
Kenzo merasa jika dia baru saja terlelap di dalam tidurnya, tetapi dia begitu kaget ketika mendengar suara teriakan dari istrinya. Sungguh dia takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap Anaya.
Dengan cepat pria itu bangunan duduk di tepian tempat tidur, dia mengucek matanya dan mengedarkan pandangannya. Kenzo bisa bernapas dengan lega karena ternyata istrinya sedang duduk di atas sofa.
Namun, wanita itu terlihat begitu gugup. Bahkan, Anaya nampak tidak enak hati saat menatap dirinya. Kenzo merasa aneh dibuatnya.
"Kamu kenapa, Yang? Kamu jatuh atau bagaimana?" tanya Kenzo.
Pria itu dengan perlahan menghampiri Anaya, karena kepalanya masih terasa pusing akibat terbangun karena kaget.
"Anu, Yang. Itu, aku---"
Anaya terlihat begitu kesusahan untuk menjawab pertanyaan dari suaminya, Kenzo mengerutkan dahinya dengan dalam. Dia memperhatikan dari tingkah istrinya tersebut.
Anaya seperti anak kecil yang ketahuan menyembunyikan sesuatu dari ibunya, Kenzo nampak mencari sesuatu hal yang disembunyikan oleh istrinya tersebut.
Tidak jauh dari tempat Anaya duduk, dia menemukan ponsel miliknya. Padahal, seingatnya Kenzo tidak menyimpan ponsel itu di sana.
Kenzo jadi berpikir, mungkinkah istrinya tersebut berteriak karena kaget melihat isi dari ponsel miliknya tersebut. Namun, apa yang membuat wanita itu begitu kaget ketika melihat ponselnya, pikirnya.
"Yang, kamu ngga sakit, kan?" tanya Kenzo seraya duduk tepat di samping istrinya. Namun, tangannya dengan cepat menggapai ponselnya.
"Ngga, aku ngga sakit. Cuma itu aja, sebenarnya--"
Anaya kembali terdiam, dia benar-benar merasa bingung harus menceritakannya dari mana. Kenzo tidak begitu peduli dengan Anaya yang kebingungan, pria itu malah membuka ponselnya dan melihat apa yang sedang dilihat oleh istrinya tersebut secara diam-diam.
"Ya ampun, Sayang! Apa yang kamu lihat?" tanya Kenzo ketika dia menyalakan ponselnya dan rekaman video Anisa yang bisa langsung dia lihat.
"Anu, itu. Aku---"
"Astagfirullah, Yang. Dari tadi kamu itu bilangnya anu anu mulu? Anu apaan sih?" tanya Kenzo.
Kenzo merasa jika istrinya itu ingin mengetahui isi ponselnya, maka dari itu perempuan itu secara sembunyi-sembunyi memeriksa ponsel.
Padahal, kalau Anaya meminta izin secara langsung kepada dirinya, pasti Kenzo juga akan memberikan ponselnya kepada wanita itu. Karena Kenzo merasa tidak pernah menyembunyikan apa pun dari Anaya.
"Maaf, Sayang. Aku mau cerita, tapi kamunya jangan marah." Anaya nampak naik ke atas pangkuan Kenzo, lalu dia mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
Kenzo tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, mana bisa dia marah kepada Anaya. Wanita yang sudah membuat dia jatuh hati sejak lama, wanita yang sempat membuat jiwanya hampa.
"Cerita aja, aku ngga bakalan marah sama kamu." Kenzo mengecup bibir istrinya.
Anaya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, lalu dia mengusap puncak kepala suaminya dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Tadi sore aku ketemu sama mantan istri kamu," ucap Anaya memulai pembicaraan.
Kenzo terdiam seraya menatap wajah cantik istrinya, dia seolah tidak ingin mengatakan apa pun. Karena jujur saja Kenzo tidak menyukai Anisa dengan sikapnya yang nekat itu.
Namun, di dalam hatinya dia bertanya-tanya, bagaimana bisa Anisa berada di kota Sorong. Karena Aruna berkata jika wanita itu sudah dipulangkan ke kampung halamannya.
"Ngomong dong, Ken. Kok diem aja?" tanya Anaya.
Anaya takut jika pria itu akan marah karena dia sudah membicarakan tentang mantan istri dari Kenzo, karena dia bisa melihat jika suaminya itu benar-benar tidak menyukai mantan istrinya itu.
"Aku sangat mencintai kamu, Yang." Kenzo tersenyum lalu mengusap tengkuk leher istrinya dan mencium bibir Anaya dengan lembut.
Mereka berciuman dengan cukup lama, keduanya nampak menikmati apa yang mereka lakukan. Bahkan, sesekali terdengar erangan penuh kenikmatan dari bibir keduanya.
"Aku tau, tapi mantan istri kamu bilang dia sedang hamil." Anaya berkata setelah tautan bibir mereka terlepas, lalu dia usap bibir suaminya dengan perlahan.
Kenzo merasa wajar jika Anisa hamil, karena dulu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat wanita itu bercinta dengan pria lain. Bercinta dengan penuh gairah.
"Biarkan saja dia hamil, memangnya kenapa? Bukankah suatu saat nanti kamu juga akan hamil?" tanya Kenzo seraya mengusap-usap perut istrinya.
"He'em, tapi dia bilang sedang hamil anak kamu. Gimana dong?" tanya Anaya seraya memperhatikan wajah Kenzo.
