Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 71


__ADS_3

Dari bangun tidur Sigit sudah terlihat begitu sibuk sekali, dari mulai mengumpulkan berkas penting miliknya dan juga Aruna, sampai pergi ke KUA untuk mempersiapkan pernikahannya.


Bukan hanya Sigit yang kerepotan, tetapi Steven dan juga istrinya begitu repot mengurusi acara pernikahan putranya tersebut.


Mereka juga membelikan gaun pengantin untuk Aruna, mereka juga membelikan tuxedo untuk Sigit. Karena walaupun putranya hanya menikah di KUA, tetap aja Steven ingin mengabadikan momen tersebut agar terlihat lebih indah.


Walaupun hanya menikah di KUA, tetapi mereka juga mempersiapkan acara makan bersama di kediaman Siregar. Hal itu mereka lakukan sebagai bentuk rasa syukur, karena akhirnya Sigit dan juga Aruna bisa menikah juga.


"Sudah siap?" tanya Steven kepada putranya yang sudah terlihat tampan dengan tuxedo yang ia pakai.


Bangga sekali rasanya karena dia akan mengantarkan putranya untuk menikahi wanita yang sangat dia cintai, walaupun seorang janda Steven sama sekali tidak keberatan.


Karena bagi Steven dan juga Anjana, Sigit bisa bahagia dengan wanita pilihannya. Wanita yang menerima putranya dengan sepenuh hati.


"Sangat siap!" jawab Sigit dengan tegas.


Bahkan, pria itu terlihat tidak sabar untuk segera pergi ke KUA dan segera mengesahkan hubungannya dengan Aruna.


Steven dan Anjana tertawa mendengar apa yg dikatakan oleh putranya tersebut, kemudian mereka mengajak Sigit untuk segera pergi ke KUA, karena di sana keluarga Dinata sudah menunggu.


Steven pergi dengan membawa tiga mobil, 1 mobil ditumpang oleh dirinya, istrinya dan juga oleh Sigit. Sedangkan dua mobil lainnya dipakai untuk membawa hantaran pengantin.


Selama perjalanan wajah Sigit begitu berbinar, dia terlihat begitu bahagia sekali. Steven dan Anjana yang melihat akan hal itu ikut bahagia, karena pada akhirnya Sigit bisa menikahi wanita yang menjadi cinta pertamanya.


"Jangan gugup, Sayang. Tadi bilangnya sudah siap loh," goda Anjana ketika melihat Sigit duduk dengan gelisah tepat di hadapan Satria dan juga pak penghulu.


Sigit meremat kedua tangannya yang basah dengan keringat, walaupun dia berkata tidak gugup tetapi tetap saja jantungnya berdebar dengan begitu kencang.


"Hanya sedikit gugup, takut salah dalam berucap," jawab Sigit seraya memaksakan senyumnya.


Anjana ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh putranya tersebut, karena putranya itu terlihat sedang berusaha untuk bersikap tegar dalam kegugupannya.


"Ehm! Bagaimana, Nak Sigit? Sudah siap untuk mengucapkan kalimat kabul?" tanya Pak penghulu.


"Siap, Pak!" jawab Sigit.

__ADS_1


Bibirnya memang berkata siap dengan lantang, tetapi tetap saja ada rasa takut di dalam dirinya. Dia takut akan salah dalam mengucapkan kalimat kabulnya.


"Jangan tegang, nanti saja kalau sudah sah baru boleh tegang. Biar cepat masuk tanpa hambatan," ujar Pak penghulu menggoda Sigit.


Pria itu hanya tersenyum canggung mendengar apa yang dikatakan oleh pak penghulu, walaupun pada kenyataannya dia memang sudah tidak sabar untuk bisa mengesahkan Aruna dan menjadikan Aruna sebagai miliknya seutuhnya.


"Kalau begitu, kita langsung mulai saja acara pernikahannya. Silakan Tuan Satria untuk menikahkan putrinya dengan ananda Sigit Purnomo Siregar dengan putri anda, Aruna Sachi Dinata."


Jangan kaget kalau nama Sigit berbeda jauh dengan nama sang ayah yang kebarat-baratan, karena Steven memang mempunyai darah campuran luar negeri.


Steven menikah dengan orang Jawa Tengah, alhasil nama yang diberikan oleh istrinya kepada putranya tersebut sesuai dengan nama di daerah asalnya.


Walaupun wajah Sigit sangat mirip dengan sang ayah yang memiliki wajah blasteran, tetapi tetap saja Anjana memberikan nama sesuai dengan keinginannya. Karena putra pertama dan keduanya, Steven yang memberikan nama.


"Baiklah, Nak Sigit. Sudah siap menikah dengan putri saya?" tanya Satria seraya mengulurkan tangan kanannya.


"Sudah siap, Yah," jawab Sigit seraya menerima uluran tangan dari Satria.


