
Kini Stefano sudah sampai di dalam rumahnya, dia langsung masuk ke dalam kamarnya lalu berdiri di depan jendela. Dia menatap jendela kamar Ayaka, Stefano berharap jika wanita itu belum tidur.
Stefano berharap jika dia masih bisa melihat gadis kecilnya sebelum dia tidur, Stefano sudah seperti seorang abege yang mengincar gebetannya.
"Sedang apa dia? Apa dia sudah tidur? Apa aku masih bisa melihat wajahnya?" tanya Stefano kepada dirinya sendiri.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, walaupun Stefano sangat tahu jika waktu sudah malam. Akan tetapi, tetap saja pria itu berharap jika Ayaka belum tidur dan membuka jendela kamarnya. Dia ingin melihat wajah Ayaka sebelum tidur.
Tuhan seakan mendengar doa dan harapan Stefano, karena tidak lama kemudian Ayaka nampak membuka jendela kamarnya. Stefano terlihat begitu senang sekali.
Berbeda dengan Ayaka, saat dia melihat Stefano yang sedang menatap dirinya dengan begitu lekat. Ayaka sangat kesal sekali, dia bahkan langsung keluar dari dalam kamarnya dan langsung berjalan untuk menghampiri Stefano.
"Ngapain kamu liat-liat aku terus?" tanya Ayaka seraya memukul kaca jendela kamar milik Stefano.
"Memangnya iya? Aku hanya sedang berdiri saja loh, mencari angin. Habisnya ac-nya mati," bohong Stefano.
Ayaka langsung melongokkan wajahnya ke arah kamar Stefano, lalu dia mencebikkan bibirnya karena ac di dalam kamar pria itu tidak mati.
"Dasar pembohong!" cibir Ayaka.
Stefano langsung tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, karena kebohongannya langsung ketahuan.
"Anda sangat cantik, Nona. Saya tidak bisa mengalihkan pandangan saya dari wajah anda, maaf sudah membuat anda marah. Tapi anda sungguh cantik," ujar Stefano.
"Ya ampun! Kamu tuh terlihat pendiam sekali, tapi nyatanya kamu tuh pinter banget gombal!" kesal Ayaka.
Entah karena apa, tetapi Ayaka tetap saja merasa kesal terhadap pria dewasa itu. Namun, anehnya dia juga seakan ingin terus berdekatan dengan pria itu.
"Saya ngga gombal, Nona. Anda memang sangat cantik," ujar Stefano tanpa memutuskan pandangannya kepada wanita itu.
Ah! Kalau boleh rasanya Stefano ingin memeluk wanita itu, mengusap punggungnya dengan lembut dan mengecup kening wanitanya.
"Ya ampun! Kamu tuh bener-bener nyebelin! Kalau kamu liatin aku terus, aku nggak bakalan mau diantar jemput sama kamu. Hiih!" ujar Ayaka seraya bergidik.
"Jangan marah, Nona. Anda memang benar-benar sangat cantik, besok saya akan membawa anda ke suatu tempat. Mau tidak?" tanya Stefano.
"Ke mana?" tanya Ayaka yang mulai penasaran.
"Ke tempat yang mungkin akan mengingatkan kamu tentang luka yang pernah kamu dapatkan dulu, tetapi juga akan mengingatkan kamu kepada saya."
Ayaka langsung mengerutkan dahinya, dia merasa tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Stefano. Namun, dia merasa penasaran.
__ADS_1
"Aih! Ngomongnya itu loh, pakai ngomongin luka dan masa lalu segala. Maksudnya apa sih?" tanya Ayaka dengan begitu heran.
Ayaka benar-benar merasa bingung saat berbicara dengan Stefano, karena pria itu malah membahas hal yang membuat dirinya tidak mengerti sama sekali. Otaknya sangat lelah, dia tidak mau berpikir ataupun menebak-nebak.
Karena tidak mau berlama-lama berada di dalam kebingungan, akhirnya Ayaka memutuskan untuk segera masuk kembali ke dalam kamarnya. Lebih baik tidur daripada mendengarkan Stefano mengoceh untuk hal yang tidak dia mengerti, pikirnya.
"Dia manis sekali walaupun sedang marah seperti itu," ujar Stefano seraya menatap kepergian Ayaka.
Keesokan paginya.
Pagi-pagi sekali Stefano sudah bersiap untuk mengantarkan Ayaka menuju Resto, tentunya dia juga menunggu Ayana dan ingin mengantarkan wanita itu menuju perusahaan Siregar. Karena hari ini Ayana masih menginap di kediaman Sam.
Selama perjalanan, Stefano tidak hentinya mengembangkan senyumnya. Tentunya hal itu membuat Ayana terheran-heran, ingin bertanya tetapi seolah begitu enggan.
Berbeda dengan Ayaka, wanita itu menampilkan wajah masamnya. Karena entah kenapa, dia merasa kesal setiap kali berdekatan dengan Stefano.
Namun, itu tidak berpengaruh bagi Stefano. Pria itu tetap saja tersenyum dengan begitu manis dan sesekali akan menolehkan wajahnya ke arah Ayaka, Ayana yang melihat akan hal itu hanya tersenyum melihat kelakuan dari Stefano.
