Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 112


__ADS_3

"Justru aku yang harusnya bertanya, ada apa dengan Ayah? Terus kenapa kamu bisa bareng sama Ayah? Ayah sakit apa?" tanya Ayana dengan tidak sabar.


Stefano terlihat begitu kaget ketika mendengar Ayana yang memanggil Sam dengan sebutan ayah, tetapi tidak lama kemudian Stefano terdiam. Dia sangat ingat ketika Aruna berkata akan mengadopsi Ayaka, itu artinya Ayaka sudah menemukan sosok orang tua kandungnya, pikir Sam.


"Nanyanya nanti aja dulu, Nona. Tolong beri saya jalan terlebih dahulu," pinta Stefano.


Dia merasa tidak tega melihat tubuh Sam yang begitu lemas, akan lebih baik rasanya jika membantu Sam untuk beristirahat terlebih dahulu.


"Ah, iya!" ujar Ayana seraya menggeser tubuhnya yang memang menghalangi pintu utama.


Stefano langsung menuntun Sam untuk segera masuk ke dalam kamar dari pria itu, Stefano bahkan dengan sabarnya membantu Sam untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Ayah!" panggil Ayana seraya duduk tepat di samping Sam.


Ayana elus puncak kepala ayahnya, bahkan dia kecup kening ayahnya tersebut dengan penuh kasih sayang. Ayana mulai berpikir jika dirinya kini harus banyak menyempatkan waktu untuk bertemu dengan ayahnya tersebut.


Karena sekarang Sam benar-benar tinggal sendirian, tidak ada Ayaka yang selalu menjaga Sam seperti selama ini dilakukan oleh adiknya itu.


"Ayah sakit apa?" tanya Ayana.


Ayana terlihat begitu mengkhawatirkan ayahnya, karena tubuh pria itu benar-benar lemas tidak seperti biasanya.


"Tadi kepala Ayah pusing, semuanya nampak berkunang-kunang. Tadi Ayah hampir pingsan, untung ada Nak Fano, dia bawa Ayah ke rumah sakit. Katanya Ayah hanya kelelahan dan tensi darahnya rendah," jelas Sam.


Sam menolehkan wajahnya ke arah Stefano, dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Sam seolah sedang berterima kasih kepada pria itu, Stefano langsung membalas senyuman dari Sam.


"Hem! Maaf karena Ay tidak menjaga Ayah dengan baik," ujar Ayana penuh sesal.


Dahi Stefano nampak mengerut dengan dalam, seingatnya saat kecil wanita yang ada di hadapannya itu selalu menyebut dirinya dengan sebutan 'Aya', lalu kenapa sekarang wanita itu menyebut dirinya dengan panggilan 'Ay'.


Stefano mulai galau, tetapi tidak lama kemudian dia berusaha untuk menenangkan hatinya. Mungkin saja dia menyebut dirinya dengan sebutan 'Ay' karena sedang berinteraksi dengan ayahnya.


"Tidak apa, Sayang. Kamu juga cape sudah bekerja di kantor," ujar Sam.


Ya, Ayana merasa capek dan juga lelah setelah seharian bekerja di kantor. Namun, tetap saja dia merasa bersalah karena sudah mengabaikan ayah kandungnya tersebut.


"Ayah udah makan?" tanya Ayana.


Stefano yang sejak tadi diam saja langsung menghampiri Ayana, lalu pria itu tersenyum dan berkata.


"Aku sudah membelikan bubur untuk tuan Sam, karena dokter tadi berkata jika lambung tuan Sam juga sedikit bermasalah. Tuan Sam harus makan nasi yang lembek atau bubur, tunggu sebentar."


Stefano langsung pergi keluar untuk mengambil bubur yang sudah dia beli, dia juga ingin mengambilkan obat milik Sam yang tertinggal di dalam mobil.


Tidak lama kemudian Stefano kembali masuk ke dalam kamar pria itu, lalu dia memberikan dua bungkusan plastik kepada Ayana.

__ADS_1


"Terima kasih, karena kamu begitu perhatian kepada ayahku," ujar Ayana.


