Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 66


__ADS_3

Pukul lima Ima sore Kenzo dan juga Anaya sudah sampai di kediaman mereka yang ada di kota Sorong, keduanya langsung merebahkan tubuh mereka yang terasa lelah di atas tempat tidur.


Padahal, selama di pesawat mereka juga tertidur, tetapi tetap saja mereka merasa lelah. Jika Anaya merasa lelah mungkin karena akibat dari kehamilannya, sedangkan Kenzo karena ingin berduaan dengan istrinya.


Lagi pula masih ada waktu sebelum maghrib tiba, maka dari itu mereka memutuskan untuk beristirahat. Setelah rasa penat mereka hilang, barulah mereka akan membersihkan diri dan bersiap untuk shalat maghrib.


"Yang! Aku masih kepikiran deh dengan apa yang diucapkan oleh Andra, dokter berkata jika calon buah hati kita cuman ada satu. Tapi--"


"Sudahlah, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan, mungkin ada hal lain di balik itu yang kita tidak tahu." Kenzo menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya.


"Ya," jawab Anaya.


Walaupun dia tidak paham, tetapi dia menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut. Dia lebih baik tidak terlalu banyak pikiran, karena takut akan mempengaruhi kandungnya.


Satu bulan kemudian.


Usia kandungan Anaya sudah menginjak tiga puluh delapan minggu, perut wanita itu sudah semakin membuncit dan membuat Anaya semakin berhati-hati dalam bergerak.


Anaya dan Kenzo memang sudah menyiapkan kamar khusus untuk calon buah hati mereka, tetapi keduanya belum menyiapkan perlengkapannya.


"Yang! Belanja, yuk. Kata dokter perkiraan aku melahirkan kemungkinan minggu ini, takutnya nanti dia keburu lahir. Tapi perlengkapan babynya belum ada," ajak Anaya kepada suaminya.


Kenzo yang sedang bersiap untuk pergi bekerja menghentikan aktivitasnya, dia menolehkan wajahnya ke arah istrinya dan berkata.


"Oke, Yang. Aku bilang sama Aman dulu," sanggup Kenzo.


Anaya tersenyum dengan begitu lebar karena keinginannya dituruti oleh suaminya tersebut, Kenzo ikut tersenyum lalu mengecup bibir istrinya.


"Makasih, Sayang." Anaya tersenyum senang.


"Sama-sama," jawab Kenzo yang langsung mengambil ponselnya dan dengan cepat menelpon Aman.


Seperti biasanya, pria itu tidak keberatan sama sekali ketika Kenzo berkata akan libur. Justru Aman malah mendukung jika Kenzo tidak masuk bekerja, terlebih lagi ketika Aman mendengar jika Kenzo akan membeli perlengkapan bayi.


"Ayo, Sayang. Abang kamu itu sudah oke disuruh kerja sendirian," ujar Kenzo seraya terkekeh.


Aman sampai saat ini masih mencintai Arneta, dia begitu kesusahan untuk membuka hatinya. Sampai saat ini dia masih kuat menjomblo, karena di dalam hati dan pikirannya masih dikuasai oleh wanita itu.


"Ayo," ujar Anaya.


Kenzo langsung menganggukkan kepalanya, lalu dia mengajak istrinya untuk pergi ke sebuah butik baju khusus menyediakan berbagai macam perlengkapan bayi.


"Aku mau beli baju ini, Yang. Lucu," ujar Anaya ketika dia melihat baju baby yang begitu lucu-lucu tergantung pada hanger.


"Iya, Sayang. Belilah apa pun yang ingin kamu beli, tapi harus warna netral. Soalnya kita belum tahu jenis kelamin calon buah hati kita," ujar Kenzo.


Ya, Kenzo dan juga Anaya memutuskan untuk tidak bertanya kepada dokter tentang jenis kelamin dari calon buah hati mereka. Karena ini adalah anak pertama mereka, tentunya mereka ingin mendapatkan kejutan saat Anaya melahirkan nanti.


"Oke, Sayang." Anaya tersenyum dengan begitu manis ke arah suaminya.