Terlebih lagi saat melihat wajah Stefano, Ayana benar-benar merasa lucu karena Stefano terlihat seperti seorang pria yang sedang mencari perhatian dari lawan jenisnya.
"Jangan lupa antarkan adikku sampai ke tempat tujuan, ingat! Jangan macam-macam," ujar Ayana ketika dia hendak turun dari dalam mobil Stefano.
Mungkin dulu Ayana begitu membenci Ayaka, karena dia mengira jika Ayaka sudah mengambil ayahnya. Namun, saat ini Ayana begitu menyayangi Ayaka sama seperti dia menyayangi Kenzo dan juga Alice.
Selama perjalanan menuju Resto Rahardi, Ayaka nampak melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah yang cemberut. Dia seolah tidak suka dengan kehadiran Stefano di sana.
"Sudah sampai, Nona. Jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang." Stefano nampak turun lalu membukakan pintu mobil untuk Ayaka.
"Terima kasih, tapi kecantikan aku tidak akan hilang. Hanya saja kamu memang menyebalkan," jawab Ayaka yang langsung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Resto.
Namun, langkahnya terhenti karena Stefano tiba-tiba saja mencekal pergelangan tangan Ayaka, wanita itu bahkan sampai menatap tajam wajah Stefano karena dirasa begitu lancang.
"Maafkan saya, Nona. Saya hanya ingin memberikan ini untuk anda," ujar Stefano.
Stefano melepaskan cekalan tangannya, lalu dia mengambil sebuah kotak bekal dari dalam mobil dan memberikannya kepada Ayaka.
"Apa ini?" tanya Ayaka.
"Roti isi buatan saya, dimakan ya, Nona. Kata nona Ayana anda tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan," ujar Stefano.
Mau ditolak dia lapar, tetapi jika diterima takut Stefano besar kepala. Karena nyatanya di dalam Resto banyak makanan yang bisa dia makan, tetapi dia merasa tidak enak hati jika harus menolak kebaikan dari Stefano.
__ADS_1
"Ck! Terima kasih, tetapi lain kali kamu tidak perlu membuatkan aku apa pun!" ujar Ayaka masih dalam mode ketus. Namun, kotak bekal yang diberikan oleh Stefano langsung dia ambil.
Setelah mengatakan hal itu, Ayaka nampak hendak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Resto. Namun, kembali Stefano mencekal pergelangan tangan Ayaka.
"Ada apaan lagi sih? Lama-lama aku pukul juga kamu, aku juga bakal minta kak Ay buat pecat kamu. Dasar ngga sopan," ujar Ayaka.
"Anu, Nona. Maaf, saya hanya ingin memberikan ini untuk anda." Stefano kembali mengambil sesuatu dari dalam mobilnya, lalu dia memberikannya kepada Ayaka.
"Apa ini?" tanya Ayaka yang mendapatkan sebuah bungkusan kecil dari Stefano.
"Obat anti nyeri, kata nona Ayana anda sedang datang bulan." Stefano tersenyum canggung setelah mengatakan hal itu.
"Ya ampun!" keluh Ayaka.
Dia merasa kesel sekali terhadap Ayana, karena dia sedang datang bulan saja Ayana malah menceritakan hal itu kepada Stefano. Saat adzan subuh berkumandang, Ayaka memang terbangun dari tidurnya.
Namun, karena si merah datang dia kembali tidur dan berharap akan bangun tepat waktu. Namun, Ayana sengaja tidak membangunkan adiknya tersebut. Hal itu tentunya sengaja dia lakukan, Ayana ingin mengerjai adiknya.
"Pergilah dengan cepat! Pasti kak Ay membutuhkan bantuan kamu," usir Ayaka yang merasa mulai risih karena Stefano terus saja memandangi wajahnya.
"Iya, Nona. Saya akan pergi, tapi nanti sore anda harus mau saya ajak untuk pergi. Hanya sebentar saja," pinta Stefano.
"No!" tolak Ayaka.
"Hanya sebentar saja, Nona. Saya mohon," pinta Stefano penuh harap.
Stefano menatap Ayaka dengan tatapan penuh permohonan, hal itu membuat Ayaka menghela napas berat lalu berkata.
"Memangnya kamu mau ajak aku ke mana sih?" tanya Ayaka.
"Rahasia, tapi yang pasti ke sebuah tempat yang aman." Stefano menatap Ayaka dengan penuh harap.
"Hem! Baiklah," ujar Ayaka pada akhirnya.
Stefano langsung bersorak, dia bahkan terlihat mengepalkan kedua tangannya ke udara. Ayaka sampai menggelengkan kepalanya karena tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.
"Dasar konyol!" keluh Ayaka seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Resto.
"Ingat, Nona! Nanti sore jangan pergi ke mana-mana loh!" teriak Stefano.
Ayaka tidak menjawab apa yang dikatakan oleh Stefano, dia bahkan tidak menolehkan sama sekali wajahnya ke arah pria itu.
__ADS_1
"Semoga saja setelah mengetahui kenyataannya, Aya tidak akan membenci aku karena ibuku." Stefano lalu masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil tersebut menuju perusahaan Siregar.