Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 35


__ADS_3

Setelah semuanya siap, Kenzo, Asmara dan juga Alice nampak berpamitan kepada Sigit dan juga Aruna untuk pergi ke taman wisata alam yang ada di kota Sorong.


Kenzo nampak masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, sedangkan Asmara nampak duduk tepat di samping Kenzo. Alice, sang adik nampak duduk di bangku penumpang.


Ketiganya terlihat begitu ceria, walaupun pada awalnya Asmara sempat merasa canggung karena harus bergabung dengan Kenzo dan juga Alice.


Namun, ternyata berdekatan dengan Alice sangatlah menyenangkan. Wanita muda itu ternyata satu server dengan dirinya, sama-sama banyak bicara dan periang.


"Nanti kalau kita sudah sampai, kita langsung foto-foto, ya? Aku juga mau foto burung-burung yang ada di sana sama foto dekat air terjun," ujar Alice yang tentunya tadi malam sudah searching ada apa saja di sana.


Gadis itu nampak begitu ceria sekali, dia sudah membayangkan akan banyak mengambil foto dan juga video. Lalu, dia akan menguploadnya di sosial media miliknya.


Dia mau memamerkan acara liburannya kepada teman-temannya, karena dia jarang sekali liburan ke taman wisata seperti itu.


"Hem! Lakukanlah apa pun yang kalian inginkan di sana, aku pasti akan menurutinya. Tapi, harus tetap waspada dan juga hati-hati." Kenzo berbicara tanpa menolehkan wajahnya ke arah adiknya ataupun ke arah Asmara.


Karena walau bagaimanapun juga mereka akan berwisata di alam terbuka, harus tetap waspada karena merupakan hutan yang masih banyak tempat yang terjal.


"Siap, Kakak," jawab Alice.


Sepanjang jalan Alice terus saja berceloteh layaknya anak kecil, sesekali Asmara akan menimpali obrolan dari gadis itu.


Berbeda dengan Kenzo, pria itu nampak asik mengemudi. Dia menyimak obrolan keduanya tanpa ikut menimpali.


Jika Kenzo dan dua gadis cantik itu sedang pergi menuju taman alam, berbeda dengan Aruna dan juga Sigit. Sepasang suami istri itu sedang pergi ke kampung nelayan.


Keduanya pergi ke kampung nelayan menggunakan taksi, tentunya mereka berani pergi setelah menanyakan terlebih dahulu kepada Asmara di mana gadis itu tinggal.


"Kamu yakin akan melakukan ini?" tanya Sigit.


Aruna langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, karena dia merasa tidak bisa berdiam diri saja. Aruna ingin segera memastikan, apa yang kini sedang dia duga.


"Yakin, Sayang. Aku harus mengetahui tentang asal usul Asmara, jika benar Asmara adalah Naya, aku akan sangat senang dan akan dengan secepatnya menikahkan mereka," jawab Aruna.


Sigit langsung menggelengkan kepalanya, karena menurutnya keputusan istrinya itu tidaklah baik. Tidak semudah itu menikahkan Asmara dengan Kenzo, walaupun memang Asmara itu adalah Anaya sesungguhnya.

__ADS_1


"Yang! Jangan seperti itu, bukankah kamu mendengar sendiri jika Asmara belum mencintai putra kita? Jangan memaksa untuk menikahkan mereka, karena perasaan tidak bisa dipaksakan," ujar Sigit.


Aruna terdiam, dulu saat Sigit berusaha untuk mendekati dirinya, Aruna meminta kepada pria itu agar Sigit memberikan waktu. Karena nyatanya Aruna belum memiliki rasa.


Sigit dengan sabar menunggu, sampai pada akhirnya dia bisa mencintai pria itu dan menerima pria yang usianya jauh lebih mudah darinya itu.


"Kamu benar, Yang. Kalau gitu aku akan berusaha mendekatkan keduanya, untuk urusan jodoh kita serahkan kepada Tuhan." Aruna tersenyum lalu memeluk lengan suaminya.


Sigit tersenyum karena istrinya sudah mengerti dengan apa yang dia maksudkan, yang namanya perasaan itu tidak bisa dipaksakan.


Jika sudah merasakan cinta yang begitu besar, maka orang itu akan berusaha untuk mengejar cintanya dengan caranya. Jika rasa benci yang dirasakan, maka orang itu akan berusaha untuk menghindari orang yang dia benci itu dengan caranya.


Tidak ada yang bisa menekankan perasaan benci menjadi cinta, begitupun sebaliknya. Karena semuanya butuh proses, tidak ada yang instan. Karena mie instan saja masih harus direbus agar bisa dimakan, masih perlu melakukan proses pematangan.


"Setuju," ujar Sigit.


Pada akhirnya keduanya berjalan kembali untuk menemui seorang pria yang bernama Alan, seorang nelayan yang disebut bapak oleh Asmara.


