Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 157


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, Stefano dan juga Ayaka kini akan pergi ke puncak. Keduanya sudah berada di dalam mobil, tentunya semua keperluan yang dibutuhkan sudah mereka bawa.


Sepasang pengantin baru itu nampak bahagia sekali, senyum di bibir keduanya nampak mengembang dengan sempurna.


"Sudah siap untuk pergi?" tanya Stefano seraya menyalakan mesin mobilnya.


"Sudah dong," jawab Ayaka seraya memeluk lengan Stefano dan menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu.


Stefano tersenyum lalu mengusap puncak kepala istrinya, bahagia sekali rasanya karena kini dia bisa menikahi gadis kecilnya. Wanita yang dulu terlihat buruk rupa, tetapi kini sudah menjelma menjadi wanita yang begitu cantik.


Cantik wajah dan juga hatinya, Stefano benar-benar merasa bangga. Apalagi kini wanita itu sudah menjadi miliknya seutuhnya, itu adalah kebanggaan tersendiri untuk dirinya.


"Apa kamu membawa obat sakit pinggang?" tanya Stefano.


Ayaka merasa heran karena suaminya menanyakan hal tersebut, dia menjauhkan wajahnya dari suami. Lalu, Ayaka menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Untuk apa Aya harus membawa obat sakit pinggang? Aya kan' ngga sakit pinggangnya, atau mungkin Ayang yang sakit pinggang?" tanya Ayaka.


"Ngga dong, aku fit banget, Yang. Cuma nanti kalau udah sampai puncak aku mau kita membuat dedek bayi setiap saat, jadi... kamu harus mempersiapkan obat sakit pinggang. Karena takutnya nanti kamu malah encok," ujar Stefano.


Ayaka yang mendengarkan ucapan dari suaminya langsung membulatkan matanya dengan sempurna, dia bahkan memukul pundak Stefano beberapa kali.


"Mana ada aku sakit pinggang, aku hanya tinggal diam dan menikmati apa yang kamu lakukan sama aku. Ada juga kamu tuh yang bakal sakit pinggang, kan' kamu yang goyang." Ayaka terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Kini dia merasa jika dirinya dan sang suami sama-sama messum, begitupun dengan Stefano. Dia langsung tertawa lalu berkata.


"Mana ada kamu diem aja, pokoknya nanti kita akan mencoba banyak gaya. Kamu juga harus belajar goyang, karena aku juga mau digoyang." Stefano mengecup bibir istrinya.


"Aih! Buruan jalan ih, jangan ngomong mulu. Kapan sampainya coba!" keluh Ayaka dengan wajah yang sudah memerah.


Jika sudah membahas yang namanya urusan ranjang, sungguh membuat Ayaka malu bercampur mau. Karena bayangan percintaan yang dilakukan oleh keduanya langsung terbayang di benaknya.


Apalagi setelah tadi pagi mereka bercinta, gaya kodok yang dilakukan oleh mereka ternyata sangat nikmat. Milik Stefano terasa masuk semua ke dalam inti tubuhnya, sesak dan juga nikmat.


Entah dari mana gaya kodok itu didapatkan oleh Stefano, tetapi yang pastinya Ayaka sangat menikmatinya. Bahkan, dia merasa ingin mengulangnya kembali.

__ADS_1


"Iya, iya. Ayo kita jalan, tapi ingat! Nanti kalau sudah sampai aku akan langsung--"


"Berisik ih! Ayo jalan!" ujar Ayaka seraya memukul tangan Stefano.


Stefano hanya tertawa mendengar dan juga melihat perbuatan yang dilakukan oleh istrinya tersebut terhadap dirinya, Ayaka saat ini sangat lucu dan juga menggemaskan.


Wajah wanita itu nampak memerah, tentunya Stefano tahu jika istrinya itu kini membayangkan hal-hal yang sudah mereka lakukan sebelumnya.


Sebenarnya Stefano masih ingin menggoda istrinya, tetapi dia merasa kasihan kepada istrinya. Lagi pula, jika dia terus menggoda istrinya, mereka yang ada malah tidak akan jadi berangkat menuju puncak.


Pada akhirnya Stefano melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia nampak menikmati perjalanan kali ini karena ditemani oleh istri tercintanya.


Selain itu, tujuannya untuk pergi ke puncak karena memang ingin menghabiskan waktu bersama dengan istrinya. Menghabiskan banyak waktu untuk bercinta.


Tadi malam Stefano bahkan sudah searching di gulu-gulu, dia mencari tahu banyak gaya dalam bercinta. Dia juga mencari tahu tentang gaya apa yang harus dia lakukan agar bisa membuat istrinya merasa nyaman dan keenakan.


Selama perjalanan menuju puncak, terkadang Stefano akan mengajak istrinya untuk bercanda. Terkadang dia juga mengajak istrinya untuk membicarakan masa depan mereka.


