
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, semua siswa dan juga siswi sudah berkumpul di depan Villa untuk pergi ke Candi Prambanan. Mereka akan pergi untuk mempelajari sejarah kebudayaan yang ada di tanah air.
Saat Kenzo melihat Anaya yang bersiap untuk naik bis, jantung Kenzo berdebar dengan begitu cepat. Dia takut jika Anaya akan marah kepada dirinya, dia takut jika wanita itu tidak akan mau lagi duduk di dekat dirinya.
Namun, perkiraan Kenzo salah. Saat semua siswa dan juga siswi masuk ke dalam bis, Anaya tetap duduk di samping Kenzo. Wanita itu tidak berusaha untuk menghindari Kenzo.
Hanya saja Anaya terlihat lebih banyak diam, tetapi jika pandangan mata mereka bertemu, baik Kenzo ataupun Anaya akan tersenyum dengan hangat.
Saat tiba di Candi Prambanan, semua siswa dan juga siswi sibuk mencatat tentang sejarah terbentuknya Candi Prambanan tersebut. Kenzo dan juga Anaya melakukan hal yang sama, sesekali mereka akan saling mencuri pandang.
"Mau foto bareng ngga?" tanya Kenzo ketika guru memperbolehkan mereka untuk beristirahat dan berfoto bersama dengan para sahabat ataupun dengan para guru.
"Boleh," jawab Anaya.
Keduanya sama-sama mengeluarkan ponselnya, lalu mereka berfoto bersama dengan ponsel milik mereka secara bergantian. Selepas itu tidak ada lagi obrolan di antara keduanya.
Pukul dua siang para siswa dan juga siswi pergi menuju pantai Parangtritis, pukul tiga lewat lima belas menit mereka sudah sampai di Pantai tersebut.
Untuk yang beragama muslim terlihat melaksanakan salat ashar terlebih dahulu, setelah itu mereka asyik bermain di pantai.
Kenzo ingin sekali bermain air dengan Anaya, tetapi gadis itu malah bermain air bersama dengan teman-teman wanita yang lainnya.
Kenzo hanya bisa tersenyum selain memperhatikan wanita itu, hingga saat matahari terbenam tiba, Kenzo tanpa malu menghampiri Anaya dan mengajak wanita itu untuk menikmati indahnya matahari terbenam.
Bahkan, Kenzo mengabadikan momen kebersamaan mereka lewat video. Anaya tidak menolak ajakan dari pria itu, justru dia terlihat lebih riang daripada biasanya.
"Terima kasih," ujar Kenzo.
"Hem!" jawab Anaya.
Selama mereka berada di kota Jogjakarta, keduanya nampak dekat walaupun tidak begitu sering berinteraksi. Hingga acara tour selesai, barulah mereka berpisah karena harus pulang ke kediaman masing-masing.
Tidak ada ucapan perpisahan yang dikatakan oleh Kenzo kepada Anaya, keduanya nampak sibuk mengambil barang-barang milik mereka dan juga mengambil oleh-oleh yang sudah dibeli untuk diberikan kepada keluarga mereka.
Saat tiba di kediaman Sigit, Kenzo begitu kaget karena tiba-tiba saja ada Ayaka yang datang dan langsung memeluk pria itu.
__ADS_1
"Ken! Kakak udah lama nunggu, kata Buna kamu beli banyak oleh-oleh, ya? Kakak mau minta semua," ujar Ayaka.
Kenzo sampai mengerjapkan matanya dengan tidak percaya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ayaka, karena tidak seperti biasanya Ayaka berkelakuan seperti itu.
Ayaka memang terlihat begitu menyayangi dirinya, tetapi jarang sekali Ayaka berlari dan langsung memeluk dirinya seperti itu. Tingkah dari Ayaka sudah seperti Alice saja.
Sebelum pulang Kenzo memang membeli banyak oleh-oleh khas Jogjakarta, dia membeli mamahke khas Jogja, bakpia, yangko makanan khas Jogja yang terbuat dari tepung ketan dengan isi kacang cincang dengan cita rasa manis dan kenyal.
Kenzo juga membeli geplak, bahkan pria itu membeli gudeg kering karena Aruna memesan makanan khas Jogja itu.
"Ken, mana oleh-olehnya?" tanya Ayaka seraya melerai pelukannya.
"Ada, Kak. Di dalam bagasi mobil, nanti juga dibawa sama sopir. Ayo masuk," ajak Kenzo.
"Ngga ah, Kakak mau langsung ambil ya? Soalnya Kakak mau langsung nemuin Naya juga, Kakak mesen tas dengan ukiran batik sama dia." Ayaka terkekeh setelah mengatakan hal itu.
Ya, kemarin Ayaka menelpon adiknya itu. Dia meminta dibelikan tas dengan motif batik kepada Anaya, Anaya sampai harus berputar-putar mencari apa yang diinginkan oleh Ayaka.
"Ya ampun!" ujar Kenzo seraya menggelengkan kepalanya.
