Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 61


__ADS_3

Semenjak mengetahui kehamilan istrinya, Kenzo memperlakukan Anaya dengan penuh perhatian. Walaupun dia terkadang pusing dan mual, tetapi pria itu tidak pernah mengabaikan istrinya.


Satu hal yang menjadi kebiasaan rutin untuk Kenzo, setiap pagi dia harus meminum segelas perasan jeruk lemon, karena dengan seperti itu dia akan merasa kuat selama seharian.


Walaupun demikian Kenzo merasa senang karena Anaya tidak mengalami mual dan juga muntah, justru ngidam saja Kenzo yang merasakan. Setiap malam tiba Kenzo akan terbangun dari tidurnya.


Pria itu akan mencari makanan yang terasa pedas dan juga asam, sungguh sangat aneh bukan. Namun, Kenzo merasa bersyukur bisa ikut andil dalam masa kehamilan istrinya tersebut.


Setidaknya kalau Kenzo tidak bisa menggantikan Anaya dalam hal melahirkan, setidaknya Kenzo bisa menggantikan rasa mual dan muntah yang selalu diderita oleh wanita hamil.


"Yang, buna tadi telpon. Katanya kak Ay sudah mulai kontraksi," ujar Kenzo selepas pulang bekerja.


"Eh? Iyakah?" tanya Anaya dengan binar bahagia di wajahnya.


Sebentar lagi dia akan mendapatkan keponakan baru, akan bertambah lagi anggota keluarganya. Tentunya Anaya merasa senang.


"Iya," jawab Kenzo.


Mengingat jika dirinya akan mendapatkan keponakan baru, Anaya jadi ingin pulang ke ibu kota. Dia juga ingin menghabiskan waktu di ibu kota untuk jalan-jalan, tentunya ingin berburu kuliner juga.


''Aku mau pulang ke ibu kota, aku mau lihat babynya kak Ay," ujar Anaya.


Kenzo terkekeh mendengar penuturan dari istrinya, Ayana baru mengalami kontraksi, tetapi istrinya begitu antusias ingin bertemu dengan keponakan mereka yang belum lahir.


"Beneran cuma mau ketemu sama keponakan baru kita yang sebentar lagi akan launching?" tanya Kenzo.


"Kangen yang lainnya juga, kangen kakek Satria sama kangen jajan," jawab Anaya.


"Oke, kita berangkat sekarang juga. Kita akan ambil pemberangkatan selepas maghrib," ujar Kenzo.


"Terima kasih, Sayang." Anaya langsung memeluk Kenzo dan memberikan ciuman yang begitu mesra.


Tentu saja dengan cepat pria itu membalas ciuman dari istrinya tersebut, jika saja bukan mau pulang ke ibu kota, rasanya Kenzo ingin menghabiskan waktu sore itu dengan bercinta.


"Sudah, Yang. Sekarang kamu rapikan dulu apa yang mau dibawa, untuk baju ngga usah bawa. Gampang kalau itu, aku mau mesan tiket online aja biar cepet," ucap Kenzo.


"Ya, Sayang," jawab Anaya.


Beberapa saat kemudian.


Kenzo dan juga Anaya kini sedang berada di dalam pesawat, keduanya terlihat begitu senang karena sebentar lagi akan bertemu dengan keluarga besar mereka.


Tentunya sebelum pergi Kenzo menelpon Aman terlebih dahulu, dia menitipkan perusahaannya kepada sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


"Sudah siap bertemu dengan keluarga baru kita?" tanya Kenzo.


"Sudah dong, aku mau langsung ke rumah sakit. Mau lihat baby kak Ay," ucap Anaya antusias.

__ADS_1


"Tapi, Sayang. Kita sampainya malam loh, lagian baby-nya kak Ay belum lahir juga. Tadi sore katanya baru kontraksi palsu aja," ucap Kenzo.


Bukannya dia tidak mengizinkan istrinya untuk menunggu Ayana yang akan melahirkan, tetapi nyatanya istrinya juga sedang mengandung. Bahkan, usia kandungan Anaya baru menginjak enam belas minggu.


Butuh waktu untuk istirahat banyak, tidak boleh begadang apalagi sampai kelelahan. Kenzo tentunya sangat mengkhawatirkan keadaan Anaya dan juga calon buah hati mereka.


"Ya udah, nanti kita pulangnya ke rumah buna aja. Tapi, Yang. Aku ngga mau pulang pake taksi," ujar Anaya.


Di zaman sekarang ini banyak sekali kejahatan, Anaya tidak mau sampai terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Karena pastinya dia dan juga Kenzo akan tiba di bandara saat tengah malam tiba.


"Santai aja, Sayang. Tadi sebelum berangkat aku sudah ngomong sama papa, jadi nanti sekiranya kita akan sampai, sopir akan menjemput kita," jawab Kenzo.


"Alhamdulillah, aku bisa lebih tenang sekarang." Anaya tersenyum lalu memeluk lengan suaminya.


Setelah terjadi obrolan singkat antara Kenzo dan juga Anaya, akhirnya keduanya nampak berusaha untuk tidur. Perjalanan menuju ibu kota memerlukan waktu sampai hampir enam jam.


Alangkah baiknya jika mereka menggunakan waktu selama enam jam itu untuk tidur di pesawat, agar tiba di bandara nanti nanti mereka sudah merasa lebih segar.


Pada pukul satu malam Kenzo tiba di bandara Soetta, sopir pribadi yang ditugaskan oleh Sigit untuk menjemput Kenzo tentunya sudah menunggu mereka di sana.


