
"Ada apa ini? Kenapa ada orang asing di rumahku? Itu juga si jelek kenapa peluk-peluk Fano?" tanya Andin yang baru saja tiba dan langsung pergi ke dapur karena mendengar suara keributan di sana.
Ayaka yang mendengar suara teguran dari Andin berusaha untuk melerai pelukannya dengan Stefano, tentunya karena dia takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Andin nantinya.
Dia sudah lancang memeluk Stefano, takutnya Adin akan marah atau bahkan memukul dirinya. Sungguh dia tidak mau, terlebih lagi jika Andin marah kepada Stefano.
Stefano merasa bersalah ketika melihat wajah ketakutan Ayaka, sungguh dia tidak tega melihat wajah Ayaka yang selalu terlihat ketakutan ketika berhadapan dengan ibunya.
"Bukan Aya yang peluk Fano, Mom. Tapi Fano yang peluk Aya," jawab Stefano dengan berani.
Andin langsung mengerutkan dahinya, dia merasa bingung dengan jawaban dari putranya yang mengatakan nama 'Aya'.
Selama ini tidak ada yang tahu siapa nama anak itu, karena memang Andin tidak tahu identitas dari anak itu. Bahkan, anak yang dia tabrak itu tidak pernah berbicara sama sekali.
"Aya? Siapa Aya?" tanya Andin seraya mendekat ke arah Ayaka, tetapi dengan cepat Stefano memasang badan agar gadis kecilnya terlindungi.
Dia takut jika ibunya itu akan menyakiti Ayaka, gadis kecil buruk rupa yang sangat dia sayangi itu. Stefano merasa ada teman setelah kedatangan Ayaka, dia tidak peduli walaupun wajahnya buruk rupa.
"Dia, Aya, Mom. Dia ngga bisu seperti yang Mom katakan, selama ini dia tidak bicara karena tertekan oleh Mom," jawab Stefano yang memang sudah tidak tahan melihat tingkah ibunya selama 1 tahun ini.
Wajah Andin langsung terlihat pucat pasi, dia takut jika anak buruk rupa yang dipanggil Aya itu sudah menceritakan semuanya kepada orang yang ada di sana.
"Dia bisa bicara? Dia tidak berbicara hal yang aneh-aneh, bukan?" tanya Andin memastikan.
Jangan sampai anak itu menceritakan semuanya, terlebih lagi dengan apa yang sudah dilakukan oleh dirinya kepada anak itu, bisa bahaya.
"Tidak, Nyonya Andin. Anak itu tidak berbicara apa pun, tetapi aku sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Satu tahun yang lalu kamu menabrak anak itu, bukannya bertanggung jawab malah melakukan hal yang tidak sepatunya."
Bukan Aruna yang menjawab pertanyaan dari Andin, melainkan Satria yang baru saja datang ke dapur bersama dengan Rachel.
Andin langsung membalikan tubuhnya yang begitu menegang karena mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, matanya langsung membulat dengan sempurna ketika Andin melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Tuan Satria? Nyonya Rachel? Sedang apa anda di sini?" tanya Andin dengan tubuh gemetar.
__ADS_1
Siapa yang tidak mengenal Satria putra Dinata, putri dari Larasati Dinata. Salah satu pemimpin perusahaan terbesar yang ada di ibu kota, bahkan Satria merupakan salah satu donatur di perusahaan Andin.
Selain itu, ketika Aruna meminta tolong kepada Satria tentang Ayaka, tentu saja dengan cepat Satria meminta tolong pula kepada anak buahnya untuk menyelidiki tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Orang kepercayaannya itu memberikan kabar hanya dalam waktu 2 jam saja, anak kecil yang ditabrak oleh Andin adalah anak dari Sam. Anak itu sedang berusaha untuk mengejar Angel, sayangnya sang ibu malah pergi begitu saja.
Untuk membuktikan hal itu, Satria bahkan datang ke lapas untuk bertanya secara langsung kepada Angel tentang apa yang terjadi kepada Ayaka.
Angel berkata dengan terus terang jika putrinya tertabrak mobil saat mengejar dirinya, dia tidak tahu keadaan putrinya setelah itu, Satria hanya bisa menghela napas berat mendengar pengakuan dari Angel.
Namun, Satria tidak berkata apa pun tentang keberadaan atau pun kondisi dari Ayaka. Dia justru malah merahasiakan hal itu dari Angel, bahkan Satria tidak mengatakan apa pun tentang Ayaka kepada Aruna.
Hal itu Satria lakukan karena takutnya putrinya tidak akan suka menolong Ayaka jika tahu kalau anak itu adalah anak Sam, karena walau bagaimanapun juga Ayaka adalah anak yang tidak berdosa.
Mungkin benar Ayaka pernah menyakiti hati Ayana, tetapi Satria sangat yakin jika Ayaka dididik dengan baik, maka anak itu akan tumbuh menjadi anak yang baik. Anak yang pandai dan juga berprestasi.