Anaya benar-benar merasa senang karena diperbolehkan memilih apa pun yang dia inginkan, dari mulai kain bedongan, baju sampai sepatu dan topi.


Anaya bahkan memilih kereta dorong untuk calon buah hatinya, apa pun yang dia inginkan semuanya benar-benar dia beli.

__ADS_1


Barang-barang yang Anaya beli begitu banyak dan tidak muat jika dibawa secara langsung oleh Kenzo, pada akhirnya pria itu meminta pemilik toko untuk mengantarkan barang-barang tersebut ke rumahnya.


"Sudah selesai dan sudah kebeli semuanya, sekarang mau ke mana lagi? Mau beli apalagi?" tanya Kenzo seraya menuntun istrinya untuk keluar dari butik tersebut.


"Mau makan es krim, Yang. Kayaknya enak," jawab Anaya.


"Ya udah, kamu tunggu sini dulu. Aku ke parkiran dulu ambil mobil," ujar Kenzo.


"Ya, Sayang." Anaya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


Kenzo nampak pergi menuju parkiran, sedangkan Anaya nampak berdiri dengan anteng. Wanita hamil itu nampak mengedarkan pandangannya, takut-takut ada jajanan yang dia ingin beli di sekitar sana.


Namun, bukannya melihat jajanan, justru Anaya malah melihat seorang wanita yang didorong dengan kasar oleh seorang pria. Wanita itu sedang hamil dan perutnya terlihat sangat besar.


Pria itu mendorong wanita hamil itu bukan hanya satu kali saja, tetapi pria itu mendorong wanita itu sampai berkali-kali.


"Mas! Jangan perlakukan aku seperti ini, ada anak kita di sini. Sebentar lagi dia akan lahir, kenapa kamu malah tega berselingkuh dengan wanita itu?" tanya wanita itu dengan terisak.


"Kamu tuh ngebosenin, kamu gendut dan bikin aku malu jalan sama kamu. Aku talak kamu dan jangan pernah lagi cari aku," ujar pria itu.


Pria itu berkata dengan begitu kasar, di samping pria itu ada wanita cantik dan juga seksi. Anaya bisa menduga jika wanita itu adalah wanita selingkuhannya.


"Mas, aku gendut karena mengandung anak kamu. Dulu juga aku ngga gendut, bukankah kamu yang menginginkan anak? Bukankah kamu yang memintaku untuk menjadi seorang istri dan memberikan kamu keturunan?"


Wanita itu terlihat begitu sedih sekali, tetapi sayangnya pria yang ada di hadapannya tidak merasa iba. Justru pria itu dengan teganya kembali mendorong wanita itu, wanita hamil itu sampai jatuh terduduk.


Wanita itu begitu sedih sekali, wanita itu bahkan terlihat begitu kesakitan. Karena pria itu mendorong wanita itu dengan kencang.


Wanita itu nampak syok, dia bahkan menatap suaminya dan selingkuhannya dengan tatapan penuh kebencian.


"Oke! Aku terima kalau kamu memang tidak mencintai aku lagi, tapi tolong bantu aku untuk kali ini saja. Tolong bawa aku ke rumah sakit, perut aku sangat sakit." Wanita itu mengelusi perutnya yang dirasa sangat sakit itu.


Wanita cantik dan juga seksi yang sejak tadi berada di samping pria itu nampak menatap wanita hamil itu dengan tatapan tidak suka, bahkan wanita itu dengan cepat memeluk lengan prianya dan berkata.


"Jangan, Yang. Aku tidak sudi kamu membantu dia, nanti dia akan memanfaatkan kesempatan untuk menjerat kamu kembali dengan anaknya."


Wanita cantik dan juga seksi yang sejak tadi berada di samping pria itu kini nampak mengeluarkan suaranya, wanita itu sedang berusaha untuk menghasut pria kaya itu.


"Oke!" jawab pria itu tanpa memedulikan wanita yang ada di hadapannya.


"Mas, tolong aku dulu!" teriak wanita hamil itu.


Pria itu tidak memedulikan apa yang diminta oleh wanita hamil itu, dia malah pergi bersama dengan wanita cantik itu tanpa menolehkan wajahnya sama sekali.