Hal itu dia lakukan agar tidak jenuh selama perjalanan, selain itu tentunya Stefano ingin menciptakan momen kebersamaan yang penuh dengan keceriaan bersama dengan sang istri tercinta.


"Tidurlah kalau ngantuk, aku tahu kamu pasti lelah. Kamu pasti capek," ujar Stefano.


Walaupun mereka sudah tidur terlebih dahulu sebelum pergi, tetapi Stefano sangat sadar jika selepas sarapan mereka malah bercinta sebanyak dua kali, pastinya hal itu membuat Ayaka kelelahan.


Bukan hanya kelelahan, Ayaka juga sempat mengeluh jika kakinya terasa begitu pegal. Bahkan, Ayaka sempat mengeluh jika kedua lututnya terasa kopong karena terlalu lama menuruti keinginan dari suaminya.


Namun, rasa pegal itu terbayar dengan kenikmatan yang dia dapatkan. Stefano benar-benar mampu membuat dirinya terbang sampai ke puncak nirwana.


"Memangnya ngga apa-apa kalau aku tidur?" tanya Ayaka.


Dia merasa tidak enak hati jika harus tidur, sedangkan suaminya menyetir sendirian. Dia takut jika Stefano akan kesepian tanpa dirinya.


"Ngga apa-apa, tidurlah! Biar nanti pas sampai kamu sudah fresh, karena nanti malam aku tidak akan membiarkan kamu tidur." Stefano langsung terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Berbeda dengan Ayaka wanita itu langsung mencebikkan bibirnya, dia pura-pura merajuk dengan apa yang dikatakan oleh Stefano. Karena nyatanya hatinya merasa bahagia dengan kebersamaan ini.

__ADS_1


Nyatanya hatinya merasa bahagia karena dia bisa melayani Stefano dengan baik, dia juga merasa bahagia karena bisa memberikan hak kepada suaminya atas dirinya.


"Baiklah, Yang. Aku tidur dulu, semangat, Sayang." Ayaka mendekatkan wajahnya pada wajah suaminya, lalu dia memberikan kecupan yang begitu manis di bibir suaminya.


Ah! Jika saja dia bukan sedang menyetir, pasti Stefano akan memperdalam ciuman tersebut. Karena bibir istrinya benar-benar sangat manis dan juga nikmat, sepertinya mulai saat ini Stefano akan kecanduan dengan bibir istrinya itu.


Stefano akan kecanduan dengan tubuh istrinya, karena setiap dia melakukan penyatuan, rasanya sangat nikmat dan dia ingin terus melakukannya secara berulang-ulang.


"Tidurlah!" ujar Stefano yang tidak mau khilaf.


Dia takut akan memberhentikan mobil di tepi jalan dan mengajak istrinya untuk bercinta, Ayaka menganggukkan kepalanya lalu dia mencari posisi yang enak untuk tidur.


Stefano tersenyum ketika melihat istrinya mulai memejamkan matanya, pria itu lalu fokus dalam mengemudi. Karena tidak ada lagi yang mengajak dirinya untuk mengobrol, Stefano akhirnya mendengarkan shalawatan.


"Sudah sampai, Yang." Stefano nampak membangunkan Ayaka yang begitu lelap di dalam tidurnya.


"Engh!"


Terdengar suara lenguhan dari bibir istrinya, tetapi wanita itu tidak membuka matanya. Sepertinya masih sangat mengantuk, Stefano tersenyum lalu dia menunduk dan mengecup bibir istrinya.


"Bangun, Sayang." Stefano kini mencium bibir istrinya dengan dalam, hal itu dia lakukan agar istrinya segera terbangun dari tidurnya.


Benar sesuai dugaannya, Ayaka terbangun dan langsung mendorong wajah suaminya. Dia merasa kesusahan dalam bernapas, Stefano langsung terkekeh dibuatnya.


"Maaf, Yang. Abisnya kamu pules banget bobonya, dibangunin juga nggak mau bangun. Jadinya aku kiss aja, siapa tau bangun," ujar Stefano beralasan.


Padahal, nyatanya Stefano ingin mengambil kesempatan. Dia benar-benar begitu tergoda ketika melihat bibir istrinya yang sedikit terbuka.


"Tidak apa, tapi lain kali jangan cium aku di saat tidur seperti itu. Susah napas tau, ngga!" kesal Ayaka dengan wajahnya yang ditekuk.


"Iya, maaf. Sekarang ayo kita turun, kita shalat maghrib dulu. Abis itu aku mau ngajak kamu makan malam," ujar Stefano.


"Makan malam di mana?" tanya Ayaka penasaran.


"Ada deh, ayo turun. Nanti juga kamu tahu," jawab Stefano.

__ADS_1


"Hem!" jawab Ayaka.


__ADS_2