
Padahal Kenzo masih ingin berkeluh kesah di dalam pelukan ibunya, dia masih ingin menenangkan hatinya yang masih terasa sakit karena ditinggalkan oleh Anaya.
Kenzo bahkan masih belum percaya jika Anaya tega meninggalkan dirinya, padahal walaupun memang dia tidak mau dekat dengan Kenzo, setidaknya wanita itu jangan pergi agar Kenzo bisa melihat wanita itu walaupun dari jauh.
Namun, melihat Ayana yang bersedih, Kenzo harus rela memberi ruang untuk kakaknya bisa berkasih sayang dengan ibunya. Karena sepertinya Ayana lebih memerlukan pelukan dari ibunya, dia lebih memerlukan ketenangan dalam dekapan hangat ibunya.
"Jadi, kata dokter bagaimana?" tanya Aruna yang masih penasaran dengan kondisi kesehatan dari putrinya tersebut.
Dia sebenarnya merasa takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap Ayana, karena dulu dirinya hanya satu malam bercinta dengan Sam saja langsung hamil.
"Aku bisa cepat hamil, Bun. Tapi, aku harus memperbaiki pola hidupku. Aku harus makan dengan benar, aku juga harus teratur berolahraga." Ayana menjawab dengan raut wajah sedih, lalu dia memeluk ibunya dengan begitu erat.
Aruna hanya bisa menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya tersebut, karena Ayana memang susah dalam yang namanya memakan makanan yang sehat.
Putri sulungnya itu lebih sering memakan makanan yang pedas, minumnya selalu minuman yang manis dan terkadang mengandung gula tambahan.
Ayana jarang sekali yang namanya memakan sayuran, Ayana juga jarang sekali memakan buah-buahan. Wanita itu lebih senang menghabiskan uangnya untuk membeli jajanan yang terkadang mengandung bahan pengawet dan penambah rasa.
"Kalau begitu bicarakan semuanya kepada Sandi, karena menurut Buna, Sandi akan lebih paham dengan makanan yang harus dia sediakan untuk kamu makan." Aruna mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.
Ya, Ayana juga sempat berpikir untuk segera memberitahukannya kepada Sandi. Karena Sandi memang mengetahui makanan sehat apa saja yang harus dimakan oleh Ayana, agar kesehatan wanita itu kembali pulih.
"Ya, Buna. Aku akan pergi ke tempat Sandi bekerja, tapi untuk saat ini izinkan aku untuk memeluk Buna lebih lama," pinta Ayana.
Berada di dalam pelukan ibunda adalah hal yang bisa membuat seorang anak merasa lebih tenang, walaupun anak itu sudah dewasa tetapi tetap saja jika berhadapan dengan ibunya dia ingin menjadi seorang anak manja yang disayangi oleh ibunya tersebut.
"Ya, Sayang," jawab Aruna.
__ADS_1
Anisa yang sejak tadi terdiam nampak mengulurkan tangannya, lalu dia mengusap ulangan Ayana dengan begitu lembut.
"Yang sabar ya, Kak. Allah pasti sedang memberikan ujian kesabaran kepada Kakak," ujar Anisa yang terdengar begitu manis di telinga Ayana.
Ayana tersenyum begitu manis ke arah Anisa, lalu dia mengusap pundak wanita itu dengan begitu lembut. Karena menurut Ayana, Anisa juga butuh dikuatkan.
Wanita itu memang kehilangan ingatannya, dia tidak mengingat jika kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan.
Namun, tetap saja menurut Ayana nasib dari Anisa lebih mengenaskan daripada dirinya. Ayana harus berusaha kuat dan tidak cengeng dalam menghadapi setiap ujian yang diberikan oleh tuhan kepada dirinya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu masuk ke dalem gih, udah sore juga. Istirahat biar kakinya cepat sembuh," ujar Ayana.
Anisa nampak menganggukkan kepalanya, lalu dia mengedarkan pandangannya mencari bibi yang tadi mengantarkan dirinya ke sana. Namun, ternyata bibi tidak ada di sana. Anisa nampak kebingungan.
