Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 24


__ADS_3

Aruna terus saja menangisi nasibnya yang dirasa tidak beruntung, sampai-sampai wanita itu tertidur karena begitu kelelahan menangis. Dia bahkan melupakan makan malamnya, karena dia terlalu kecewa dengan Sam.


Aruna tertidur sambil duduk di atas sofa, hingga tidak lama kemudian dia mendengar jeritan Ayana dan juga suara babysitter yang menggedor-gedor pintu kamarnya dengan begitu kencang.


"Nyonya, bangun. Tolong saya, Ay panas. Udah gitu dari tadi nangis mulu, saya harus bagaimana?" tanya Encus.


Aruna yang mendengar akan hal itu langsung berlari untuk membukakan pintu kamarnya, dia melihat encus yang sedang menggendong Ayana. Baik encus ataupun Ayana nampak menangis, Aruna menjadi sedih dibuatnya.


"Ay kenapa, Encus?" tanya Aruna.


"Panas, Nya. Ay panas, aku jadi ikut sedih." Encus nampak menangis seraya mendekap tubuh Ayana.


Encus adalah babysitter yang mengurus Ayana sejak lahir, wajar saja jika wanita itu ikut bersedih ketika melihat Ayana sakit.


"Apa Sam dan mom belum pulang?" tanya Aruna.


"Belum," jawab Encus.


Mendengar jawaban dari encus, Aruna langsung mengambil tas miliknya lalu dia mengambil alih Ayana dari gendongan encus dan hendak pergi ke rumah sakit.


"Nyonya, aku ikut," pinta Encus.


"Ngga usah, nanti kalau Sam dan mom pulang tolong suruh menyusul ke rumah sakit,'' jawab Aruna.


''Iya, Nyonya," jawab Encus dengan sedih.


Aruna dengan cepat membawa Ayana ke rumah sakit, karena dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk terhadap putrinya tersebut.


Saat tiba di rumah sakit dia langsung masuk ke dalam ruang UGD, dia langsung membaringkan tubuh mungil putrinya di atas ranjang pasien dan menghampiri dokter yang ada di sana.


"Dok! Tolong putri saya,''' pinta Aruna.


"Akan segera saya periksa, silakan Ibu tunggu di luar," pinta Dokter.

__ADS_1


Awalnya Aruna anda keluar untuk menunggu sesuai dengan keinginan dari dokter, tetapi Ayana terus saja menangis dan tidak mau ditinggalkan. Pada akhirnya dokter memperbolehkan Aruna untuk menemani putrinya.


"Bagaimana, Dok?" tanya Aruna setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan.


"Sepertinya putri anda terkena tifus, tapi ini hanya dugaan awal saja. Saya akan melakukan tes darah, sambil menunggu hasilnya saya akan memindahkan putri anda ke ruang perawatan," jawab Dokter.


Lemas sekali rasanya tubuh Aruna mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, karena dia merasa jika Ayana sangatlah apik dalam mengkonsumsi makanan.


Minuman yang masuk ke dalam tubuh putrinya pun selalu dia perhatikan, lalu kenapa putrinya itu bisa terkena tifus, pikirnya. Atau mungkin selama berada di sekolah Ayana jajan sembarangan, pikirnya lagi.


"Iya, Dok," ujar Aruna dengan wajah bingungnya.


Tidak lama kemudian Ayana dipindahkan ke dalam ruang perawatan, Ayana nampak tertidur, tetapi dia tidak tidur dengan pulas. Wajahnya bahkan terlihat gelisah.


"Maafkan, Buna, Sayang. Karena terlalu sibuk dengan kesedihan, malah lupa tidak memperhatikan kamu." Aruna mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh kasih dan juga penuh penyesalan.


Aruna bahkan langsung menangis ketika melihat jarum infus menancap di tangan putrinya, jika saja bisa rasanya Aruna ingin menggantikan rasa sakit yang diderita oleh putrinya tersebut.


"Dasar Sam brengsek!" kesal Aruna.


