Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 130


__ADS_3

"Karena aku sangat bahagia, ternyata kamu juga mencintai aku." Stefano tersenyum penuh arti karena dia mendengar debaran jantung gadis kecilnya dengan begitu cepat.


Malu sekali rasanya karena Stefano bisa menebak perasaannya, tetapi Ayaka begitu gengsi untuk mengakui semuanya. Gadis itu malah memalingkan wajahnya ke arah lain, dia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya.


"Mana ada aku cinta sama kamu, ngaco ih. Ayo pulang," ajak Ayaka.


Walaupun mulut wanita itu berkata seperti itu, tapi raut wajahnya tidak bisa berbohong. Ada raut kebahagiaan di sana, ada juga raut canggung dan malu.


"Aish! Kamu tuh kenapa susah banget buat ngakuin perasaan kamu sendiri sih? Aku---"


"Kita pulang, aku sudah lapar. Lagi pula sebentar lagi waktu maghrib tiba," pungkas Ayaka.


Ayaka langsung melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam rumah megah tersebut, mau tidak mau Stefano langsung mengikuti langkah dari Ayaka.


"Iya, iya." Stefano berkata dengan senyum tipis di bibirnya.


Jujur saja Stefano merasa gemas sekali kepada Ayaka, karena wanita itu seakan tidak mau jika Stefano tahu akan perasaan wanita itu.


Saat tiba di halaman rumah, Ayaka tidak langsung masuk ke dalam mobil milik Stefano. Dia malah melangkahkan kakinya menuju luar gerbang, Stefano dengan cepat mengejar wanita itu.


"Mau ke mana, hem?" tanya Stefano.


Sungguh Stefano takut jika Ayaka benar-benar marah kepada dirinya, dia takut jika Ayaka tidak mau pulang bersama dengan dirinya.


"Mau ke rumah tante Aruna, memangnya kenapa?" jawab Ayaka ketus.


Stefano tersenyum kecut, karena wanita itu seakan ingin menutupi perasaannya dengan ucapan yang tidak bersahabat.


"Aku yang ajak kamu ke sini, masa kamu pulangnya ke rumah nyonya Aruna?" protes Stefano.


"Bodo! Aku ngga mau pulang sama kamu," jawab Ayaka.


"Kenapa? Kamu takut jatuh cinta sama aku kalau terlalu sering bareng sama aku?" tanya Stefano.

__ADS_1


"Apaan sih? Siapa juga yang takut jatuh cinta sama kamu?" sangkal Ayaka.


"Kalau begitu, ayo kita pulang." Stefano langsung menggenggam tangan Ayaka, gadis itu nampak tersenyum seraya menatap tangannya.


Jujur saja Ayaka sangat suka ketika Stefano mengatakan isi hatinya, dia begitu tersanjung ketika Stefano menyatakan cinta padanya. Karena nyatanya Ayaka juga mencintai pria itu.


Namun, bayang-bayang Andin yang memperlakukan dirinya dengan kasar malah teringat jelas diingatnya. Wanita itu dulu begitu kejam dan dirasa tidak berperasaan.


"Masuk dan duduk dengan anteng, aku akan mengantarkan kamu sampai rumah tuan Sam." Stefano membukakan pintu mobilnya, lalu membantu Ayaka duduk.


Stefano bahkan membantu Ayaka untuk memasangkan sabuk pengamannya, wanita itu sempat tersenyum. Lalu, dia menolehkan wajahnya ke arah lain.


Stefano hanya terkekeh, dia mengelus lembut puncak kepala Ayaka dan menutup pintu mobilnya. Gemas sekali melihat kelakuan dari gadis kecilnya itu, terlebih lagi ketika melihat Ayaka yang seakan berusaha untuk menolak perasaannya.


"Jangan marah terus, nanti cantiknya beneran ilang." Stefano langsung melajukan mobilnya, Ayaka malah pura-pura tidak mendengarnya.


Selama perjalanan menuju kediaman Sam, Ayaka tetap terdiam. Berbeda dengan Stefano yang terus saja tersenyum, sesekali dia akan menolehkan wajahnya ke arah Ayaka.


Bahkan, Stefano sempat mengusap dan menggenggam tangan kanan Ayaka dengan tangan kirinya. Wanita itu hanya terdiam tanpa menolehkan wajahnya ke arah Stefano.


