
Kamu dengar, Aruna? Kamu hamil dan aku tidak siap untuk menikahi kamu, gugurkan kandungan itu!" perintah Sam.
Aruna hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya dengan tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Sam, bisa-bisanya pria itu meminta dirinya untuk menggugurkan bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Hah?" kaget Aruna.
Aruna tidak menyangka jika dirinya kini dalam keadaan mengandung, dia lebih tidak menyangka lagi ketika Sam meminta dirinya untuk menggugurkan kandungannya.
Hamil di luar nikah saja sudah sangat berdosa, lalu bagaimana hukumnya dengan dirinya yang dengan sengaja menggugurkan kandungannya, pikirnya.
"Jangan diam saja, aku akan mengirimkan uang untuk biaya menggugurkan kandungan. Aku tidak mau tahu, pokoknya aku tidak ingin mendengar kamu meminta pertanggungjawaban dariku," ujar Sam.
Aruna yang sedang duduk di bangku taman langsung bangun dan mendorong bahu Sam dengan begitu kencang, Ia benar-benar merasa kesal dengan titah dari pria itu.
Sam bahkan sampai memundurkan kakinya beberapa langkah, karena ternyata dorongan dari Aruna begitu kuat.
"Dengarkan aku tuan brengsek! Jika kamu tidak mau menikahiku aku tidak keberatan, tapi jangan memintaku untuk menggugurkan kandungan ini. Cukup satu dosa saja yang sudah aku lakukan, jangan sampai aku melakukan dosa dengan membunuh janin yang ada di dalam rahimku ini!" kesal Aruna.
Sam terlihat begitu kesal sekali mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, rasanya Sam ingin sekali mencekik wanita itu agar tidak bernyawa lagi. Namun, ini di tempat umum dan juga tidak mungkin dia lakukan.
"Oh! Jadi, maksud kamu, kamu akan melahirkan anak itu?" tanya Sam seraya menunjuk perut Aruna.
Sam menatap Aruna dengan tidak suka, bahkan dia rasanya sangat mual kala tatapan matanya tertuju pada perut wanita itu.
"Ya, aku akan melahirkan bayi ini. Aku akan menjadi ayah dan juga Ibu bagi bayi ini," putus Aruna.
Sam memandang remeh ke arah Aruna, dia yakin jika Aruna tidak akan sanggup jika harus hamil tanpa menikah. Aruna pasti tidak akan sanggup mendengarkan olok-olok dari orang yang berada di sekitarnya.
"Oke! Silakan besarkan bayi haram itu, jangan pernah meminta pertanggungjawaban kepadaku. Oiya, aku akan mengirimkan sejumlah uang untuk kamu. Jika memang kamu mau membesarkan bayi itu, jangan bekerja satu kantor lagi denganku. Pergilah yang jauh!" tegas Sam.
__ADS_1
Sam mengambil ponselnya, lalu dia mengirimkan sejumlah uang melalui m-banking pada nomor rekening Aruna. Aruna yang mendapatkan notif pesan m-banking dari Sam langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
Lima ratus juta, itulah jumlah uang yang dikirimkan oleh Sam ke dalam nomor rekeningnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Sam akan melakukan hal itu, apa maksud dari pria itu, pikirnya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Aruna.
Aruna benar-benar merasa bingung karena Sam malah mengirimkan uang ke dalam nomor rekening miliknya, padahal pria itu berkata tidak akan tanggung jawab dengan kandungannya.
"Itu sebagai tanggung jawab dari aku untuk kamu, jangan pernah datang untuk meminta pertanggungjawaban atau untuk apa pun lagi."
Setelah mengatakan hal itu, Sam langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Aruna langsung menangis sesenggukan, sakit sekali rasanya diperlakukan seperti itu oleh pria yang sudah menghamili dirinya.
"Ya Tuhan! Kenapa dia begitu kejam? Tapi, aku pasti bisa mengurus anak ini sendirian. Aku pasti bisa, tapi... pasti ibu akan kecewa terhadapku!" kesal Aruna seraya memukul-mukul kepalanya.