"Sayang, Mom pergi ke puncak bersama teman. Maaf karena Mom tidak bisa pulang, besok sore Mom sudah pulang."


Aruna benar-benar merasa sedih karena di saat seperti ini dia malah sendirian, Aruna lalu menekan nomor ponsel suaminya. Dia berusaha untuk menelepon pria yang saat ini sedang dia benci itu.


Sayangnya, setelah berkali-kali dia menelpon suaminya. Panggilan teleponnya selalu tidak diangkat, Aruna menjadi geram dibuatnya.


"Sepertinya aku bisa melihat apa yang dilakukan oleh Sam, jika dia memang berada di rumah Angel."


Ya, kamera CCTV yang dipasang oleh Aruna dan juga Arin, langsung terhubung dengan ponselnya. Hal itu memang sengaja dia lakukan agar bisa dengan mudah melihat apa yang dilakukan oleh Sam bersama dengan Angel.


Aruna membuka rekaman CCTV melalui ponselnya dengan hati yang berdebar dengan begitu kencang, tidak lama kemudian matanya langsung membulat dengan sempurna. Bahkan, bibirnya terlihat menganga dengan lebar.


"Ya Tuhan!" ujar Aruna dengan tubuhnya yang seakan begitu lemas.

__ADS_1


Bagaimana dia tidak merasa lemas, jika saat ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Sam dan juga Angel sedang bercinta dengan penuh gairah.


"Sepertinya sudah tidak akan ada maaf lagi untuk kamu, Sam." Aruna mengusap air matanya yang terus saja mengalir di kedua pipinya.


Dia mematikan ponselnya lalu keluar dari dalam ruang perawatan milik putrinya, dia takut akan membangunkan putrinya karena terus saja menangis di sana.


Aruna memilih untuk duduk di bangku tunggu yang ada di depan ruang perawatan milik putrinya, tubuhnya bergetar dengan begitu hebat. Mulutnya dia bekap dengan kedua telapak tangannya. Air matanya mengalir dengan deras.


"Kak Aruna! Sedang apa kamu di sini?"


Mendengar ada orang yang menyebut namanya, Aruna berusaha untuk menghentikan tangisannya. Dia langsung menolehkan wajahnya ke arah suara.


"Sagara! Kamu ngapain di sini?" tanya Aruna.


"Ya ampun! Aku bertanya kepada Kakak, tapi Kakak malah balik nanya. Aku mengantar adik kembarku bersama ayah dan bunda, Kakak ngapain?" tanya Sagara.


"Ay sakit, dia panas. Kata dokter kemungkinan Ay tifus," jawab Aruna.


"Ay siapa?"


"Putriku, usianya 5 tahun. Dia sangat cantik," jawab Aruna.


"Kalau begitu antarkan aku untuk menemui Ay, aku ingin bertemu dengan putri Kakak." Sagara tersenyum hangat seraya menggenggam tangan Aruna.


Aruna tersenyum seraya menundukkan wajahnya, dia menatap tangan Sagara yang menggenggam tangannya. Rasanya di saat dia bersedih seperti ini, Sagara mampu menjadi obat yang ampuh untuk mengobati luka hatinya.


''Boleh, ayo ki--"


Aruna tidak melanjutkan ucapannya, karena tiba-tiba saja ada seorang pria paruh baya yang menghampiri Sagara dan juga Aruna. Pria paruh baya itu langsung menepuk pundak Sagara dan bertanya kepadanya.


"Putri siapa yang ingin kamu temui Saga?"


Aruna langsung mendongakkan kepalanya, lalu dia menatap pria paruh baya itu dengan begitu lekat. Baik Aruna ataupun pria paruh baya itu nampak terdiam, mereka benar-benar kaget karena saat mereka saling tatap, mereka seakan melihat bayangan wajah masing-masing.

__ADS_1


"Siapa dia, Saga? Siapa wanita ini?" tanya pria paruh baya itu.


"Dia--"


__ADS_2