"Ya, ini kami. Kami datang untuk mengambil Aya, kalau anda tidak mengizinkan, bersiaplah untuk berurusan dengan polisi," ancam Satria.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, Andin langsung menghampiri Satria dan berlutut di kaki pria itu. Selain takut untuk dipenjarakan, dia juga takut jika pria itu tidak akan menjadi donatur lagi di perusahaan peninggalan suaminya.
Dia bahkan sampai menangis karena takut dipenjarakan, dia menangis karena takut usahanya bangkrut. Karena masih ada Stefano yang harus dia urus dan dia beri nafkah.
"Bangunlah, Nyonya Andin. Jangan menyembah diriku, karena aku bukanlah Tuhan. Jika memang kamu mau menyerahkan anak itu secara baik-baik, aku akan memaafkan kamu dengan semua perbuatan kamu. Tapi, minta maaflah kepada Aya. Karena selama ini kamu sudah memperlakukan dia dengan tidak layak," ujar Satria panjang lebar.
Andin yang merasa bahagia langsung mencium punggung tangan Satria dan juga Rachel secara bergantian, dia benar-benar merasa bahagia karena keduanya tidak mengambil jalur hukum.
"Iya, Tuan. Saya akan minta maaf kepada anak itu, terima kasih atas pengampunan anda," ujar Andin dengan senang.
Andin langsung menghampiri Ayaka, lalu dia berlutut di kaki anak itu. Bukannya merasa senang, justru Ayaka malah memundurkan tubuhnya.
Dia ketakutan jika Andin akan menyakiti dirinya lagi, Andin tersenyum kecut melihat akan hal itu. Hal itu terjadi tentunya karena ulahnya, ulah dirinya yang begitu kasar terhadap anak itu.
"Maafkan Tante, Tante sudah berdosa sama kamu, Nak." Andin berusaha untuk mendekati Ayaka, dia bahkan hendak mengusap puncak kepala gadis kecil itu.
__ADS_1
Namun, Ayaka yang mengalami trauma atas apa yang diperlakukan oleh Andin malah bersembunyi di balik tubuh Aruna. Aruna merasa miris sekali melihat akan hal itu, anak sekecil itu harus merasakan penderitaan yang luar biasa.
"Sudahlah, Nyonya Andin. Jangan mendekat lagi, dia takut karena anda selalu memperlakukan Aya dengan tidak baik. Saat ini juga saya akan membawa Aya pulang ke rumah saya, jika anda macam-macam, jangan salahkan saya jika nanti saya akan melakukan tindakan yang tegas!" ancam Aruna.
Andin langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju, dia tidak keberatan jika Aruna membawa Ayaka. Justru dia merasa senang karena tidak memiliki beban lagi.
Selain itu, dia juga sangat setuju jika Aruna membawa Ayaka. Yang terpenting nama baiknya dan nama baik perusahaan tetap terjaga.
"Silakan bawa anak itu, saya tidak keberatan sama sekali. Tapi, saya mohon jangan memenjarakan saya. Saya khilaf," ujar Andin yang masih setia berlutut.
Stefano yang mendengar Ayaka akan dibawa oleh Aruna langsung menghampiri Ayaka, anak itu bahkan langsung memeluk Ayaka dengan begitu erat seakan takut kehilangan.
"Nanti jangan lupa sama Kakak kalau kamu sudah tinggal di rumah baru," ujar Stefano.
Aruna terkekeh dengan air matanya yang berurai di kedua pipinya, dia merasa sedih dan juga merasa lucu di saat yang bersamaan.
"Jangan sedih, Sayang. Tante tinggal di sebelah rumah kamu, kamu bisa mengunjungi Aya kapan pun kamu mau," ujar Aruna.
Wajah Stefano yang sempat terlihat bersedih, kini nampak berbinar kembali. Karena itu artinya dia masih bisa bertemu dengan Ayaka secara bebas.
"Benarkah?" tanya Stefano dengan senang.
"Ya, Sayang. Terima kasih karena kamu sudah menyayangi Aya," ujar Aruna.
"Hem," jawab Stefano.
"Urusan di antara kita saya anggap selesai, Nyonya Andin. Tapi, jika anda berusaha untuk melakukan hal yang tidak baik terhadap Aya, Jangan salahkan saya jika saya akan bertindak tegas," ulang Satria.
"Tidak akan, Tuan. Tidak akan, silakan bawa dia."
Andin masih setia berlutut, bahkan dia tidak berani sama sekali untuk menatap wajah Satria. Aruna menghela napas berat, lalu dia mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Ayaka.
"Sayang, kamu tinggal sama Tante mau?" tanya Aruna.
__ADS_1
Ayaka terdiam, dia tahu jika Aruna sangat baik kepada dirinya. Namun, dia juga tidak tahu haruskah menerima tawaran dari Aruna atau tidak.
"Jangan takut, Tante tidak jahat. Nanti kamu bisa berteman dengan anak Tante, kamu juga bisa bersekolah. Mau?" tanya Aruna.