Anaya ingin tahu dengan reaksi dari pria itu, tetapi setelah Anaya perhatikan, Kenzo tetap tenang. Bahkan, tidak lama kemudian pria itu malah tertawa.
"Aku tidak pernah menyentuh wanita itu, bagaimana mungkin dia hamil anakku, hem?" tanya Kenzo.
"Memangnya kenapa kamu menanyakan hal itu? Apa kamu tidak percaya dengan besarnya cinta aku untuk kamu?" tanya Kenzo.
Kenzo bahkan tidak pernah mendekatkan diri dengan wanita mana pun, karena hanya Anaya yang ada di dalam hatinya. Di saat wanita itu dinyatakan meninggal saja, Kenzo sangat yakin jika Anaya masih hidup.
"Sangat percaya," jawab Anaya.
"Terus, kalau percaya kenapa kamu malah periksa ponsel aku secara diam-diam? Kenapa nggak langsung ngomong aja sama aku?" tanya Kenzo.
"Maaf," ujar Anaya dengan lesu karena merasa tidak enak hati kepada suaminya tersebut.
"Ck! Jangan menunduk seperti itu, jangan meminta maaf. Kamu tidak salah, ayo bobo. Kamu pasti sangat lelah," ujar Kenzo.
Kenzo langsung menggendong Anaya dan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur, lalu dia merebahkan tubuh istrinya dengan begitu perlahan.
"Sebagai pasangan suami istri, kita itu harus saling percaya. Jangan pernah mendengarkan kata orang lain apalagi tanpa bukti," ujar Kenzo.
Anaya menganggukkan kepalanya tanda setuju, lagi pula seharusnya dia bertanya saja secara langsung dan secara baik-baik.
__ADS_1
''Maaf, Sayang. Tadinya aku ingin bertanya kepada kamu, tapi takut kamunya tersinggung." Anaya menarik tengkuk leher suaminya, lalu dia memberikan ciuman yang begitu mesra.
Rasanya dengan melakukan hal seperti itu bisa meredam kekecewaan di hati suaminya, karena walaupun Kenzo tidak berkata apa pun, tetapi dia tahu kalau suaminya itu pasti kecewa akan sikap yang sudah dia ambil.
"Jangan mancing-mancing terus, Yang. Kalau aku pengen bahaya, kamu baru dua hari dapet loh." Kenzo langsung merebahkan tubuhnya tepat di samping istrinya.
Anaya tersenyum ketika mendapatkan kalimat protes dari suaminya, tidak lama kemudian wanita itu nampak memperhatikan milik suaminya yang sudah bangun di balik celana yang dia pakai.
"Maaf, Sayang. Sebagai gantinya aku akan--"
Anaya tidak meneruskan ucapannya, dia malah bangun dan mengusap-usap milik pria itu. Kenzo sampai merasa kesal sekali dibuatnya, dia merasa dipermainkan.
"Yang, jangan macam-macam!" kesal Kenzo.
"Satu macam aja, Sayang. Kamu cukup diam saja dan rasakan seperti apa nikmatnya," ucap Anaya yang membuat Kenzo bingung.
Sebenarnya Kenzo benar-benar merasa marah karena Anaya seakan mempermainkan dirinya, tetapi Kenzo juga merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh istrinya tersebut.
Maka dari itu, Kenzo nampak menggigit bibir bawahnya seraya memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh istrinya tersebut. Dia ingin tahu cara apa yang akan dilakukan oleh Anaya, sehingga wanita itu berkata rasakan seperti apa nikmatnya.
"Yang! Kamu mau apa?" tanya Kenzo karena tiba-tiba saja Anaya menurunkan celana tidur yang dia pakai.
Anaya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya tersebut, ketika milik Kenzo terpampang nyata di depan wajah Anaya, wanita itu langsung bermain dengan keperkasaan milik suaminya tersebut.
Kenzo sampai merasa kaget karena tiba-tiba saja Anaya mengurut miliknya dengan tangannya, Kenzo bahkan langsung memelototkan matanya ketika tiba-tiba saja bibir Anaya bermain dengan keperkasaannya itu.
"Aduh, Yang. Kamu ngapain? Aduh! Jangan kenceng-kenceng, Yang." Kenzo melipatkan bibirnya menahan rasa nikmat yang tiba-tiba saja menjalar ke seluruh tubuhnya.
Anaya sempat memperhatikan wajah Kenzo, di dalam hatinya dia tersenyum dengan begitu lebar karena Kenzo sangat menikmati apa yang dia lakukan.
Tidak lama kemudian Anaya nampak menghentikan aktivitasnya, Kenzo sampai merasa kecewa dibuatnya. Karena kenikmatan itu tiba-tiba saja menghilang.
Anaya ingin sekali tertawa melihat reaksi dari suaminya tersebut, tetapi dia tahan karena takut Kenzo akan marah kepada dirinya.
"Ngga diterusin, Yang?" tanya Kenzo dengan wajah yang nampak menyedihkan.
"Engga!" jawab Anaya.
"Yah!" ujar Kenzo lesu.
Pria itu terlihat hendak merapikan celananya kembali, tetapi Anaya menahan tangan Kenzo. Wanita itu lalu membuka piyama tidur yang dia pakai, bahkan Anaya membuka bra yang dia pakai.
"Kamu mau apa?" tanya Kenzo dengan bingung.
__ADS_1
Anaya kembali tersenyum, lalu dia menunduk dan menjepit milik suaminya menggunakan kedua dadanya.
"Yang!" pekik Kenzo yang merasa kaget dan juga nikmat secara bersamaan.