Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 151


__ADS_3

Jika Sandi baru saja pulang dari kediaman Sigit, Stefano kini sudah memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah Sam. Pria itu dengan cepat turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Ayaka.


Sam terkekeh karena perlakuan dari calon menantunya itu begitu manis terhadap putrinya, dia berharap jika keduanya sudah menikah nanti, mereka akan semakin romantis dan juga harmonis.


Saat Ayaka turun dari mobil Stefano, wajah wanita itu terlihat begitu pucat. Ayaka bahkan terlihat menahan rasa sakit, Stefano terlihat begitu khawatir dibuatnya.


Stefano menuntun Ayaka untuk duduk di atas sofa yang ada di teras, Sam mengikuti langkah keduanya. Lalu, Stefano bertanya kepada calon pengantinnya tersebut.


"Aya sakit apa? Kenapa wajahnya pucat banget kaya gitu?" tanya Stefano dengan begitu lembut.


Ayaka merasa senang sekali mendapatkan perhatian seperti itu dari calon suaminya tersebut, dia merasa jika sejak dulu Stefano memang selalu saja perhatian dan juga pengertian dengan caranya.


"Emang pucet ya?" tanya Ayaka.


Dia mengusap kedua pipinya, lalu menolehkan wajahnya ke arah Sam dan juga Stefano secara bergantian. Dia tersenyum kala melihat kekhawatiran di wajah keduanya.


"Iya, pucet banget." Stefano mengelus lembut punggung Ayaka.


"Ini, Kak. Perut Aya sakit banget loh, pinggang Aya juga panas. Sepertinya karena efek datang bulan," jawab Ayaka.


Hal inilah yang selalu Ayaka rasakan, sakit perut dan pinggang panas seperti orang mau melahirkan. Dia bisa mengalami hal ini sampai datang bulan akan berakhir.


"Loh, memangnya datang bulannya belum selesai?" tanya Stefano dengan bingung, karena calon istrinya itu tidak kunjung selesai dengan tamu bulanannya itu.


Ayaka terkekeh mendengar pertanyaan dari Stefano, karena menurutnya pertanyaan dari calon suaminya itu terdengar begitu lucu.


"Datang bulan itu biasanya akan datang sampai satu minggu, terkadang bisa lebih. Aya baru beberapa hari datang bulan, jadi wajar kalau belum selesai," jelas Ayaka.


"Oh gitu, Kakak kan' ngga tahu. Makanya Kakak nanya, lagian Kakak sudah memberikan kamu obat anti nyeri loh. Memangnya ngga diminum?" tanya Stefano.


"Lupa, Kak. Tadi buru-buru mau ke tempatnya kak Ay, jadi Aya ngga sempet," jawab Ayaka seraya meringis menahan sakit pada perut bagian bawahnya.


Stefano yang merasa khawatir terhadap keadaan dari calon istrinya nampak menolehkan wajahnya ke arah Sam, lalu pria itu berkata.


"Ayah, apakah aku boleh mengantar Aya menuju kamarnya? Kasihan dia kesakitan," izin Stefano.


"Silakan, kamu antarkan. Tapi ingat, jangan macam-macam!" ancam Sam.


Ayaka juga nyatanya sedang datang bulan, rasanya tidak mungkin Stefano melakukan hal yang tidak-tidak. Namun, rasanya sangat wajar jika dia memperingati pria itu.

__ADS_1


"Siap, Yah," jawab Stefano dengan begitu senang.


Setelah mengatakan hal itu, Stefano langsung menuntun Ayaka menuju kamarnya. Sebenarnya Ayaka merasa tidak enak hati karena harus diantar oleh pria itu menuju kamarnya.


Namun, karena pria itu terlihat begitu mengkhawatirkannya, akhirnya Ayaka menyerah. Lagi pula dia yakin jika Stefano tidak akan berbuat hal yang tidak-tidak kepada dirinya.


Dia sangat yakin jika Stefano mencintai dirinya dan akan melindungi dirinya, bukan akan berbuat hal yg akan merugikan dirinya dan juga calon suaminya tersebut.


Saat tiba di dalam kamar Ayaka, Stefano membantu wanita itu untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu dengan begitu perhatian Stefano menarik selimut dan menutup tubuh wanita itu sampai sebatas dada.


"Mau minum obat atau bagaimana?" tanya Stefano.


Sebelum dia pulang, Stefano ingin memastikan jika keadaan Ayaka baik-baik saja, dia tidak mau meninggalkan calon istrinya tersebut dalam keadaan sakit seperti itu.


"Ngga mau ah, Aya ngga mau minum obat. Aya mau minum jahe anget aja," jawab Ayaka.


"Ya sudah, kalau kamu maunya minum jahe anget, biar Kakak buatkan. Kamu tiduran aja," ucap Stefano yang merasa tidak tega melihat wajah pucat calon istrinya tersebut.


"Iya, Kak," jawab Ayaka.


Sebenarnya Ayaka merupakan wanita yang begitu mandiri, tetapi mendapatkan perhatian dari Stefano yang seperti itu, tentu saja dia merasa senang.


