Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 120


__ADS_3

"Mana Kakak tahu! Coba kamu inget-inget sendiri, dahlah. Kakak mau shalat dulu," ujar Ayana seraya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Dia ingin segera mandi, berwudhu, lalu melaksanakan shalat isya. Setelah itu dia ingin tidur bersama dengan adiknya yang begitu dia rindukan itu.


Selepas kepergian Ayana ke dalam kamar mandi, Ayaka nampak melangkahkan kakinya menuju jendela. Karena kebetulan jendela kamarnya masih terbuka, wanita itu berniat untuk menutup jendela kamarnya tersebut.


Namun, ketika dia sudah berada di depan jendela kamarnya. Dia malah terdiam seraya menatap Stefano yang ternyata juga sedang berdiri seraya menatap dirinya.


Ayaka jadi berpikir jika Stefano sudah sejak tadi memperhatikan dirinya yang sedang mengobrol bersama dengan Ayana, tidak lama kemudian Ayaka malah mencebikkan bibirnya seraya menggedikkan kedua bahunya.


Berbeda dengan Stefano, pria itu menatap Ayaka dengan begitu lekat. Tatapan dari mata pria itu terasa sampai mengena ke dalam hatinya, terasa hangat dan mampu membuat wajahnya merona.


Ayaka benar-benar bertanya di dalam hatinya, siapa pria itu dan kenapa dia merasa begitu dekat dengan Stefano. Namun, dia tidak mengingat sama sekali siapa pria itu.


Hanya satu yang membuat pikirannya terganggu, nama pria itu sama persis dengan malaikat penyelamatnya. Ayaka mulai bertanya-tanya di dalam hatinya, mungkinkah dia Stefano yang dulu begitu terlihat peduli kepada dirinya.


"Ck! Dia itu sebenarnya siapa sih? Ngga mungkin dia itu salah satu temen aku, kan? Karena usianya terlihat jauh lebih tua dari aku," ujar Ayaka.


Tidak lama kemudian Stefano nampak tersenyum lalu dia melambaikan tangannya, pria itu bahkan mengucapkan selamat malam tetapi tanpa suara. Hanya bibirnya saja yang terlihat bergerak-gerak.


Ayaka langsunh tersenyum, tanpa terasa tangannya membalas lambaian tangan dari Stefano. Lalu, dia menganggukkan kepalanya dan menutup jendela kamarnya.


"Ya ampun! Kenapa dia manis sekali? Dia itu siapa sih?" tanya Ayaka pada dirinya sendiri.


Tanpa terasa senyum di bibirnya langsung mengembang, entah kenapa terasa ada getaran aneh yang membuat hatinya menghangat.


Ayaka kembali duduk di depan meja rias, kemudian dia menatap pantulan wajahnya dari cermin seraya tersenyum karena teringat akan wajah Stefano yang terasa sangat manis.


Ayana yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi merasa aneh saat melihat wajah adiknya yang terlihat memerah, bahkan dia merasa aneh karena melihat Ayaka yang tersenyum sendirian di depan cermin.


"Jangan ngelamun mulu, jangan bayangin yang aneh-aneh. Nanti kesambet loh, sana buruan wudhu. Kamu juga belum shalat, kan?" tanya Ayana seraya menggelengkan kepalanya.


"Iya, Kakakku, Sayang," ujar Ayaka seraya bangun dan memeluk kakaknya tersebut dengan perasaan riang.


Setelah mengatakan hal itu, Ayaka langsung berlari menuju kamar mandi dengan perasaan bahagia. Entah karena apa, dia pun tidak tahu.

__ADS_1


"Dasar aneh!" ujar Ayana seraya terkekeh.


Keesokan paginya.


Ayana dan juga Ayaka sudah siap untuk bekerja, mereka bahkan sudah selesai dengan sarapan paginya. Ayaka sudah siap untuk pergi ke Resto, sedangkan Ayana sudah siap untuk pergi ke kantor.


Sam yang melihat kedua putrinya sudah bersiap nampak mengantarkan mereka ke depan kediamannya, karena Stefano sudah menunggu Ayana seperti biasanya.


"Silakan, Nona." Stefano nampak membukakan pintu mobil untuk Ayana, Ayana tersenyum lalu menolehkan wajahnya ke arah Ayaka.


"Kamu berangkatnya bareng Kakak aja, ya? Berangkatnya bareng Fano juga, biar kita bisa mengobrol selama di jalan," ujar Ayana.


Stefano langsung melebarkan senyumnya mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, berbeda dengan Ayaka yang langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


Rasanya sangat malu jika dia harus berangkat bersama dengan Stefano, rasanya sangat canggung dan terasa ada hal yang aneh yang dia tidak tahu apa itu.