"Baiklah ananda Sigit, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Sigit Purnomo Siregar bin Steven Siregar dengan mas kawin uang sebesar $25.062.023 dan satu set berlian dibayar tunai," ucap Satria seraya menghentakkan tangan kanannya.


"Saya terima nikah dan kawinnya adinda Aruna Sachi Dinata binti Satria Putra Dinata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ujar Sigit membacakan kalimat kabulnya dengan satu kali tarikan napas saja.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu.


"Sah!" teriak semua orang yang hadir di sana.


Ah! Akhirnya Sigit bisa mengesahkan Aruna, kata Janda sudah tergantikan dengan gelar istri sah dari Sigit. Kini Aruna sudah menjadi istri dari Sigit, dia akan memulai hidup barunya dengan pria muda itu.


Kini Sigit juga sudah bukan bujang lagi, tetapi seorang pria yang sudah beristri. Bahkan, ada seorang putri berusia enam tahun yang harus dia cintai dan dia kasihi seperti layaknya anak sendiri.


Setelah kata sah terucap, Rachel menuntun putrinya untuk duduk tepat di samping Sigit. Pengantin wanita yang tadi disembunyikan, kini sudah duduk tepat di samping Sigit karena sudah disahkan.


Sigit yang merasa sangat bahagia langsung memeluk wanita itu dengan begitu erat, bahkan tanpa malu dia mengecup bibir Aruna. Sontak saja Aruna yang merasa malu langsung mendorong wajah pria muda yang sudah menjadi suaminya tersebut.


"Aih! Malu," keluh Aruna.

__ADS_1


"Maaf, Yang. Aku terlalu senang," jawab Sigit seraya menjawil dagu istrinya.


Semua orang yang datang untuk menghadiri acara pernikahan Sigit dan juga Aruna nampak menertawakan tingkah dari Sigit, pria muda itu terlihat sekali begitu berbahagia.


Setelah acara pernikahan selesai, Aruna langsung dibawa menuju kediaman Siregar. Begitupun dengan anggota keluarga Dinata lainnya, mereka turut berkumpul bersama di dalam kediaman Siregar.


Tentu saja untuk melakukan acara makan siang bersama, bahkan Steven juga mengundang anak-anak panti. Tentunya sebagai bentuk syukuran, dia sengaja berbagi dengan anak-anak panti tersebut, kedua kakak Sigit juga nampak datang bersama dengan anak dan istrinya.


Mereka mengucapkan selamat bahkan memberikan kado untuk adik bungsunya tersebut, kado berupa rumah mewah yang nantinya akan ditempati oleh Sigit dan juga Aruna.


Beberapa jam kemudian.


"Kalian mau langsung pulang ke rumah baru? Atau mau nginep di sini dulu?" tanya Steven.


Setelah acara syukuran selesai, semua orang sudah kembali ke kediaman masing-masing. Aruna bahkan sudah mandi dan berganti baju, karena dia merasa sangat gerah dan badannya bau dengan keringat.


Begitupun dengan Ayana, gadis kecil itu sudah terlihat begitu cantik dengan menggunakan piyama tidurnya. Dia tidak mau ikut pulang bersama dengan kakek dan juga neneknya, karena dia ingin merasakan kembali tidur bersama dengan kedua orang tua yang utuh.


"Aku sih terserah Sigit saja," jawab Aruna.


"Kalau begitu kita tidur di sini saja terlebih dahulu, besok baru kita pindah ke rumah baru. Kasihan Ay kalau malam-malam seperti ini kita pindahan," usul Sigit.


"Boleh, aku juga memang sangat lelah," ujar Aruna.


"Ya, sebaiknya kalian beristirahat saja. Ayah dan ibu juga sudah sangat lelah," ucap Steven.


Akhirnya Sigit menggendong Ayana menuju kamarnya, Aruna mengikuti langkah Sigit dari belakang. Saat tiba di dalam kamar, Sigit langsung merebahkan tubuh Ayana di atas tempat tidur.


Lalu, dia juga ikut merebahkan tubuhnya di samping putri sambungnya tersebut. Aruna juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Ayana, gadis kecil itu terlihat begitu bahagia karena kini dia tidur di antara kedua orang tua yang utuh.


"Ay seneng banget, akhirnya Ay bisa bobo bareng Papa sama Buna," ujar Ayana dengan wajah cerianya.


"Hem! Papa juga senang, sekarang Ay bobo ya? Ini sudah malam," ujar Sigit seraya menepuk-nepuk lengan Ayana.


"Oke! Tapi Papa jangan tinggalin Ay," pinta Ayana.

__ADS_1


"Tidak akan, sekarang Ay bobo dulu," ujar Sigit. 'Karena Papa mau main kuda-kudaan sama Bunda,' sambung Sigit dalam hati.


__ADS_2