"Ya Tuhan! Dia tega sekali, dia jahat. Mereka bukan manusia," ujar Anaya seraya mengusap pipinya karena tiba-tiba saja air mata mengalir di kedua pipinya.


Anaya merasa tidak tega dan hendak menghampiri wanita itu, tetapi langkahnya terhenti karena Kenzo datang dengan mobilnya yang berhenti tepat di hadapan wanita itu.


"Ayo, Yang. Katanya mau makan es krim," ajak Kenzo seraya membuka pintu mobilnya.


"Ngga jadi, Yang. Kita tolongin wanita itu aja yuk, kasihan dia." Anaya menuju ke arah wanita yang kini sedang kesakitan tidak jauh dari tempat dia berdiri.


Kenzo langsung turun dari mobil, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah tempat yang ditunjukkan oleh istrinya tersebut.

__ADS_1


"Dia kenapa?" tanya Kenzo dengan bingung dan juga takut.


Anaya sedikit kesal terhadap suaminya tersebut, karena bukannya langsung menolong tetapi Kenzo malah bertanya terlebih dahulu.


"Jangan banyak nanya dulu, Yang. Ayo tolongin dia, kayaknya dia udah nggak tahan mau melahirkan," ujar Anaya


Mendengar kata melahirkan, Kenzo tiba-tiba saja merasakan perasaan yang campur aduk. Karena membayangkan istrinya melahirkan saja sudah membuat dia merasa takut, apalagi saat melihat keadaan wanita itu.


"Astagfirullah!" ujar Kenzo yang dengan cepat berlari ke arah wanita itu.


Bukan tanpa alasan Kenzo terlihat begitu khawatir, karena area bawah wanita itu sudah terlihat basah dengan darah.


"Nyonya, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Kenzo.


"Eh? Anda siapa?" tanya wanita itu dengan bingung.


Kenzo tidak menjawab pertanyaan dari wanita itu, tetapi Kenzo malah menggendong tubuh wanita itu dan dengan cepat memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya dan mendudukkan wanita itu di bangku penumpang.


Setelah itu Kenzo langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi, Anaya yang menyadari jika suaminya akan segera pergi dengan cepat masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi.


"Jangan panik, Yang," ujar Anaya saat melihat wajah Kenzo yang begitu tegang dan juga panik.


"Iya," jawab Kenzo yang nampak fokus dalam mengemudi.


"Kalian mau membawa aku ke mana?" tanya wanita itu.


Wanita itu nampak ketakutan, dia takut jika orang yang membawa diyakini adalah orang suruhan dari suaminya untuk membunuh dirinya.


Namun, saat dia melihat Anaya yang juga sedang hamil, wanita itu merasa jika dirinya bukan dibawa oleh orang jahat.


"Jangan takut, Nyonya. Kami akan membawa anda ke rumah sakit," jawab Anaya.


Wanita itu langsung tersenyum dan menangis haru, karena ternyata dia dibawa oleh orang baik yang akan menolongnya.


"Terima kasih," ujar wanita itu.


"Sama-sama," jawab Anaya.


Tidak lama kemudian mobil yang dikemudikan oleh Kenzo sudah tiba di rumah sakit, dengan cepat dia turun dan berlari untuk menemui suster. Dia ingin meminta bantuan.


"Tolong saya, Sus." Kenzo yang berpapasan dengan suster langsung meminta bantuan kepada suster tersebut.


"Ada apa, Tuan?"


"Ada yang mau melahirkan, tolong bawakan brangkar," pinta Kenzo.


"Ah! Iya, Tuan," jawab Suster.


Tidak lama kemudian Kenzo datang dengan tiga orang suster, dengan cepat wanita hamil itu dibawa keruang observasi. Kenzo dan juga Anaya nampak duduk seraya menunggu kabar dari dokter.


"Bagaimana keadaan dari wanita itu, Dok?" tanya Kenzo ketika dia melihat dokter keluar dari ruangan observasi.


"Keadaannya sangat buruk, keadaan ibunya sangat lemah. Begitupun dengan babynya," jawab Dokter.

__ADS_1


__ADS_2