"Sama-sama, Nona," jawab Stefano.


"Aku akan memindahkan buburnya ke mangkok, tolong jaga ayahku sebentar." Ayana tersenyum lalu membawa bubur yang sudah dibelikan oleh Stefano menuju dapur.


Melihat kepergian Ayana, Stefano langsung membantu Sam untuk duduk. Lalu, dia menyimpan bantal di balik punggung pria itu agar merasa nyaman saat Sam menyadarkan punggungnya.


"Kamu adalah pria yang baik, tetapi kenapa kamu memanggil putriku dengan sebutan nona? Sepertinya aku lihat kalian juga saling mengenal," ujar Sam.


"Ah! Iya, Tuan. Kami saling mengenal, karena nona Ayana adalah atasan saya di kantor," jawab Stefano.


Rasanya semuanya begitu kebetulan, karena dirinya ditolong oleh pria yang ternyata berstatus sebagai bawahan dari putrinya sendiri.


"Kamu, bekerja di perusahaan Siregar?" tanya Sam yang merasa tidak menyangka.


Stefano langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, karena memang dia bekerja di perusahaan Siregar sesuai dengan keinginannya.


Satu minggu yang lalu Stefano langsung mencari tahu tentang Sigit yang baru saja keluar dari dalam rumahnya untuk bekerja, Stefano mengikuti Sigit sampai ke perusahaan Siregar.


Setelah Stefano bertanya kepada security yang ada di sana, ternyata Sigit adalah pemilik perusahaan Siregar. Stefano berusaha keras agar bisa masuk ke dalam perusahaan tersebut.


Stefano bahkan langsung membuat surat lamaran kerja, lalu dia kembali lagi ke perusahaan Siregar dan bertemu dengan HRD yang ada di sana.


Namun, saat itu HRD yang ada di sana berkata belum ada lowongan pekerjaan. Namun, HRD tersebut berjanji akan memberitahukan kepada Stefano jika ada lowongan pekerjaan.


"Ya, ini adalah hari pertama saya bekerja di perusahaan Siregar." Stefano tersenyum setelah menjawab pertanyaan dari Sam.


"Bekerja sebagai apa?" tanya Sam lagi.


Sam menatap pria muda yang ada di hadapannya, pria itu terlihat berhati lembut di balik tubuh kekarnya.


"Asisten pribadinya nona Ayana," jawab Stefano lagi.


Sam tersenyum karena mengingat dirinya yang dulu bekerja sebagai asisten pribadi dari tuan Steven, dia dulu adalah pekerja yang handal. Sayang dia terlalu serakah dengan yang namanya perempuan.


"Hem! Kamu sepertinya begitu berpengalaman dalam bekerja, tolong bantu putriku." Sam tersenyum seraya menepuk pundak Stefano.


"Pasti, Tuan," jawab Stefano tanpa ragu.


Di saat Sam dan juga Stefano sedang asik mengobrol, Ayana datang dengan membawa bubur yang sudah dibelikan oleh Stefano yang sudah dipindahkan ke dalam mangkok. Ayana juga tidak lupa membawa segelas air putih.


"Makan dulu, Yah. Habis itu minum obat,'' ujar Ayana.


Ayana langsung mengambil sendok dan bersiap untuk menyuapi ayahnya, Stefano nampak tersenyum karena melihat perhatian dari Ayana terhadap Sam.

__ADS_1


"Ya, Sayang." Sam langsung membuka mulutnya, lalu dia memakan bubur yang disuapkan oleh Ayana.


Ayana menyuapi Sam dengan begitu telaten, hingga bubur yang tadinya berada di atas mangkok kini berpindah ke dalam perut pria itu.


"Ayah sangat kenyang," ujar Sam seraya mengelus perutnya yang kini terlihat membuncit.


Tentunya bukan karena hamil, tetapi karena Sam memang sekarang ini jarang berolahraga. Perut pria itu sudah mulai membuncit, bahkan otot-ototnya terlihat mulai mengendur.