Aruna salah paham dengan kebingungan dari wanita itu, karena jika tidak ada yang mendorong kursi roda dari Anisa, maka Anisa tidak bisa masuk ke dalam kamarnya.
Aruna tersenyum ke arah Kenzo, lalu dia menepuk pundak putranya dan berkata.
Sepertinya dengan mandi dan segera salat akan membuat hati Kenzo lebih tenang, karena dia bisa mencurahkan isi hatinya kepada sang Maha Pencipta.
"Ya, Buna," jawab Kenzo setengah hati.
Kenzo nampak mengecup pipi Aruna, setelah itu dia mendorong Anisa yang berada di atas kursi rodanya tanpa banyak bicara. Walaupun Anisa merupakan gadis yang manis dan juga menarik, tetapi gadis itu tidak mampu menarik hati Kenzo.
Bahkan, di saat tatapan mata mereka bertemu, Kenzo merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Anisa. Entah apa, tetapi Kenzo tidak peduli. Selama Anisa tidak mengganggu kehidupannya, Kenzo tidak akan pernah mengusik wanita itu.
"Terima kasih, Kak. Boleh antarkan aku ke kamar mandi? Aku kebelet pipis," ujar Anisa.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Anisa, Kenzo langsung menggelengkan kepalanya. Karena rasanya tidak mungkin dia mengantarkan wanita itu menuju kamar mandi, terlebih lagi mereka bukan mahram.
"Kak, aku udah nggak tahan pengen pipis. Takutnya malah keburu pipis di sini," ujar Anisa.
Kenzo nampak berjalan menuju pintu kamar Anisa, dia mengedarkan pandangannya karena mencari pelayan. Sayangnya, tidak ada satupun pelayan yang nampak batang hidungnya.
"Kakak, Nisa udah pengen pipis ini," ujar Anisa dengan cepat karena takut Kenzo akan pergi dari kamarnya.
Kenzo langsung menghampiri Anisa, lalu dia mendorong wanita itu sampai ke dalam kamar mandi. Setelah itu, Kenzo nampak hendak keluar dari dalam kamar mandi.
"Jangan keluar dulu, tolong bantu Nisa untuk bangun dan duduk di atas closet," ujar Anisa mengiba. Kenzo menurut, dia mengangkat tubuh Annisa dan mendudukkannya di atas closet.
Sebenarnya Kenzo merasa kasihan melihat keadaan dari wanita itu, tetapi entah kenapa dia merasa tidak suka saat berdekatan dengan Anisa.
"Aku menunggu di luar, jika sudah kamu panggil aja," ujar Kenzo yang langsung keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintunya.
Dia bahkan sama sekali tidak menunggu jawaban dari Anisa, Kenzo nampak berdiri di depan pintu seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Dia menunggu wanita itu memanggil namanya, tetapi setelah sepuluh menit kemudian Kenzo tidak juga mendengar Anisa yang memanggil namanya.
Bahkan, gemericik suara air juga sudah tidak terdengar lagi bunyinya. Kenzo menjadi khawatir dibuatnya, dia takut jika Anisa susah dalam melakukan hal yang seharusnya dia lakukan di dalam kamar mandi.
"Nisa!" panggil Kenzo.
Tidak ada sahutan dari dalam, karena merasa penasaran akhirnya Kenzo membuka pintu kamar mandi tersebut. Dia takut jika Anisa terjatuh di dalam kamar mandi dan sampai pingsan.
"Astagfirullah!" pekik Kenzo ketika dia melihat Anisa yang sedang dalam keadaan polos.
__ADS_1
Wanita itu sedang duduk di atas kloset, rambutnya nampak diikat secara asal. Seluruh tubuhnya nampak polos tanpa sehelai benang pun, Kenzo benar-benar tidak menyangka bisa melihat Anisa dalam keadaan polos seperti itu.
"Kenapa kamu tidak memakai baju?" tanya Kenzo seraya membalikkan tubuhnya untuk membelakangi wanita itu.