Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 62


__ADS_3

Pagi harinya Anaya dan juga Kenzo datang ke rumah sakit dengan tidak sabar, selepas sarapan keduanya terlihat bersemangat untuk menemui keponakan mereka yang terlahir dengan jenis kelamin perempuan.


Ya, Ayana melahirkan baby perempuan dengan berat tiga koma dua puluh empat kilogram. Baby cantik yang wajahnya begitu mirip dengan Sandi, baby itu terlahir pukul tiga dini hari.


"Mana keponakan aku?" tanya Anaya ketika dia masuk ke dalam ruang perawatan Ayana.


Ayana langsung menggelengkan kepalanya karena adik iparnya itu terlihat begitu tidak sabar, begitupun dengan Aruna dan juga Sigit, mereka merasa lucu karena Anaya seperti seorang kakak yang ingin menemui adik kecilnya.


"Sedang tidur, dia baru saja menyusu." Ayana tersenyum setelah mengatakan hal itu.


Enam tahun menikah dengan Sandi, akhirnya dia bisa mendapatkan keturunan. Itu benar-benar hal yang begitu membahagiakan, walaupun bukan seorang keturunan laki-laki, tetapi dia tetap bahagia bersama dengan sang suami.


Satu hal yang lebih membahagiakan lagi di dalam hidupnya, Sandi tidak pernah mengatakan apa pun tentang dirinya yang begitu kesulitan hamil.


Justru, pria itu selalu saja mendukung Ayana. Pria itu selalu saja memberikan dirinya semangat, bahkan Ayana yang merasa insecure karena tidak kunjung hamil pernah meminta Sandi untuk menikah kembali.


Beruntung Sandi menolak, pria itu berkata untuk mendapatkan Ayana saja begitu kesulitan. Tidak mungkin dia menyia-nyiakan berlian yang sudah dia dapatkan, hati Ayana sangat tersentuh sekali.


Ayana merasa tidak salah karena sudah menikah dengan Sandi, pria yang sejak lama dia cintai. Pria yang ternyata juga mencintai dirinya tetapi tidak mampu mengungkapkannya.


"Aih! Padahal aku mau gendong," ujar Anaya yang langsung melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah boks bayi tempat di mana baby Ayana tertidur dengan begitu pulas.


Anaya menatap wajah baby mungil dengan wajah kemerahan di dalam box bayi, dia tersenyum-senyum seraya membayangkan jika dirinya nanti melahirkan. Pasti rasanya akan sangat bahagia memiliki keturunan dari orang yang dia cintai.


"Gendong aja, ngga apa-apa." Aruna mengelus lembut lengan menantunya tersebut.


"Oke, Bun," jawab Anaya dengan senang.


Dengan penuh kehati-hatian Anaya menggendong baby mungil itu, Kenzo langsung menghampiri istrinya dan mengelus lembut pipi keponakannya itu dengan ibu jarinya.


"Dia sangat cantik, siapa namanya?" tanya Kenzo.


"Namanya Arselin," jawab Sandi.


"Nama yang cantik," ujar Kenzo.


Cukup lama Anaya menggendong bayi mungil itu, Kenzo juga ikut menggendong bayi mungil itu. Di saat mereka sedang asyik mengagumi makhluk ciptaan tuhan itu, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu dan membukanya.


"Assalamualaikum, Nisa sama Sofyan dateng. Boleh nengok keponakan cantik aku, nggak?"

__ADS_1


Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut nampak menolehkan wajah mereka ke arah pintu ruangan tersebut, di sana terlihat ada Anisa bersama dengan Sofyan.


Anisa bahkan terlihat membawa kado yang sudah dia siapkan untuk baby mungil Ayana, wajah wanita itu terlihat sumringah dengan perutnya yang semakin membesar.


"Masuklah, Sayang. Sini," ujar Aruna seraya mengayunkan tangannya.


"Terima kasih, Buna."


Anisa dan juga Sofyan langsung menghampiri Aruna, lalu dia memeluk wanita itu dan juga memeluk Ayana dan Anaya. Setelahnya dia mencium punggung tangan Sigit dan juga Sandi, Kenzo rasanya melihat perubahan dari Anisa.


Berbeda dengan Sofyan, pria itu langsung bersalaman dengan Kenzo, Sandi, Sigit dan semua yang ada di sana.


"Apa kabar, Ken?" tanya Anisa.


"Baik, kamu di sini?" tanya Kenzo.


"Iya, sudah satu minggu aku berada di sini. Sofyan dipindah tugaskan ke ibu kota," jawab Anisa.


"Oh, syukurlah. Jadi kalau kalian mau pulang kampung lebih dekat," ujar Kenzo.