"Hem! Aku turun dulu, terima kasih sudah mau mengantarkan," ucap Ayaka.


Setelah mengatakan hal itu, Ayaka nampak hendak turun dari mobil Stefano. Namun, kembali Stefano menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Ayaka.


"Aya, Kakak beneran cinta loh sama kamu. Kalau ada alasan yang memang tidak bisa membuat kamu menerima Kakak, tolong katakan." Stefano berbicara dengan begitu lembut.


Walaupun dia sangat tahu jika Ayaka pasti menolak dirinya karena teringat akan masa lalu yang pernah dilalui oleh Ayaka di rumahnya, tetapi dia tetap bertanya untuk memastikan.


Ayaka tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, dia menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan.


"Kakak juga udah tau bagaimana perasaan Aya, tapi... tolong kasih Aya waktu. Karena Aya masih belum bisa melupakan bagaimana cara ibu Andin memperlakukan Aya dengan buruk kala itu," jawab Ayaka pada akhirnya.


Stefano langsung menghela napas pasrah, karena nyatanya tebakannya benar adanya. Stefano benar-benar merasa sedih dengan apa yang dikatakan oleh Ayaka, karena kenyataannya dulu ibunya memanglah sangat jahat.

__ADS_1


Dulu Stefano bahkan sempat membenci ibunya, tetapi setelah Stefano mencari tahu, ternyata ibunya itu sempat depresi karena ditinggalkan oleh ayahnya.


Menjadi single parent tidak semudah yang dibayangkan, walaupun pada kenyataannya dulu Andin ditinggalkan banyak harta oleh almarhum suaminya. Namun, tetap saja dia merasa sendirian.


Andin yang begitu mencintai suaminya merasa begitu bersalah, karena tidak mengetahui jika suami itu ternyata memiliki penyakit yang berbahaya.


Dia merasa menjadi seorang istri yang gagal, karena di saat suaminya tutup usia dia tidak ada di samping suaminya tersebut.


Terlebih lagi Andin yang tidak memiliki keluarga, dia tidak bisa berkeluh kesah dengan siapa pun. Stefano yang notabene masih kecil, tentunya tidak bisa diajak untuk mencurahkan isi hatinya.


"Maaf, aku mewakili almarhumah Ibuku meminta maaf kepada kamu. Tolong maafkan almarhumah ibu agar dia bisa tenang di alam sana," pinta Stefano dengan kesedihan yang mendalam.


Kaget?


Tentu saja Ayaka begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, dia tidak menyangka jika wanita yang dulu pernah berbuat jahat kepada dirinya ternyata sudah meninggal.


"Almarhumah? Ibu Andin sudah meninggal?" tanya Ayaka dengan tidak enak hati.


Stefano langsung menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, wajah pria itu berubah menjadi sendu.


"Ya, dia sudah meninggal 4 bulan yang lalu. Dia menderita kanker usus stadium akhir," jawab Stefano.


"Innalillahiwainnailaihirojiun, aku turut berduka cita." Wajah Ayaka terlihat sedih, terlebih lagi ketika dia bersitatap mata dengan Stefano.


Ayaka bisa menangkap raut wajah kesedihan dari wajah pria itu, dia menjadi merasa bersalah dibuatnya. Walaupun dia membenci apa yang sudah dilakukan oleh Andin di masa lalu kepada dirinya, tetapi tidak mungkin dia masih menyimpan kekecewaan terhadap orang yang sudah meninggal.


"Sekarang turunlah, cepat mandi biar ngga bau. Kakak sayang sama Aya," ujar Stefano seraya mengelus lembut pipi Ayaka.


Perbuatan Stefano selalu saja membuat hati Ayaka melunak, dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Kakak juga harus mandi, biar tambah ganteng. Aya turun dulu," pamit Ayaka.


Ayaka langsung turun dari mobil Stefano setelah mengatakan hal itu, ada rasa tidak enak hati dan rasa bersalah karena sudah bersikap jutek kepada Stefano. Terlebih lagi setelah mendengar Andin yang sudah tiada.

__ADS_1


"Semoga kamu bisa cepat membuka hati untuk aku," doa Stefano sebelum dia meninggalkan kediaman Sam.


__ADS_2