Setelah melakukan hal itu, Stefano nampak keluar dari dalam kamar Ayaka. Lalu, dia melangkahkan kakinya menuju dapur. Ternyata di sana ada Sam yang sedang minum air dingin, Stefano menghampiri Sam dan berkata.


"Yah, aku mau bikin air jahe untuk Aya. Boleh pinjem dapurnya, kan?" tanya Stefano.


"Tentu, pakailah dapurnya. Jahenya ada di sebelah sana," jawab Sam seraya menunjuk keranjang bumbu.


"Terima kasih, Ayah," ujar Stefano seraya mengambil jahe dan mencucinya hingga bersih.


Sam tersenyum melihat perhatian yang begitu besar dari Stefano, belum menjadi suami dari putrinya saja pria itu benar-benar begitu perhatian. Dia berharap jika nanti sudah menikah, perhatiannya akan lebih dari itu.


"Seharusnya Ayah yang berterima kasih kepada kamu, karena kamu sudah mencintai putriku dengan begitu dalam," ujar Sam dengan tulus.


"Tidak usah berterima kasih, Yah. Karena Fano begitu mencintai Aya," ujar Stefano seraya merebus jahe yang sudah dia iris.


"Semoga kalian bisa bahagia, Ayah berharap kamu juga akan menjadi pria yang bertanggung jawab dan selalu setia dengan putri Ayah. Ayah ke kamar dulu, udah ngantuk. Ingat, jangan lakukan hal-hal tidak tidak," ujar Sam sebelum pergi.


"Ya, Ayah," jawab Stefano.

__ADS_1


Setelah kepergian Sam, Stefano melanjutkan kegiatannya. Merebus air jahe pesanan dari calon istrinya, setelah air jahenya matang, Stefano menuangkan air jahe itu ke dalam gelas dan langsung kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Ayaka.


"Air jahenya sudah siap, mau langsung diminum atau nanti aja? Soalnya air jahenya masih panas," ujar Stefano.


"Bentar lagi aja deh, Kak. Tolong simpan di atas meja," jawab Ayaka.


Stefano melakukan hal apa yang diminta oleh Ayaka, dia menyimpan segelas air jahe tersebut di atas meja. Kemudian Stefano menghampiri Ayaka dan duduk di tepian tempat tidur.


"Apa masih sakit banget?" tanya Stefano.


"Masih, tapi Kakak tenang aja. Ini sudah biasa Aya alami dalam setiap bulannya, nanti juga sembuh." Ayaka tersenyum hangat setelah mengatakan hal itu.


"Semoga saja sembuhnya cepat, jangan lama-lama. Terus, bilangin sama tamu bulanannya. Jangan datang terlalu lama, takutnya nanti pas kita nikah dia masih nongol lagi," ucap Stefano yang terdengar sangat konyol di telinga Ayaka.


Ayaka langsung terkekeh seraya menepuk pundak Stefano, dia merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh calon suami tersebut.


"Mana ada kaya gitu, pake mesen segala. Lagian datang bulan itu cuman satu minggu, pasti sudah berakhir kalau acara pernikahan kita dilaksanakan. Kecuali kalau Allah berkehendak, bisa jadi aku masih datang bulan."


Ayaka langsung tertawa setelah mengatakan hal itu, berbeda dengan Stefano yang terlihat cemberut dan langsung melayangkan protesnya.


"Aih! Kamu kok ngomongnya gitu, pokoknya aku mau berdoa sama Tuhan. Semoga saat kita menikah nanti kamu udah ngga datang bulan," ujar Stefano.


Stefano yang merasa konyol dengan ucapan ini sendiri langsung tertawa pelan, Ayaka ikut tertawa. Lalu, dia mencubit gemas perut Stefano.


"Aduh, Yang. Sakit, Daripada dicubit mending dicium aja," protes Stefano.


"Ngga mau ah, belum halal. Nggak boleh cium cium, udah sana pulang. Terima kasih sudah mengantarkan, terima kasih sudah membuatkan air jahe," ujar Ayaka.


"Sama-sama, kalau begitu Kakak pulang dulu," ucap Stefano seraya mengelus lembut pipi Ayaka.


"Hem!" jawab Ayaka dengan deheman saja.


Stefano nampak mendekatkan wajahnya pada wajah Ayaka, mendapatkan perlakuan seperti itu dari Stefano, Ayaka dengan cepat memundurkan wajahnya. Lalu, dia berkata.


"Kakak mau apa? Inget, belum boleh cium!" ingat Ayaka.


"Aih! Kakak cuma mau ngambil ini," ujar Stefano seraya mengambil bulu mata yang terjatuh di dekat hidung Ayaka.


Ayaka yang merasa malu langsung menarik selimut untuk menutupi wajahnya, Stefano terkekeh melihat kelakuan dari calon istrinya tersebut. Dia mengusap puncak kepala calon istrinya, lalu berkata.

__ADS_1


"Kakak pulang dulu, air jahenya jangan lupa di minum. Kakak sayang Aya," ucap Stefano sebelum dia keluar dari dalam kamar Ayaka.


__ADS_2