"Heem!" ujar Anisa.


"Alhamdulillah baik, kami sudah melakukan USG dan kata dokter bayi yang aku kandung berjenis kelamin laki-laki. Aku senang, Ken," ujar Anisa dengan begitu antusias.


Kenzo ikut merasa senang melihat kebahagiaan di wajah wanita itu, dia melihat kebahagiaan yang besar tanpa kepura-puraan. Tidak seperti dulu, kini Anisa terlihat benar-benar berubah.


Cukup lama Anisa berada di dalam ruang perawatan Ayana, dia bahkan menggendong bayi mungil milik Ayana secara bergantian bersama dengan Sofyan.


Lalu, mereka memutuskan untuk pergi karena memang Anisa ingin segera pulang. Ingin menata rumah baru yang belum lama dia beli bersama dengan Sofyan, dia ingin membuat rumah itu benar-benar nyaman untuk dirinya dan juga suaminya.


"Menurut kamu, kamar utamanya udah bagus belum?" tanya Sofyan ketika mereka masuk ke dalam kamar utama.


"Sangat bagus," jawab Anisa yang merasa suka saat melihat dekorasi kamar utama mereka.


Selama satu minggu berada di ibu kota, keduanya begitu sibuk membenahi rumah baru mereka. Keduanya begitu sibuk membeli barang-barang untuk melengkapi dan memperindah rumah baru mereka.


"Kalau begitu mari kita uji kenyamanannya dan juga keamanan kasur barunya," ujar Sofyan.


"Caranya?" tanya Anisa.

__ADS_1


Sofyan tidak banyak berbicara, dia langsung mengunci pintu kamar utama dan kembali untuk mendekati istrinya.


"Kok kamarnya dikunci?" tanya Anisa.


"Yang, selama satu minggu ini kita sibuk banget loh. Sibuk pindahan ke rumah baru dan sibuk menata rumah baru kita, jadi ini saatnya untuk kita bersenang-senang terlebih dahulu."


Anisa sungguh kebingungan dengan ucapan Sofyan yang terdengar ambigu, mereka memang begitu lelah dan juga sibuk karena mengurusi rumah baru mereka.


Namun, Anisa benar-benar tidak paham mendengar ucapan dari Sofyan. Bagaimana bisa mereka bersenang-senang dengan hanya berdiam diri di dalam kamar saja, pikirnya.


"Bersenang-senang seperti apa? Loncat-loncat di atas kasur?" tanya Anisa.


"Bukan dong, Yang."


Sofyan terlihat begitu gemas mendengar apa yang dikatakan oleh Anisa, dia membuka hijab yang dipakai oleh istrinya. Lalu, pria itu menurunkan resleting gamis yang dipakai oleh istrinya.


"Kamu mau ngajarin aku pergi lagi? Kamu mau aku pakai baju apa?" tanya Anisa yang masih belum nyambung dengan apa yang diinginkan oleh suaminya.


"Ngga usah pake baju, Yang. Karena kita akan bersenang-senang di atas tempat tidur," ujar Sofyan yang langsung menyesap ujung dada istrinya yang semakin montok saja.


Pria itu terlihat begitu lihai sekali, karena ternyata dengan waktu sebentar saja bisa membuat istrinya polos tanpa sehelai benang pun.


"Aduh, Yang." Anisa benar-benar merasa kaget karena tiba-tiba saja Sofyan bermain dengan dadanya.


Sofyan nampak tidak sabaran menyesap ujung dada istrinya secara bergantian, bahkan tangan kirinya nampak turun untuk mengusap perut istrinya dengan penuh kasih.


"Aku pengen banget, Yang. Udah satu minggu loh ngga dapet jatah," ujar Sofyan seraya menatap wajah istrinya dengan lekat.


"Lakukanlah, Sayang." Anisa tersenyum lalu membantu suaminya untuk membuka pakaian yang dikenakan oleh pria itu.


"Yes, aku suka. Kamu memang sangat pengertian, Sayang."


Sofyan langsung menuntun istrinya untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu dia naik ke atas tunggu istrinya dan mengungkung pergerakan istrinya tersebut.


"Sudah siap, belum?" tanya Sofyan yang langsung mengecupi leher jenjang istrinya.


"Ah! Siap, Yang." Anisa mulai mendessah karena Sofyan mulai mengusap-usap milik wanita itu.


Bahkan, tangan pria itu dengan lihainya bermain dengan daging kecil yang ada pada inti tubuh Anisa. Pria itu sangat pandai mencari titik lemah dari istrinya tersebut.

__ADS_1


"Kalau begitu bersiaplah untuk meneriakan namaku," ujar Sofyan yang langsung menyatukan tubuh mereka.


__ADS_2