"Silakan masuk, Tuan, Nyonya muda," ujar Pak sopir seraya membukakan pintu mobil.


"Terima kasih," ujar Anaya yang langsung masuk ke dalam mobil. Begitupun dengan Kenzo.


Setelah memastikan Kenzo dan juga Anaya duduk dengan nyaman, pak sopir langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Aruna.


Tiga puluh menit kemudian keduanya sudah tiba di kediaman Aruna, saat Kenzo dan Anaya masuk ke dalam rumah tersebut, ternyata Sigit dan juga Aruna ada di sana dan sedang menunggu kedatangan keduanya.


Kenzo dengan cepat menghampiri Aruna dan juga Sigit, karena dia ingin memeluk kedua orang tuanya tersebut. Namun, nyatanya taruna dan Sigit malah menghampiri Anaya.


Keduanya nampak memeluk Anaya secara bergantian, bahkan Aruna dan juga Sigit tanpa ragu langsung mengelusi perut Anaya yang mulai membuncit.


"Bagaimana kabar kamu, Sayang?" tanya Aruna.


"Bagaimana kabar calon cucu Papa, Sayang?" timpal Sigit.


"Sangat baik, kenapa kalian masih bangun?" tanya Anaya.


"Kami sudah tidur, tapi memang kami meminta pak sopir untuk menelpon kalau kalian sudah tiba di bandara," jawab Sigit.


"Kami sangat rindu," timpal Aruna yang kembali memeluk Anaya dengan penuh kasih.


Kenzo yang melihat perlakuan kedua orang tuanya terhadap istrinya merasa iri, dengan cepat dia menghampiri kedua orang tuanya dan melayangkan protesnya.


"Bun, Pa. Aku anak kandung kalian loh! Kok aku ngga disapa? Aku kok ngga disayang?" tanya Kenzo.


"Oh ya ampun! Maaf, Sayang." Aruna langsung memeluk Kenzo.

__ADS_1


Walaupun dengan bibir yang cemberut tetapi Kenzo dengan cepat membalas pelukan dari ibunya tersebut, pelukan seorang ibu yang begitu dia rindukan.


"Ken kangen Buna," ujar Kenzo.


"Sama Papa, ngga?" tanya Sigit seraya menepuk pundak putranya tersebut.


Kenzo mengurai pelukannya bersama dengan ibunya, lalu dia dengan cepat menghambur ke dalam pelukan sang ayah.


"Ken juga kangen Papa, kalian apa kabar?" tanya Kenzo.


"Walaupun usia kami semakin tua, tetapi kalian tidak usah khawatir. Kami baik-baik saja," jawab Sigit seraya terkekeh.


"Iya, aku percaya. Lalu, bagaimana keadaan kak Ay?" tanya Kenzo seraya mengurai pelukannya bersama dengan sang ayah.


Sigit menuntun Kenzo untuk duduk di atas sofa, Aruna juga melakukan hal yang sama. Dia menuntun menantunya untuk duduk di atas sofa agar tidak pegal.


"Katanya masih kontraksi palsu, sekarang masih di rumahnya. Nanti kalau kontraksinya sudah sering, Ay akan pergi ke rumah sakit," jawab Sigit.


"Semoga saja bisa melahirkan dengan lancar," ujar Anaya.


"Aamiin!" ucap semua yang ada di sana.


"Oiya, Ken. Bagaimana kalau misalkan kita ngadain syukuran empat bulanan saja, mumpung kalian ada di sini. Sekalian sama akikahnya anaknya Ay kalau lahir nanti," usul Aruna.


"Boleh, Bun. Atur aja," jawab Kenzo.


Kedua orang tuanya terlihat begitu antusias dengan kehamilan Anaya, rasanya itu merupakan hal yang bagus juga jika harus mengadakan acara syukuran.


"Buna senang karena kalian setuju, nanti--"


Aruna tidak melanjutkan ucapannya, karena dia melihat ponsel miliknya berdering. Dengan cepat dia mengambil ponselnya dan langsung mengangkatnya karena panggilan tersebut ternyata dari Sandi.


"Assalamualaikum, Bun. Ay sudah aku bawa ke rumah sakit, sudah pembukaan delapan. Sekarang Ay lagi dipindahkan ke ruang bersalin," ujar Sandi dengan napas terengah-engah.


"Waalaikumsalam, Buna sama Papa langsung nyusul," jawab Aruna seraya memutuskan sambungan teleponnya.


Anaya yang mendengar jika Ayana akan melahirkan terlihat begitu antusias, dia bahkan langsung memeluk lengan Aruna dan berkata.


"Naya ikut," ucap Anaya dengan memohon.


"Dengarkan Buna, Sayang. Buna bakal pergi sama Papa, kamu sama Ken di rumah aja dulu. Pagi selepas sarapan pergilah ke rumah sakit dengan Ken untuk menjenguk keponakan kalian, ini masih malam," ujar Aruna.


Anaya juga sangat sadar jika ini masih malam, tetapi dia sangat penasaran ingin melihat Ayana melahirkan. Padahal, walaupun dia pergi ke rumah sakit, Anaya tidak akan diperbolehkan untuk menunggui Ayana yang akan melahirkan.


"Hem!" jawab Anaya dengan lesu.


Kenzo langsung merangkul pundak istrinya, lalu dia memeluk dan mengusap punggung istrinya tersebut.

__ADS_1


"Jangan lesu kaya gitu dong, Yang. Kan' ada aku," ujar Kenzo.


"Iya, Sayang," jawab Anaya.


__ADS_2