Saat tiba di dekat pantai, Aruna dan juga Sigit melihat ada beberapa rumah yang ada di sana. Jarak dari satu rumah ke rumah lainnya lumayan jauh, keduanya terlihat kebingungan karena tidak tahu di mana rumah milik Alan.


Aruna nampak celingukan, dia seolah-olah sedang mencari-cari di mana rumah dari pria paruh baya itu. Rumah pria yang katanya sudah menemukan Asmara di lautan lepas dalam keadaan sekarat.


"Entah, orangnya aja Papa ngga tau," jawab Sigit.


Mendapatkan jawaban dari suaminya Aruna langsung tertawa, karena pada kenyataannya mereka bukan hanya tidak mengetahui alamat dari pria itu. Namun, keduanya juga tidak mengetahui wajah dari pria itu.


"Ya udah, kita tanya orang sekitar." Aruna mengajak Sigit untuk menghampiri seseorang anak kecil yang ada di sana.


Sigit menurut, pada akhirnya keduanya menanyakan tentang di mana rumah milik Alan. Setelah mengetahuinya, keduanya langsung melangkahkan kaki mereka menuju rumah pria tersebut.


Saat Aruna dan juga Sigit tiba di depan rumah pria itu, di sana nampak ada pria paruh baya yang sedang memberikan air pada ikan ya sudah dimasukkan ke dalam kardus Styrofoam.


"Ehm! Selamat pagi, maaf kalau saya mengganggu. Apakah benar jika anda adalah Pak Alan?" tanya Sigit dengan begitu sopan.


Pria paruh baya itu nampak menghentikan aktivitasnya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Aruna dan juga Sigit. Dahi pria itu nampak mengerut dalam, karena tidak mengenali kedua orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Selamat pagi, maaf. Kalian siapa, ya?" tanya Alan.


Pria itu nampak memperhatikan penampilan dari Sigit dan juga Aruna, penampilan mereka nampak berbeda. Bahkan, wajah mereka juga terlihat bukan asli pribumi sana.


"Perkenalkan, nama saya Sigit. Ini istri saya, Aruna."


Sigit dan juga Aruna nampak mengulurkan tangannya, Alan yang paham langsung membalas uluran tangan dari keduanya.


"Ada perlu apa ya?" tanya Alan yang tiba-tiba saja merasa was-was.


Entah kenapa hatinya tiba-tiba saja terasa gelisah, seperti ada sesuatu hal yang akan terjadi tetapi Alan tidak tahu apa.


"Kamu berdua datang dari ibu kota, tadi malam kami bertemu dengan Asmara. Bisa kami bertanya tentang Asmara kepada anda?" jawab Sigit dengan pertanyaan.


Wajah pria paruh baya itu langsung berubah, dia terlihat gelisah, was-was dan juga ketakutan. Sigit dan juga Aruna yang menyadari akan hal itu terlihat saling pandang.


"Kami hanya ingin bertanya, apakah anda bersedia untuk mengobrol dengan kami?" tanya Sigit sepelan mungkin, karena dia takut jika pria paruh baya itu tidak mau mengobrol dengan dirinya dan juga Aruna.


Pria itu tiba-tiba saja terlihat begitu sedih, emosinya terlihat tidak stabil. Namun, tidak lama kemudian dia menghela napas sepenuh dada.


"Mari kita bicarakan di dalam saja," ujar pria itu seraya menuntun Sigit dan juga Aruna untuk masuk ke dalam ruang tamu.


Aruna dan Sigit kini nampak duduk di atas bangku kayu yang ada di ruang tamu tersebut, begitupun dengan pria paruh baya itu nampak duduk tepat di hadapan sepasang suami istri itu.


"Apa yang ingin kalian tanyakan tentang Asmara?" tanya Alan dengan sendu.


Aruna menolehkan wajahnya ke arah Sigit, dia seolah meminta persetujuan kepada suaminya itu untuk berbicara kepada pria paruh baya yang ada di hadapannya.


Sigit nampak tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, pria itu bahkan terlihat menggenggam tangan istrinya. Sigit seolah sedang memberikan semangat kepada istrinya tersebut.


"Begini, Pak. Lima tahun yang lalu sahabat saya dengan anak dan juga suaminya memutuskan untuk pergi ke kota kelahiran suaminya di kota H, tetapi saat kapal menuju pelabuhan, kapal malah meledak. Kedua sahabat saya dinyatakan meninggal, begitupun dengan putrinya dinyatakan meninggal. Namun, jenazah putrinya tidak ditemukan."


Alan langsung lemas mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, wajahnya bahkan terlihat pucat sekali. Aruna bisa menebak jika Asmara kemungkinan besar adalah Anaya.


"Saya sempat mendengar dari Aman bahwa anda mengadopsi Asmara karena menemukan gadis itu dalam keadaan sekarat di tengah lautan, apakah mungkin kalau Asmara adalah Anaya?" tanya Aruna.

__ADS_1


__ADS_2