"Ayah minum obat dulu, habis itu cepat tidur. Kalau bisa, mulai besok Ayah harus berolahraga. Biar badannya seksi lagi, siapa tahu nanti ada cewek yang mau jadi istri Ayah." Ayana terkekeh setelah menggoda Sam.


Sebenarnya Ayana berharap jika ayahnya tersebut mau menikah kembali, Karena di masa tuanya pasti ayahnya tersebut membutuhkan teman untuk berbagi bercerita dan berkasih sayang. Namun, Sam selalu berkata ingin memfokuskan hidupnya untuk kedua putrinya.


"Hey! Ayah tidak menikah lagi bukan karena tidak laku, karena Ayah memang tidak berniat untuk berumah tangga lagi." Sam mencubit gemas pipi putrinya.


Ayana sangat tahu akan hal itu, karena kalau dilihat dari wajah, Sam masih sangat tampan. Bahkan, Ayana beberapa kali melihat ada wanita yang menggoda ayahnya tersebut. Namun, Sam tidak tergoda.


"Ya, Ay tahu. Ayah hanya ingin fokus ngurusin Ay sama dedek, makasih Ayah." Ayana memeluk Sam dengan penuh kasih, setelah itu dia membantu Sam untuk meminum obatnya.


Setelah memastikan ayahnya meminum obatnya dan tertidur dengan begitu pulas, barulah Ayana mengajak Stefano untuk berbicara di ruang keluarga.


"Terima kasih, Fano. Beruntung ada kamu, jadinya ayah mendapatkan penanganan dengan cepat." Ayana tersenyum hangat ke arah Stefano.


"Sama-sama, aku hanya kebetulan mau mau masuk ke rumah. Eh? Malah melihat ayah kamu yang hendak masuk ke dalam rumahnya dengan berjalan secara sempoyongan," jawab Stefano.


"Tunggu bentar deh, memangnya rumah kamu di mana?" tanya Ayana penasaran.


"Tepat di samping rumah ayah kamu," jawab Stefano.


Stefano lebih memilih untuk membeli rumah yang lebih sederhana, karena dirinya kini tinggal sendirian. Rasanya dia tidak ingin kembali tinggal di rumah besar tepat di samping rumah Sigit, karena rumah itu mengingatkan dirinya kepada ibunya yang sudah tiada.


"Wah! Syukurlah kalau seperti itu, aku jadi bisa menanyakan keadaan ayah dengan mudah," ujar Ayana seraya tertawa ringan.


"Bolehlah, boleh. Oh iya, Nona. Aku pamit pulang dulu, anda mau menginap atau mau pulang?" tanya Stefano.


Ayana sempat terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Stefano, bukan karena pertanyaannya tetapi karena Stefano mengatakan kata 'bolehlah, boleh'. Kata itu adalah kata yang selalu diucapkan oleh Ayaka, tetapi tidak lama kemudian Ayana berkata.


"Aku akan menginap, untuk berkas nanti pagi tolong disiapkan," jawab Ayana.


Rasanya Ayana tidak akan tega jika harus meninggalkan Sam dalam keadaan sakit, sepertinya dia akan menghubungi Aruna meminta izin untuk menginap.


"Sudah siap, Nona. Tadi sore berkasnya langsung saya bawa pulang, karena kita harus berangkat pagi-pagi sekali," jawab Stefano.


"Oh ya ampun! Ternyata kamu emang sangat bisa diandalkan," puji Ayana.


''Terima kasih, Nona. Hal itu saya anggap sebagai pujian yang begitu berarti, kalau begitu saya permisi." Stefano langsung keluar dari rumah tersebut, Ayana terdiam seraya memandangi punggung kekar pria itu.

__ADS_1


"Dia tampan, dia juga sangat perhatian dan pengertian." Ayana menghela napas berat dengan wajah yang ditekuk.


Dia malah teringat akan seseorang yang dia kagumi, sayangnya orang itu tidak pernah melirik dirinya. Ayana tersenyum kecut lalu masuk ke dalam kamar Sam, dia memutuskan ingin tidur dengan ayahnya tersebut.


__ADS_2