Di saat Aruna sedang menangis dan menyalahkan dirinya dengan apa yang sudah terjadi, seorang wanita paruh baya datang menghampiri Aruna dan menuntun Aruna untuk duduk di bangku taman.
"Aku Almira, kebetulan lewat sini terus lihat kamu lagi nangis-nangis. Kamu kenapa?" tanya wanita itu dengan lembut.
Wanita itu terlihat begitu iba kepada Aruna, karena Aruna menangis dengan begitu sedih sekali.
"Aku hamil dan orang yang menghamili aku tidak mau bertanggung jawab, aku sedih. Tapi satu hal yang bikin aku sedih lagi, dia nyuruh aku buat gugurin kandungan aku," adu Aruna.
"Astaga! Kurang ajar sekali dia, di mana lelaki brengsek itu?" tanya wanita itu dengan menggebu.
Aruna langsung mengedarkan pandangannya ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Almira, tidak jauh dari sana dia melihat Sam yang sedang berdiri di pinggir jalan. Sepertinya pria itu sedang menunggu taksi yang lewat.
"Itu, Tante. Pria itu yang menghamiliku," tunjuk Aruna pada Sam.
Almira langsung menolehkan wajahnya ke arah pria yang ditunjuk oleh Aruna, matanya langsung mengerjap dengan tidak percaya saat melihat Sam.
__ADS_1
"Pria itu yang menghamili kamu?" tanya Almira.
"Ya, Tante. Dia tega sekali meminta aku untuk mengugurkan bayi yang ada di dalam kandunganku," adu Aruna dengan sedih.
"Maksud kamu, Sam yang menghamili kamu? Pria itu?" tanya Almira memastikan.
"Loh! Kok Tante tau kalau--"
Belum juga Aruna menyelesaikan ucapannya, tetapi Almira sudah bangun dan berjalan dengan cepat untuk menghampiri Sam. Aruna begitu kaget dengan apa yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu, tidak lama kemudian Aruna melihat Almira menjewer kuping Sam.
Aruna benar-benar kaget dengan tindakan yang dilakukan oleh wanita itu, dengan cepat Aruna berlari dan menghampiri Sam yang terlihat meringis kesakitan akibat ulah dari Almira.
"Tante, aku sangat tahu jika Tante ikut emosi mendengar apa yang sudah aku ceritakan. Tapi tolong jangan jewer telinganya juga, Tuan Sam terlihat sangat kesakitan," pinta Aruna.
Almira langsung memutarkan bola matanya dengan malas, padahal Sam sudah menyuruh dia untuk menggugurkan kandungannya, tetapi Aruna masih saja membela pria itu.
"Tidak bisa Aruna, aku harus memberikan pelajaran kepada anak sialan ini. Berani sekali dia menghamili kamu dan tidak mau bertanggung jawab!" ucap Almira menggebu.
"Eh? Tidak apa-apa, Tante. Kalau memang dia tidak mau bertanggung jawab aku tidak masalah, tolong lepaskan dia, Tan." Aruna berbicara dengan nada mengiba, hal itu membuat Almira menatap tajam ke arah Sam tetapi tetap saja dia tidak melepaskan tangannya dari telinga pria itu.
"Sam! Kamu dengar apa yang Aruna katakan? Kamu sudah menyakitinya dan dia masih tidak tega melihat kamu dijewer seperti ini, apakah ka--"
Sam yang merasa kesal dan juga malu karena diperlakukan seperti itu di tempat umum, langsung memungkas ucapan dari wanita itu.
"Mom! Mom salah paham aku---"
Aruna mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu dia memukul pipi Sam dengan cukup kencang. Sontak saja Sam langsung menolehkan wajahnya ke arah Aruna, lalu dia menatap Aruna dengan tatapan penuh pertanyaan dan juga kekesalan.
"Mom? Kamu dan Tante--"
__ADS_1