Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 63


__ADS_3

Awalnya Anisa merasa jika hidupnya tidak akan bahagia, wanita itu merasa jika hidupnya sudah tidak berarti lagi karena tidak bisa mendapatkan pria yang dia cintai.


Namun, ternyata kini hidupnya begitu bahagia. Dicintai oleh Sofyan membuat dia mampu melupakan Kenzo dalam waktu yang singkat, karena pria itu memperlakukan dirinya dengan sangat baik.


Bahkan, Sofyan juga sudah membeli perlengkapan untuk bayi mereka. Sofyan juga sudah mempersiapkan kamar untuk bayi mereka, padahal bayinya saja belum lahir.


Namun, dengan seperti itu justru Anisa semakin merasa berharga sebagai seorang istri dan sebagai seorang calon ibu.


Sofyan juga bahkan sudah berencana akan menyumbangkan sejumlah uang dan juga akan berbagi makanan serta mainan ke panti asuhan, hal itu dia lakukan sebagai bentuk syukur karena kini usia kandungan Anisa sudah mencapai dua puluh delapan minggu.


"Sudah siap pergi ke panti?" tanya Sofyan.


Hari ini adalah hari minggu, rasanya akan sangat baik jika mereka langsung pergi ke panti untuk merealisasikan niat mereka berdua.


"Siap dong," jawab Anisa.


Anisa langsung naik ke atas pangkuan Sofyan, pria itu tidak mengeluh keberatan. Namun, pria itu malah memeluk pinggang Anisa dengan begitu erat.


Sofyan bahkan nampak menatap wajah Anisa dengan penuh cinta, wanita yang kini tengah mengandung benihnya.


"Mainan sama makanan yang udah kita pesan sudah masuk mobil semua, kan?" tanya Sofyan.


Anisa menganggukkan kepalanya, lalu dia menunduk untuk mengecup bibir suaminya beberapa kali. Sofyan selalu merasa senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari istrinya tersebut.


"Udah, Sayang. Terima kasih, karena kamu sudah begitu perhatian terhadap diriku dan juga calon buah hati kita." Anisa memeluk Sofyan dengan manja.


Sofyan tersenyum dengan begitu lebar lalu mengelus lembut punggung istrinya, bahkan tidak lama kemudian dia memberikan ciuman yang begitu mesra kepada istrinya tersebut.


Jika dulu mungkin Anisa begitu enggan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sofyan, tetapi kini wanita itu dengan cepat membalas ciuman dari bibir suaminya tersebut.


"Sama-sama, Sayang. Aku juga ngucapin terima kasih karena kamu mau menikah dengan aku dan berusaha untuk membangun rumah tangga yang baik dengan aku," ujar Sofyan.

__ADS_1


Sofyan tentunya berkata seperti itu setelah pagutan bibir mereka terlepas, Anisa tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Ya, Sayang. Lebih baik kita berangkat sekarang, takutnya nanti malah keburu siang. Aku sudah tidak sabar ingin bermain dengan anak-anak panti," ujar Anisa.


"Ya, Sayang," jawab Sofyan.


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Sofyan langsung mengajak Anisa untuk pergi ke panti asuhan. Rencananya hari ini mereka akan menghabiskan waktu di panti bersama dengan anak-anak yang kurang beruntung itu.


Satu minggu kemudian.


Aruna dan juga Sigit sudah menyiapkan acara untuk syukuran baby Arselin, sekalian Aruna mengadakan acara aqiqahan untuk cucu pertamanya tersebut. Aruna juga menyiapkan acara untuk syukuran empat bulanan Anaya.


Ya, setelah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, Ayana memilih pulang ke kediaman kedua orang tuanya. Bukan karena tidak mau satu rumah dengan Sandi, tetapi karena ingin membahagiakan ibunya.


Ibunya berkata akan mempersiapkan acara syukuran setelah tujuh hari kelahiran putrinya dengan Sandi, maka dari itu dia sengaja menginap di rumah Aruna sampai acara selesai.


Selain itu, dia juga ingin pulang ke rumah Aruna karena ada Kenzo dan Anaya di sana. Jika keduanya sudah pulang ke kota Sorong, pasti Ayana tidak bisa tinggal bersama adik dan juga adik iparnya itu.


"Pak ustadz dan nenek paraji sudah datang, ayo kita berkumpul di luar," ajak Aruna kepada Ayana dan juga Kenzo yang sedang mengobrol berdua.


Karena putri cantik Ayana sedang tidur anteng dan sedang dijaga oleh Sandi, sedangkan Anaya sedang mengobrol dengan Sigit. Sigit sedang memberikan nasihat kepada menantunya itu.


"Iya, Bun. Aku mau samperin baby Ar sama Sandi dulu," ujar Ayana.


"Aku juga mau samperin Naya sama papa," ujar Kenzo.


"Ya, Buna tunggu di luar kalau begitu." Aruna melangkahkan kakinya menuju pelataran rumahnya.


Karena acaranya memang dilaksanakan di pelataran rumahnya, agar lebih gampang memantau semuanya. Ada banyak keluarga Siregar dan juga keluarga Dinata yang membantunya juga.


Setelah semuanya berkumpul acara syukuran pun dilaksanakan, selain melakukan aqiqahan, Aruna juga mengundang orang-orang tidak mampu. Dia memberikan sedikit rezeki kepada mereka, agar di hari yang bahagia ini banyak orang yang ikut bahagia juga.

__ADS_1


Selesai acara aqiqah, langsung dilanjutkan ke acara empat bulanan. Anaya juga nampak dimandikan, lalu dia melakukan serangkaian acara adat yang sudah ditentukan.


Karena usia kandungan Anaya baru empat bulan, setelah dimandikan Anaya dibawa dalam kamar lalu diraba perutnya oleh dukun beranak agar tahu kondisi babynya baik atau tidak.


Aruna memang turunan orang kaya, tetapi dia masih memercayai adat yang berlaku di daerahnya.


"Bagaimana keadaan calon baby kami?" tanya Kenzo.


"Baik, sangat baik. Ibu dan juga bayinya sangat sehat, bayinya sudah berkembang dengan baik."


Kenzo sampai merasa tidak percaya karena dengan menyentuh saja dukun beranak itu bisa berkata seperti itu, karena biasanya dokter harus melakukan USG terlebih dahulu agar mengetahui bagaimana keadaan janin.


"Serius?" tanya Kenzo.


Mendengar pertanyaan dari Kenzo, nenek paraji nampak mendelik tidak suka. Dia merasa memiliki kemampuan tetapi diremehkan oleh pria muda itu.


"Kamu meragukan perkataan saya?" tanya wanita sepuh yang berprofesi sebagai dukun beranak itu.


Kenzo langsung menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa begitu gatal, ketika dia melihat tatapan mata dari nenek itu yang tentunya tidak bersahabat.


"Eh? Ngga, Nek. Hanya bingung saja," jawab Kenzo.


"Tidak usah bingung, mending mandikan istri kamu dengan air hangat. Setelah itu gantikan bajunya dengan yang bersih," ujar wanita sepuh itu.


"Iya, Nek," jawab Kenzo.


Kenzo menghampiri istrinya dan membantu Anaya untuk bangun, setelah itu dia menuntut istrinya menuju kamar mandi.


"Mau aku mandiin atau sekalian mandi bareng? Kayaknya mau mandi bareng enak deh, Yang," ujar Kenzo.


"Ken! Jangan macam-macam!" tegur Anaya.

__ADS_1


"Iya," jawab Kenzo lesu. Karena sepertinya istrinya bisa membaca apa yang kini sedang dia pikirkan.


__ADS_2