"Boleh ya, Ken? Kakak ambil jatah Kakak duluan," ujar Ayaka yang langsung menghampiri pak sopir dan memintanya untuk mengambilkan oleh-oleh untuk Ayaka.
"Ken, terima kasih!" teriak Ayaka.
Kenzo hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, dia merasa lucu karena setelah mendapatkan oleh-oleh yang Ayaka inginkan, wanita itu langsung pulang menggunakan mobil miliknya.
"Ya, Kak!" ujar Kenzo seraya melambaikan tangannya ketika melihat Ayaka mulai melajukan mobilnya.
Sesuai dengan apa yang dia katakan, Ayaka pergi ke kediaman Angel untuk meminta oleh-oleh yang sudah dia pesan kepada adiknya.
Setelah mengetahui jika Kenzo dan juga Anaya akan pulang dari Jogja, selepas shalat dzuhur Ayaka sengaja langsung menemui Kenzo, lalu kini dia menemui adiknya.
"Naya! Pesanan Kakak mana?" tanya Ayaka ketika dia masuk ke dalam kediaman Angel.
"Ya ampun, Sayang. Jangan teriak-teriak, sini duduk sama Bunda." Angel menuntun Ayaka untuk duduk di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
"Bunda ih! Aku mau ketemu Naya," keluh Ayaka.
"Nanti dulu, Sayang. Naya baru saja beristirahat, sepertinya dia masuk angin karena kecapean. Nanti Bunda cariin oleh-oleh yang kamu pesankan itu," ujar Angel.
"Tapi, Bun. Aya--"
"Sayang, dengarkan Bunda. Bunda mau bicara," ujar Angel yang langsung menahan pundak Ayaka yang hendak bangun untuk menemui Anaya.
"Ada apa, Bun? Kenapa Bunda terlihat begitu serius?" tanya Ayaka yang mulai menyadari perubahan raut wajah ibunya.
"Ibu mau pindah ke kampung halaman ayah Surya, rumah ini juga mau ibu jual. Karena adik kamu ingin sekolah kedokteran, apakah kamu ikhlas jika hasil penjualan rumah ini ibu pakai untuk biaya kuliah adik kamu?" tanya Angel.
Ayaka tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, dia tahu kenapa Angel mengatakan hal itu. Rumah itu adalah rumah yang dibeli oleh Sam, Sam berkata jika rumah itu untuk Ayaka dan juga Angel.
Itu artinya ada bagian Ayaka dari rumah itu, ada uang milik Ayaka jika memang Angel menjual rumah pemberian dari Sam itu.
"Begini saja, Bun. Jika rumah ini dijual, itu artinya ada hak aku di sini. Bunda kasih aja dulu uangnya ke aku, karena yang namanya hak seseorang itu sangatlah berat tanggung jawabnya. Untuk biaya kuliah Naya, aku akan memberikan uang tabunganku," tutur Ayaka.
"Sayang, terima kasih," ujar Angel yang merasa jika putrinya itu sangatlah pengertian.
Sebenarnya Surya tidak meminta Angel untuk membiayai pendidikan putrinya, Anaya. Karena Surya berencana akan menjual aset miliknya yang ada di kampung halamannya.
Namun, ternyata Anaya berkata jika dia ingin kuliah di kampung saja. Akhirnya Angel berpikir untuk menjual rumah yang selama ini dia tempati, rumah itu berada di kompleks perumahan elite. Sudah dapat dipastikan jika harganya pasti sangat mahal.
Tentunya hasil penjualan rumah itu bisa cukup untuk Anaya mengenyam pendidikannya, sisanya bisa Angel gunakan untuk membuka usaha di kampung halaman Surya nanti.
Namun, masalahnya rumah itu bukan miliknya sendiri. Karena Sam pernah berucap jika rumah itu sudah dia berikan untuk Angel dan juga Ayaka, putrinya.
"Ehm! Bun, bagaimana kalau rumah ini aku aja yang beli? Uang tabungan aku dari bagi hasil Resto yang dulu dipegang tante Aruna sepertinya lebih dari cukup," ujar Ayaka memberi solusi.
"Tapi, Sayang. Bukankah dulu kamu--"
"Aku sudah berdamai dengan masa lalu, Bun. Aku mau membeli rumah ini, tapi bukan berarti harus aku tinggali. Bisa saja buat investasi bukan," ujar Ayaka.
"Kamu benar, terima kasih sudah mempermudah jalan Naya untuk menimba ilmu. Maaf, dulu di saat kamu butuh Bunda, tapi--"
__ADS_1
"Ngga usah dibahas lagi, Bun. Yang lalu biarlah berlalu, Aya sudah ikhlas," ujar Ayaka pada akhirnya.
Angel benar-benar merasa terharu, dia langsung memeluk putrinya itu dengan penuh kasih. Putri yang dulu pernah dia sia-siakan, tetapi kini putri cantiknya itu sangatlah mandiri dan juga pengertian.