Walaupun tidak dia pungkiri jika Ayaka begitu merindukan kakaknya, dia masih ingin mengobrol dengan kakaknya tersebut.


"Ngga mau ah, aku mau naik mobil aku sendiri aja. Lagian jarak dari kantor Kakak ke Resto lumayan jauh loh, aku kasihan sama asisten pribadi Kakak. Takutnya aku malah menghambat waktunya," jawab Ayaka.


"Ngga usah sungkan dan ngga usah banyak alasan, ayo bareng Kakak aja berangkatnya. Nanti Kakak akan memberikan uang tambahan kepada Fano, karena sudah mengantarkan kamu."


Ayana langsung menarik tubuh adiknya dan memaksa adiknya tersebut untuk masuk ke dalam mobil stefano, Ayana tersenyum dengan begitu lebar ketika melihat adiknya yang sudah duduk di balik kemudi.


"Kakak ih! Kok jadi nakal gini!" keluh Ayaka.


Dia merasa begitu kesal kepada Ayana, tetapi hatinya merasa berbunga ketika melihat senyum yang begitu lebar dari bibir Stefano.


"Duduk dengan anteng dan diamlah!" ujar Ayana.


Setelah mengatakan hal itu, tanpa ragu Ayana langsung memasangkan sabuk pengaman untuk adiknya tersebut. Lalu, dia berlari menghampiri Sam dan mengerlingkan sebelah matanya.


"Beres, Yah." Ayaka dan Sam langsung tersenyum penuh arti.


Pagi-pagi sekali Sam dan juga Ayana sudah membicarakan tentang Stefano dan juga Ayaka, keduanya sama-sama berpendapat jika Stefano dan juga Ayaka terlihat saling menyukai.

__ADS_1


Rasanya tidak ada salahnya untuk mendekatkan keduanya, maka dari itu Ayana berencana untuk menjadi mak comblang untuk adiknya tersebut.


Selama Ayana bekerjasama dengan Stefano, dia tidak pernah melihat keburukan sedikit pun dari pria itu. Ayana merasa jika Stefano adalah pria yang baik untuk adiknya.


"Aku berangkat dulu, Yah." Ayana memeluk Sam dengan erat, tidak lama kemudian Sam nampak melerai pelukannya dan berkata.


"Hati-hati di jalan," ujar Sam.


"Yes, Ayah," jawab Ayana seraya terkekeh.


Setelah berpamitan kepada ayahnya, Ayana langsung masuk ke dalam mobil milik Stefano. Tentunya dia duduk di bangku penumpang, karena dia ingin memberikan kesempatan kepada adiknya dan Stefano untuk lebih dekat.


Ayaka sempat menatap Ayana dengan tatapan tajamnya lewat kaca tengah, tetapi Ayana malah tertawa dan menolehkan wajahnya ke arah lain.


Stefano yang tidak paham dan tidak ingin melihat perdebatan di antara adik dan kakak tersebut langsung menyalakan mesin mobilnya.


Lalu, dia melajukan mobilnya menuju perusahaan Siregar, karena tentunya yang pertama kali Stefano lakukan adalah mengantarkan Ayana terlebih dahulu. Barulah setelah itu dia akan mengantarkan Ayaka.


"Sudah sampai, Nona," ujar Stefano seraya memberhentikan mobilnya tepat di depan lobby perusahaan.


Pria itu bahkan terlihat hendak turun karena ingin membukakan pintu mobil untuk Ayana, tetapi dengan cepat Ayana menepuk pundak pria itu.


"Tidak usah turun, kamu tolong antarkan adik aku menuju Resto di jalan Senopati. Nanti aku akan memberikan bonus tambahan untuk kamu, inget! Jangan dibawa kencan dulu," ujar Ayana menggoda.


"Kakak!" pekik Ayaka yang merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya tersebut.


Ayaka benar-benar tidak mengerti kenapa kakaknya bisa mengatakan hal seperti itu, karena tidak biasanya Ayana bertingkah seperti ini.


"Jangan teriak-teriak, Sayang. Hati-hati kerjanya, Kakak sayang Aya!" ujar Ayana sebelum dia turun dari dalam mobil Stefano.


Ayaka tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, walaupun tingkah kakaknya pagi ini benar-benar terasa menyebalkan. Akan tetapi, dia tetap saja menyayangi kakaknya tersebut.


"Aya juga sayang Kakak," ucap Ayaka seraya memandang kakaknya dengan penuh kasih.


Ayana tersenyum seraya melambaikan tangannya ketika melihat mobil yang dikendarai oleh Stefano melaju menuju Resto Rahardi, lalu dia segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam perusahaan Siregar.

__ADS_1


__ADS_2