Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 185


__ADS_3

Kini Aruna dan juga Sigit sudah berada di dalam ruangan dokter yang menangani Anisa, keduanya nampak duduk di depan dokter. Mereka sudah bersiap untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dokter tersebut nampak tersenyum melihat ketegangan di wajah keduanya.


Dokter itu paham, pasti karena Aruna dan juga Sigit mengkhawatirkan keadilan Anisa, pikirnya. Karena gadis itu memang koma selama dua minggu, pasti banyak yang mereka khawatirkan.


"Tolong jelaskan kepada saya, Dok, sebenarnya bagaimana keadaan Anisa?" tanya Aruna.


Dia ingin mengetahui keadaan Anisa dengan pasti, karena walau bagaimanapun juga nanti dialah yang akan mengurusnya Anisa.


Aruna sudah meminta izin kepada saudara-saudara dari Sahrul yang ada di kampung halaman pria itu untuk mengasuh Anisa, karena Anisa memang membutuhkan pengobatan intensif.


Selain itu Aruna juga ingin mengasuh Anisa sampai wanita itu dewasa, sampai wanita itu paham arti dari kehidupan seperti apa.


Setelah wanita itu merasa dewasa dan bisa menjalani kehidupannya sendiri, setelah wanita itu bisa menentukan kehidupannya sendiri, tentunya Aruna akan membebaskan Anisa untuk menjalani kehidupannya.


"Nona Anisa mengalami hilang Ingatan, semua yang terjadi sebelum dia kecelakaan tidak dia ingat sama sekali. Hanya kejadian yang terjadi setelah kecelakaan yang dia ingat," jelas Dokter.


"Kenapa bisa seperti itu, Dok?" tanya Sigit yang ikut merasa penasaran.


"Terjadi benturan yang begitu keras pada kepala nona Anisa, hal itu membuat dirinya kehilangan semua ingatannya. Terlebih lagi setelah mengalami kecelakaan, sepertinya dia mengalami trauma. Dengan seperti itu dia seolah tidak ingin mengingat masa lalunya. Maka dari itu semua ingatan masa lalunya telah hilang," jelas Dokter lagi.


Sesaat setelah terjadi kecelakaan Anisa masih tersadar dengan apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya, tentunya pasti dia akan mengalami trauma yang luar biasa.


Anisa tidak sadarkan diri setelah beberapa saat setelah mengalami benturan, dia juga sempat menjerit histeris kala melihat banyaknya darah yang keluar dari tubuh Arin dan juga Sahrul.


"Hilang ingatan seluruhnya, Dok?" tanya Aruna lagi.


Miris sekali apa yang menimpa kepada Anisa, menurut Aruna. Akan tetapi, terlepas dari apa pun itu pasti ada rencana Tuhan di balik semua ini.


"Ya, nona Anisa mengalami Amnesia Retrograde. Pada kondisi ini membuat nona Anisa tidak bisa mengingat informasi atau kejadian di masa lalu, hanya ada kejadian yang baru terjadi yang dia ingat," jelas Dokter.


"Lalu, apakah ada kesempatan untuk Anisa mengingat masa lalunya?" tanya Aruna lagi.

__ADS_1


Aruna dan juga Sigit sudah seperti seorang detektif swasta, mereka bertanya-tanya karena ingin mendapatkan jawaban dari kasus yang sedang mereka tangani.


"Maaf, tapi sepertinya nona Anisa tidak akan bisa mengingat kembali. Semua ingatan yang ada di masa lalunya sudah hilang dari Ingatannya," jelas Dokter.


Ada rasa senang jika Anisa memang melupakan semua masa lalunya, karena dengan seperti itu wanita itu mungkin tidak akan begitu sedih ketika mengingat dirinya mengalami kecelakaan dan kehilangan kedua orang tuanya.


Akan tetapi, ada juga rasa sedih di hati Aruna. Karena jika Anisa kehilangan ingatan, itu artinya Anisa tidak akan mengingat kedua orang tuanya kembali.


Sungguh miris apa yang terjadi saat ini, karena Aruna merasa jika yang terjadi kepada Anisa sangatlah mengerikan.


"Lalu, apa yang harus kami lakukan saat ini, Dok?" tanya Aruna.


"Anda harus mengurus nona Anisa dengan baik, karena selain hilang ingatan, saat ini kakinya juga bermasalah. Tetapi setelah melakukan terapi kaki nona Anisa akan baik kembali, walaupun memang membutuhkan waktu yang sangat lama," jawab Dokter.


