dia tidak tahu. Namun, pria itu berusaha untuk tetap berpikir positif. Dia tetap berpikir jika Anaya kini dalam keadaan baik-baik saja.
"Belum ada kabar, Ken. Nomor ponsel bunda, ayah Surya dan juga Naya ngga bisa dihubungi. Mungkin karena sedang ada di laut, jadinya sinyalnya kadang timbul kadang menghilang."
Ayaka berbicara dengan raut khawatir, Kenzo bisa merasakan akan hal itu. Namun, dia berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya.
"Oh, gitu ya, Kak. Kalau ada apa-apa kabarin, Ken. Ken khawatir dan ingin tahu tentang keadaan Naya," ujar Kenzo.
Semoga saja Ayaka secepatnya mendapatkan kabar tentang Anaya, agar dia bisa tahu bagaimana keadaan gadis itu.
Walaupun dia dan juga Anaya terpisahkan jarak dan waktu, setidaknya dia ingin mendengar kabar jika wanita itu dalam keadaan baik.
"Ya, Ken," jawab Ayaka.
Setelah terjadi obrolan antara Ayaka dan juga Kenzo, akhirnya Kenzo terlihat mematikan sambungan teleponnya. Dia sungguh terlihat begitu gelisah, hati dan pikirannya benar-benar merasa tidak tenang.
__ADS_1
"Semoga saja kamu ada dalam keadaan baik-baik saja, semoga Tuhan selalu melindungi kamu di dalam setiap langkahmu," doa Kenzo.
Setelah mengatakan hal itu, Kenzo nampak masuk ke dalam kamar mandi. Lalu dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dia berharap dengan seperti itu akan merasa lebih tenang.