Dokter tidak menakut-nakuti Aruna dan juga Sigit dengan mengatakan hal seperti itu, karena pada kenyataannya Anisa mengalami kerusakan yang parah pada kakinya.


Aruna yang merasa begitu sedih langsung memeluk suaminya, dia berusaha untuk menenangkan dirinya di dalam pelukan suaminya tersebut. Menurutnya apa yang menimpa Anisa benar-benar membuat dirinya syok.


"Oh ya, Dok. Satu hal lagi yang saya ingin tanyakan, kenapa Anisa memanggil saya Bunda? Kenapa dia seolah-olah mengingat jika keluarga saya adalah keluarganya?" tanya Aruna dengan penasaran.


Dokter tersenyum mendengar pertanyaan dari Aruna, lalu pria itu pun menjawab pertanyaan dari wanita yang benar-benar begitu penasaran itu.


"Sepertinya selama dua minggu dia koma, hanya anda dan keluarga yang selalu mengajak nona Anisa untuk berbicara. Maka dari itu ingatan awal yang terbentuk adalah anda dan keluarga anda adalah keluarganya," jawab Dokter.


Aruna menganggukkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, karena hal yang dijelaskan oleh dokter adalah hal yang paling masuk akal.


"Oke, saya paham. Kalau begitu kami permisi," ujar Aruna.


Aruna dan juga Sigit nampak bersalaman dengan dokter, setelah itu Aruna dan juga Sigit kembali masuk ke dalam ruang perawatan Anisa.


Sigit dan Aruna tersenyum ketika masuk ke dalam ruang perawatan Anisa, karena gadis itu terlihat begitu ceria. Di samping kanan dan kirinya ada Ayana dan juga Alice, entah apa yang mereka sedang bicarakan.

__ADS_1


Berbeda dengan Sandi dan juga Kenzo, keduanya nampak anteng duduk di atas sofa seraya memperhatikan Ayana, Alice dan juga Anisa yang sedang bercengkrama.


Sandi terlihat memutuskan untuk bergabung bersama dengan Kenzo dan juga Sandi, duduk anteng tanpa banyak bicara.


Berbeda dengan Aruna, dia nampak menghampiri Anisa dan duduk tepat di samping gadis itu.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Aruna seraya mengusap lengan gadis itu.


"Sangat baik, Bun," jawab Anisa.


"Syukurlah, Bunda sangat senang. Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Aruna karena Anisa sudah lama koma, mungkin saja anak itu menginginkan sesuatu, pikirnya.


"Nisa mau pulang, Nisa ngga betah. Di sini bau," jawab Anisa.


Aruna terkekeh mendengar jawaban dari Anisa, mungkin karena dua minggu koma di rumah sakit, tentunya hal itu membuat Anisa merasa ingin segera pulang.


Akan tetapi, Aruna tidak bisa begitu saja membawa Anisa pulang. Karena gadis itu masih membutuhkan perawatan intensif, kaki gadis itu masih terluka dan membutuhkan pengobatan terbaik.


Sepertinya Aruna tidak bisa mengabulkan keinginan dari gadis itu untuk saat ini, karena dia harus bertanya terlebih dahulu kepada dokter.


"Ya ampun, Sayang. Kaki kamu masih sakit, masih membutuhkan perawatan. Kamu yang sabar ya, nanti juga kamu akan pulang." Aruna mengelus lembut lengan gadis itu.


Anisa terlihat begitu kecewa sekali mendengar jawaban dari Aruna, tetapi tidak lama kemudian dia tersenyum karena mungkin itulah yang terbaik untuk dirinya.


Dia tidak boleh pulang terlebih dahulu, karena harus mendapatkan perawatan agar nantinya kalau pulang dia sudah sembuh total.


"Baiklah, Buna. Aku menurut, aku akan tinggal di rumah sakit agar cepat sembuh."


Aruna ingin sekali menangis melihat Anisa yang begitu tegar, jika saja Anisa tidak hilang ingatan dan mengingat kedua orangtunya sudah meninggal, apakah Anisa masih akan tegas seperti ini, pikirnya.


Namun, dia berusaha untuk menahan kesedihannya. Karena dia tidak boleh menangis di depan Anisa dan juga anak-anaknya, justru dia harus berusaha untuk menguatkan gadis itu.

__ADS_1


"Bagus, anak yang baik," ujar Aruna.


__ADS_2